Silaturahmi Senior Antek Unhas di Surabaya, Askari Uda Aziz

  • Whatsapp
Penulis bersua alumni Teknik Mesin 86 Unhas, Askari Uda Aziz (dok: Pelakita.ID)

Di meja jamuan konro bakar di Kota Pahlawan, founder Pelakita.ID, Kamaruddin Azis bersilaturahmi dengan Askari Uda Aziz, alumni Teknik Mesin Unhas angkatan 1986 yang kini dikenal dalam jejaring alumni teknik di Jawa Timur. Dia adalah Koordinator Wilayah IKATEK Unhas Jawa Timur.

PELAKITA.ID – Surabaya, 8 September 2026, menjadi ruang perjumpaan yang hangat bagi dua alumni Universitas Hasanuddin (Unhas) yang menempuh jalur pendidikan berbeda, tetapi dipertemukan oleh ikatan almamater, persaudaraan, sesama anggota WAG Alumni Unhas.

Pukul 11 siang Askari Uda Azis, alumni Teknik Mesin Unhas angkatan 1986 menyapa via WA. ”Kapan balik?” pesannya. Dari tepi Kota Surabaya dia berkabar kalau hendak berkunjung ke penginapan penulis di Midtown Residence.

Dia mengajak menikmati makan siang sebelum penulis menuju bandara Juanda.

Tidak apa penjelasan lokasinya, di atas mobil, ada Iqbal, karyawan setia Askari asal Makassar yang memang konsisten menggeluti perdagangan mesin pompa, mesin yang banyak gunakan usaha perikanan budidaya hingga usaha pertanian, perikanan hingga usaha pertambangan.

Perjalanan kurang lebih 10 menit dari Midtown akhirnya bermuara di Konro Karebosi.  Tempatnya luas, bersih dan terasa nyaman. Ada ruang ber-AC, ada Malino hingga Bantimurung Room.

“Saya pallumara, kita?” tanya Askari. “Saya coto,” kata Iqbal.

“Konro,” kata penulis sigap.

Kebersamaan dengan senior IKATEK Unhas, Askari Uda Aziz di Konro Karebosi ini bukan sekadar urusan menikmati hidangan khas Makassar di tanah rantau.

Di antara aroma rempah, percakapan santai, dan cerita masa lalu, obrolan mengalir menuju pengalaman berorganisasi, perjalanan karier para senior, serta bagaimana jejaring alumni tetap terpelihara melintasi generasi, profesi, dan jarak geografis.

Bagi penulis, pertemuan semacam ini memiliki makna tersendiri.

Ada kampung halaman yang hadir dalam percakapan, ada kenangan tentang bangku kuliah yang kembali hidup, dan ada perasaan akrab ketika bertemu seseorang yang memahami sejarah serta bahasa pergaulan yang sama.

Surabaya, dengan segala kesibukan dan dinamika kotanya, sejenak terasa dekat dengan Makassar.

Dalam perbincangan tersebut, Askari Uda Aziz berbagi cerita tentang jejaring alumni teknik yang tumbuh dan bertahan di Jawa Timur. Sebagai bagian dari kepengurusan wilayah Ikatan Alumni Teknik (IKATEK) Jawa Timur, ia berada dalam lingkungan yang mempertemukan alumni dari beragam angkatan, bidang keahlian, dan perjalanan profesional.

Kata dia, jejaring itu tidak selalu dibangun melalui rapat resmi atau agenda organisasi yang tersusun rapi.

“Hubungan baik dan bermanfaat justru tumbuh dari percakapan sederhana, saling bertanya kabar, berbagi informasi, atau menghubungkan seseorang dengan teman lama yang kebetulan memiliki kepentingan dan pengalaman serupa,” sebutnya.

Dia menyebut nama-nama senior Unhas yang pernah berkiprah di lingkungan Teknik Unhas menjadi bagian dari ingatan kolektifnya, ada Muhammad Sapri Andi Pamulu, ketua IKATEK saat ini, lalu ada nama Andi Rivai Ras, alumni Arsitektur angkatan 1986 yang kini direktur di salah satu perusahaan berbasis usaha pertanian, ada Anwar Mattawappe hingga Abu Azhar di PT Vale.

Menurut Askar, IKATEK terus memupuk hubungan dengan alumni dan jejaringnya. Ada teknik mesin, arsitektur hingga sipil.

Hubungan tersebut memperlihatkan bahwa keluarga besar alumni tidak harus dibatasi oleh disiplin ilmu. Alumni Teknik Mesin dapat terhubung dengan alumni Arsitektur, alumni dari fakultas lain, maupun sesama perantau yang memiliki pengalaman organisasi dan ikatan emosional dengan Unhas.

Di situlah chemistry menemukan maknanya. Ia bukan sekadar kecocokan dalam percakapan, melainkan rasa percaya yang memungkinkan orang saling membantu, membuka akses, dan menjaga hubungan meskipun sudah lama tidak bertemu.

Jejaring yang tumbuh dari pengalaman bersama itu menjadi modal sosial yang nilainya sering kali baru terasa ketika seseorang membutuhkan dukungan di perantauan.

“Dulu ada koordinator regional IKATEK, sekarang koordinator wilayah provinsi, seperti Jatim ini,” ucapnya.

Di Sop Konro Karebosi kami juga mengenal Ilham Hanafi, alumni FH Unhas yang merupakan bagian dari usaha kuliner tenar dari Makassar ini.

Menurut Askari, kehidupan kampus pada masa muda kerap menjadi fondasi hubungan yang bertahan hingga puluhan tahun kemudian.

Pengalaman berorganisasi, berdiskusi, menghadapi perbedaan pendapat, dan bekerja bersama membentuk ingatan kolektif yang tidak mudah hilang meskipun masing-masing alumni kemudian menempuh jalan hidup berbeda.

Dalam percakapan bersamanya, pengalaman masa Senat Mahasiswa dan hubungan antarsenior menjadi salah satu pintu untuk memahami bagaimana jejaring itu terbentuk.

Persaudaraan yang bermula di lingkungan kampus dapat berkembang menjadi hubungan profesional, ruang bertukar informasi, bahkan jalur untuk mempertemukan orang-orang yang memiliki kepentingan dan tujuan serupa.

Ketika alumni berada di daerah yang berbeda, jejaring tersebut dapat membantu mengurangi jarak sosial.

Seseorang yang datang ke Surabaya, misalnya, memiliki kesempatan untuk bertemu sesama alumni yang mengenal lingkungan setempat, memahami karakter masyarakat, dan mungkin dapat menghubungkannya dengan orang lain yang relevan dengan kebutuhannya.

Bagi Askari, kekuatan jejaring tidak semestinya hanya diukur dari seberapa banyak alumni duduk di pemerintahan, atau punya jabatan strategis, atau koleksi nomor telepon tokoh yang tersimpan atau seberapa sering pertemuan diselenggarakan.

”Saya kira, ukuran yang lebih penting adalah apakah hubungan tersebut mampu menghadirkan manfaat, memfasilitasi kolaborasi, dan memberi ruang bagi alumni untuk saling mendukung dalam kehidupan profesional maupun sosial,” ujar pria yang merupakan alumni PPSP di Makassar ini.

PPSP yang dimaksud Askari adalah Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Makassar, yang berada di kawasan Bungaya dan Mappaoddang.

Sekolah tersebut memiliki sejarah tersendiri dalam perjalanan pendidikan di Makassar. Dalam cerita yang mengalir, PPSP dikenang sebagai lingkungan pendidikan yang mempertemukan banyak siswa dengan pengalaman belajar dan pergaulan yang kemudian berlanjut ke berbagai perguruan tinggi serta bidang profesi.

Nama-nama yang disebut dalam percakapan, seperti Ilham Rasjid atau Kak Ilo, serta Guru Besar  FIKP Unhas, Iqbal Jawad, memperlihatkan bagaimana ingatan tentang sekolah dan kampus sering kali bertaut dalam perjalanan hidup seseorang.

Sebelum menuntaskan konro, pallumara dan coto kami bertiga, Askari menyebutkan, menjaga organisasi alumni tetap hidup tentu tidak selalu mudah.

Perbedaan pandangan, kesibukan pekerjaan, jarak tempat tinggal, serta beragam kepentingan dapat membuat komunikasi tidak selalu berjalan lancar.

Dalam obrolan kami, dinamika tersebut hadir sebagai bagian dari realitas organisasi yang harus dikelola dengan kedewasaan

Ada kalanya pembicaraan alumni bergerak pada gagasan ideal tentang pembangunan daerah dan pemanfaatan potensi sumber daya. Pada kesempatan lain, diskusi berhadapan dengan kebutuhan yang lebih praktis, seperti pekerjaan, peluang usaha, hubungan profesional, dan bagaimana mempertemukan orang yang tepat dengan kebutuhan yang tersedia.

Kedua pendekatan itu sebenarnya tidak perlu dipertentangkan. Idealisme memberi arah bagi organisasi, sedangkan kerja praktis memastikan bahwa gagasan dapat diterjemahkan menjadi kegiatan yang menghasilkan manfaat. Organisasi alumni akan lebih relevan apabila mampu menjaga keduanya secara seimbang.

Dalam konteks IKATEK Jawa Timur, jejaring alumni berpotensi menjadi ruang pertukaran informasi dan pengalaman profesional.

Alumni yang bekerja di sektor industri dapat berbagi pengetahuan mengenai kebutuhan tenaga ahli, mereka yang bergerak di dunia usaha dapat membuka peluang kemitraan, sementara alumni yang berkiprah di pemerintahan dan perguruan tinggi dapat membawa perspektif berbeda tentang pembangunan serta pengembangan sumber daya manusia.

Potensi itu tentu membutuhkan komunikasi yang terpelihara, pemetaan kompetensi, dan kesediaan untuk berbagi. Dengan cara tersebut, organisasi alumni tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan sama, tetapi juga menjadi ruang yang mempertemukan kemampuan, pengalaman, dan peluang.

Jamuan Sop Konro Karebosi bersama Askari Uda Aziz di Surabaya menjadi gambaran sederhana tentang hal itu.

Hidangan yang dekat dengan ingatan kampung halaman mempertemukan dua perantau dalam ruang percakapan yang terbuka, tempat cerita tentang sekolah, kampus, senior, organisasi, dan perjalanan hidup saling menyambung.

Dari perjumpaan semacam ini, kita belajar bahwa merawat hubungan tidak selalu memerlukan acara besar atau seremoni panjang.

Kadang-kadang, yang dibutuhkan hanyalah waktu untuk duduk bersama, mendengarkan cerita, mengingat kembali perjalanan yang telah dilalui, dan membuka percakapan mengenai apa yang masih dapat dilakukan bersama.

”Boleh dong, Pelakita.ID jadi marketer untuk produk atau obyek bisnis perusahaan Kak Uda?” kata penulis.

Dia menyungging senyum, tidak mengiyakan, tetapi mengisyaratkan bahwa usaha yang digelutinya butuh hitungan cermat, kesungguhan dan tak harus dikelola dalam gegas.

Apapun itu, pada 8 September 2026 itu, di meja Sop Konro Karebosi Surabaya, silaturahmi menjadi lebih dari sekadar pertemuan dua alumni.

Ia menjadi pengingat bahwa persaudaraan yang dirawat sejak masa muda dapat terus memberi arti ketika seseorang telah menempuh perjalanan panjang dalam kehidupan profesional dan sosial.

____