By: Anorwels #KopiAno
PELAKITA.ID – Walaupun bukan kisah nyata tentang seorang tokoh dalam film, Laut Bercerita mengingatkan saya pada sekelompok mahasiswa di Ujungpandang pada era yang sama: Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi (AMPD).
Film yang kini tayang di bioskop tanah air ini diangkat dari tragedi kelam penculikan dan penghilangan paksa aktivis pro-demokrasi serta mahasiswa oleh rezim Orde Baru pada 1995- 1998. Novel karya Leila S. Chudori ini tentu lahir melalui riset dan kajian yang mendalam.
Kisahnya berpusat pada kelompok studi Winatra di Yogyakarta. Laut, seorang mahasiswa Sastra Inggris UGM yang idealis, bersama teman-temannya seperti Kasih Kinanti, Bram, Daniel Tumbuan, dan lainnya, aktif berdiskusi, membaca buku terlarang, serta menyuarakan kritik terhadap rezim otoriter.
Mereka juga membantu dan mengadvokasi masyarakat desa, termasuk membahas persoalan Kedung Ombo. Manifesto kami juga sama: Pencabutan 5 Paket UU Politik, Ganti Rezim (Suharto), bubarkan dwifungsi ABRI.
Dalam kisah berikutnya, mereka berangkat ke Jakarta untuk menghadiri mimbar demokrasi yang digelar kelompok PDI pro-Megawati di Jalan Diponegoro.
Sampai di sini, saya menikmati kopi hitam hangat yang kubeli dari Cafe XXI. Saya menonton sendiri karena ingin menikmati suasananya. Namun, kisah ini benar-benar membawa pikiran saya menerawang kembali ke masa 27 Juli.
Saya teringat pada kelompok kecil mahasiswa di Ujungpandang, AMPD. Di situ ada saya.
Ada Akbar Endra, Adi Akhsan, Hasbi L., Anwar, Sawaluddin, Philips, Anies, dan Humerah. Seperti kelompok studi Winatra, kami juga berangkat ke Jakarta menggunakan kapal laut.
Menghadiri berbagai aksi, tinggal serumah dengan almarhum Munir dan Susi, serta ikut dalam mimbar-mimbar bebas yang berlangsung di halaman markas PDI 1996.
Ahhh, pembaca #KopiAno, kisah selengkapnya ada dalam buku Menjadi Saksi Zaman yang segera diluncurkan awal November ini.
Jika Laut dan kawan-kawannya bersembunyi di Lampung setelah peristiwa 27 Juli, saya dan teman-teman AMPD kembali ke Ujungpandang setelah sempat bersembunyi beberapa lama di Bekasi.
Namun, kebebasan itu tidak berlangsung lama. Tak lama kemudian, media memberitakan bahwa AMPD menjadi salah satu onderbouw dari sebuah organisasi yang dianggap sebagai penyebab dan bertanggung jawab atas kerusuhan 27 Juli. Hal itu disampaikan melalui pemberitaan media dan pernyataan langsung Panglima ABRI saat itu.
Sejak itulah, kami nyaris tidak pernah berpisah. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Malam, pagi, maupun siang, kami selalu bersama. Pada malam hari, suara kendaraan meraung raung di jalan Mappaodang- kerap kali meneror kami.
Kemudian terbitlah surat panggilan pemeriksaan. Diawali dari Akbar Endra yang diperiksa dan mengalami tekanan psikologis.
Saya pun mendapatkan semacam “surat cinta” dari aparat keamanan. Panggilan pertama tidak saya hadiri.
Panggilan kedua akhirnya saya hadiri. Sehari sebelumnya, saya menyampaikan kepada Anwar, seorang kawan yang sering menakut-nakuti saya dengan pasal-pasal subversif, bahwa saya sudah siap dipenjara. Saya bahkan sudah menyiapkan buku untuk dibaca di dalam sel.
“Dari penjara saya akan menulis. Tolong bantu sebarkan tulisan saya ke media cetak,” begitu kira-kira yang saya sampaikan.
Dalam pemeriksaan, aparat ternyata mengetahui hampir seluruh pembicaraan dan isi diskusi kami. Termasuk siapa yang punya ide menulis coretan di dinding toilet UKM Pers Unhas.
Ahhh, dalam sebuah kelompok dan gerakan, memang selalu ada kemungkinan pengkhianat. Tetapi, bukankah situasi seperti itu justru membuat perjalanan semakin menantang dan berwarna?
Ketika melakukan perjalanan ke Solo untuk menghadiri Kongres Sastra Indonesia, saya merasa kerap diikuti. Ada saja yang seperti menguntit.
Ketahuilah, teman-teman, begitulah situasi yang kami hadapi saat itu. Saya berharap tidak ada lagi keadaan seperti itu di negeri ini, baik hari ini maupun pada masa mendatang.
Ada pula kisah lain tentang AMPD. Jika Winatra mengadvokasi petani jagung di Yogyakarta, AMPD melakukan advokasi terhadap penyerobotan lahan di Gili Trawangan, Nusa Tenggara Barat. Kami bekerja bersama aktivis setempat, Latief dan Widodo, yang sengaja datang ke Ujungpandang kala itu.
Kami juga mendeklarasikan Partai PMPD. Sementara itu, dalam kisah fiksi Laut Bercerita, kelompok Winatra juga mendeklarasikan partai sendiri.
Namun, nasib mereka dalam cerita itu berakhir tragis. Mereka ditangkap. Laut diceritakan ditembak, lalu ditenggelamkan ke laut.
Kami, AMPD di Ujungpandang, adalah kelompok kecil yang kisahnya nyaris berakhir seperti dalam film itu.
Seorang kawan saya pernah ditikam oleh orang tak dikenal, kemudian dipenjara beberapa hari dan dipaksa mengakui siapa yang menjadi otak serta membiayai gerakan kami selama ini. Kami dituduh melakukan aksi-aksi yang merongrong kewibawaan Soeharto dan Orde Baru.
Saya pun mengalami tekanan serupa. Teror bahkan mengikuti perjalanan saya hingga ke Pulau Jawa. Saya diancam dan kerap diminta pulang kampung apabila Soeharto hendak berkunjung ke Ujungpandang.
Lalu, akhirnya rezim itu runtuh. Perubahan tersebut menyelamatkan kami dari kemungkinan mendekam lebih lama di penjara Orde Baru.
Rencana saya menulis dari dalam penjara tidak pernah terlaksana.
Saya justru memilih jalan menjadi wartawan. Dan hari ini, saya tetap menulis, mengasuh #NarasiAno, #KopiAno yang sedang Anda baca, #JejakAno, dan #ReportaseAno.
Kisah kecil ini menjadi saksi bahwa pernah ada sekelompok mahasiswa di Makassar yang menjadi bagian dari gerakan lebih besar di Jakarta, ikut mengambil bagian dalam perjuangan membuka pintu demokrasi di Indonesia.
Ada yang bercerita dan menilai reformasi telah gagal. Itu bagian dari perdebatan kita hari ini. Namun, setidaknya kelompok-kelompok kecil seperti AMPD, yang pernah dikaitkan dengan kelompok kiri, disebut “Gerombolan Mahasiswa” atau Organisasi Tanpa Bentuk (OTB), juga menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membuka keran demokrasi di negeri ini.
Kisah selengkapnya ada dalam buku saya, Menjadi Saksi Zaman.
Tetapi, sebaiknya tontonlah Laut Bercerita.
Sebab ada kisah yang ditulis melalui novel dan dihidupkan lewat film. Ada pula kisah yang pernah dijalani oleh orang-orang biasa, tetapi nyaris tak pernah diceritakan.
#KopiAno
Rumahku, Jln Tata , Makassar- 2 November 2026









