Kehadiran Prof Amir Ilyas di Enreco memberi pesan sederhana: hubungan Unhas dengan alumninya perlu dirawat melalui ruang-ruang informal.
PELAKITA.ID – Ada kejutan di Enreco malam itu. Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Inovasi, Kewirausahaan, dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Prof Amir Ilyas, tiba-tiba muncul di sudut Boulevard.
Tidak ada seremoni. Tidak ada meja protokoler. Juga tidak terlihat suasana pertemuan resmi khas pejabat universitas.
Yang ada hanya meja sederhana, gelas-gelas minuman, piring makanan, telepon genggam, dan percakapan yang mengalir antara Prof Amir, Andi Iwan Patawari, dan pengunjung Enreco yang lain. Juga alena beliau Yasidin.
“WR 5 buat kaget kita dengan tiba-tiba hadir di Enreco,” tulis Yasidin, Ketua Batom Domino IKA Unhas, mengomentari pertemuan tersebut.
Menurut Yasidin, Prof Amir sebenarnya datang dengan tujuan menemui Mulawarman. Namun, orang yang hendak ditemuinya sudah tidak berada di tempat. Yasidin bahkan buru-buru memberi penjelasan dengan gaya khas pertemanan mereka: “bukan meninggal”.
Pertemuan yang awalnya mungkin sekadar kunjungan singkat itu akhirnya berkembang menjadi diskusi panjang. Banyak hal dibicarakan, terutama berkaitan dengan bidang-bidang yang kini menjadi tanggung jawab Wakil Rektor 5 Unhas.
Di tengah percakapan itu, muncul pula cerita yang lebih ringan. Prof Amir rupanya menyukai mi rebus telur dan ubi goreng Enreco. Yasidin bahkan menyebut sang Wakil Rektor berencana datang kembali.
Cerita ini mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi Unhas, pertemuan semacam ini sebenarnya memiliki makna yang lebih dalam.
Makna di balik kunjungan
Universitas besar tentu membutuhkan sistem, regulasi, perencanaan, dan tata kelola kelembagaan yang kuat. Tetapi sebuah universitas juga hidup melalui jaringan manusianya. Di situlah alumni memiliki posisi penting.
Alumni Unhas tersebar di berbagai bidang. Mereka bekerja di pemerintahan, dunia usaha, media, organisasi masyarakat, perguruan tinggi, hingga komunitas-komunitas informal. Potensi sebesar itu tidak selalu dapat dihimpun hanya melalui undangan rapat atau forum resmi. Kadang-kadang, gagasan justru muncul di warung kopi.
Di meja makan atau di sebuah tempat seperti Enreco.
Kehadiran seorang pimpinan universitas di tengah alumni memberi ruang bagi percakapan yang lebih cair. Orang dapat menyampaikan pandangan tanpa harus menunggu giliran berbicara di podium. Masalah bisa diceritakan dengan bahasa sederhana. Ide dapat dilempar, ditanggapi, bahkan diperdebatkan secara spontan.
Dalam konteks kemitraan, inovasi, kewirausahaan, dan bisnis, ruang informal semacam ini justru sangat strategis aebab kemitraan selalu dimulai dari hubungan, hubungan tumbuh dari kepercayaan.
Mendengar Alumni dari Dekat
Kehadiran Prof Amir Ilyas di Enreco juga dapat dibaca sebagai bagian dari upaya mendekatkan institusi dengan ekosistem alumninya. Unhas memiliki jaringan alumni yang sangat besar. Tantangannya bukan sekadar mencatat siapa dan berada di mana mereka.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana energi alumni itu dapat terhubung dengan kebutuhan dan masa depan universitas? Alumni memiliki pengalaman lapangan. Mereka memahami perubahan dunia kerja, dinamika bisnis, persoalan pemerintahan, tantangan sosial, dan kebutuhan masyarakat.
Sementara kampus memiliki ilmu pengetahuan, peneliti, mahasiswa, laboratorium, dan kapasitas inovasi. Ketika kedua kekuatan ini bertemu, banyak kemungkinan dapat lahir. Riset bisa menemukan mitra. Inovasi dapat memperoleh jalan menuju penerapan.
Mahasiswa bisa mendapatkan ruang belajar yang lebih luas dan universitas dapat semakin dekat dengan persoalan nyata masyarakat, semua itu membutuhkan jembatan.
Pertemuan-pertemuan informal antara pimpinan universitas dan alumni dapat menjadi salah satu jembatan tersebut.
Dari Mi Rebus ke Gagasan Besar
Tentu terlalu berlebihan jika mengatakan bahwa sepiring mi rebus telur dan ubi goreng akan langsung melahirkan sebuah kebijakan universitas tetapi sejarah banyak organisasi menunjukkan bahwa gagasan besar tidak selalu lahir di ruang besar.
Sering kali sebuah ide bermula dari percakapan kecil, seseorang bercerita tentang masalah, yang lain menawarkan kemungkinan, kemudian muncul jaringan yang dapat membantu.
Dalam perspektif modal sosial, ruang seperti Enreco menarik untuk dibaca. Ada pertemanan, keakraban, kepercayaan, dan jaringan. Hubungan yang semula bersifat sosial dapat berkembang menjadi pertukaran informasi dan kolaborasi.
Bagi Unhas, kekuatan jaringan alumni seperti ini merupakan modal yang sangat besar. Tugas universitas adalah menghubungkannya. Bukan selalu dengan birokrasi yang rumit, tetapi juga dengan kesediaan hadir dan mendengar.
Karena itu, cerita Yasidin mengenai kedatangan WR 5 Unhas ke Enreco terasa penting. “Terima kasih Prof Amir Ilyas masih mau menyempatkan waktunya ketemu dan menyapa kami di Enreco,” tulisnya.
Kata menyapa mungkin menjadi bagian paling penting dari kalimat tersebut.
Universitas Hasanuddin sedang tumbuh sebagai institusi besar dengan ambisi global. Tetapi semakin besar sebuah universitas, semakin penting pula kemampuannya menjaga hubungan dengan manusia-manusia yang pernah tumbuh di dalamnya.
Malam di Enreco itu mungkin hanya pertemuan sederhana. Tetapi ada pesan yang bisa dibawa pulang untuk Unhas: kemitraan tidak selalu dimulai dari penandatanganan memorandum of understanding. Kadang-kadang, ia bermula dari duduk bersama, percakapan yang cair, mi rebus telur, dan sepiring ubi goreng.
Jika benar Prof Amir akan kembali malam berikutnya, boleh jadi alasannya bukan semata karena mi rebus Enreco. Atau siapa tahu akan bermuhibah ke sejumlah warkop langganan alumni seperti Red Corner, Pegasus, Kopizone atau Warkop 52 hingga Azzahrah?
Dia mestinya datang lagi, sebab karena percakapannya belum selesai.
___
Penulis Denun









