Media Inggris bahkan mulai menggunakan istilah menggoda untuk menggambarkan hubungan statistik tersebut dengan menyebut Ismail Elfath sebagai “Messi’s lucky charm” atau jimat keberuntungan Lionel Messi.
PELAKITA.ID – Namanya bukan Lionel Messi, Harry Kane, ataupun Jude Bellingham, tetapi Ismail Elfath akan berdiri tepat di tengah pusaran semifinal Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Argentina dan Inggris di Atlanta.
Pria kelahiran Maroko yang membangun kehidupan dan kariernya di Amerika Serikat itu dipercaya FIFA memegang peluit dalam salah satu pertandingan paling panas, emosional, dan sarat sejarah di sepak bola dunia.
Elfath akan didampingi Corey Parker dan Kyle Atkins, keduanya berasal dari Amerika Serikat, sementara wasit Italia Maurizio Mariani dipercaya menjalankan tugas penting sebagai ofisial keempat dalam pertandingan tersebut.
Penunjukan ini sekaligus mencatat sejarah karena untuk pertama kalinya sebuah tim wasit asal Amerika Serikat dipercaya memimpin semifinal Piala Dunia putra, sekaligus menjadi tugas keempat mereka sepanjang turnamen 2026.
Namun, cerita tentang Elfath jauh lebih menarik dibandingkan sekadar daftar pertandingan dan penugasan FIFA, sebab perjalanan hidupnya menuju panggung terbesar sepak bola dunia dimulai dari jalur yang sama sekali berbeda.

Elfath lahir di Maroko dan pindah ke Amerika Serikat ketika berusia 18 tahun setelah mendapatkan kesempatan melalui program diversity visa, membuka babak baru dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang imigran muda.
Di negeri barunya, Elfath tidak langsung membayangkan dirinya berdiri di tengah stadion Piala Dunia, karena ia justru memilih pendidikan tinggi dan menekuni bidang teknik mesin di Texas.
Elfath menyelesaikan pendidikan teknik mesin di University of Texas pada 2006, sebelum perjalanan hidupnya perlahan berbelok dari dunia akademik dan teknik menuju lapangan hijau sebagai seorang pengadil pertandingan.
Dari sanalah perjalanan tidak biasa itu dimulai, ketika Elfath membangun reputasinya dalam sepak bola Amerika Serikat dan menjalani debut di Major League Soccer pada 2012.
Empat tahun kemudian, namanya masuk dalam daftar wasit internasional FIFA, membuka kesempatan memimpin pertandingan pada level yang semakin tinggi dan membawa dirinya menuju berbagai turnamen besar dunia.
Elfath pernah memimpin final Piala Dunia U-20 FIFA 2019, bertugas pada Piala Dunia Antarklub dan Piala Afrika, serta memimpin tiga pertandingan Piala Dunia 2022 di Qatar.
Kemudian datang sebuah malam bersejarah di Lusail, ketika Argentina menghadapi Prancis dalam salah satu pertandingan final paling dramatis dan dikenang sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Dunia.
Elfath memang tidak menjadi wasit utama, tetapi ia berdiri di pinggir lapangan sebagai ofisial keempat ketika Messi dan Argentina akhirnya mengangkat trofi juara dunia setelah pertarungan luar biasa.
Empat tahun kemudian, perjalanan Elfath dan Messi kembali bersinggungan, tetapi kali ini taruhannya adalah tiket menuju final Piala Dunia 2026 dan kesempatan mempertahankan mahkota Argentina.
Sejumlah media internasional mulai menyoroti rekor menarik Messi ketika Elfath menjadi wasit, terutama setelah sang megabintang Argentina melanjutkan karier sepak bolanya bersama Inter Miami di Amerika Serikat.
Pemberitaan terbaru menyebut Messi memiliki catatan kemenangan sempurna dalam sejumlah pertandingan yang dipimpin Elfath, sebuah statistik menarik yang kemudian memancing perhatian dan spekulasi media internasional.
Media Inggris bahkan mulai menggunakan istilah menggoda untuk menggambarkan hubungan statistik tersebut dengan menyebut Ismail Elfath sebagai “Messi’s lucky charm” atau jimat keberuntungan Lionel Messi.
Tentu saja sepak bola tidak bekerja berdasarkan takhayul, dan catatan kemenangan tersebut sama sekali bukan bukti keberpihakan seorang wasit terhadap Messi ataupun tim nasional Argentina.
Namun, sepak bola selalu menyukai cerita, dan pertandingan antara Argentina melawan Inggris memang tidak pernah kekurangan sejarah, drama, kontroversi, emosi, serta berbagai kisah yang diwariskan antargenerasi.
Ada konflik Malvinas atau Falklands, Diego Maradona, gol “Tangan Tuhan”, aksi solo luar biasa pada 1986, kartu merah David Beckham, hingga drama adu penalti Piala Dunia 1998.
Ada pula kemenangan Inggris pada Piala Dunia 2002 melalui penalti David Beckham, sebuah momen yang dianggap sebagai penebusan setelah sang pemain menjadi sasaran kemarahan publik Inggris empat tahun sebelumnya.
Kini, dalam daftar panjang cerita Argentina melawan Inggris tersebut, muncul nama baru bernama Ismail Elfath, seorang pria kelahiran Maroko dengan latar belakang pendidikan teknik mesin di Texas.
Tekanan yang akan dihadapi Elfath jelas luar biasa karena Argentina datang sebagai juara dunia bertahan dengan Messi, sementara Inggris membawa generasi pemain yang ingin mengakhiri warisan panjang kegagalan.
Pertandingan seperti ini hampir pasti dipenuhi duel fisik, protes pemain, tekanan terhadap wasit, perang psikologis, dan berbagai momen kontroversial yang dapat menentukan arah pertandingan.
Satu pelanggaran dapat diperdebatkan selama berhari-hari, satu kartu kuning bisa mengubah permainan seorang bek, sementara satu keputusan VAR dapat menentukan siapa yang melangkah menuju final.
Pada Piala Dunia 2026, Elfath sebelumnya telah memimpin Jepang melawan Belanda dan Spanyol menghadapi Uruguay pada fase grup, serta pertandingan ketika Norwegia menyingkirkan Brasil pada fase gugur.
Tiga pertandingan telah dilewatinya sepanjang turnamen, tetapi tugas keempat jelas memiliki skala berbeda karena ini bukan sekadar pertandingan biasa ataupun semifinal Piala Dunia biasa.
Ini adalah Argentina melawan Inggris, sebuah pertandingan yang membawa memori puluhan tahun dan membuat setiap keputusan wasit akan diperiksa dengan sangat teliti oleh jutaan pasang mata.
Setiap ekspresi Elfath akan dibaca, setiap percakapannya dengan Messi atau pemain Inggris direkam kamera, dan setiap tiupan peluitnya segera diperdebatkan melalui media sosial dalam hitungan detik.
Barangkali latar belakang teknik mesin Elfath menawarkan sebuah metafora menarik, karena seorang insinyur terbiasa membaca tekanan, mengukur keseimbangan, dan memahami bagaimana sebuah sistem bekerja dalam situasi ekstrem.
Di Atlanta, Elfath akan menghadapi sebuah sistem yang jauh lebih emosional dibandingkan mesin apa pun: 22 pemain, dua bangsa besar sepak bola, Lionel Messi, dan sejarah panjang.
Inggris mungkin datang dengan Harry Kane dan Jude Bellingham, sementara Argentina membawa status juara dunia, kehadiran Messi, dan bayang-bayang besar Diego Maradona dalam rivalitas tersebut.
Selama 90 menit, atau mungkin 120 menit, sebagian kendali pertandingan berada di tangan seorang pria yang meninggalkan Maroko pada usia 18 tahun untuk membangun kehidupan baru di Amerika.
Namanya Ismail Elfath, wasit yang kini menjadi perhatian dunia karena Messi belum pernah merasakan kekalahan dalam sejumlah pertandingan yang banyak disorot media ketika dirinya memegang peluit.
Kini Inggris berdiri di seberang lapangan, membawa satu pertanyaan menarik menjelang semifinal Piala Dunia 2026: apakah rekor tersebut hanya sebuah kebetulan statistik atau justru menjadi pertanda?
Jawabannya akan segera diketahui di Atlanta, sebab dalam pertandingan sebesar Argentina melawan Inggris, terkadang orang yang menentukan cerita bukan hanya mereka yang mencetak gol, melainkan orang yang meniup peluit.
___
Editor by Denun









