Pada Ruang dan Waktu, Mari Kawal Arah Bahtera Organisasi Alumni | Catatan dari Pra Kongres-IV ISKINDO

  • Whatsapp
  • ISKINDO tidak boleh berhenti sebagai tempat berkumpulnya para sarjana yang memiliki latar belakang pendidikan serupa.  Ia perlu menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan dan praktik, antara kampus dan dunia kerja, antara kebijakan dan kebutuhan masyarakat sebagai disampaikan Ketua Umum M. Riza Damanik sore ini, tentang bertemunya kebijakan dan pengetahuan, antara empirisme dan narasi perubahan, tentang gagasan pembangunan dengan kenyataan yang dihadapi orang-orang yang menggantungkan hidupnya pada laut.
  • Siapa pun yang kelak memegang kemudi, tugas kita tidak berhenti pada memberikan mandat, menyusun program, atau menyampaikan ucapan selamat. Tugas yang lebih panjang adalah memastikan bahwa ISKINDO semakin mampu menghadirkan gagasan, memperluas kolaborasi, dan memberi kontribusi yang dapat dirasakan dalam pembangunan kelautan Indonesia.

Oleh Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID dan maritimeposts.com

PELAKITA.ID – Organisasi alumni sejatinya dibangun untuk menghimpun orang-orang dengan latar belakang dan keahlian yang sama. Dia juga diharapkan menjadi rumah bersama, tempat gagasan dirawat, jejaring diperkuat, dan pengabdian menemukan arah.

Nah, bagi penulis, Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) semestinya menjadi keduanya: rumah bagi para sarjana kelautan sekaligus bahtera bersama untuk ikut menentukan masa depan maritim Indonesia.

Saya kembali merasakan semangat itu ketika didapuk menjadi moderator talk show Pra-Kongres IV ISKINDO sore ini di Hotel Aryaduta Tugu Tani Jakarta, 9 Oktober 2026.

Pertemuan yang dihadiri tidak kurang 100 orang dari ranah daring dan luring tersebut bukan sekadar agenda menjelang pergantian kepengurusan, melainkan kesempatan untuk menengok perjalanan organisasi sejak didirikan pada 2015, membaca tantangan yang sedang dihadapi, dan membayangkan kontribusi apa yang bisa ditawarkan kepada Indonesia pada tahun-tahun mendatang.

Perjalanan bersama ISKINDO mengajarkan bahwa organisasi tidak semata-mata ditentukan oleh siapa yang duduk sebagai ketua, siapa yang menjadi sekretaris jenderal, atau siapa yang mengisi susunan kepengurusan. Lebih jauh dari itu, organisasi memperoleh makna dari orang-orang yang bersedia merawatnya, menjaga cita-cita pendiriannya, dan memastikan bahwa keberadaannya memberikan manfaat melampaui kepentingan orang-orang yang sedang mengelolanya.

Karena itu, menjelang Kongres IV, saya ingin mengingatkan satu hal sederhana: siapa pun ketuanya, siapa pun pengurusnya, dan seperti apa pun bahtera yang akan dinakhodai, semangat dasarnya harus tetap sama.

ISKINDO mesti menjadi wadah bagi alumni ilmu dan teknologi kelautan Indonesia untuk mengambil bagian dalam pembangunan bangsa, terutama ketika masa depan Indonesia semakin erat berkaitan dengan kemampuan kita mengelola ruang laut dan seluruh sumber daya yang menyertainya.

Sejak berdiri pada 2015, ISKINDO telah melewati berbagai fase perjalanan organisasi, pergantian kepemimpinan, dan dinamika pembangunan kelautan nasional. Dalam perjalanan tersebut, organisasi ini dibangun melalui kontribusi banyak orang, termasuk para perintis dari sejumlah perguruan tinggi yang memiliki tradisi pendidikan kelautan dan komitmen untuk memperkuat peran sarjana kelautan di tingkat nasional.

Saya masih mengingat keterlibatan sejumlah perguruan tinggi dalam merintis organisasi ini, antara lain Universitas Riau, Universitas Diponegoro, IPB University, Universitas Pattimura, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Sam Ratulangi.

Meski jarang bertemu langsung penulis bangga tetap terhubung dengan alumni Sandi Pati Bahari tahun 1994, anggotanya datang dari alumni 6 perguruan tinggi yang bersama-sama melewati susah senang di atas kapal latih Madidihang di Selat Makassar dalam Januari yang bergelombang dahsyat di Selat Makassar.

Begitu pun tentang yang hadir di pertemuan hari ini. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa ISKINDO sejak awal membawa semangat lintas kampus, mempertemukan beragam pengalaman akademik dan profesional dalam satu rumah besar bernama sarjana kelautan Indonesia.

Partisipasi dan paparan Amehr Hakim, Direktur Penataan Ruang Laut KKP (dok: Pelakita.ID)

Semangat lintas kampus itulah yang perlu terus dipelihara. Kekuatan organisasi profesi tidak hanya terletak pada jumlah anggota atau rutinitas pertemuan, tetapi juga pada kemampuannya menghubungkan pengetahuan, pengalaman lapangan, akses kelembagaan, dan aspirasi para anggotanya menjadi kekuatan kolektif yang relevan bagi masyarakat.

Saya memahami mengapa menjelang kongres banyak kawan mulai berdiskusi, bertukar pandangan, dan mencari informasi tentang arah organisasi ke depan. Percakapan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk menjadikan ISKINDO lebih dinamis, lebih terbuka terhadap perubahan, dan lebih mampu menawarkan sesuatu yang bermakna, bukan sekadar menjalankan organisasi sebagaimana kebiasaan sebelumnya.

ISKINDO tidak boleh berhenti sebagai tempat berkumpulnya para sarjana yang memiliki latar belakang pendidikan serupa.  Ia perlu menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan dan praktik, antara kampus dan dunia kerja, antara kebijakan dan kebutuhan masyarakat sebagai disampakan Ketua Umum M. Riza Damanik sore ini, tentang bertemunya kebijakan dan pengetahuan, antara gagasan pembangunan dengan kenyataan yang dihadapi orang-orang yang menggantungkan hidupnya pada laut.

Dengan cara itulah bahtera ini akan tetap memiliki arah. Kepemimpinan boleh berganti, strategi dapat diperbarui, dan program kerja bisa disesuaikan dengan perkembangan zaman, tetapi tujuan besarnya harus tetap terjaga: menghadirkan kontribusi nyata para sarjana kelautan bagi Indonesia.

Dalam percakapan menjelang talk show, saya menyampaikan keyakinan bahwa masa depan bangsa Indonesia sangat berkaitan dengan kelautan dan kemaritiman dan itu menjadi arena perjuangan ISKINDO di bawah kepemimpinan Riza dan Sekjennya Ady Candra. Agenda pembaruan kebijakan yang dianggap sentralistis mulai dibenahi dengan membuka ruang seluas-luasnya terutama pada konsepsi dan praktik seperti Kampung Nelayan Merah Putih yang sejak tahun ini mulai menawarkan kolaborasi perguruan tinggi hingga NGO.

Keyakinan ini bukan sekadar ungkapan kebanggaan sebagai alumni ilmu kelautan, melainkan pengingat bahwa laut merupakan ruang kehidupan, sumber penghidupan, penyangga ekosistem, sekaligus bagian penting dari arah pembangunan nasional.

Saat ini, berbagai agenda pembangunan kelautan membuka ruang keterlibatan yang luas bagi para sarjana kelautan.

Saya menyebut sejumlah agenda yang berkembang, mulai dari Kampung Nelayan Merah Putih, pengembangan kampung budidaya, pelaksanaan Penangkapan Ikan Terukur, pembangunan Pantai Utara Jawa, penetapan kawasan konservasi, hingga perluasan kawasan konservasi. Masing-masing memiliki persoalan, kebutuhan keahlian, dan tantangan implementasi yang tidak selalu dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan administratif.

Di balik setiap program, terdapat kebutuhan untuk memahami kondisi sosial masyarakat, karakteristik ekosistem, kelayakan teknologi, tata kelola kelembagaan, serta hubungan antara kebijakan dan kehidupan sehari-hari.

Di sinilah sarjana kelautan dapat mengambil peran, bukan hanya sebagai tenaga ahli yang menguasai aspek teknis, tetapi juga sebagai penghubung antara ilmu pengetahuan, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan kepentingan keberlanjutan.

Slide paparan Kadis Kelautan dan Perikanan Nusa Tenggara Barat, Muslim, S.T, M.Si (dok: Pelakita.ID)

Senang mendengarkan ‘kritik’ alumni pada misalnya pengelolaan ruang laut yang justru melemahkan semangat daerah, juga tentang usaha tambang yang destruktif, tata ruang yang timpang serta belum sungguh-sungguhnya pelibatan komunitas pesisir dan pulau-pulau kecil untuk masuk dalam proses perencanaan.

Peluang tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi ISKINDO. Organisasi ini perlu membantu anggotanya membaca perubahan, memperkuat kompetensi, membangun jejaring lintas sektor, dan memperluas ruang pengabdian.

Para alumni harus mampu menjawab kebutuhan pembangunan tanpa kehilangan daya kritis, sebab keberhasilan pembangunan kelautan tidak cukup diukur dari besarnya anggaran atau banyaknya proyek yang terlaksana.

Pembangunan yang bermakna juga harus memperhatikan manfaat yang diterima masyarakat, keberlanjutan sumber daya, kualitas tata kelola, dan kemampuan komunitas untuk melanjutkan kegiatan setelah intervensi program berakhir.

Pemahaman seperti ini dapat menjadi salah satu sumbangan penting sarjana kelautan dalam memastikan bahwa agenda maritim tidak hanya tumbuh sebagai kebijakan, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, saya berharap ISKINDO dapat semakin hadir dalam percakapan strategis tentang masa depan kelautan Indonesia. Organisasi ini memiliki modal berupa pengetahuan, pengalaman, dan jaringan alumni yang tersebar di berbagai institusi, sehingga akan sangat disayangkan apabila potensi tersebut tidak dihimpun menjadi kekuatan yang terorganisasi.

Merawat Optimisme di Tengah Perubahan

Dalam kesempatan itu, saya juga teringat perjumpaan dengan Ketua Umum ISKINDO M. Riza Damanik di Makassar pada bulan September sebelumnya.

Ada pesan yang saya bawa dari percakapan tersebut, yakni pentingnya menjaga optimisme dalam situasi apa pun. Bagi saya, optimisme bukan berarti menganggap semua persoalan mudah diselesaikan, melainkan kesediaan untuk terus bekerja dan mencari jalan keluar ketika keadaan berubah.

Saya percaya ISKINDO bukan hanya dibutuhkan oleh ketua umum atau sekretaris jenderal, melainkan oleh seluruh anggotanya dan ekosistem kelautan Indonesia.

Organisasi ini menjadi penting ketika mampu menyediakan ruang bagi alumni untuk bertukar gagasan, memperluas kolaborasi, memperjuangkan kompetensi profesi, dan menawarkan solusi atas berbagai persoalan pembangunan kelautan.

Optimisme juga perlu disertai keberanian melakukan pembaruan. Organisasi profesi harus bersedia mengevaluasi cara kerja, membuka ruang bagi generasi baru, mendengarkan anggota dari berbagai daerah, dan membangun hubungan yang lebih kuat dengan kebutuhan nyata sektor kelautan.

Dengan demikian, pengalaman para senior tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, sementara energi generasi muda tidak kehilangan saluran untuk berkembang.

Saya melihat momentum menjelang Kongres IV sebagai kesempatan untuk mempertemukan keduanya.

Sejarah memberi organisasi ini akar, sedangkan pembaruan menyediakan ruang untuk bertumbuh. Keduanya tidak perlu dipertentangkan, karena organisasi yang sehat justru mampu menghormati perjalanan masa lalu sambil memberi kesempatan kepada gagasan baru untuk diuji dan dikembangkan.

Sejarah yang Menjadi Bekal

Dalam perjalanan ISKINDO, ada banyak sosok yang memberi warna dan meninggalkan jejak.

Salah satunya adalah M. Zulficar Mochtar, yang pernah memimpin organisasi ini dan kemudian dikenal dalam perjalanan profesionalnya di sektor perikanan nasional. Ketika menyebut namanya dalam talk show, saya mengajak para hadirin mendoakan kesembuhannya, sebagai bentuk kepedulian kepada seorang sahabat sekaligus bagian dari sejarah organisasi.

Bagi saya, menghargai para pendahulu bukan berarti menempatkan masa lalu sebagai sesuatu yang tidak boleh berubah. Justru dengan memahami kontribusi mereka, kita dapat mengenali nilai-nilai yang patut dipertahankan, membaca kekurangan yang perlu diperbaiki, dan melanjutkan pekerjaan yang belum selesai dengan pendekatan yang lebih sesuai dengan tantangan zaman.

Sejarah ISKINDO tidak semestinya hanya tersimpan dalam dokumentasi kongres, susunan kepengurusan, atau ingatan orang-orang yang hadir sejak awal.

Paparan Kadis KP Sulsel, Muhammad Ilyas (dok: Pelakita.ID)

Sejarah itu perlu diterjemahkan menjadi pembelajaran organisasi, pengetahuan bersama, dan inspirasi bagi anggota yang baru bergabung agar mereka memahami mengapa organisasi ini didirikan serta tanggung jawab apa yang menyertainya.

Dalam konteks tersebut, kongres bukan sekadar peristiwa memilih pemimpin. Kongres merupakan ruang untuk menguji kembali relevansi cita-cita organisasi, menilai perjalanan yang sudah ditempuh, dan merumuskan komitmen bersama terhadap masa depan. Kepemimpinan baru memperoleh maknanya ketika mampu membawa pengalaman masa lalu menjadi bekal untuk menjawab persoalan hari ini dan kebutuhan hari esok.

Terus Berlayar, Terus Memberi Arti

Saya datang ke forum Pra-Kongres IV bukan hanya sebagai moderator yang bertugas memandu percakapan, melainkan juga sebagai bagian dari perjalanan panjang komunitas sarjana kelautan Indonesia. Saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga agar organisasi ini terus hidup, berkembang, dan memberi manfaat bagi anggotanya maupun masyarakat luas.

Sahabat alumni Kelautan, bahtera ISKINDO adalah milik bersama. Ia tidak boleh bergantung sepenuhnya pada satu figur, satu generasi, atau satu periode kepengurusan.  Ia harus ditopang oleh kesediaan para anggotanya untuk terlibat, berbagi pengetahuan, membangun kepercayaan, dan bekerja bersama melampaui perbedaan latar belakang maupun kepentingan profesional.

Saya berharap Kongres IV menjadi momentum untuk memperkuat kembali semangat tersebut.

Siapa pun yang kelak memegang kemudi, tugas kita tidak berhenti pada memberikan mandat, menyusun program, atau menyampaikan ucapan selamat. Tugas yang lebih panjang adalah memastikan bahwa ISKINDO semakin mampu menghadirkan gagasan, memperluas kolaborasi, dan memberi kontribusi yang dapat dirasakan dalam pembangunan kelautan Indonesia.

Kepada seluruh sahabat sarjana kelautan, mari terus merawat bahtera ini, pada ruang dan waktu yang terus berubah. Laut yang kita pelajari, masyarakat yang kita dampingi, dan masa depan bangsa yang kita cita-citakan terlalu luas untuk dihadapi sendiri-sendiri. Kita membutuhkan organisasi yang kuat, kepemimpinan yang terbuka, dan anggota yang bersedia mengubah pengetahuan menjadi pengabdian.

Bagi penulis, termasuk adik-adik alumni yang menyiapkan pra kongres ke-4 ini, saya membaca kesungguhan, bertemu, berjejaring, memerik hikmah dan membuka peluang baru, bahwa ISKINDO bukan hanya tentang siapa yang pernah memimpin atau siapa yang sedang berlayar di dalamnya.

ISKINDO adalah tentang cita-cita yang diwariskan, kerja bersama yang terus diperbarui, dan keyakinan bahwa para sarjana kelautan memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga arah masa depan maritim Indonesia.

Mari terus merawat bahtera ISKINDO. Bukan semata-mata agar ia tetap berlayar, melainkan agar setiap pelayaran membawa arti bagi ilmu pengetahuan, masyarakat, laut, dan Indonesia.

___
Aryaduta, 9 Oktober 2026