Di belakang seluruh pemain tersebut berdiri Lionel Scaloni, lelaki yang kini mudah dipuji setelah membawa Argentina menjadi juara dunia. Namun, penunjukannya dahulu dipertanyakan karena Scaloni bukan nama besar dan tidak datang membawa reputasi sebagai maestro taktik sepak bola Eropa.
PELAKITA.ID – Ketika Argentina bermain, kamera hampir selalu mencari Lionel Messi, lelaki yang selama dua dekade menjadi pusat gravitasi sepak bola dunia.
Ketika bola berhenti, kamera mencarinya, dan ketika gol tercipta, jutaan pasang mata menunggu ekspresi sang kapten Argentina tersebut.
Argentina yang mencapai semifinal Piala Dunia 2026 bukanlah kesebelasan yang hanya dibangun dari keajaiban seorang Lionel Messi. Di belakang Messi terdapat 25 pemain lain dengan karakter, perjalanan hidup, pengalaman, dan peran berbeda dalam sistem permainan Lionel Scaloni.
Ada penjaga gawang yang menikmati tekanan, bek petarung, gelandang pekerja, penyerang tajam, serta pemain muda yang membawa masa depan Argentina.
Di belakang mereka berdiri Lionel Scaloni, pelatih yang dahulu diragukan, kemudian mengubah Argentina menjadi salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia.
Mereka datang ke Amerika Utara membawa sebuah misi besar, mempertahankan gelar juara dunia yang empat tahun sebelumnya diraih di Qatar.
Brasil terakhir mempertahankan gelar Piala Dunia pada 1962, pencapaian yang belum mampu diulangi negara mana pun selama puluhan tahun.
Argentina kini berdiri beberapa langkah dari sejarah tersebut, tetapi Inggris menunggu dalam semifinal yang penuh tekanan, rivalitas, dan memori panjang. Di bawah mistar berdiri Emiliano Martínez, lelaki yang oleh masyarakat Argentina dipanggil Dibu dan telah menjadi bagian dari psikologi pertandingan besar.
Dalam adu penalti, wajah Martínez berubah, tubuhnya bergerak, mulutnya berbicara, dan pikirannya perlahan memasuki kepala para penendang lawan.
Scaloni menghargai bukan hanya kemampuan teknis Martínez, tetapi energi dan rasa percaya diri yang dibawanya ke dalam kelompok Argentina.
Ada penjaga gawang yang dinilai melalui statistik penyelamatan, tetapi Dibu sering dinilai melalui rasa aman yang diberikannya kepada rekan setim.
Di belakangnya, Gerónimo Rulli memahami sulitnya menjadi penjaga gawang Argentina ketika Emiliano Martínez telah menguasai posisi utama selama bertahun-tahun. Rulli tetap berlatih seperti pemain utama karena turnamen panjang dapat mengubah nasib seorang pemain hanya melalui satu kejadian dalam semalam.
Pengalaman panjangnya di sepak bola Eropa membuat Rulli tetap menjadi bagian penting dari kedalaman kelompok yang dibangun Lionel Scaloni.
Juan Musso membawa cerita berbeda, datang ke Piala Dunia 2026 setelah melewati persaingan panjang untuk memperoleh tempat dalam skuad Argentina.
Tubuh tinggi dan pengalaman sepak bola Eropa menjadikannya pilihan lain ketika Scaloni membutuhkan karakter berbeda di bawah mistar gawang.
Di negara dengan jutaan pemain sepak bola, hanya tiga penjaga gawang dibawa menuju Piala Dunia, dan Musso menjadi salah satunya.
Di lini belakang, Marcos Senesi membawa pengalaman yang sangat relevan menjelang semifinal karena dirinya memahami intensitas sepak bola Inggris. Bermain di lingkungan Premier League membuat Senesi terbiasa menghadapi kecepatan, duel udara, dan tekanan fisik yang menjadi karakter banyak pemain Inggris.
Ia mungkin bukan nama terbesar Argentina, tetapi turnamen sering ditentukan pemain yang memiliki karakter tepat untuk sebuah pertandingan tertentu.
Nicolás Tagliafico bermain seperti seorang pekerja yang tidak membutuhkan sorotan, tetapi selalu hadir ketika Argentina membutuhkan keberanian dan disiplin bertahan.
Ia memahami perjalanan Argentina dari tim penuh trauma menjadi kelompok yang percaya bahwa mereka mampu memenangkan pertandingan sebesar apa pun.
Pengalaman seperti itu tidak dapat dibeli, terutama ketika semifinal Piala Dunia berubah menjadi pertarungan mental, emosi, dan fisik.
Gonzalo Montiel membawa sebuah kenangan yang akan hidup selamanya karena dirinya mengeksekusi penalti terakhir pada final Piala Dunia 2022.
Bola masuk, Argentina menjadi juara dunia, Messi berlutut, dan jutaan warga Argentina menangis merayakan berakhirnya penantian panjang mereka.
Montiel memahami rasanya berjalan menuju titik penalti ketika seluruh dunia melihat dan sebuah bangsa menunggu hasil dari satu tendangan.
Jika semifinal melawan Inggris kembali menuju adu penalti, Scaloni mungkin kembali mencari wajah pemain yang pernah menaklukkan tekanan terbesar tersebut.
Di tengah lapangan, Leandro Paredes memahami seni sepak bola Argentina, mengetahui kapan bermain indah dan kapan pertandingan harus dibuat tidak nyaman.
Ia mampu mengatur distribusi bola, membaca emosi, memperlambat tempo, serta masuk dalam konfrontasi yang mengubah temperatur sebuah pertandingan.
Paredes adalah pemain untuk pertandingan yang mulai kacau, sebuah situasi yang sering membuat Argentina justru merasa semakin nyaman.
Lisandro Martínez membawa karakter berbeda, bermain seolah setiap duel merupakan persoalan pribadi yang harus dimenangkan dengan keberanian dan keyakinan penuh.
Tubuhnya mungkin tidak setinggi banyak bek tengah Eropa, tetapi agresivitasnya sering menghapus perdebatan mengenai ukuran fisik seorang pemain bertahan.
Cedera pernah mengganggu perjalanannya, tetapi karakter Lisandro tetap menjadikannya bagian penting dari identitas kompetitif Argentina di bawah Scaloni. Lalu ada Rodrigo De Paul, pemain yang sering terlihat berada tidak jauh dari Messi ketika tensi pertandingan mulai meningkat.
Jika Messi merupakan seniman utama Argentina, De Paul adalah pekerja yang memastikan panggung tetap tersedia bagi sang nomor sepuluh.
Ia berlari, menekan, mengejar, membawa bola, berbicara kepada wasit, dan mendekati lawan ketika pertandingan mulai kehilangan ketenangannya.
Hubungannya dengan Messi telah menjadi bagian penting dari generasi Argentina, membuat De Paul sering disebut sebagai pengawal sang kapten. Namun, De Paul lebih dari sekadar pengawal Messi karena dirinya merupakan mesin emosional yang menjaga energi dan intensitas permainan Argentina.
Di antara generasi juara, Scaloni mulai memasukkan wajah-wajah baru yang suatu hari harus membangun Argentina setelah era Lionel Messi selesai.
Valentín Barco menjadi bagian dari generasi tersebut, membawa teknik, keberanian, dan kemampuan bermain vertikal yang memberikan dimensi berbeda.
Pemain berambut merah itu bukan sekadar pemain cadangan, tetapi bagian dari jembatan menuju Argentina yang suatu hari harus hidup tanpa Messi.
Julián Álvarez berada di antara masa kini dan masa depan, seorang penyerang yang tidak pernah terlihat benar-benar berhenti berlari.
Ia mengejar bek, menekan penjaga gawang, menyerang ruang kosong, kemudian muncul di depan gawang pada waktu yang sangat tepat.
Álvarez dapat menghilang dari perhatian beberapa menit, kemudian sebuah gerakan sederhana darinya mampu mengubah arah pertandingan secara keseluruhan.
Pada usia 26 tahun, ia bukan lagi pemain muda pengikut Messi, tetapi telah berkembang menjadi pemimpin penting dalam serangan Argentina.
Namun, setiap pembicaraan tentang Argentina pada akhirnya tetap kembali kepada Lionel Messi, lelaki yang kini berusia 39 tahun.
Messi lebih sering berjalan di lapangan, tetapi setiap langkahnya merupakan bagian dari proses membaca pergerakan lawan dan mencari ruang tersembunyi.
Ia mengamati bek, mengukur jarak, menunggu kesalahan kecil, kemudian bergerak ketika lawan kehilangan konsentrasi hanya dalam beberapa detik.
Messi tidak lagi harus mendominasi setiap menit karena dirinya hanya membutuhkan satu momen untuk mengubah seluruh cerita sebuah pertandingan.
Bagi Inggris, persoalannya sederhana sekaligus menakutkan karena tidak seorang pun benar-benar mengetahui kapan momen Messi tersebut akan datang.
Di sekeliling Messi terdapat Nicolás González, pemain serbaguna yang menawarkan tenaga, pergerakan, dan kemampuan menempati beberapa posisi serangan.
Fleksibilitas González sangat berharga karena Scaloni sering mengubah struktur permainan tanpa kehilangan keseimbangan maupun karakter dasar timnya.
Argentina tidak selalu menyelesaikan pertandingan dengan bentuk yang sama seperti ketika memulainya, dan González memungkinkan perubahan tersebut terjadi.
Giuliano Simeone membawa nama belakang yang langsung mengundang perhatian karena dirinya merupakan putra pelatih terkenal, Diego Simeone.
Namun, Giuliano harus berlari dengan kakinya sendiri karena nama besar ayahnya tidak dapat memenangkan pertandingan untuk dirinya.
Ia menawarkan energi, agresivitas, dan kemampuan menyerang ruang, memberikan Scaloni alternatif dengan karakter berbeda dalam struktur permainan Argentina.
Nico Paz membawa cerita tentang masa depan, menjadi salah satu nama menarik setelah penampilan kuatnya di Eropa menarik perhatian staf Scaloni.
Ia membuat pendukung mulai bertanya bagaimana Argentina akan bermain ketika era Lionel Messi akhirnya benar-benar mencapai titik terakhir.
Argentina tidak membutuhkan Messi baru karena pemain seperti itu mungkin tidak akan muncul lagi dalam beberapa generasi sepak bola dunia.
Mereka membutuhkan generasi baru dengan identitas sendiri, dan Nico Paz ingin menjadi bagian penting dari perjalanan menuju masa depan tersebut.
Lautaro Martínez, sang El Toro, tetap membawa kekuatan, agresivitas, dan naluri mencetak gol ke dalam setiap pertandingan bersama Argentina.
Perjalanannya tidak selalu mudah karena dirinya pernah kehilangan posisi utama ketika Julián Álvarez mengambil panggung terbesar dalam serangan Argentina.
Namun, Lautaro tetap datang, bekerja, dan menunggu karena seorang penyerang memahami satu kesempatan dapat mengubah seluruh pertandingan.
José Manuel López mungkin belum terlalu dikenal penonton internasional, tetapi Scaloni membawanya ke Piala Dunia karena pertimbangan taktik tertentu. Penyerang bertubuh kuat tersebut memberikan pilihan nomor sembilan dengan karakter berbeda dibandingkan Julián Álvarez ataupun Lautaro Martínez.
Turnamen besar sering menciptakan pahlawan dari pemain yang sebelumnya tidak diperhitungkan, dan López menunggu kemungkinan itu datang kepadanya.
Thiago Almada membawa imajinasi, keberanian memainkan bola, dan kemampuan menciptakan peluang ketika struktur pertahanan lawan semakin tertutup.
Argentina memiliki banyak pekerja, tetapi sebuah tim juara membutuhkan pemain yang mampu melihat jalur umpan tersembunyi dari pandangan orang lain.
Ketika Messi dijaga dua atau tiga pemain, kreativitas dari Almada dapat menjadi sumber serangan alternatif yang sangat penting.
Di sisi kanan, Nahuel Molina memahami hubungan antara pertahanan dan serangan, menjadikan jalurnya bagian penting dari struktur permainan Argentina.
Ia berlari ke belakang pertahanan, membuka ruang, dan membaca momen ketika Messi bersiap mengirimkan umpan menuju area berbahaya.
Hubungan keduanya dibangun melalui waktu, menciptakan pemahaman sepersekian detik yang sering memisahkan peluang biasa dari sebuah gol.
Di jantung pertahanan, Cristian Romero memahami satu kenyataan sederhana bahwa Argentina tampaknya tidak dapat memenangkan pertandingan tanpa menderita. Romero hidup dalam penderitaan tersebut karena setiap serangan lawan datang kepadanya dan setiap kesalahan kecil dapat berubah menjadi gol.
Melawan Inggris, ia mungkin menghadapi Harry Kane dalam duel yang bukan sekadar pertarungan pemain, tetapi benturan dua karakter besar.
Di dekatnya ada Nicolás Otamendi, pemain yang telah melihat Argentina ketika dipenuhi keraguan, kekalahan, kritik, dan berbagai luka panjang.
Kemudian ia melihat semuanya berubah, ketika generasi Scaloni mengubah kegagalan menjadi gelar dan akhirnya membawa Argentina menjadi juara dunia.
Pada usia matang, Otamendi menjadi arsip hidup dalam ruang ganti, memahami perjalanan panjang dari kegagalan menuju kejayaan terbesar.
Ia mungkin bukan bek tercepat, tetapi pengalaman mengajarkannya kapan harus tenang dan kapan pertandingan membutuhkan kemarahan serta keberanian.
Facundo Medina mewakili wajah baru pertahanan Argentina, membawa agresivitas, kemampuan bermain dari belakang, dan fleksibilitas dalam struktur pertahanan.
Scaloni memilih pemain berdasarkan fungsi, bukan sekadar nama besar, dan Medina menunjukkan bagaimana regenerasi dilakukan tanpa menghancurkan fondasi lama.
Generasi juara tetap berada dalam tim, sementara pemain baru masuk perlahan, belajar bahasa kelompok, kemudian menjadi bagian dari identitas Argentina.
Giovani Lo Celso membawa luka yang berbeda karena cedera membuatnya kehilangan Piala Dunia 2022 dan menyaksikan Argentina juara dari kejauhan.
Bayangkan perasaannya ketika melihat rekan-rekannya mengangkat trofi, merasakan kebahagiaan, kebanggaan, sekaligus kehancuran karena dirinya tidak berada di sana.
Pada 2026, Lo Celso kembali membawa kesempatan mengalami sendiri sesuatu yang empat tahun sebelumnya direnggut secara kejam oleh cedera.
Exequiel Palacios adalah gelandang yang memahami sistem, bergerak menutup ruang, mendistribusikan bola, dan menjaga keseimbangan permainan Argentina.
Pemain seperti Palacios penting dalam turnamen panjang karena Scaloni dapat mengubah komposisi lini tengah tanpa kehilangan identitas permainan.
Kedalaman bukan sekadar memiliki pemain terkenal, tetapi kemampuan mengganti satu bagian tanpa membuat seluruh mesin permainan berhenti bekerja.
Pada Piala Dunia 2022, Enzo Fernández datang sebagai pemain muda sebelum turnamen mengubah status dan perjalanan kariernya secara luar biasa.
Empat tahun kemudian, Enzo bukan lagi pendatang, melainkan salah satu pilar yang diharapkan memberikan jawaban dalam pertandingan sulit.
Argentina kini menunggu kontribusinya ketika pertandingan berada di ujung, tanggung jawab yang sebelumnya lebih banyak dipikul pemain senior.
Alexis Mac Allister tidak selalu terlihat dramatis karena kekuatannya terletak pada kemampuan membaca ruang dan menghubungkan permainan dengan tenang.
Pengalamannya bersama Liverpool membuat Mac Allister memahami ritme, agresivitas, dan tekanan sepak bola Inggris menjelang pertemuan kedua negara.
Ia mengenal karakter banyak lawan, sementara pemain Inggris memahami kualitasnya, membuat semifinal menjadi pertarungan dengan sangat sedikit rahasia.
Di belakang seluruh pemain tersebut berdiri Lionel Scaloni, lelaki yang kini mudah dipuji setelah membawa Argentina menjadi juara dunia. Namun, penunjukannya dahulu dipertanyakan karena Scaloni bukan nama besar dan tidak datang membawa reputasi sebagai maestro taktik sepak bola Eropa.
Ia membangun Argentina perlahan, mengembalikan hubungan pemain dengan tim nasional, dan menciptakan kelompok yang kemudian dikenal sebagai La Scaloneta.
Di bawah Scaloni, Argentina belajar bahwa menderita bukan berarti kalah, keyakinan yang terus terlihat dalam berbagai pertandingan besar mereka.
Scaloni juga tidak bekerja sendirian karena Pablo Aimar, Walter Samuel, dan Roberto Ayala membantu membangun struktur serta karakter kelompok Argentina.
Martín Tocalli bekerja bersama penjaga gawang, Luis Martín menangani fisik, sementara Matías Manna membantu membaca pertandingan melalui analisis video.
Mereka jarang berada dalam bingkai utama kamera, tetapi sebuah tim juara dunia dibangun jauh sebelum pemain memasuki lapangan pertandingan.
Tim dibentuk melalui latihan, analisis video, percakapan, pemulihan, perdebatan taktik, serta keputusan sulit tentang siapa bermain dan menunggu.
Argentina kini berada beberapa langkah dari pencapaian yang hampir tidak pernah terjadi dalam sepak bola modern, mempertahankan gelar juara dunia.
Brasil terakhir melakukannya pada 1958 dan 1962, sementara berbagai negara besar setelahnya selalu gagal mempertahankan mahkota Piala Dunia.
Jerman gagal, Brasil gagal, Prancis gagal, dan kini Argentina berdiri di depan pintu sejarah dengan Inggris menghalangi perjalanan mereka.
Di Atlanta, Messi akan menjadi pusat kamera, Dibu berteriak, De Paul berlari, Romero bertarung, dan Julián mengejar setiap bola.
Lautaro akan menunggu kesempatan, Mac Allister mencari ruang, sementara Scaloni berdiri di pinggir lapangan membaca perubahan kecil dalam pertandingan.
Inilah Argentina 2026, kelompok yang terdiri dari pemain tua dan muda, juara dunia dan debutan, seniman sekaligus para pekerja.
Mereka bukan hanya Messi, bukan sekadar kenangan Maradona, dan bukan hanya tiga bintang yang berdiri di atas lambang Argentina.
Mereka adalah 26 pemain, satu pelatih, satu kelompok, dan mimpi yang belum diwujudkan negara mana pun selama 64 tahun.
Jika Argentina berhasil, dunia tentu kembali berbicara tentang Lionel Messi, dan hal tersebut sepenuhnya dapat dipahami oleh siapa pun.
Lihatlah lebih dekat karena di belakang nomor sepuluh itu terdapat sebuah pasukan yang bekerja, bertarung, dan menjaga mimpi Argentina.
___
Tamarunang, 15 Juli 2026









