Pandangan alumni dalam forum Pra-Kongres IV ISKINDO, 9 Oktober 2026
“Saya berharap pengurus nanti ada yang khusus mengelola sumber daya manusia yang ada di ISKINDO atau melakukan pengembangan SDM khusus di bidang-bidang yang memang menjadi kekuatan di kelautan.” Kemal A. R. Massi, Kelautan Unhas 1990
PELAKITA.ID – Alumni Kelautan asal Universitas Hasanuddin, Kemal A. Massi mengingatkan bahwa keberhasilan Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) tidak cukup ditopang oleh visi besar, gagasan strategis, dan kepemimpinan para senior yang memiliki jabatan penting di berbagai institusi.
Organisasi profesi ini membutuhkan orang-orang yang bekerja langsung menggerakkan kegiatan, dukungan pendanaan yang berkelanjutan, serta ruang pengembangan kapasitas bagi alumni muda yang bersedia mencurahkan waktu dan tenaga untuk organisasi.
Pesan tersebut disampaikan Kemal dalam forum Pra-Kongres IV ISKINDO. Berbekal pengalaman pernah menjadi pengurus pada periode sebelumnya, ia mengingatkan bahwa organisasi dapat kehilangan momentum ketika tidak memiliki cukup penggerak yang menjalankan agenda sehari-hari, meskipun para pengurusnya memiliki pengalaman, jabatan, dan jaringan profesional yang luas.
Bagi Kemal, pengalaman mengelola organisasi memberinya pelajaran bahwa keberlangsungan ISKINDO sangat bergantung pada keberadaan orang-orang yang siap bekerja di lapangan.
“Para senior mungkin memiliki kapasitas, akses, dan pengaruh yang besar, tetapi kesibukan pada jabatan struktural maupun fungsional sering kali membatasi waktu mereka untuk menjalankan kegiatan organisasi secara langsung,” ucapnya.
“Pada saat organisasi ramai, itu sangat dibutuhkan pion-pion yang bisa menggerakkan organisasi,” jelasnya.
Ia menyebut para penggerak tersebut sebagai “prajurit-prajurit” yang menjadi pelaksana kegiatan sekaligus motor operasional organisasi, sehingga kepengurusan baru perlu memberikan perhatian serius terhadap perekrutan, pembinaan, dan pemberdayaan mereka.
Organisasi membutuhkan bahan bakar
Selain sumber daya manusia, Kemal menekankan pentingnya dukungan pendanaan sebagai salah satu prasyarat agar program organisasi dapat berjalan secara konsisten. Ia menggunakan istilah fuel atau bensin untuk menggambarkan sumber daya yang diperlukan ISKINDO dalam menjalankan kegiatan, membangun jejaring, dan mewujudkan program yang telah direncanakan.
Menurutnya, visi dan misi organisasi harus diterjemahkan ke dalam agenda yang realistis, lengkap dengan orang-orang yang bertanggung jawab menjalankannya serta sumber pembiayaan yang jelas.
Tanpa dukungan tersebut, organisasi berisiko memiliki banyak gagasan, tetapi kesulitan merealisasikan kegiatan dan mempertahankan kesinambungan program.
“Jangan sampai teman-teman lupa bahwa organisasi butuh bensin, organisasi butuh fuel,” katanya.
Kemal mengakui bahwa setelah menyelesaikan masa kepengurusannya dua periode sebelumnya, keterlibatannya dalam berbagai kegiatan ISKINDO berkurang karena kesibukan pribadi.
Meski demikian, rencana pembentukan kepengurusan baru menjadi momentum baginya untuk kembali menyampaikan sejumlah catatan berdasarkan pengalaman, terutama mengenai hal-hal mendasar yang perlu dibicarakan sejak awal agar organisasi tidak hanya bergerak pada tataran wacana.
Ia berharap pembahasan mengenai pendanaan dan mekanisme operasional ditempatkan sebagai bagian penting dari perencanaan kepengurusan, bukan sekadar persoalan teknis yang baru dipikirkan ketika kegiatan akan dilaksanakan.
Mengembangkan SDM sekaligus membuka peluang pendanaan
Kemal juga menyoroti peluang untuk menghubungkan pengembangan sumber daya manusia dengan potensi kepakaran yang dimiliki para alumni kelautan.
Ia menyinggung sosok seperti Amiruddin yang penyelam, yang menurutnya pernah memiliki komitmen pada masa kepengurusan terdahulu untuk mengembangkan SDM ISKINDO dan membuka akses ke bidang-bidang kegiatan yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi organisasi.
Ia berharap komitmen tersebut dapat dibicarakan kembali bersama kepengurusan baru, dengan tetap mempertimbangkan kesibukan profesional masing-masing alumni.
Baginya, pengalaman dan keahlian para senior perlu diterjemahkan menjadi kesempatan nyata bagi alumni muda untuk belajar, memperoleh pengalaman, dan berkembang melalui kegiatan yang relevan dengan kompetensi kelautan.
Kemal yang merupakan alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan angkatan 1990 ini secara khusus menilai pengetahuan alumni seperti Amir dari Undip mengenai kehidupan bawah air memiliki potensi pemanfaatan yang luas.
Keahlian tersebut, menurutnya, tidak hanya berguna bagi pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi dasar bagi kegiatan profesional yang membuka peluang pembiayaan organisasi.
“Saya berharap pengurus nanti ada yang khusus mengelola sumber daya manusia yang ada di ISKINDO atau melakukan pengembangan SDM khusus di bidang-bidang yang memang menjadi kekuatan di kelautan,” ujarnya.
Gagasan tersebut mengarah pada kebutuhan membangun mekanisme pengembangan SDM yang lebih terencana, termasuk mengidentifikasi kepakaran alumni, mempertemukan mereka dengan kebutuhan sektor kelautan, serta membuka kesempatan bagi anggota muda untuk terlibat dalam pekerjaan dan program profesional.
Dengan pendekatan ini, kata dia, organisasi dapat menjalankan dua fungsi sekaligus, yakni memperkuat kapasitas anggota dan mengembangkan sumber pendanaan untuk mendukung kegiatan kolektif.
Kepengurusan sebagai pengabdian dan kesempatan bertumbuh
Bagi Kemal, menjadi pengurus organisasi bukan sekadar memperoleh posisi atau mencantumkan nama dalam struktur. Ada pengorbanan waktu, tenaga, perhatian, dan kesempatan pribadi yang harus disiapkan oleh setiap orang yang bersedia menjalankan amanah organisasi.
Karena itu, ia berharap calon pengurus dari kalangan alumni muda memahami tantangan tersebut sejak awal, tetapi juga memperoleh dukungan yang memadai agar keterlibatan mereka menjadi kesempatan untuk berkembang.
Sementara itu, para senior diharapkan tidak hanya memberikan arahan, melainkan turut menyumbangkan ilmu, membuka akses, dan mengajak lebih banyak pihak terlibat dalam kegiatan ISKINDO.
Ia menilai hubungan antargenerasi perlu dibangun melalui kerja nyata. Pengalaman para senior akan lebih bermanfaat apabila ditransfer melalui pendampingan, kolaborasi program, dan kesempatan profesional yang memungkinkan alumni muda mengembangkan kompetensi sekaligus membangun kepercayaan diri.
Pria yang saat ini bekerja di perusahaan minyak ini juga menyinggung komunikasi antaralumni yang menurutnya perlu diperbaiki. Ia mencontohkan informasi mengenai keberadaan Amir selama sekitar dua bulan di Jeneponto yang belum tersampaikan kepada rekan-rekannya, padahal komunikasi semacam itu berpotensi membuka peluang pertemuan, kolaborasi, dan pelibatan alumni dalam kegiatan di lapangan.
Baginya, persoalan tersebut menjadi pengingat bahwa jejaring yang luas tidak otomatis menghasilkan kolaborasi apabila komunikasi tidak berjalan dengan baik.
“Organisasi perlu memastikan informasi mengenai keberadaan, aktivitas, kepakaran, dan peluang kerja para alumni dapat dibagikan sehingga hubungan personal berkembang menjadi kerja bersama yang produktif,” ujarnya.
Menjadikan ISKINDO ruang kerja bersama
Pesan Kemal kepada kepengurusan baru ISKINDO berangkat dari persoalan yang mendasar, tetapi menentukan: siapa yang akan bekerja, bagaimana kegiatan dibiayai, dan bagaimana kepakaran alumni diterjemahkan menjadi manfaat bagi anggota serta organisasi. Ia berharap pertanyaan-pertanyaan tersebut dibahas sejak awal bersama visi dan arah strategis kepengurusan, agar program yang disusun memiliki fondasi pelaksanaan yang jelas.
Pada saat yang sama, ia ingin ISKINDO menjadi ruang pengembangan bagi generasi muda kelautan, tempat mereka memperoleh pengalaman organisasi, memperluas kompetensi, membangun jejaring profesional, dan mengambil bagian dalam kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan sektor kelautan.
Di pandangannya, peran para senior tetap penting, terutama untuk menyediakan pengetahuan, pendampingan, akses, dan peluang kolaborasi.
Bagi Kemal A. Massi, organisasi yang kuat membutuhkan tiga hal yang saling melengkapi: penggerak yang bekerja, pendanaan yang menopang kegiatan, dan sistem pengembangan SDM yang membuka ruang tumbuh bagi alumni.
Ketiganya perlu dibangun melalui komunikasi yang baik, pembagian peran yang jelas, dan komitmen bersama agar ISKINDO tidak hanya menjadi tempat berhimpun, tetapi juga menjadi wadah pengabdian dan pengembangan profesional sarjana kelautan Indonesia.









