Pandangan Founder Pelakita.ID dalam forum Pra-Kongres IV ISKINDO, 9 Oktober 2026*
- Kecintaan terhadap organisasi profesi tidak cukup diukur dari jabatan struktural atau kepemilikan surat keputusan kepengurusan. Ia sendiri mengaku memiliki lima surat keputusan organisasi ikatan alumni, tetapi menyadari bahwa keberadaan nama dalam struktur formal belum tentu menjawab ekspektasi mengenai kontribusi, interaksi, dan manfaat nyata organisasi.
- Ia mengajak peserta forum untuk menilai ISKINDO secara lebih objektif, terutama dalam membedakan aspek yang sudah berjalan efektif, bagian yang perlu dikoreksi, serta arah pembenahan yang perlu dipercepat. Menurutnya, organisasi harus berani memeriksa kembali tujuan keberadaannya, landasan pengetahuannya, dan cara mencapai hasil yang diharapkan.
PELAKITA.ID – Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID dan maritimeposts.com yang merupakan alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas 1989, memandang Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) sebagai ruang strategis untuk mempertemukan pengalaman, pengetahuan, kepakaran, dan jejaring alumni kelautan yang telah berkembang di berbagai sektor.
Bagi dia, momentum menjelang Kongres IV ISKINDO perlu dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi organisasi secara objektif, merawat semangat kebersamaan, serta merumuskan kepemimpinan yang mampu mempercepat transformasi organisasi secara berkelanjutan.
Dalam forum Pra-Kongres IV ISKINDO pada 9 Oktober 2026, Kamaruddin menekankan pentingnya kolaborasi sebagai fondasi penguatan organisasi.
Ia merujuk pandangan Ariyanto Husain – alumni Kelautan Unsrat 88 – yang selama ini mendorong kolaborasi sebagai jalan untuk mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman alumni, sekaligus menghubungkan potensi tersebut dengan kebutuhan para pemangku kepentingan kelautan.
“Saya termasuk yang percaya bahwa sinyal tentang apa yang disebut transformasi berkelanjutan itu sudah disampaikan Kakanda Ariyanto – Kadis KP Gorontalo. Saya berteman baik dengan beliau dan secara filosofis sangat memaknai bahwa selalu beliau dorong itu: kolaborasi, kolaborasi, kolaborasi,” ujarnya.
Bagi dia, kecintaan terhadap organisasi profesi tidak cukup diukur dari jabatan struktural atau kepemilikan surat keputusan kepengurusan. Ia sendiri mengaku memiliki lima surat keputusan organisasi ikatan alumni, tetapi menyadari bahwa keberadaan nama dalam struktur formal belum tentu menjawab ekspektasi mengenai kontribusi, interaksi, dan manfaat nyata organisasi.
Ia mengajak peserta forum untuk menilai ISKINDO secara lebih objektif, terutama dalam membedakan aspek yang sudah berjalan efektif, bagian yang perlu dikoreksi, serta arah pembenahan yang perlu dipercepat.
Menurutnya, organisasi harus berani memeriksa kembali tujuan keberadaannya, landasan pengetahuannya, dan cara mencapai hasil yang diharapkan. “Saya ingin mengatakan ber-IKA ini menjadi sebuah kebutuhan, tapi kadangkala juga ada aspek yang harus kita jawab, apa ontologinya, bagaimana epistemologinya, supaya kita tidak sekadar berperahu tapi tidak jelas targetnya,” katanya.
Merawat sejarah dan memastikan regenerasi
Sebagai alumni yang pernah memimpin ISLA Unhas pada periode 2010–2012, Kamaruddin melihat sejarah organisasi dan pengalaman generasi terdahulu sebagai modal penting untuk membangun masa depan ISKINDO.
Ia mengingat sejumlah tokoh yang telah memberi kontribusi terhadap perkembangan ilmu kelautan, sembari mengingatkan bahwa regenerasi kepemimpinan dan keberlanjutan pengetahuan harus menjadi perhatian bersama.
Ia menyebut kepergian Muhsin Situju, instruktur selam alumni Kelautan Unhas angkatan 1988, sebagai salah satu pengingat bahwa organisasi perlu memikirkan siapa yang akan melanjutkan peran para pendahulu.
Baginya, persoalan suksesi bukan semata-mata pergantian pengurus, melainkan juga bagaimana pengalaman, keahlian, tradisi, dan semangat pengabdian dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pertanyaan tentang siapa yang akan meneruskan peran para tokoh terdahulu, menurutnya, harus dijawab melalui upaya sistematis untuk mengidentifikasi dan mengembangkan kader. Organisasi membutuhkan mekanisme yang memungkinkan pengetahuan para senior tetap hidup, sementara generasi baru memperoleh kesempatan belajar, berkontribusi, dan membangun kepemimpinan berdasarkan kompetensi.
Dalam konteks tersebut, ia juga menyinggung sejumlah alumni yang berkiprah di berbagai daerah dan sektor, termasuk Dr Ahmad Najib, Achim di Universitas Tadulako, serta Amir yang bekerja sebagai konsultan penyelaman di sektor energi di Jeneponto. Nama-nama itu mengingatkan bahwa jaringan alumni kelautan tersebar luas dan memiliki pengalaman profesional yang dapat menjadi sumber pembelajaran maupun peluang kolaborasi.
Jejaring alumni sebagai kekuatan nyata
Salah satu hal yang membuat founder Pelakita.ID tetap mencintai ISKINDO adalah pengalamannya sendiri merasakan manfaat jejaring alumni.
Pertemuan dan hubungan profesional yang terbangun melalui berbagai kegiatan telah mempertemukannya dengan banyak orang, membuka ruang pertukaran gagasan, dan memperluas hubungan dengan pemangku kepentingan di berbagai wilayah.
Ia mencontohkan persahabatannya dengan Ariyanto Husain Kadis Kelautan dan Perikanan di Gorontalo yang terbangun melalui pertemuan dalam JICA Project, sekaligus menyinggung koneksi alumni yang terus berkembang di berbagai daerah. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa organisasi dan komunitas alumni memiliki nilai ketika mampu menghadirkan hubungan yang berkelanjutan, melampaui kegiatan formal dan batas-batas kepengurusan.
Kamaruddin juga menyoroti kiprah alumni kelautan yang menduduki posisi strategis di perguruan tinggi. Ia menyebut empat figur yang menurut pengamatannya menjadi dekan pada fakultas terkait perikanan dan kelautan, yakni Beginner di IPB, Joko di Undip, Mahatma Lanuru di Unhas, serta Donny di Umrah.
Di pemerintahan daerah, ia menyinggung kiprah Ariyanto Husain di Gorontalo, Muhammad Ilyas di Sulawesi Selatan, dan Muslim di Nusa Tenggara Barat.
Sebaran posisi tersebut, menurutnya, merupakan modal yang patut dikonsolidasikan agar kepakaran, pengalaman kepemimpinan, dan akses kelembagaan para alumni dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi pengembangan ilmu dan pembangunan sektor kelautan.
“Saya kira ini merupakan momentum yang bagus sekaligus tantangan buat kita untuk bisa konsolidasi dan bisa memanfaatkan jejaring-jejaring itu. Dan tentu ini dasarnya adalah kepakaran kelautan kita, pengalaman kita yang sangat panjang itu, dan saya kira sudah ada di mana-mana,” tuturnya.
Ia juga mengungkapkan upayanya mendokumentasikan pengalaman dan pengetahuan alumni melalui Pelakita.ID. Baginya, arsip pemberitaan, tulisan, profil, dan rekam jejak para alumni bukan sekadar dokumentasi media, tetapi juga sumber pengetahuan yang dapat membantu organisasi memahami perkembangan profesi kelautan dan mengenali potensi anggotanya.
Ia mengajak peserta untuk menelusuri dokumentasi tersebut dan menggunakan media sebagai salah satu sarana membaca perjalanan organisasi. Melalui dokumentasi yang berkelanjutan, pengalaman individual dapat dihimpun menjadi memori kolektif yang memperkuat identitas, pembelajaran, dan kesinambungan gerakan alumni kelautan.
Kepemimpinan melalui konsensus dan kompetensi
Menjelang Kongres IV ISKINDO, Kamaruddin memberikan perhatian khusus pada proses suksesi kepemimpinan.
Ia berharap pemilihan pengurus dapat mengedepankan konsensus yang dibangun melalui dialog dan negosiasi, sehingga organisasi tidak harus selalu berakhir pada mekanisme pemungutan suara atau voting. Namun, konsensus yang ia maksud bukanlah kesepakatan yang semata-mata membagi giliran kepemimpinan berdasarkan kedekatan atau urutan kelompok.
Menurutnya, calon pemimpin perlu dipertimbangkan berdasarkan kompetensi, rekam jejak, keterlibatan dalam perjalanan organisasi, serta kesediaan untuk bersama-sama menghadapi tantangan dalam situasi sulit maupun ketika organisasi memperoleh keberhasilan.
“Yang kita ingin lihat adalah siapa gerangan yang selama ini bersama kita pada susah senang dan itu bisa menjadi alasan untuk kita kemudian memilah dan memilih siapa yang pantas untuk itu,” katanya.
Pandangan tersebut menempatkan konsensus dan kompetensi sebagai dua prinsip yang perlu berjalan beriringan.
Konsensus dapat menjaga persatuan dan mengurangi friksi internal, sedangkan kompetensi memastikan bahwa kepemimpinan yang dihasilkan memiliki kapasitas, komitmen, dan legitimasi untuk membawa organisasi bergerak lebih efektif.
Kamaruddin juga mengingatkan perlunya evaluasi terhadap kontribusi seluruh kekuatan organisasi, termasuk Dewan Pengurus Wilayah (DPW).
Ia mempertanyakan sejauh mana potensi alumni di setiap wilayah telah terlibat dan memberikan kontribusi bagi organisasi, seraya mengakui bahwa persoalan partisipasi merupakan tantangan yang lazim dihadapi organisasi alumni.
Baginya, kenyataan tersebut tidak seharusnya membuat anggota berkecil hati. Justru, masih adanya inisiatif untuk mempertemukan alumni dan mendiskusikan masa depan organisasi merupakan tanda bahwa ruang pembenahan tetap terbuka, selama semangat kebersamaan dijaga dan aspirasi anggota diterjemahkan menjadi langkah konkret.
Kebersamaan yang melampaui surat keputusan
Di bagian akhir pandangannya, Kamaruddin mengangkat pengalaman personal yang menggambarkan arti persaudaraan alumni dalam situasi nyata. Ia menceritakan pengalamannya ketika mengalami muntah-muntah selama tiga hari tiga malam di Kapal Madidihang dan merasa terbantu oleh teman-temannya yang hadir memberikan dukungan.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa nilai sebuah organisasi tidak selalu tercermin dalam struktur formal, dokumen kepengurusan, atau agenda kongres. Ada ikatan kepercayaan, kepedulian, solidaritas, dan kesediaan saling menolong yang tumbuh melalui pengalaman bersama, lalu bertahan bahkan ketika seseorang tidak lagi memegang jabatan organisasi.
Ia mencontohkan grup alumni Sandipati Bahari yang tetap dipeliharanya, dengan sejumlah anggota seperti Andreas Dipi, Dedy Adriyan, Samso Herman, dan Joko dari Undip. Menurutnya, interaksi dalam komunitas semacam itu dapat menghidupkan kembali semangat kebersamaan tanpa harus selalu bergantung pada struktur dan penugasan formal.
“Saya membaca di situ tarikan-tarikan yang tidak perlu di-SK-kan, tapi dia seperti calling back the spirit of togetherness,” ujarnya.
Bagi Kamaruddin, ISKINDO memiliki peluang besar untuk berkembang jika mampu menghubungkan kepakaran, pengalaman profesional, dokumentasi pengetahuan, dan solidaritas yang sudah tumbuh di antara para alumni.
Tantangannya ialah menjadikan kekuatan yang tersebar tersebut sebagai modal kolektif yang terorganisasi, terarah, dan mampu menjawab kebutuhan pembangunan kelautan Indonesia.
Pesan yang ia sampaikan sederhana, tetapi mendasar: ISKINDO tidak cukup hanya menghimpun alumni dalam struktur organisasi, melainkan harus mampu merawat sejarah, memastikan regenerasi, mengonsolidasikan jejaring, serta memilih kepemimpinan berdasarkan kompetensi dan komitmen.
Kecintaan terhadap organisasi dapat diterjemahkan menjadi kerja bersama yang terukur, berkelanjutan, dan memberi manfaat nyata bagi dunia kelautan Indonesia.









