Abdul Azis Lamadjido, Pembangunan Desa, dan Jejak dalam Sejarah Sulawesi Tengah

  • Whatsapp
Abdul Azis Lamadjido (Ilustrasi oleh AI)
  • Salah satu warisan pemikiran Abdul Azis Lamadjido yang paling dikenal adalah Gerbosbangdesa. Gerakan ini diperkenalkan pada 13 April 1987, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-23 Provinsi Sulawesi Tengah.
  • Melalui Gerbosbangdesa, pembangunan desa didorong menjadi agenda penting pemerintah daerah. Orientasinya mencakup peningkatan kesejahteraan penduduk, pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat, pengurangan kesenjangan pembangunan, serta penguatan kualitas sumber daya manusia di wilayah pedesaan.

PELAKITA.ID – Perjalanan pembangunan Sulawesi Tengah tidak bisa dilepaskan dari kontribusi sejumlah tokoh yang pernah memimpin daerah ini. Salah satu nama yang memiliki tempat tersendiri dalam sejarah pemerintahan provinsi tersebut adalah Abdul Azis Lamadjido, mantan Gubernur Sulawesi Tengah yang mengemban amanah selama dua periode, 1986–1996.

Namanya tidak hanya tercatat dalam perjalanan birokrasi dan pemerintahan, tetapi juga dikenal melalui sebuah gagasan pembangunan yang berorientasi pada kemajuan masyarakat pedesaan, yakni Gerakan Terobosan Membangun Desa atau Gerbosbangdesa.

Lahir pada 1 September 1932, Abdul Azis Lamadjido mengawali perjalanan kariernya melalui bidang hukum. Sebagai lulusan hukum, ia pernah menjalani profesi jaksa sebelum memasuki lingkungan pemerintahan dan dipercaya menempati sejumlah posisi strategis di Sulawesi Tengah.

Pengalaman kepemimpinannya telah terbangun jauh sebelum menduduki kursi gubernur. Ia pernah menjadi Bupati Donggala selama kurun waktu 1966–1978. Pada masa itu, pembangunan daerah masih dihadapkan pada berbagai keterbatasan, mulai dari infrastruktur, jangkauan pelayanan publik, hingga akses masyarakat terhadap fasilitas dasar.

Pengalaman panjang di tingkat kabupaten tersebut menjadi salah satu bekal dalam perjalanan pengabdiannya ketika kemudian dipercaya memimpin pemerintahan Sulawesi Tengah.

Lahir pada 1 September 1932, Abdul Azis Lamadjido mengawali perjalanan kariernya melalui bidang hukum. Sebagai lulusan hukum, ia pernah menjalani profesi jaksa sebelum memasuki lingkungan pemerintahan dan dipercaya menempati sejumlah posisi strategis di Sulawesi Tengah.

Gerbosbangdesa, Gagasan yang Menempatkan Desa sebagai Prioritas

Salah satu warisan pemikiran Abdul Azis Lamadjido yang paling dikenal adalah Gerbosbangdesa. Gerakan ini diperkenalkan pada 13 April 1987, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-23 Provinsi Sulawesi Tengah.

Melalui Gerbosbangdesa, pembangunan desa didorong menjadi agenda penting pemerintah daerah. Orientasinya mencakup peningkatan kesejahteraan penduduk, pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat, pengurangan kesenjangan pembangunan, serta penguatan kualitas sumber daya manusia di wilayah pedesaan.

Pendekatan yang digunakan tidak semata-mata bertumpu pada pembangunan fisik. Gerbosbangdesa juga membawa semangat koordinasi lintas sektor, dengan melibatkan perangkat pemerintahan daerah dalam merancang dan menjalankan program pembangunan secara lebih terarah.

Dalam pelaksanaannya, koordinasi dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menjadi bagian dari upaya menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam kegiatan pembangunan yang lebih operasional.

Konsistensi mengangkat pembangunan desa sebagai agenda pemerintahan membuat Abdul Azis Lamadjido kemudian dikenal dengan sebutan Bapak Gerbosbangdesa. Nama dan gagasannya menjadi bagian dari catatan sejarah pembangunan Sulawesi Tengah.

Gagasan Lama dalam Percakapan Pembangunan Masa Kini

Menariknya, pemikiran tentang pembangunan desa yang pernah diperkenalkan pada era kepemimpinan Abdul Azis Lamadjido kembali memperoleh perhatian dalam diskursus pembangunan Sulawesi Tengah belakangan ini.

Pada Juli 2024, Anwar Hafid, yang ketika itu tengah mengikuti proses pencalonan gubernur, menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi sejumlah pemimpin terdahulu Sulawesi Tengah, termasuk Abdul Azis Lamadjido. Ia secara khusus menyinggung Gerbosbangdesa sebagai salah satu gagasan yang memiliki arti dalam perjalanan pembangunan daerah.

Anwar juga mengemukakan pentingnya membangun kembali semangat pengembangan desa melalui kemitraan dengan perusahaan-perusahaan industri besar. Salah satu pendekatan yang disampaikan adalah mendorong keterlibatan perusahaan dalam mendukung Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), sehingga kegiatan UMKM dapat berkembang dan memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat.

Penyebutan kembali Gerbosbangdesa memperlihatkan bahwa gagasan pembangunan desa memiliki relevansi yang melampaui masa kepemimpinan pencetusnya. Pembangunan daerah tetap membutuhkan desa sebagai ruang tumbuh ekonomi, penguatan kapasitas masyarakat, dan pengembangan potensi lokal.

Keluarga dan Kelanjutan Pengabdian Publik

Abdul Azis Lamadjido meninggal dunia pada 11 Mei 2011 dalam usia 78 tahun. Ia meninggalkan tujuh anak, terdiri atas empat laki-laki dan tiga perempuan. Salah seorang putrinya adalah dr. Reny Arniwaty Lamadjido, yang kini menjadi Wakil Gubernur Sulawesi Tengah mendampingi Anwar Hafid untuk periode 2025–2030.

Reny menempuh jalur pengabdian yang berbeda dari ayahnya. Menyelesaikan pendidikan kedokteran di Universitas Hasanuddin, Makassar, ia mengawali karier sebagai dokter sebelum kemudian dipercaya mengemban sejumlah tanggung jawab dalam pelayanan kesehatan.

Perjalanan profesionalnya mencakup pengalaman memimpin rumah sakit dan menjabat Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah. Ia juga pernah memasuki pemerintahan daerah sebagai Wakil Wali Kota Palu untuk periode 2021–2024 sebelum melanjutkan pengabdiannya di tingkat provinsi.

Kehadiran Reny dalam pemerintahan Sulawesi Tengah memberikan dimensi tersendiri dalam membaca sejarah keluarga ini. Meski demikian, perjalanan pengabdian ayah dan anak tersebut berlangsung dalam konteks sosial, politik, serta tantangan pembangunan yang berbeda.

Abdul Azis Lamadjido dikenal melalui kepemimpinan birokrasi dan gagasan pembangunan desa. Sementara itu, Reny menjalani perjalanan profesional yang berawal dari pelayanan kesehatan, kemudian berkembang ke ranah pemerintahan dan kepemimpinan politik.

Keduanya memiliki lintasan pengabdian masing-masing, tetapi sama-sama tercatat dalam perjalanan pelayanan publik di Sulawesi Tengah.

Menafsirkan Kembali Warisan Pembangunan Desa

Jika ditarik ke dalam konteks pembangunan wilayah saat ini, Gerbosbangdesa menyisakan pertanyaan mendasar mengenai posisi desa dalam agenda pembangunan daerah. Apakah desa sudah benar-benar menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan ruang berkembangnya inisiatif masyarakat, atau masih lebih banyak diposisikan sebagai penerima program pemerintah?

Pertanyaan tersebut penting bagi Sulawesi Tengah yang memiliki kekayaan sumber daya alam, kawasan industri, wilayah pesisir, sektor pertanian, serta beragam potensi ekonomi lokal. Kekayaan tersebut membutuhkan tata kelola pembangunan yang memastikan masyarakat di sekitar sumber daya memperoleh manfaat secara nyata.

Pekerjaan pembangunan juga tidak cukup berhenti pada penyediaan jalan, fasilitas umum, dan infrastruktur lainnya. Lebih jauh, diperlukan penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat, peningkatan keterampilan, perluasan kesempatan usaha, serta pelibatan warga dalam menentukan arah pembangunan wilayahnya.

Dalam perspektif tersebut, Gerbosbangdesa dapat ditempatkan sebagai salah satu referensi historis untuk membaca kembali pentingnya pembangunan yang bertumpu pada desa. Semangat dasarnya dapat dikembangkan sesuai tantangan zaman, tanpa harus menyalin seluruh pendekatan kebijakan yang pernah digunakan pada masa lalu.

Abdul Azis Lamadjido telah menorehkan bagian penting dalam sejarah pemerintahan Sulawesi Tengah. Pengabdiannya sebagai Bupati Donggala dan Gubernur selama dua periode, serta gagasan Gerbosbangdesa, menjadi bagian dari rekam perjalanan pembangunan daerah ini.

Warisan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari lamanya masa jabatan atau posisi yang pernah diduduki. Ada pula nilai yang dapat dibaca dari gagasan yang diperkenalkan, program yang dijalankan, dan inspirasi yang ditinggalkan bagi generasi sesudahnya.

Dalam hal Abdul Azis Lamadjido, pembangunan desa merupakan salah satu gagasan yang layak terus dibicarakan. Bukan semata karena pernah menjadi program unggulan pemerintahannya, melainkan karena desa hingga hari ini tetap menjadi ruang penting bagi masa depan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tengah.