- Kata Cindenk, Badar ini contoh aktivis yang pandai meniti ganasnya gelombang kehidupan. Dia bisa berselancar dengan baik, bisa jadi karena sejumlah kebaikan-kebaikannya saat jadi mahasiswa, sebagai sosok di balik pendirian Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan Indonesia hingga Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia, ISKINDO.
- Pujian juga datang dari jurnalis senior Mulawarman. “Badar dulu yang banyak membantu saya, rumah saya dipenuhi perabot, karena pemberian Badar. Itu di tahun 2000-an.”
PELAKITA.ID – MAKASSAR — Dua orang kawan lama bertemu, sama-sama alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas. Pertemuan yang membuka kembali ingatan tentang masa muda, persahabatan, dan jalan panjang yang ditempuh masing-masing setelah meninggalkan bangku kuliah.
Penulis akhirnya bertemu langsung kawan lama sejak di Tamalanrea. Boska Coffee 11 Oktober 2026 jadi saksinya ketika penulis berjumpa dengan Badaruddin Andi Picunang, kawan seangkatan di Jurusan Ilmu dan Teknologi Kelautan Universitas Hasanuddin (Unhas) angkatan 1989.
Badaruddin datang bersama istrinya, Salmawati. Keduanya bukan orang asing bagi kehidupan kampus Unhas pada zamannya.
Mereka sama-sama pernah menjadi bagian dari dinamika pers mahasiswa, termasuk di Identitas Unhas, media kampus yang merekam banyak peristiwa, gagasan, dan pergulatan mahasiswa pada masa itu. Di antara obrolan dan kenangan yang mengalir, pertemuan tersebut terasa seperti membuka kembali halaman lama kehidupan mahasiswa yang pernah mereka jalani bersama.
Bertemu Opu Badar, begitu kami menyapanya, mengingatkan ucapan Amiruddin Pallawarukka untuk Badar, “sosok kreatif dan pemberani.”
Tentu ada maknanya, tetapi cukuplah saya dan Amir yang tahu. Amir dan Badar punya jejak aktivisme di jurnalisme kampus, bisa jadi dari ranah itu kesan yang muncul.
Kembali ke Boska. Pertemuan di Boska Coffee itu sekaligus menjadi ajang reuni kecil dan gathering untuk menyuntikkan semangat bagi Darwis Ismail, Ketua Ikatan Sarjana Kelautan (ISLA) Unhas, yang tengah menyiapkan langkah kepemimpinan di Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) untuk periode 2026–2031.
Darwis dan Badaruddin memiliki satu ikatan lain di luar dunia kelautan, yakni sama-sama berasal dari Luwu Raya, Sulawesi Selatan, sebuah kawasan yang telah melahirkan banyak tokoh dengan lintasan pengabdian berbeda-beda.
Di tengah percakapan tentang organisasi dan masa depan sarjana kelautan, nama Badaruddin menghadirkan kisah tersendiri.
Bagi penulis, Ia bukan hanya alumni kelautan yang kemudian menapaki dunia politik, melainkan juga seseorang yang sejak masa mahasiswa telah terbiasa bergerak di antara organisasi, pers, dan jaringan sosial.
Perjalanan itu membawanya dari lingkungan kampus di Makassar menuju organisasi kepemudaan, kontestasi politik daerah, hingga kepengurusan partai politik di tingkat nasional.
Bagi kawan-kawan seangkatannya, Badaruddin adalah bagian dari generasi yang tumbuh dalam tradisi organisasi mahasiswa.
Bagi publik yang mengenalnya melalui pemberitaan politik, ia adalah Andi Picunang, mantan Sekretaris Jenderal Partai Berkarya yang kemudian bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Dua gambaran tersebut tidak harus dipertentangkan, sebab perjalanan politiknya berawal jauh sebelum namanya dikenal dalam pemberitaan partai.
Awaluddin atau biasa disapa Cindenk bilang: Badar ini contoh aktivis yang pandai meniti ganasnya gelombang kehidupan. Dia bisa berselancar dengan baik, bisa jadi karena sejumlah kebaikan-kebaikannya saat jadi mahasiswa, sebagai sosok di balik pendirian Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan Indonesia hingga Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia, ISKINDO.
Tentang Badar, pujian juga datang dari jurnalis senior Mulawarman. “Badar dulu yang banyak membantu saya, rumah saya dipenuhi perabot, karena pemberian Badar. Itu di tahun 2000-an.”
Dari kampus Merah ke jejaring nasional
Badaruddin Andi Picunang lahir di Belopa, Kabupaten Luwu, pada 4 Maret 1970.
Berdasarkan profil biografis yang diterbitkannya pada 2008, ia mulai menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Kelautan Unhas pada 1989, ketika kehidupan kampus menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan pengetahuan sekaligus menguji kemampuan memimpin dan membangun jaringan.
Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas periode 1991–1992.
Posisi itu menempatkannya dalam ruang pengorganisasian mahasiswa di tingkat jurusan, tempat persoalan akademik, kehidupan kemahasiswaan, dan aspirasi organisasi bertemu dalam praktik sehari-hari. Kepemimpinan semacam ini menjadi salah satu pengalaman awal yang membentuk rekam jejak organisasinya.
Keterlibatannya tidak berhenti di lingkungan kampus. Pada 1993–1995, Badaruddin tercatat sebagai Sekretaris Jenderal Himpunan Mahasiswa Kelautan Se-Indonesia (HIMITEKINDO), sebuah pengalaman yang memperluas lingkar pergaulannya dari mahasiswa satu kampus menuju jaringan mahasiswa kelautan lintas perguruan tinggi.
Dari sini, dunia organisasi mulai memberinya ruang untuk membangun hubungan yang lebih luas dengan sesama mahasiswa yang memiliki latar pendidikan dan kepentingan keilmuan serupa.
Di luar organisasi kelautan, ia juga bersentuhan dengan berbagai kelompok kemahasiswaan dan kedaerahan, antara lain Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Ikatan Pelajar Mahasiswa Luwu (IPMIL).
Nama-nama organisasi itu menggambarkan luasnya ruang pergaulan yang pernah dimasukinya, meskipun rincian jabatan serta masa keterlibatan dalam setiap organisasi tetap perlu diperiksa melalui arsip dan keterangan pengurus terkait.
Ada satu sisi lain yang membuat perjalanan Badaruddin menarik untuk ditelusuri, yakni kedekatannya dengan dunia pers. Ia disebut pernah menjadi pemimpin redaksi Majalah La Galigo terbitan Lembaga Pers PP IPMIL pada 1993–1995, staf penyunting surat kabar kampus Identitas Unhas, serta perwakilan Tabloid Bisnis Maritim di Makassar pada 1995–1997.
Pengalaman di pers kampus dan media tersebut mempertemukannya dengan tradisi menulis, mengolah informasi, serta membaca persoalan publik dari berbagai sudut pandang.
Dalam kehidupan mahasiswa, pers bukan semata-mata tempat menerbitkan berita, melainkan juga ruang perjumpaan gagasan dan perdebatan mengenai kampus, masyarakat, serta arah perubahan sosial. Namun, untuk mengetahui seberapa jauh pengalaman jurnalistik itu memengaruhi sikap dan pilihan politiknya, diperlukan penuturan langsung dari Badaruddin.
Ketika jalan hidup mulai bercabang
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya pada 1997, Badaruddin mulai memasuki dunia usaha dan membangun aktivitas di luar lingkungan kampus.
Profil biografinya menyebut keterlibatan dalam sejumlah perusahaan di bawah BENUA Group, sementara kiprahnya di organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan terus berkembang melalui berbagai jaringan.
Ia tercatat memiliki hubungan dengan organisasi seperti Barisan Muda Kosgoro 1957, Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG), Pemuda Pancasila, serta Kerukunan Keluarga Tanah Luwu di Jakarta. Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana jejaring yang semula tumbuh dari kampus dan lingkungan kedaerahan dapat meluas ke organisasi yang memiliki jangkauan nasional.
Dalam perjalanan seperti ini, hubungan personal, pengalaman mengelola organisasi, dan kemampuan berkomunikasi sering menjadi modal penting untuk memasuki lingkungan baru.
Meski demikian, jaringan sosial saja tidak cukup untuk menjelaskan keseluruhan perjalanan seseorang; pilihan politik, kepentingan organisasi, pengalaman kerja, dan perubahan situasi juga perlu ditempatkan dalam konteksnya masing-masing.
Latar pendidikan kelautan Badaruddin juga tercatat bersinggungan dengan aktivitas politiknya melalui keterlibatan dalam Kelompok Kerja Kelautan DPP Partai Golkar.
Jejak ini menarik karena memperlihatkan kemungkinan pertemuan antara pengetahuan yang diperoleh di perguruan tinggi dan arena pengambilan keputusan politik, meskipun rekam publik yang tersedia belum cukup untuk merinci program atau kebijakan tertentu yang secara langsung dipimpinnya.
Menjajal kontestasi di Luwu Timur
Pada 2015, Badaruddin membawa pengalaman organisasinya ke gelanggang pemilihan kepala daerah. Ia maju sebagai calon Bupati Luwu Timur berpasangan dengan Andi Baso Makmur dalam Pilkada yang dijadwalkan berlangsung pada 9 Desember 2015. ANTARA Sulsel memberitakan bahwa pasangan tersebut didukung PAN, PKS, Hanura, dan PKB dengan dukungan sembilan kursi.
Pencalonan itu mempertemukan Badaruddin dengan persoalan yang lebih dekat pada kehidupan masyarakat sehari-hari. Dalam kampanyenya, ia menawarkan 22 program unggulan dan melakukan pendekatan dari rumah ke rumah di sejumlah kecamatan.
Pemberitaan ANTARA pada September 2015 mencatat sejumlah isu yang diangkat, mulai dari kebutuhan alat dan mesin pertanian, pupuk, sarana pengairan, listrik, dan bahan bakar hingga penguatan kelembagaan, pemberdayaan perempuan, serta bantuan hukum bagi masyarakat kurang mampu.
Pada November tahun yang sama, ANTARA juga memberitakan persiapan timnya merekrut dan melatih saksi untuk mengawal suara di 436 tempat pemungutan suara. Informasi tersebut memperlihatkan bahwa keterlibatannya dalam politik telah bergerak melampaui aktivitas organisasi menuju kerja elektoral yang membutuhkan koordinasi lapangan, pembagian peran, dan pengelolaan jaringan pendukung.
Bagi seorang putra Luwu yang meniti jalan dari kampus di Makassar, pencalonan di Luwu Timur juga menandai perjumpaan kembali dengan ruang sosial yang memiliki kedekatan geografis dan kultural dengannya. Namun, kedekatan asal daerah tidak dengan sendirinya menjamin dukungan politik, sebab pemilih memiliki pertimbangan, harapan, dan penilaian sendiri terhadap setiap kandidat.
Berkarya, dinamika politik, dan jalan menuju PSI
Perjalanan Badaruddin kemudian memasuki fase baru ketika ia berada dalam kepengurusan Partai Beringin Karya atau Berkarya. Dalam pemberitaan media pada 2020–2022, namanya muncul sebagai Sekretaris Jenderal DPP Partai Berkarya, posisi strategis yang menempatkannya di tengah kerja konsolidasi organisasi dan persiapan menghadapi Pemilu 2024.
Namun, perjalanan organisasi politik tidak selalu berjalan lurus. Pada Februari 2021, detikNews memberitakan bahwa Badaruddin diberhentikan dari jabatan Sekjen berdasarkan keputusan Mahkamah Partai.
Pada Agustus 2022, ANTARA mengutip pernyataannya yang menepis adanya perpecahan internal dengan menekankan upaya konsolidasi, sementara pada Oktober tahun yang sama detikNews melaporkan bahwa ia memilih nonaktif dan menyatakan akan mengundurkan diri setelah menemukan partai untuk melanjutkan kiprahnya.
Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman panjang berorganisasi tidak serta-merta membebaskan seseorang dari dinamika kepentingan dan perselisihan internal. Dalam politik, kemampuan membangun jaringan berjalan beriringan dengan kemampuan menghadapi perbedaan, mempertahankan posisi, serta menentukan kapan seseorang perlu bertahan atau mengambil jalan lain.
Pada Maret 2023, Badaruddin bersama 20 mantan kader Berkarya menyatakan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia. ANTARA memberitakan bahwa ia menyampaikan kesamaan pandangan dengan PSI mengenai pemberantasan korupsi, penolakan intoleransi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pemanfaatan sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat.
Pada awal keterlibatannya di PSI, ia diberitakan menjabat Ketua Dewan Pertimbangan Nasional. Sementara itu, susunan kepengurusan PSI periode 2025–2030 yang diberitakan detikNews pada Oktober 2025 mencatat posisinya sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Nasional.
Pemberitaan tersebut menjadi penanda bahwa Badaruddin masih berada dalam lingkungan politik nasional, setelah melewati berbagai fase organisasi dan perubahan afiliasi partai.
Opu Badar dan ingatan tentang generasi kelautan
Di Boska Coffee, nama Badaruddin hadir bukan semata-mata sebagai figur yang pernah memegang jabatan politik.
Di hadapan kawan lama, ia juga merupakan bagian dari generasi mahasiswa kelautan yang pernah melewati masa-masa perkuliahan, organisasi, dan pers kampus bersama. Kehadiran Salmawati menambah dimensi personal pada pertemuan tersebut, mengingat keduanya juga pernah menjadi bagian dari kehidupan pers mahasiswa Unhas pada zamannya.
Ada jarak waktu yang panjang antara ruang-ruang organisasi mahasiswa pada awal 1990-an dan panggung politik nasional yang kemudian dimasuki Badaruddin.
Dalam rentang itu, setiap orang menempuh jalan masing-masing, membawa pengalaman, jaringan, dan pilihan hidup yang tidak selalu sama. Reuni menjadi menarik justru karena mempertemukan kembali perjalanan yang telah bercabang tersebut tanpa harus menghapus perbedaan di antara para pelakunya.
Bagi penulis, pertemuan itu juga menjadi pengingat bahwa ikatan alumni tidak harus berhenti pada nostalgia. Persahabatan yang dibangun sejak mahasiswa dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan gagasan, membuka percakapan baru, dan memberi dukungan kepada kawan yang sedang mengambil tanggung jawab dalam organisasi profesi.
Dalam konteks itulah gathering di Boska Coffee memperoleh maknanya bagi rencana kepemimpinan Darwis Ismail di ISKINDO periode 2026–2031.
Darwis dan Badaruddin sama-sama berasal dari Luwu Raya, tetapi menempuh jalur pengabdian yang berbeda. Darwis bergerak melalui dunia akademik dan organisasi sarjana kelautan, sedangkan Badaruddin membangun rekam jejak melalui aktivisme mahasiswa, dunia usaha, organisasi kepemudaan, dan politik. Pertemuan keduanya memperlihatkan bahwa latar belakang kelautan dapat menjadi titik temu bagi orang-orang yang kemudian berkarya dalam arena berbeda.
Tentu, dukungan terhadap kepemimpinan Darwis tidak harus dimaknai sebagai penyatuan pilihan politik atau kepentingan semua pihak yang hadir. Justru keberagaman pengalaman dan posisi dapat menjadi kekuatan apabila dikelola dengan keterbukaan, penghormatan terhadap perbedaan, dan kesediaan menempatkan kepentingan organisasi profesi di atas kepentingan pribadi.
Dari persahabatan menuju kontribusi
Kisah Badaruddin Andi Picunang memperlihatkan perjalanan panjang seorang aktivis kampus yang kemudian menapaki dunia usaha dan politik. Rekam jejaknya mencakup kepemimpinan Senat Mahasiswa ITK Unhas, aktivitas dalam HIMITEKINDO dan pers kampus, keterlibatan di berbagai organisasi kepemudaan, pencalonan kepala daerah, hingga jabatan dalam kepengurusan partai politik nasional.
Meski demikian, biografi yang lebih utuh tidak cukup dibangun dari daftar jabatan dan perpindahan organisasi. Kisah tentang apa yang ia pelajari selama menjadi mahasiswa, bagaimana pengalaman di Identitas Unhas membentuk cara pandangnya, apa yang ia perjuangkan dalam organisasi kelautan, serta bagaimana ia memaknai perjalanan politiknya masih layak digali melalui percakapan langsung.
Bagi kawan lama, Badaruddin adalah bagian dari ingatan bersama tentang kehidupan mahasiswa kelautan Unhas pada akhir 1980-an dan awal 1990-an. Bagi publik, ia merupakan tokoh yang perjalanan organisasinya melintasi sejumlah ruang politik nasional. Sementara bagi jejaring alumni, pertemuan semacam ini mengingatkan bahwa persahabatan yang terawat dapat menjadi modal sosial untuk mempertemukan pengalaman, gagasan, dan harapan baru.
Opu Badar, demikian sosok ini dihadirkan dalam judul tulisan, bukan hanya cerita tentang seseorang yang berpindah dari organisasi mahasiswa ke panggung politik.
Ia juga bagian dari kisah generasi kelautan yang terus bergerak, mengambil jalan masing-masing, tetapi sesekali kembali duduk bersama untuk mengenang perjalanan dan membicarakan apa yang masih bisa dikerjakan ke depan.
Di Boska Coffee, pertemuan itu berlangsung sebagai reuni sekaligus dukungan bagi langkah Darwis Ismail. Selebihnya, waktu dan kerja nyata yang akan menunjukkan sejauh mana ikatan persahabatan, pengalaman organisasi, dan kedekatan sebagai sesama alumni dapat diterjemahkan menjadi kontribusi bagi masa depan kelautan Indonesia.
Sebelum berpisah, penulis bertanya tentang kondisi kesehatannya. Dia memang nampak doyong, berjalan pelan.
“Biasalah, yang penting bisa bareng istri, jalan bersama, yang pasti masih bisa berdiri…jalan, bersua teman-teman Kelautan.”
___
Cikini, 12 Oktober 2026









