Menyusuri Nosarara Nosabatutu, Merawat Ingatan Perdamaian dari Perbukitan Palu

  • Whatsapp
Penulis bersama M. Arief Sutte di atas Kawasan Tugu dan Gong Perdamaian Nusantara (dok: Istimewa)

PELAKITA.ID – Pagi, 29 Oktober 2026, Kota Palu tampak berbeda ketika dilihat dari kawasan perbukitan Tondo. Bersama M. Arief Sutte, saya berkunjung ke Monumen Nosarara Nosabatutu, sebuah kawasan yang menyimpan pesan penting tentang persaudaraan, persatuan, dan perdamaian.

Suasana terasa indah meski semesta Kota Palu pagi itu masih dirubung asap tipis, yang perlahan membatasi pandangan ke sejumlah sudut kota dan Teluk Palu.

Dari ketinggian, bentang kota terlihat seperti lukisan alam yang terbuka. Gugusan perbukitan, permukiman, dan hamparan Teluk Palu membentuk panorama yang mengundang siapa saja untuk sejenak berhenti, menikmati suasana, sekaligus merenungkan perjalanan kota ini. Di tengah keindahan lanskap tersebut, berdiri sebuah monumen yang membawa pesan jauh lebih dalam daripada sekadar penanda tempat wisata.

Monumen Nosarara Nosabatutu berada di kawasan Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu.

Namanya berasal dari bahasa Kaili, bahasa masyarakat asli Sulawesi Tengah, yang berarti kita bersaudara, kita bersatu. Sebuah ungkapan sederhana, tetapi memiliki makna besar bagi masyarakat yang pernah mengalami masa-masa sulit akibat konflik sosial.

Kehadiran monumen ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah konflik dan kekerasan sosial di Sulawesi Tengah, terutama konflik Poso dan wilayah sekitarnya. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa perdamaian bukan sesuatu yang hadir dengan sendirinya. Ia harus dirawat melalui kesediaan untuk saling menghormati, menerima perbedaan, dan membangun kembali kepercayaan antarkelompok masyarakat.

Monumen ini diprakarsai oleh mantan Kapolda Sulawesi Tengah, Brigjen Pol Dewa Parsana, dan diresmikan pada 11 Maret 2014. Pembangunannya menjadi simbol persaudaraan sekaligus pesan agar pengalaman pahit konflik tidak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Salah satu bagian paling menarik dari kompleks ini adalah Gong Perdamaian Nusantara. Gong tersebut memuat berbagai simbol kebangsaan, mulai dari peta Indonesia, lambang lima agama, identitas provinsi, hingga lambang kabupaten dan kota. Seluruhnya menggambarkan Indonesia sebagai bangsa yang tumbuh dari keberagaman, tetapi memiliki cita-cita bersama untuk hidup dalam persatuan.

Gong itu bukan sekadar benda monumental yang menarik untuk difoto. Ia membawa pesan bahwa perbedaan suku, agama, budaya, dan latar belakang sosial semestinya menjadi kekuatan untuk saling mengenal dan menghargai.

Dalam konteks Sulawesi Tengah, pesan tersebut memiliki relevansi historis yang kuat, mengingat pentingnya menjaga harmoni sosial setelah pengalaman konflik.

Kawasan Nosarara Nosabatutu juga menawarkan pengalaman wisata edukasi. Kompleks monumen terdiri atas tiga lantai dengan tema perdamaian, seni budaya Nusantara, dan edukasi bahaya narkoba. Pengunjung tidak hanya menikmati panorama alam, tetapi juga diajak memahami sejumlah pesan sosial yang berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

Bagi saya, kunjungan pagi itu bersama M. Arief Sutte menghadirkan pengalaman yang menarik.

Ada keindahan alam Palu yang terlihat dari ketinggian, tetapi ada pula pesan sejarah yang mengajak kita melihat kota ini lebih jauh daripada bangunan dan infrastrukturnya. Asap tipis yang masih merubung sebagian semesta kota tidak mengurangi keindahan panorama, justru menghadirkan suasana pagi yang khas.

Palu memiliki lanskap alam yang istimewa, dikelilingi perbukitan dan menghadap teluk yang menjadi bagian penting dari identitas geografisnya. Tetapi kota juga dibangun oleh ingatan, pengalaman, dan kemampuan masyarakatnya untuk hidup berdampingan. Di sinilah Nosarara Nosabatutu menemukan maknanya, bukan hanya sebagai landmark, melainkan sebagai pengingat tentang nilai yang harus terus dijaga.

Kami meninggalkan kawasan itu dengan membawa kesan bahwa perdamaian sesungguhnya adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai. Ia membutuhkan kesadaran bersama, dialog, toleransi, dan kemauan untuk menjaga persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari perbukitan Tondo, Palu tidak hanya memperlihatkan keindahan alamnya, tetapi juga menyampaikan pesan sederhana yang layak terus diingat: kita bersaudara, kita bersatu.