Berkunjung ke Departemen Ilmu Kelautan Unhas, Bersua Dosen-Dosen Teladan

  • Whatsapp
Mari ke Ilmu Kelautan Unhas!

Mereka datang dengan bidang ilmu berbeda. Dari oseanografi hingga terumbu karang. Dari plankton hingga penginderaan jauh. Di ruang kuliah, laboratorium, dan lapangan, mereka ikut membentuk cara kami memandang laut.

PELAKITA.ID – Setelah pelantikan Wakil Rektor dan pejabat utama Unhas oleh Rektor Jamaluddin Jompa pekan lalu, saya bergegas ke Fakultas Kesehatan Masyarakat untuk ikuti serahterima Dekan dari Prof Sukri Palutturi ke Doktor Anshariadi.

Di sana bersua sejumlah senior, ada Prof Amran Razak, Prof Arsunan Arsin, Prof Aco, hingga Prof Aminuddin Syam. Suasana nampak cair dan renyah karena obrolan jenaka di meja yang penuh konro.

Dari FKM, saya melangkah ke Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, ini rumah kami. Ini asal keakademikan dan arena pengembaraan semasa menjadi mahasiswa Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, sekarang Ilmu Kelautan dalam naung FIKP Unhas.

Saya langsung ke Lantai 3, ini Departemen Ilmu Kelautan. Kunjungan terakhir ke sini saat Kepala Departemennya Dr. Khairul Amri, teman seangkatan. Kini, Prof Rahmadi Tambaru, pria asal Pamboang Mandar.

Rahmadi pula yang menyambut kunjungan saya bersama Prof Amran Saru, Prof Abdul Rasyid ‘Bang Cido’ Jalil, Prof Chair Rani, lalu berbincang dengan Dr Supriadi Mashoreng, Dr Yayu A. La Nafie, hingga say hello ke Dr Inayah Yasir.

Nama-nama yang sempat saya sebut dan temui ini adalah dosen teladan, dedikasi dan atensi mereka untuk fokus keahliannya sudah tidak diragukan lagi.

Pembaca sekalian, ketika mengingat masa-masa belajar Ilmu Kelautan di Universitas Hasanuddin, yang muncul dalam ingatan saya bukan hanya ruang kuliah, praktikum, laporan yang harus diselesaikan, atau perjalanan lapangan menuju pulau-pulau.

Saya juga mengingat para dosen.

Nama-nama mereka melekat bersama istilah-istilah yang ketika itu terasa asing bagi mahasiswa baru: oseanografi, ekologi laut, koralogi, planktonologi, sedimentologi, penginderaan jauh, marikultur, pencemaran laut, hingga navigasi dan kepelautan.

Mungkin begitulah sebuah disiplin ilmu tumbuh dalam diri seorang mahasiswa. Pada awalnya kita mengenal nama dosennya. Kemudian mata kuliahnya. Setelah itu teori dan metodenya. Bertahun-tahun kemudian, ketika telah bekerja dan berhadapan dengan persoalan nyata di pesisir dan laut, kita baru menyadari bahwa banyak cara berpikir kita ternyata dibentuk di ruang-ruang kuliah itu.

Saya mengenal Prof Ir. Abd. Rasyid J., M.Si. dengan bidang oseanografi. Ada pula Dr. Ir. Amir Hamzah Muhiddin, M.Si. yang menekuni pemetaan, serta Wasir Samad, S.Si., M.Si. dalam oseanografi fisis. Laut, melalui mereka, tidak hanya dipandang sebagai hamparan air biru.

Ada arus. Ada gelombang. Ada dinamika massa air. Ada proses fisik yang menentukan kehidupan organisme dan aktivitas manusia di dalamnya. Dalam bidang kimia laut, saya mengenal Dr. Ir. Muhammad Farid Samawi, M.Si., yang mendalami oseanografi kimia dan pencemaran laut. Ada pula Ir. Muhammad Hatta, M.Si. dengan kimia oseanografi.

Bersua ProfAmran Sari dan Prof Abd Rasyid Jalil alias Bang Cido (dok: Istimewa)

Nama Ir. Shinta Werorilangi, M.Sc. saya kenal dalam toksikologi laut bahkan dengannya beberapa kali sempat berdiskusi perihal sampah plastik. Sementara Ir. Arniati, M.Si., Rantih Isyrini, ST., M.Sc., dan Rastina, ST., M.Si – saya dengar sudah pindah, tak lagi di Unhas. mengingatkan saya pada isu pencemaran laut.

Bertahun-tahun kemudian, ketika isu limbah, logam berat, tekanan industri, dan kualitas lingkungan pesisir semakin kuat dibicarakan, saya semakin memahami pentingnya cabang ilmu ini.

Laut ternyata tidak pernah berdiri sendiri dari aktivitas manusia di daratan.

Apa yang kita buang ke sungai, apa yang dihasilkan kota, industri, pertambangan, dan aktivitas ekonomi, pada akhirnya dapat menemukan jalan menuju laut.

Di sisi lain, Ilmu Kelautan Unhas juga memiliki barisan akademisi yang kuat dalam ekologi laut dan terumbu karang.

Nama Prof. Dr. Ir. Ambo Tuwo, DEA sangat dikenal dalam ekologi laut. Prof. Dr. Ir. Chair Rani atau biasa kami sapa Kak Erik, identik dengan koralogi. Ir. Aidah Ambo Ala Husain, M.Sc. menekuni ekologi terumbu karang. Kawan seangkatan Dr. Syafyuddin Yusuf, ST., M.Si. dikenal dalam konservasi terumbu karang.

Lalu, tentu saja ada Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc, rektor Unhas dua periode. Pembaca pasti mulai mengerti kalau beliau adalah dosen Ilmu Kelautan.

Prof JJ, kami mengenalnya sebagai akademisi yang sangat dekat dengan ekologi terumbu karang. Dalam perjalanan waktu, kiprah akademiknya berkembang jauh melampaui ruang kuliah Ilmu Kelautan. Tetapi bagi saya, meski saat ini sebagai Rektor Unhas, nama Jamaluddin Jompa tetap memiliki hubungan kuat dengan dunia karang, pulau-pulau kecil, dan perdebatan panjang mengenai masa depan ekosistem pesisir Indonesia.

Terumbu karang memang menjadi salah satu “ruang belajar” penting bagi mahasiswa kelautan.

Kami belajar bahwa karang bukan batu. Ia hidup, tumbuh, membentuk ekosistem. Ketika sebuah terumbu karang rusak, yang hilang bukan hanya keindahan bawah laut. Ada habitat ikan, produktivitas perairan, perlindungan pantai, dan kehidupan masyarakat pesisir yang ikut terancam.

Dalam biologi laut, saya mengenal Prof. Dr. Ir. Abdul Haris, M.Si. Ada pula Prof. Dr. Ir. Budimawan, DEA dalam biologi perikanan dan Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Natsir Nessa, MS dalam bidang perikanan. Prof. Dr. Andi Iqbal Burhanuddin, ST., M.Fish.Sc seangkatan Prof Amran Saru. membawa mahasiswa lebih dekat pada dunia taksonomi ikan.

Bagi mahasiswa, mengidentifikasi ikan mungkin pada awalnya hanya soal mengenali bentuk tubuh, sirip, karakter morfologi, lalu mencari nama ilmiahnya tetapi taksonomi mengajarkan ketelitian. Seekor ikan bukan sekadar “ikan”. Ia memiliki identitas biologis. Memiliki hubungan evolusi. Memiliki habitat dan posisi tertentu dalam ekosistem.

Dalam dunia organisme laut yang jauh lebih kecil, saya mengenal Benny Audy Jaya Gosari, S.Kel., M.Si. dalam bidang plankton laut dan Prof. Dr. Ir. Rahmadi Tambaru, M.Si. dalam planktonologi – kini Kepala Departemen Ilmu Kelautan FIKP Unhas. Ada pula Drs. Sulaiman Gosalam, M.Si. yang menekuni mikrobiologi laut.

Mereka mengingatkan kami bahwa kehidupan laut tidak hanya tentang paus, penyu, ikan besar, atau terumbu karang yang indah. Sebagian proses terpenting di laut justru berlangsung dalam dunia yang tidak selalu mudah dilihat mata manusia.

Plankton dan mikroorganisme bekerja dalam diam, tetapi menentukan produktivitas perairan dan berbagai proses ekologis yang sangat besar.

Pada bidang botani laut, saya mengenal Dr. Khairul Amri, ST., M.Sc. dan Dr. Supriadi, ST., M.Si, barisan seletting.

Nama Prof. Dr. Ir. Rohani A. R., M.Si. juga kuat dalam ingatan saya ketika berbicara mengenai ekologi laut, terutama lamun. Kajian tentang ekosistem lamun kemudian berkembang semakin penting dalam ilmu kelautan.

Dulu, perhatian publik lebih banyak tertuju pada terumbu karang dan mangrove. Lamun seperti berada di antara keduanya, sering terabaikan. Kini kita memahami bahwa padang lamun merupakan habitat penting berbagai biota, tempat mencari makan, daerah asuhan, sekaligus bagian penting dalam pembicaraan mengenai karbon biru.

Ilmu Kelautan juga membawa kami mengenal dunia budidaya laut. Prof. Dr. Ir. Hj. Andi Niartiningsih, MP – beliau penguji saya saat ujian skripsi. dikenal dalam marikultur. Dr. Inayah Yasir, M.Sc. juga menekuni aquaculture. Ir. Syafiuddin, M.Si atau biasa kami sapa Kak Piu, berada dalam bidang marikultur.

Dari mereka, laut tidak hanya dipahami sebagai ruang eksploitasi sumber daya yang tersedia secara alami. Laut juga merupakan ruang produksi yang harus dikelola dengan ilmu pengetahuan. Bagaimana organisme dipelihara, bagaimana kualitas lingkungan dijaga, bagaimana daya dukung diperhitungkan, semuanya menjadi bagian dari pembelajaran.

Ada pula kelompok dosen yang memperkenalkan kami pada teknologi pemetaan dan cara melihat laut dari perspektif spasial. Prof. Drs. Muhammad Anshar Amran, M.Si. dan Prof. Dr. Nurjannah, ST., M.Si – ini juga alumni Prodi Ilmu dan Teknologi Kelautan yang menekuni penginderaan jauh. Prof. Ahmad Faisal, ST., M.Si. dikenal dalam Sistem Informasi Geografis.

Ada juga Prof. Muhammad Banda Selamat, S.Pi., MT. menekuni pemetaan sumber daya hayati laut. Kajian-kajiannya antara lain bersentuhan dengan pemetaan batimetri menggunakan citra satelit.

Pada masa itu, teknologi pemetaan belum semudah sekarang. Belum ada telepon pintar dengan aplikasi peta di tangan hampir setiap orang. Data spasial, citra satelit, dan perangkat Sistem Informasi Geografis terasa sebagai dunia yang sangat teknis.

Tetapi justru dari sanalah kami belajar satu hal penting: laut juga memiliki ruang. Setiap ekosistem memiliki lokasi. Setiap perubahan memiliki pola spasial. Setiap kebijakan pengelolaan sumber daya seharusnya memahami di mana sebuah aktivitas berlangsung dan apa yang ada di sekitarnya.

Dalam sedimentologi, saya mengenal Prof. Dr. Mahatma, ST., M.Sc, ini kawan seangkatan juga, sekaligus Dekan FIKP teranyar. Sedimen mengajarkan bahwa dasar perairan menyimpan cerita. Material yang mengendap dapat memberi petunjuk mengenai proses alam, dinamika pesisir, dan perubahan lingkungan.

Sementara Ir. Esther Sanda Manapa, M.Si. membawa pengetahuan mengenai navigasi dan kepelautan. Ilmu tentang laut tentu terasa tidak lengkap tanpa kemampuan memahami bagaimana manusia bergerak di atasnya. Ada pula para dosen yang membawa perspektif pengelolaan sumber daya dan wilayah pesisir.

Sahabat saya, Dr, Ahmad Bahar, ST., M.Si. menekuni konservasi sumber daya hayati laut dan kepariwisataan bahari laut, pernah jadi Kahumas Unhas. Prof. Dr. Amran Saru, ST., M.Si. berada dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan laut.

Saya juga mengenal Ir. Marzuki Ukkas, DEA dalam manajemen pantai. Dr. Muhammad Lukman, ST., M.Sc – mendiang. dan Dr. Yayu Anugrah La Nafie, ST., M.Sc. juga berada dalam bidang manajemen pantai. Dr. Ir. Muhammad Rijal Idrus, M.Sc. menekuni manajemen sumber daya hayati laut – hai hai Kak Ijal.

Dari perspektif inilah ilmu kelautan bertemu dengan manusia. Persoalan laut tidak pernah hanya persoalan ikan, karang, lamun, plankton, atau arus. Di pesisir ada manusia. Ada nelayan, pembudidaya, pemerintah, pengusaha, ada konflik ruang, ada kepentingan ekonomi.

Pembaca sekalian, siapa yang berhak menentukan masa depan laut? Ketika saya melihat kembali nama-nama dosen Ilmu Kelautan Unhas yang saya kenal, saya seperti sedang melihat sebuah mosaik besar. Setiap orang membawa satu keping pengetahuan. Ada yang melihat laut melalui mikroskop, ada yang membacanya dari citra satelit, ada yang menyelam mengamati karang, ada yang meneliti plankton.

Ada yang mengukur kualitas air, ada pula yang membaca sedimen, ada yang memikirkan pantai. Ada pula yang berusaha memahami bagaimana seluruh sumber daya itu harus dikelola.

Mungkin kami, para mahasiswa ketika itu, tidak selalu memahami besarnya mosaik tersebut, tentang betapa besarnya Benua Maritim Indonesia, kami datang ke kampus, mengikuti kuliah, mencatat, praktikum, turun lapangan, mengerjakan laporan, lalu menghadapi ujian.

Kadang-kadang kami lebih sibuk memikirkan nilai, tetapi setelah puluhan tahun berlalu, saya semakin menyadari bahwa pendidikan tidak selalu bekerja secara langsung. Sebagian pengetahuan mengendap lama.

Ia baru muncul ketika kita berada di sebuah desa pesisir, berbicara dengan nelayan, melihat pantai yang tergerus, menyaksikan terumbu karang rusak, membaca peta, atau berhadapan dengan kebijakan pembangunan yang mengubah bentang pesisir.

Pada saat-saat seperti itu, ingatan tentang kampus kembali datang. Tentang ruang kuliah, tentang laut. Tentang dosen-dosen Ilmu Kelautan Unhas yang pernah memperkenalkan kepada kami bahwa laut tidak cukup hanya dicintai.

Laut harus dipelajari, dipahami, dan diperjuangkan dengan ilmu pengetahuan.

Yuuuuk, menyelami Indonesia lebih dalam!

___
Tamarunang, 15 Juli 2026