Lahadeng Keliling Sulsel, dari Sorowako Menyapa Pasar hingga Membidik Dubai

  • Whatsapp
Brand ambassador Keripik Lahadeng (kiri) saat membagikan paket Lahadeng ke pengunjung (dok:Pelakita.ID)

PELAKITA.ID, LUWU TIMUR – Semangat membangun usaha dari daerah kembali terlihat dalam perhelatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) Sulawesi Selatan di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur.

Di antara berbagai aktivitas yang berlangsung, Lahadeng, usaha olahan pangan lokal yang terus mengembangkan pasarnya, hadir membawa produk oleh-oleh sekaligus cerita tentang perjalanan wirausaha yang tumbuh dari kerja keras, kreativitas, dan kemandirian.

Melalui kegiatan bertajuk Lahadeng Keliling Sulsel, produk usaha ini dibagikan kepada pengunjung dalam bentuk 100 paket oleh-oleh.

Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) Luwu Timur, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan produk lokal kepada masyarakat yang menghadiri Harkopnas di Sorowako.

Di sela-sela kegiatan, kontributor PELAKITA.ID dari Luwu Timur, berkesempatan berbincang dengan Nasruddin Nakir, yang akrab disapa Nas, alumni Kelautan Universitas Hasanuddin angkatan 1993 sekaligus pemilik brand Lahadeng.

Percakapan singkat itu membuka gambaran tentang perkembangan bisnis yang tidak hanya mengandalkan produksi makanan olahan, tetapi juga keberanian membaca peluang pasar dan membangun jaringan distribusi.

Angka-angka yang disampaikan Nas cukup menarik perhatian. Lahadeng disebut telah membukukan omzet signifikan per bulan, dengan tiga gerai yang beroperasi di Makassar, Palopo, dan Luwu Timur.

Selain mengandalkan penjualan langsung, produk Lahadeng juga dipasok ke sejumlah toko di Luwu Timur sehingga jangkauan pemasarannya semakin luas.

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa produk olahan pangan berbasis potensi lokal memiliki ruang untuk tumbuh menjadi usaha yang lebih besar. Perjalanan Lahadeng juga menunjukkan pentingnya menghubungkan proses produksi dengan strategi pemasaran, ketersediaan produk, serta kemampuan menjaga hubungan dengan toko dan konsumen.

Hal lain yang tidak kalah menarik adalah adanya permintaan pasar dari Dubai.

Menurut informasi yang disampaikan Nas dalam perbincangan tersebut, terdapat permintaan hingga 10 ton dalam periode 20 hari. Besarnya permintaan ini menjadi peluang yang menjanjikan, sekaligus tantangan bagi Lahadeng untuk memastikan kapasitas produksi, mutu produk, kontinuitas pasokan, dan kesiapan memenuhi persyaratan pasar internasional.

Dari sisi produksi, Lahadeng disebut mampu mengolah sekitar 3.000 buah pisang setiap minggu, di samping bahan baku singkong dan produk olahan lainnya.

Aktivitas produksi tersebut menggambarkan kebutuhan usaha untuk menjaga pasokan bahan baku secara teratur, mengelola proses pengolahan, serta mempertahankan kualitas agar produk dapat diterima oleh pasar yang semakin luas.

Bagi usaha pangan lokal, peningkatan permintaan bukan semata-mata soal menjual lebih banyak produk. Ada pekerjaan penting di belakangnya, mulai dari memastikan ketersediaan bahan baku, membangun kemitraan dengan pemasok, mengatur tenaga kerja, menjaga standar pengolahan, hingga mengembangkan sistem distribusi yang sanggup mengikuti pertumbuhan pasar.

Membina Petani, Memperkuat Bahan Baku

Nas menyadari bahwa peningkatan kapasitas produksi harus berjalan seiring dengan kepastian pasokan bahan baku.

Karena itu, kata dia, salah satu harapan pengembangan Lahadeng ke depan adalah membangun pembinaan bagi petani agar ketersediaan pisang dan singkong dapat ditingkatkan, sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat di sekitar sentra produksi.

“Ke depan, kami ingin melakukan pembinaan kepada petani agar pasokan bahan baku untuk Lahadeng lebih terjamin dan berkelanjutan. Kami juga berharap bisa mendorong penanaman pisang dan singkong dalam skala yang lebih luas, sehingga kapasitas produksi dapat ditingkatkan seiring dengan berkembangnya permintaan pasar,” ujar pria yang merupakan alumni Ilmu Kelautan Unhas ankatan 96 ini.

Menurutnya, penguatan sisi hulu menjadi bagian penting dari rencana pengembangan usaha.

Jika permintaan pasar terus bertumbuh, produksi tidak bisa hanya mengandalkan ketersediaan bahan baku yang ada saat ini, tetapi perlu didukung pola kemitraan yang memungkinkan petani merencanakan penanaman dan memperoleh kepastian pasar.

Pendekatan tersebut berpotensi membangun hubungan yang saling menguntungkan antara usaha pengolahan pangan dan petani. Di satu sisi, Lahadeng membutuhkan pasokan bahan baku yang konsisten untuk menjaga keberlanjutan produksi, sementara di sisi lain petani memerlukan akses pasar yang lebih pasti agar pengembangan komoditas pisang dan singkong memberikan nilai ekonomi yang layak.

Selain memperkuat pasokan bahan baku, Nas juga berencana meningkatkan kualitas rumah produksi.

“Selain itu, kami berencana melakukan peningkatan kualitas rumah produksi agar proses pengolahan semakin baik dan mampu mendukung pengembangan usaha ke depan,” katanya.

Rencana peningkatan rumah produksi tersebut menjadi langkah strategis apabila Lahadeng ingin memperluas jangkauan pemasaran dan memenuhi permintaan dalam volume lebih besar.

Penguatan fasilitas pengolahan perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas produksi, kebersihan, konsistensi mutu, pengemasan, serta pemenuhan standar yang dibutuhkan untuk memasuki pasar yang lebih luas.

Tumbuh Mandiri, Membutuhkan Ekosistem Pendukung

Nas juga menyampaikan bahwa Lahadeng tumbuh secara mandiri, tanpa dukungan khusus dari pemerintah maupun perusahaan.

Informasi ini memberi warna tersendiri pada kisah perjalanan usahanya, sebab di tengah pembicaraan mengenai pemberdayaan ekonomi lokal, Lahadeng memperlihatkan bagaimana inisiatif pelaku usaha dapat berkembang melalui keberanian mengambil peluang dan konsistensi menjalankan bisnis.

Meski demikian, pengalaman Lahadeng membuka ruang refleksi mengenai bagaimana dukungan ekosistem usaha dapat membantu pelaku usaha lokal naik kelas. Akses pembiayaan, pendampingan standardisasi produk, penguatan kemasan, sertifikasi, promosi, dan fasilitasi pasar ekspor merupakan sejumlah aspek yang dapat dipertimbangkan agar peluang pertumbuhan tidak berhenti pada besarnya permintaan semata.

Jika rencana pembinaan petani dan peningkatan rumah produksi dapat diwujudkan,

Lahadeng berpeluang mengembangkan model usaha yang menghubungkan produksi pangan lokal dengan pemberdayaan masyarakat. Dampaknya tidak hanya diukur melalui omzet atau penambahan gerai, tetapi juga melalui terbukanya peluang pasar bagi petani, meningkatnya kebutuhan tenaga kerja, dan tumbuhnya aktivitas ekonomi di sekitar rantai pasok.

Kehadiran Lahadeng dalam Harkopnas Sulsel di Sorowako menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk sekaligus berbagi inspirasi kepada pelaku koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah lainnya.

Sebanyak 100 paket oleh-oleh yang dibagikan mungkin hanya bagian kecil dari keseluruhan aktivitas acara, tetapi cerita di baliknya memperlihatkan potensi usaha lokal untuk membangun pasar secara bertahap.

Bagi penulis, perjumpaan dengan Nas menghadirkan pelajaran penting tentang kewirausahaan yang bertumpu pada inisiatif, keberanian, dan kemampuan membaca kesempatan.

Lahadeng bukan hanya cerita tentang omzet dan jumlah gerai, melainkan juga tentang bagaimana produk daerah dapat bergerak dari pasar lokal menuju peluang yang lebih luas, sembari merintis hubungan yang lebih kuat dengan petani sebagai pemasok bahan baku.

Perjalanan Lahadeng masih menyimpan tantangan, terutama apabila permintaan dari Dubai benar-benar akan direalisasikan dalam volume dan jadwal yang disebutkan.

Meski demkian, kisah usaha ini layak menjadi inspirasi bahwa potensi ekonomi daerah dapat tumbuh melalui kerja nyata, inovasi produk, dan keberanian membangun pasar, sementara kemitraan dengan petani serta dukungan kelembagaan yang tepat dapat membantu usaha seperti Lahadeng berkembang secara lebih berkelanjutan.

___
Penulis Enda Amir Prayuda,melaporkan dari Sorowako, Luwu Timur