Hari Pangan Sedunia 2022: Petani dan Nelayan Kecil harus menjadi pusat transformasi sistem pertanian-pangan

  • Whatsapp
Nelayan di kawasan PPI Beba, Takalar, Sulawesi Selatan (dok: K. Azis)

DPRD Makassar

“Pertanian adalah salah satu intervensi kemanusiaan yang paling hemat biaya,”  Rajendra Aryal, Perwakilan FAO Indonesia dan Timor-Leste

PELAKITA.ID – Tanggal 16 Oktober adalah Hari Pangan Sedunia. Hari Pangan Sedunia tahun ini menyerukan pada semua orang mengambil tindakan dan menumbuhkan solidaritas global untuk bertransformasi.

Transformasi yang dimaksud yaitu pada sistem pertanian-pangan,  mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, mengatasi ketidaksetaraan, meningkatkan ketangguhan dan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Read More

Tema Hari Pangan Sedunia tahun ini  adalah: “Jangan tinggalkan satu orang pun: Produksi yang Lebih Baik, Nutrisi yang Lebih Baik, Lingkungan yang Lebih Baik, dan Kehidupan yang Lebih Baik”.

Tema ini lahir karena dunia menghadapi tantangan ketahanan pangan yang besar akibat dari konflik, krisis ekonomi, darurat iklim, degradasi lingkungan, dan dampak lanjutan dari COVID-19. Namun, kita perlu melanjutkan upaya kita untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 2030 untuk semua orang, di mana pun.

Harga pangan telah melonjak ke rekor tertinggi tahun ini; pupuk menjadi terlalu mahal bagi banyak petani, dan jumlah orang yang menghadapi kerawanan pangan terus meningkat. Dan seperti yang kita lihat sebelumnya, yang paling terpukul adalah mereka yang paling miskin.

“Kenaikan harga pangan mempengaruhi kita semua, tetapi dampaknya paling dirasakan oleh mereka yang rentan dan oleh negara-negara yang sudah mengalami krisis pangan”, kata Rajendra Aryal  Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor Leste.

Saat ini 3,1 miliar orang di seluruh dunia masih tidak mampu membeli makanan yang sehat. Kelaparan terus meningkat. Ini mempengaruhi 828 juta orang pada tahun 2021 – meningkat sekitar 46 juta orang sejak 2020 dan 150 juta sejak 2019.

Pembudidaya Sidat di Cilacap FAO/Des Syafrizal

Hanya dalam dua tahun, jumlah orang yang rawan pangan telah meningkat dari 135 juta (2019) menjadi 193 juta (2021), dan 2022 kemungkinan akan terbukti lebih buruk.

Sekitar 970 ribu orang diperkirakan akan hidup dalam kondisi kelaparan di lima negara (Afghanistan, Ethiopia, Somalia, Sudan Selatan dan Yaman) – sepuluh kali lebih banyak dari enam tahun lalu ketika hanya dua negara yang masyarakatnya menghadapi kondisi serupa.

“Petani kecil dan nelayan harus menjadi pusat transformasi sistem pertanian pangan global. Kita membutuhkan pekerjaan dan layanan pedesaan yang layak, serta mengakhiri pekerja anak dan mendorong kesetaraan gender untuk mendukung masyarakat pedesaan, yang merupakan penjaga sebagian besar keanekaragaman hayati bumi”, Aryal menambahkan lebih lanjut.

Untuk menghormati janji kita untuk tidak meninggalkan siapa pun, sangat penting bagi kita untuk mengubah sistem pertanian-pangan menjadi lebih efisien, lebih inklusif, lebih tangguh, dan lebih berkelanjutan untuk produksi yang lebih baik, nutrisi yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih baik untuk semua.

“Pertanian adalah salah satu intervensi kemanusiaan yang paling hemat biaya”, tambah Aryal.

Negara-negara G20 harus segera bertindak untuk menggalang solidaritas bagi negara-negara yang lebih rentan

Lebih banyak biaya diperlukan untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Dan sangat penting untuk memastikan dukungan mata pencaharian masyarakat yang efektif, terkoordinasi dengan baik dan  tepat waktu serta memperhitungkan musim tanam dan musim produksi ternak yang kritis.

Kita harus selalu ingat bahwa setidaknya dua dari setiap tiga orang yang mengalami kelaparan ekstrem adalah produsen makanan skala kecil dari daerah pedesaan, yang membutuhkan dukungan kita untuk membantu mewujudkan transformasi sistem pertanian- pangan.

Kita membutuhkan lebih banyak koordinasi antara dukungan darurat dan bantuan pembangunan, dan inisiatif untuk mempromosikan perdamaian di daerah yang terkena dampak konflik.

Semua orang perlu bekerja sama untuk mendukung negara-negara yang terkena dampak krisis pangan untuk meningkatkan produksi pangan lokal dan memperkuat ketahanan populasi yang paling rentan.

Indonesia sebagai ketua G20 tahun ini berkesempatan mengajak negara-negara anggota G20 lainnya untuk menguatkan solidaritas dengan negara-negara yang lebih rentan.

“Fokusnya harus mendukung negara-negara yang berisiko kelaparan dan kekurangan gizi ,” kata Aryal.

Negara-negara anggota G20 harus bekerja  sama dengan lembaga-lembaga pembiayaan internasional untuk meningkatkan likuiditas dan ruang fiskal memberikan perlindungan sosial kepada masyarakat termiskin.

Kita juga harus menghormati planet kita. Kita perlu mengambil tindakan untuk solidaritas global dalam memastikan tidak ada yang tertinggal, dengan terus bertindak, berbicara, mempengaruhi para pembuat keputusan. Kita harus mengurangi sampah makanan, makan makanan bergizi, musiman dan produksi lokal, serta merawat sumber daya alam seperti tanah dan air.

 

Sumber: Rilis FAO Indonnesia

Related posts