Di Sudimari K3 Kota Palu, Secangkir Kopi dan Percakapan tentang Masa Depan Kampung Nelayan

  • Whatsapp
Gathering di Sudirmari K3 (dok: Pelakita.ID)

PELAKITA.ID – Posisi di mana? Kalau ada waktu ke siniki, ada warkop Sudimari K3, enak kopinya. Demikian ajakan Abdul Aziz Gapnal ke penulis pada pagi 29 Oktober 2026. Penulis baru saja jogging di Vatulemo Landmark, saat pesan WA itu masuk. 

“Ayoookmi,” balas Arief Sutte.  Istri Arief, Lisa duduk di bagian belakang. Kami ke warkop itu.

Warkop rumahan. Itu kesan pertama. Ada rumah dan halaman luas tak rata tapi semua kursi sudah terisi. Di sayap kiri adalah pekarangan luas untuk parkir.

“Kopinya khas, cobamaki,” goda Aziz. 

“Teh saja.”

“Bapak cobalah.”

“OK”.

Kopinya memang khas. Ada terasa asam khas di ujung seruputan. “Enak tawwa,” balas Arief.

Pagi itu terasa nikmat sebab kopi susu yang saya pesan ditemani seporsi roti bakar khas. “Enak betul.”

Begitulah.

Pagi di Kota Palu punya cara sendiri untuk membuat orang merasa dekat dengan kota ini. Setelah menyelesaikan jogging di kawasan Vatulemo Landmark, salah satu ruang terbuka yang menjadi kebanggaan warga Palu, kami memutuskan melanjutkan pagi dengan secangkir kopi. Waktu menunjukkan sekitar pukul delapan ketika langkah membawa saya ke Warkop Sudimari K3 di Jalan M.T. Haryono, Besusu Tengah, Kota Palu.

Di kota yang sedang terus bertumbuh seperti Palu, warung kopi menjadi tempat terbaik untuk membaca suasana, bertemu orang, dan mendengar cerita yang tidak selalu ditemukan dalam forum resmi.

Di Sudimari K3, saya bertemu Abdul Aziz, kawan di JICA CD Project bertahun silam.

Bersama sejumlah pengunjung lainnya, kami kemudian terlibat dalam percakapan yang cukup panjang mengenai Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), khususnya arah dan persiapannya untuk tahun 2027.

Saya menjelaskan harapan pembangunan KNMP 2027, di mana sedang berlangsung pembekalan surveyor sebanyak 197 orang di Hotel Swiss-bel Palu. Tak hanya itu, juga dijelaskan beberapa tahapan proses dan titik-titik mana saja yang berpoetansi untuk jadi lokasi KNMP 2027.

Sudimari K3 (dok: Pelakita.ID)

Sudimari, lebih dari sekadar tempat minum kopi

Sudimari K3 memiliki suasana khas warung kopi Palu.

Sudimari sendiri mempunyai perjalanan bisnis yang menarik untuk ditelusuri. Salah satu jejak sejarahnya tercatat dalam pemberitaan Kaili Post pada 8 Oktober 2026 melalui tulisan berjudul Stevani: Bisnis, Pajak dan Politik.

Tulisan tersebut mengisahkan Faisal Liembara, yang dikenal dengan panggilan Ko’ Kintung, sebagai salah satu sosok yang memperkenalkan dan membangun bisnis warung kopi dengan merek Sudimari di Kota Palu.

Periode kiprahnya disebut berlangsung pada 2004–2014, dengan Sudimari K2 sebagai salah satu tempat yang mulai dikenal pelanggan dan penikmat kopi. Ko’ Kintung kemudian meninggalkan warisan usaha yang diteruskan putrinya, Stevani Liembara. Dalam laporan tersebut, Stevani digambarkan sedang melanjutkan usaha racikan kopi sang ayah di tengah perubahan dan persaingan bisnis warung kopi yang semakin ramai.

Kisah ini memperlihatkan bahwa Sudimari bukan sekadar nama tempat. Di belakangnya ada perjalanan keluarga, keberanian membangun usaha, pengetahuan meracik kopi, serta upaya mempertahankan pelanggan.

Sudimari K2 bahkan disebut pernah menjadi tempat persinggahan berbagai kalangan, mulai dari menteri, anggota DPR RI, anggota DPD RI, pengusaha, hingga anak muda. Warung kopi tersebut juga dikenal sebagai salah satu ruang pertemuan dan percakapan politik di Kota Palu.

Kini, nama Sudimari dapat dijumpai di beberapa lokasi, termasuk K2 di Jalan Masjid Raya, K3 di Jalan M.T. Haryono, K4 di Jalan Tanjung Pesik, dan K5 di Jalan Mayjend Sutoyo.

Keberadaan sejumlah lokasi ini menunjukkan luasnya jejak nama Sudimari dalam kehidupan warung kopi Palu, meskipun hubungan kepemilikan dan pengelolaan masing-masing tempat masih perlu ditelusuri lebih lanjut.

Khusus Sudimari K3, Jalan M.T. Haryono No. 26, Besusu Tengah, warung ini memiliki reputasi sebagai tempat berkumpul dan berbincang.

Ada pula jejak yang memperlihatkan fungsi sosial tempat ini. Pada 2026, pemberitaan Radar Palu menggunakan Sudimari K3 sebagai latar cerita pertemuan lima pendaki yang baru menyelesaikan ekspedisi di Gunung Katopasa dan Kondoruang.

Sementara tulisan perjalanan Kadek Sudantara di Tatkala.co pada Januari 2025 menceritakan Sudimari K3 sebagai tempat berkumpul seorang jurnalis bersama teman-temannya.

Dua cerita tersebut memberikan gambaran bahwa warung kopi ini tidak hanya melayani kebutuhan minum dan makan, tetapi juga menjadi bagian dari jejaring pertemanan dan pertukaran cerita masyarakat Palu.

Dari percakapan pagi menuju KNMP 2027

Kembali ke meja percakapan pagi itu, pembicaraan bersama Abdul Aziz, Arief Sutte, dan beberapa pengunjung bergerak pada satu persoalan yang cukup besar: bagaimana masa depan Kampung Nelayan Merah Putih sebaiknya disiapkan.

Program KNMP yang dikembangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan memiliki harapan besar untuk memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat nelayan. Namun, harapan tersebut membutuhkan persiapan yang tidak sederhana, terutama ketika pemerintah mulai menyiapkan tahapan pembangunan berikutnya untuk 2027.

Saya memandang bahwa tantangan KNMP tidak cukup dijawab dengan membangun fasilitas fisik. Pembangunan kampung nelayan harus dimulai dari pemahaman yang baik mengenai kehidupan masyarakat, karakter usaha perikanan, kebutuhan nelayan, dan potensi ekonomi yang sesungguhnya tersedia di setiap lokasi.

Di meja Sudimari, gagasan seperti ini terasa penting dibicarakan. Masa depan kampung nelayan bukan hanya urusan kementerian atau pemerintah daerah. Ia menyangkut kehidupan keluarga nelayan, perempuan pesisir, pelaku usaha kecil, anak-anak muda, dan seluruh ekosistem ekonomi yang tumbuh di sekitar aktivitas perikanan.

Pagi itu mengingatkan saya bahwa warung kopi masih mempunyai peran yang tidak kecil dalam kehidupan masyarakat. Ia bisa menjadi ruang pertemuan yang mempertemukan gagasan, pengalaman, dan kepedulian terhadap persoalan publik.

Dari Vatulemo Landmark, setelah jogging dan menikmati udara pagi Palu, perjalanan berlanjut ke Sudimari K3.

Tidak ada agenda khusus yang dirancang untuk sebuah diskusi panjang. Namun, perjumpaan dengan Abdul Aziz, Arief Sutte, dan sejumlah pengunjung justru membuka percakapan tentang salah satu agenda penting pembangunan kelautan dan perikanan Indonesia.

“Jadi apa yang saya bisa bantu ini?” kata Aziz.

“Saya mau berjumpa Kadis Kelautan dan Perikanan Sulteng, kalau bisa Gubernur atau Wakil Gubernur demi mempromosikan KNMP 2027,” balasku ke Azis.

 

____
Oleh Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID.