M Riza Damanik Membaca ISKINDO, Dulu, Kini dan Nanti

  • Whatsapp
Ketua Umum Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia 2021-2026, M. Riza Damabik (dok: Pelakita.ID)

Refleksi Ketua Umum ISKINDO dalam Pra-Kongres IV · 9 Oktober 2026

  • Ia menekankan bahwa ISKINDO harus tetap berdiri sebagai organisasi profesi yang mengutamakan pendekatan saintifik dan empirik. Metode kerja boleh berubah mengikuti perkembangan zaman, tetapi semangat dasar organisasi, kecintaan terhadap profesi, dan komitmen pada pengetahuan tidak boleh ditinggalkan.
  • Ia meminta para senior dan tokoh organisasi memanfaatkan waktu menjelang kongres pada 23–24 Oktober untuk membicarakan proses tersebut secara bijaksana. Baginya, persiapan yang baik akan membantu peserta mencapai kesepahaman sebelum memasuki forum resmi, sehingga kongres dapat lebih berfokus pada agenda organisasi dan masa depan ISKINDO.
  • Organisasi tidak seharusnya bertumpu pada satu atau dua orang, melainkan membangun pembagian peran yang memungkinkan lebih banyak anggota berkontribusi sesuai kompetensi dan kapasitasnya.

PELAKITA.ID – Ketua Umum Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO), M. Riza Damanik, berharap Kongres IV menjadi momentum untuk memperkuat fondasi organisasi, memperluas kontribusi sarjana kelautan, dan menyiapkan kepemimpinan baru yang mampu bekerja dengan energi lebih positif.

Baginya, setelah membaca linimasa sejarah, pengalaman lima tahun terakhir dan sejumlah kisah di antaranya, kongres ISKINDO kelak, tidak semestinya habis untuk menyelesaikan persoalan teknis, tetapi perlu menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan segar, merumuskan strategi besar, dan membangun arah organisasi yang lebih kuat.

Dalam forum Pra-Kongres pada 9 Oktober 2026, Riza menyampaikan apresiasi kepada para senior, anggota, dan pengurus wilayah dari seluruh Indonesia yang telah berkontribusi dalam persiapan kongres.

Agenda pra-kongres, menurutnya, sengaja diselenggarakan agar sebagian pembahasan dapat dilakukan lebih awal, sehingga pertemuan kongres pada 23–24 Oktober dapat lebih berfokus pada persoalan strategis dan gagasan yang akan menjadi bekal kepengurusan berikutnya.

Ia menekankan bahwa ISKINDO harus tetap berdiri sebagai organisasi profesi yang mengutamakan pendekatan saintifik dan empirik. Metode kerja boleh berubah mengikuti perkembangan zaman, tetapi semangat dasar organisasi, kecintaan terhadap profesi, dan komitmen pada pengetahuan tidak boleh ditinggalkan.

“Metodenya bisa berbeda dulu dengan sekarang, atau hari ini dengan sebelum-sebelumnya, atau ke depan nanti dengan hari ini, pasti akan sangat berbeda,” ujarnya. “Tapi saya kira nawaitu-nya, spiritnya itu tidak boleh berubah.”

Transformasi digital untuk memperkuat keanggotaan

Riza menempatkan transformasi digital sebagai salah satu instrumen penting untuk memperkuat tata kelola ISKINDO. Ia mengingatkan bahwa cara berkomunikasi dan mengelola organisasi telah berubah dari masa pager, SMS, dan BlackBerry Messenger hingga penggunaan aplikasi percakapan serta sistem digital yang memungkinkan informasi menjangkau anggota dengan lebih cepat.

Perubahan teknologi tersebut, menurutnya, seharusnya dimanfaatkan untuk memperluas manfaat organisasi, bukan sekadar mengikuti tren digital. Salah satu instrumen yang telah dikembangkan adalah sistem kartu anggota digital, yang menurut catatannya telah memuat ribuan anggota dan berpotensi terus diperluas untuk menjangkau alumni kelautan di berbagai perguruan tinggi.

Riza mengungkapkan bahwa dalam tiga hingga empat tahun terakhir, ia menerima banyak tanggapan dari anggota, terutama yang bekerja di perguruan tinggi, mengenai manfaat kartu anggota untuk mendukung kebutuhan profesional. Kartu tersebut, antara lain, dapat membantu menunjukkan keanggotaan dalam organisasi profesi yang dibutuhkan untuk keperluan jenjang karier akademik, kenaikan pangkat, dan administrasi profesi lainnya.

Ia menilai manfaat itu menjadi pintu masuk untuk menjangkau alumni yang sebelumnya belum terdaftar atau belum berinteraksi aktif dengan ISKINDO.

Oleh sebab itu, ia berharap para pengurus dan anggota di setiap perguruan tinggi dapat membantu mengajak alumni melakukan registrasi, sehingga basis keanggotaan semakin lengkap dan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program.

Ke depan, data anggota yang terkelola dengan baik dapat membantu kepengurusan baru menyusun program yang lebih tepat sasaran, membentuk kelompok keahlian, serta merancang kegiatan peningkatan kapasitas berdasarkan kebutuhan dan kompetensi anggota. Riza juga membuka kemungkinan pengembangan sistem aktivasi keanggotaan yang lebih dinamis, dengan mekanisme pembaruan data dan status keanggotaan yang dirancang secara jelas.

Dari basis data menuju AI kelautan Indonesia

Bagi Riza, data bukan hanya perangkat administrasi, melainkan aset strategis yang dapat menentukan kemampuan organisasi menghasilkan pengetahuan dan memengaruhi kebijakan.

Ia mengingat percakapan dengan Profesor Kuntjoro sekitar 10–15 tahun sebelumnya mengenai kebutuhan Indonesia membangun clearing house untuk mengelola data yang tersebar di berbagai tempat.

Saat itu, gagasan tersebut belum sepenuhnya ia pahami. Namun, perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan membuatnya melihat kembali pentingnya membangun sistem penyimpanan serta pengelolaan data yang terintegrasi, khususnya untuk mendukung komunitas kelautan.

Sosok yang pernah kuliah di Ilmu Kelautan Unhas ini membayangkan potensi kolaborasi dengan lebih dari 50 perguruan tinggi untuk menghimpun dan mengelola data kelautan secara sistematis.

“Jika didukung tata kelola yang tepat, penyimpanan data yang memadai, dan teknologi analisis yang sesuai, himpunan pengetahuan tersebut dapat menjadi fondasi bagi pengembangan kecerdasan buatan yang berorientasi pada kebutuhan kelautan Indonesia,” sebutnya.

Ia mengusulkan kemungkinan pengembangan AI kelautan yang mencerminkan karakter Indonesia sebagai negara tropis dan negara kepulauan, dengan konteks ekologi, sosial, ekonomi, serta persoalan pengelolaan laut yang tidak selalu sama dengan negara lain.

Gagasan tersebut masih memerlukan perencanaan, standar kualitas data, tata kelola akses, dan kolaborasi antarlembaga, tetapi dapat menjadi arah strategis untuk memperkuat keunggulan pengetahuan kelautan nasional.

“Coba saja kalau seandainya dulu data itu sudah kita kumpulkan dalam satu rumah tertentu,” ujarnya, menggambarkan peluang yang mungkin terbuka apabila data telah terkelola dan dapat dimanfaatkan bersama.

Kata alumni Undip angkatan 1998 ini, sistem seperti itu tidak hanya bermanfaat bagi ISKINDO, tetapi juga dapat memperkuat kapasitas komunitas sarjana kelautan dalam riset, pengembangan keahlian, dan advokasi kebijakan.

Memperluas advokasi dan jejaring internasional

Riza juga mengingatkan bahwa penguatan data dan kapasitas ilmiah perlu berjalan beriringan dengan advokasi kebijakan. Sebagai organisasi profesi, ISKINDO memiliki peluang untuk menghimpun pengetahuan para ahli, menyusun rekomendasi berbasis bukti, dan menghubungkan gagasan akademik dengan kebutuhan pengambilan keputusan di sektor kelautan.

Di samping itu, ia ingin agar gagasan membangun jejaring organisasi sejenis di tingkat regional dan internasional kembali dilanjutkan. Riza mengenang inisiatif komunikasi dengan jejaring ASEAN yang sempat dirintis pada tahun-tahun awal kepengurusannya, tetapi terhenti ketika pandemi COVID-19 melanda.

Menurutnya, upaya tersebut layak dipertimbangkan kembali oleh kepengurusan mendatang agar sarjana kelautan Indonesia memiliki ruang lebih luas untuk bertukar pengetahuan, membangun kemitraan, dan terlibat dalam percakapan profesional lintas negara.

Jejaring internasional juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan pengalaman Indonesia dalam pengelolaan sumber daya laut tropis dan pengembangan sektor kelautan berkelanjutan.

Kepemimpinan kolektif dan organisasi yang lebih solid

Salah satu refleksi penting Riza terkait linimasa ISKINDO adalah adanya tantangan untuk menjalankan organisasi yang pengurusnya juga memiliki pekerjaan utama masing-masing.  Ia menilai situasi di tingkat pusat maupun daerah relatif serupa, dengan beragam keterbatasan waktu, kapasitas komunikasi, dan kesinambungan administrasi yang memengaruhi pelaksanaan tugas organisasi.

Ia mencontohkan pembaruan surat keputusan kepengurusan wilayah yang dalam sejumlah kasus tidak mudah ditindaklanjuti. Menurutnya, persoalan semacam itu bukan sesuatu yang hanya terjadi di ISKINDO, tetapi juga dijumpai dalam berbagai organisasi yang mengandalkan kontribusi anggota dengan kesibukan profesional masing-masing.

Digitalisasi dapat membantu mengatasi sebagian hambatan tersebut, termasuk melalui sistem administrasi keanggotaan, pembaruan data, dan pengelolaan masa berlaku dokumen organisasi. Namun, Riza mengingatkan bahwa teknologi tetap perlu ditopang kesediaan anggota untuk berkomunikasi, menjalankan tanggung jawab, dan menjaga kesinambungan kerja organisasi.

Karena itu, ia memandang kepemimpinan kolektif sebagai kebutuhan penting bagi ISKINDO ke depan.

Organisasi tidak seharusnya bertumpu pada satu atau dua orang, melainkan membangun pembagian peran yang memungkinkan lebih banyak anggota berkontribusi sesuai kompetensi dan kapasitasnya.

Riza juga menyoroti perlunya menjaga soliditas internal agar persoalan teknis tidak terus-menerus menyerap energi yang semestinya digunakan untuk agenda strategis. Ia tidak bermaksud menyepelekan perbedaan atau persoalan internal, tetapi mengajak anggota membedakan masalah yang benar-benar substantif dari hal-hal yang berpotensi menjadi gangguan bagi produktivitas organisasi.

“Kita justru pengin teman-teman kita bertarung di luar,” ujarnya, merujuk pada pentingnya mengarahkan energi anggota untuk menghadapi tantangan nyata di bidang kelautan, memperkuat pengaruh profesional, dan memperjuangkan gagasan organisasi di ruang publik.

Ia berharap kepengurusan berikutnya dapat memulai masa kerja dengan suasana yang sehat, semangat positif, dan kesediaan untuk berbagi tanggung jawab. Dengan demikian, ISKINDO dapat membangun narasi bersama yang lebih kuat daripada menghabiskan waktu untuk memperbesar perbedaan di antara sesama anggota.

Mengapresiasi DPW yang aktif dan memperluas praktik baik

Dalam refleksinya, Riza memberikan apresiasi kepada pengurus wilayah yang tetap aktif menggerakkan organisasi melalui beragam kegiatan dan pendekatan. Ia menyebut Sulawesi Utara, Bangka Belitung, Lampung, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, dan Nusa Tenggara Barat sebagai sejumlah wilayah yang aktivitas serta diskusinya ia ikuti.

Menurutnya, dinamika di setiap daerah memiliki karakteristik tersendiri, sehingga tidak tepat jika seluruh DPW diharapkan bekerja dengan pola yang seragam.

Yang penting, kata Deputi Bidang UMUM, Kementerian UMKM ini adalah organisasi dapat mengenali inisiatif yang berjalan baik, mempelajari pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan lokal, dan memberikan ruang agar praktik-praktik tersebut dapat dikembangkan.

Riza juga mengajak pengurus nasional memikirkan bentuk apresiasi atau dukungan bagi wilayah yang aktif.

Baginya, penguatan organisasi bukan hanya tentang mendorong wilayah yang belum bergerak, melainkan juga memastikan bahwa mereka yang telah bekerja dan menghasilkan kegiatan tidak dibiarkan berjalan sendiri tanpa dukungan yang memadai.

Ke depan, ia berharap Kongres IV menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan antara DPP dan DPW, sekaligus membangun kesepahaman tentang arah organisasi.

“Masukan yang telah disampaikan dalam pra-kongres, menurutnya, perlu ditindaklanjuti menjadi perbaikan konkret, sehingga refleksi organisasi tidak berhenti sebagai catatan yang hanya dibicarakan dalam forum,” jelasnya.

Mars ISKINDO, jurnal ilmiah, dan warisan organisasi

Riza turut menyampaikan apresiasi kepada Mas Bibit Mugiyana yang telah menyiapkan Mars ISKINDO. Ia memandang karya tersebut sebagai bagian dari warisan organisasi yang dapat memperkuat rasa bangga dan identitas kolektif para sarjana kelautan.

Dengan nada humor, ia berkelakar bahwa penciptaan mars dan himne organisasi yang terlalu cepat jangan sampai membuat ISKINDO seolah-olah hendak segera menjadi partai politik.

Candaan itu disambut tawa peserta, tetapi pesan utamanya tetap jelas: identitas organisasi perlu dibangun dan dirawat sebagai bagian dari perjalanan bersama.

Selain identitas, Riza menyoroti pengembangan publikasi ilmiah melalui kerja sama ISKINDO dengan sejumlah perguruan tinggi. Ia menyebut dukungan terhadap beberapa jurnal, di antaranya jurnal yang diterbitkan bersama Universitas Diponegoro, Universitas Trunojoyo Madura, dan Universitas Maritim Raja Ali Haji, sebagai bagian dari upaya membuka ruang publikasi bagi karya para sarjana kelautan.

Ia berharap kerja sama jurnal dapat diperluas, termasuk dengan perguruan tinggi yang sedang mengembangkan kapasitas publikasinya. Menurutnya, kemitraan tersebut berpotensi membantu alumni memublikasikan hasil penelitian sekaligus memperkuat peran ISKINDO dalam mendorong produksi dan penyebaran pengetahuan kelautan.

Riza juga mengingatkan perlunya mengevaluasi sejauh mana jurnal-jurnal yang telah didukung itu benar-benar dimanfaatkan oleh anggota. Data mengenai jumlah publikasi, penggunaan, dan sitasi dapat membantu organisasi memahami dampak kerja sama tersebut serta menentukan bentuk pengembangan berikutnya.

Dengan menghubungkan data anggota, pengembangan jurnal, jejaring perguruan tinggi, dan kelompok keahlian, ISKINDO memiliki peluang membangun ekosistem pengetahuan yang lebih kuat.

Organisasi dapat menjadi penghubung antara peneliti, praktisi, lembaga pendidikan, dan pengambil kebijakan, sehingga karya ilmiah tidak berhenti pada publikasi, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk digunakan.

Musyawarah mufakat sebagai jalan regenerasi

Menjelang Kongres IV, Riza menempatkan proses pemilihan kepengurusan sebagai salah satu agenda yang perlu disiapkan dengan matang. Ia mengingatkan bahwa ketika dirinya bersama Sekretaris Jenderal dan Wakil Ketua Umum terpilih lima tahun sebelumnya, proses pergantian kepemimpinan berlangsung melalui musyawarah dan mufakat.

ISKINDO, katanya, juga pernah menjalani pemilihan melalui mekanisme voting terbuka yang menyisakan ketegangan dan luka di antara sebagian anggota.

Pengalaman itu menjadi alasan baginya untuk mengajak para senior memperkuat kembali semangat musyawarah, dengan harapan proses pemilihan berikutnya dapat berlangsung dalam suasana yang lebih menyatukan.

Ia meminta para senior dan tokoh organisasi memanfaatkan waktu menjelang kongres pada 23–24 Oktober untuk membicarakan proses tersebut secara bijaksana. Baginya, persiapan yang baik akan membantu peserta mencapai kesepahaman sebelum memasuki forum resmi, sehingga kongres dapat lebih berfokus pada agenda organisasi dan masa depan ISKINDO.

Riza juga menekankan bahwa musyawarah mufakat bukan berarti menghindari perbedaan pandangan, melainkan mengelolanya melalui dialog dan pertimbangan bersama.

Proses tersebut membutuhkan keterbukaan, kesediaan mendengar, serta komitmen untuk menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi atau kelompok.

Dalam penutup refleksinya, ia mengingatkan bahwa pengurus baru akan menghadapi tantangan yang lebih luas, mulai dari transformasi digital, penguatan jejaring keilmuan, advokasi kebijakan, pengembangan profesional, hingga konsolidasi organisasi. Karena itu, ISKINDO membutuhkan kepemimpinan yang mampu menyatukan pengalaman para senior dengan energi generasi berikutnya, sekaligus mengubah gagasan menjadi pekerjaan yang nyata.

Harapan Riza pada akhirnya bukan sekadar agar kongres berjalan lancar atau menghasilkan susunan pengurus baru.

Ia ingin ISKINDO keluar dari kongres dengan soliditas yang lebih kuat, program yang lebih terarah, dan kemampuan lebih besar untuk memanfaatkan peluang yang tersedia bagi sarjana kelautan Indonesia.

Bagi M. Riza Damanik, keberlanjutan ISKINDO bertumpu pada dua hal yang harus berjalan bersama: menjaga semangat dasar organisasi profesi dan terus memperbarui cara kerjanya. Teknologi dapat berubah, jejaring dapat meluas, dan kepemimpinan dapat berganti, tetapi kecintaan terhadap organisasi, penghormatan pada pengetahuan, serta kesediaan bekerja bersama perlu tetap menjadi fondasi perjalanan ISKINDO.