Mendulang Senyum Masyarakat Nusa yang Berdaya | Rusman Madjulekka

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

DARI timur inspirasi tulisan ini berawal. Matahari terbit dari timur. Pancaran sinar matahari menjadi sumber kehidupan bagi makhluk penghuni bumi. Salah satu hasil bumi yang menghidupi manusia adalah beras. Sebagai produk pangan, naik turunnya harga beras dan bahan pokok lainnya di wilayah kepulauan sangat dipengaruhi faktor jalur distribusi, biaya transportasi antar-pulau, serta biaya bongkar muat.

PELAKITA.ID – Kelancaran dan kemudahan logistik itu memberikan dampak nyata. Seperti ketersediaan beras di Merauke. Masyarakat di daerah ujung timur Indonesia ini dapat membeli beras dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan sebelumnya.

“Kami di sini sudah bisa mendapatkan berasl dan kebutuhan pokok lainnya seperti minyak goreng, gula dan terigu dengan harga terjangkau,” ungkap Fransiskus Gebze warga kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, dalam keterangan dirilis Kementerian Pertanian (Kementan) yang dikutip Senin (22/6/2026).

Untuk beras premium, lanjutnya, harga jualnya berada di kisaran Rp 15 ribu per kilogram dari sebelumya Rp 20 ribu per kilogram.

“Harganya sudah sama dengan Pulau Jawa. Dan sekarang masyarakat menikmatinya,” ujarnya dengan nada gembira.

Di sepanjang alur sungai dan perairan pesisir Papua Selatan, hadirnya kapal perintis PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) telah menjadi “Penyambung Asa” bagi masyarakat pedalaman. Nafas ekonomi dan kehidupan warga berdenyut.

Setiap kapal merapat di dermaga-dermaga distrik, tumpukan karung beras, minyak goreng, gula, terigu dan lainnya diturunkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Bagi warga pedalaman dan kepulauan, terutama di daerah 3T (tertinggal,terdepan,dan terluar), moda transportasi air bukan sekadar sarana pengangkut barang, melainkan urat nadi mobilitas warganya. Kehadiran kapal perintis ASDP Indonesia Fery memastikan akses masyarakat berjalan lancar.

Warsifah (38), warga Kurik VI, kabupaten Merauke yang kini memilih menggeluti usaha dagang di Bade, kabupaten Mappi bercerita perbedaan kondisi dulu dan sekarang. Ia mengatakan, teraturnya jadwal pelayaran kapal motor penyeberangan (KMP) milik ASDP Indonesia Fery berdampak pada stabilitas harga bahan pokok di wilayah pedalaman Papua Selatan.

“Kalau dulu barang diangkut perahu kayu yang bikin cemas. Barang kadang basah, kerugian sering saya alami, jadi terpaksa saya kasi naik harga jual. Tapi sekarang, sejak ada kapal ASDP yang jadwalnya teratur dan pengangkutannya aman, dan pasokan lancar, kami (pedagang) bisa jual dengan harga terjangkau. Alhamdulillah saat ini su enak,” ungkap Warsifah tersenyum lega, seperti dikutip media setempat. metro merauke.co.

Tak hanya di pedalaman timur, fakta yang mirip juga datang dari belahan barat di kepulauan Anambas. provinsi kepulauan Riau (Kepri). Harga beras di daerah paling ujung terluar berbatasan langsung Singapura dan Malaysia ini pada September 2026 terpantau berkisar antara Rp13.000 per kilogram untuk beras medium hingga Rp57.000 per kemasan 5 kg untuk beras SPHP Bulog, sementara beras premium terpantau di angka sekitar Rp17.000 per kilogram.

Ketersediaan pasokan dan stabilnya harga sembako di daerah itu tak lepas upaya inisiatif ASDP Indonesia Fery melakukan “cross island” dengan pengoperasian KMP “Bahtera Nusantara 03” di lintasan Tanjung Uban–Tambelan–Sintete.

Jalur ini menjadi penghubung strategis antara wilayah Kepulauan Riau (Sumatera) dan Kalimantan Barat (Kalimantan).

Selain pangan, salah satu wujud nyata lainnya adalah pengoperasian kapal ternak dan kapal perintis ASDP IndonesiaK Fery yang menjangkau sentra produksi pangan, sehingga memungkinkan distribusi komoditas lebih efisien ke daerah konsumen.

Wilayah seperti Sorong, di daerah kepala burung pulau Papua, menjadi contoh konkret bagaimana ASDP Indonesia Fery membuka akses ke Raja Ampat, destinasi wisata kelas dunia, sekaligus membuka jalur distribusi logistik bagi masyarakat lokal. Empat kapal ASDP rutin melayani lintasan tersebut, yakni KMP Arar, KMP Kalabia, KMP Kurisi, KMP Terubuk 1.

Konektivitas

“Konektivitas kuat, Indonesia semakin bersaing…”

Kutipan itu diambil dari penggalan pidato sambutan Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan rute baru moda transportasi, Rabu 16 September 2026 di Jakarta.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun kalimat dari orang nomor satu Indonesia itu sesungguhnya mengandung makna yang sangat mendasar. Terutama dalam kehidupan sebuah negara kesatuan dari gugusan pulau-pulau di Nusantara yang dikenal sebagai NKRI. Bahkan seringkali terdengar nyaring dengan jargon bernada heroik: NKRI harga mati!

Kesatuan tidak sekedar kata azimat bagi negara kepulaun seperti Indonesia, tapi memang diperlukan untuk menjalankan roda pemerintahan, mengaktifkan denyut pembangunan dan mencapai tujuan negara: kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun kesatuan yang semu pada akhirnya justru akan kehilangan makna.

Menyimak pidato Presiden Prabowo Subianto itu, sesungguhnya mengandung relevansi dan kontekstual dengan penugasan yang diemban PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) melayani penyeberangan antar pulau di Indonesia sejak 27 Maret 1973. Setidaknya bisa dimaknai dua hal.

Pertama, untuk mewujudkan kedaulatan NKRI yang hakiki bukan basa-basi, maka harus memperkuat dan merawat konektivitas antar wilayah, terutama daerah 3T yang selama ini kurang berkembang dibandingkan daerah lain secara nasional.

Yang kedua, memberikan dampak peningkatan kesejateraan bagi masyarakat di daerah dan menciptakan peluang dan optimalisasi potensi usaha kecil dan menengah baru yang memungkinkan mereka naik kelas.

Perbanyak Kapal Fery

Selama ini diakui logistik masih menjadi soal klasik dan sekaligus tantangan utama bagi perekonomi Indonesia. Teritori NKRI tersebar dalam bentuk pulau-pulau selebar bentang benua Eropa. Dari 17.000 pulau terdaftar 6.000 pulau dihuni manusia.

Biaya ongkir dari pulau Jawa ke kantong-kantong populasi di Indonesia mengerek tingginya biaya ekonomi (high cost) untuk pulau-pulau luar Jawa. Hambatan logistik selama ini juga jadi momok utama pengembangan ekonomi di 5-10 pulau luar Jawa yang punya konsentrasi populasi rata-rata diatas dua juta jiwa. Padahal kalau dioptimalkan sudah cukup untuk ciptakan roda ekonomi inklusif dan kawasan pertumbuhan baru.

Apalagi notabene pulau-pulau yang didiami itu sarat dengan potensi sumber daya alam (SDA). Perlu ada cara penyelesaian jalan tengah, dibuat kerangka kerja, planning untuk “mandirikan” pulau-pulau luar Jawa tanpa merusak sistem ekonomi yang sedang berjalan.

Kedepan Indonesia butuh banyak kapal-kapal ferry seperti dioperasikan ASDP Indonesia Fery selama ini, supaya banyak pulau eksotik bisa memberi manfaat ekonomi. Tapi semuanya tergantung prioritas kebijakan para pemimpin negeri dan pemangku kepentingan. Semoga mereka tak lupa bahwa Indonesia negeri bahari.

Selain armada kapal fery diperbanyak, pelabuhan, dermaga untuk sandar kapal, serta jalan penghubung jangan sampai terlupa untuk dibangun.

Negeri ini masih punya banyak ruang untuk tumbuhkan skala ekonomi. Terutama pemberdayaan masyarakat dan kaum petani, pekebun,nelayan kecil yang jumlahnya mencapai seratus juta lebih.

Dengan produktifitas yang meningkat, daya beli otomatis masyarakat di pedalaman dan kepulauan bakal terangkat. Dan kita bisa melihat wajah senyum dan rona bahagia lebih banyak seperti Fransiskus, Warsifah dan lainnya.

( Mohammad Rusman Madjulekka)