Bincang-bincang Prof Ucu, antara Resiliensi Luaran Perguruan Tinggi dan Tantangan Penggunaan AI

  • Whatsapp
Prof Muhammad Yusuf, Ph.D (image by Pelakita.ID)

PELAKITA.ID –  Dunia kerja terus berubah. Kemampuan akademik yang baik saja dinilai tidak lagi cukup untuk menghadapi tantangan industri yang semakin dinamis, cepat, dan penuh tekanan.

Universitas pun dituntut menyiapkan lulusan yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki daya tahan, kemampuan beradaptasi, dan ketangguhan menghadapi berbagai situasi.

Pandangan tersebut disampaikan Direktur Alumni Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. Muhammad Yusuf, saat ditemui Kamaruddin Azis pada Kamis, 25 Juni 2026.

Prof. Yusuf, yang akrab disapa Prof. Ucu, mengungkapkan bahwa Direktorat Kealumnian Unhas sekitar tiga pekan lalu menggelar pertemuan dengan berbagai organisasi dan pihak pengguna lulusan (stakeholders).

Dari forum tersebut, muncul satu benang merah yang cukup kuat mengenai kualitas lulusan yang dibutuhkan saat ini.

“Ada kesan umum bahwa para pihak itu menyebut diperlukan alumni yang punya daya tahan atau resiliensi saat berada dalam suasana lingkungan kerja yang cenderung dinamis dan ekstrem,” ujar Doktor Peternakan dari Universitas Yamaguchi Jepang ini.

Menurut Prof. Ucu, banyak perusahaan kini beroperasi dalam ritme kerja yang jauh lebih cepat dibanding sebelumnya.

Tidak jarang karyawan harus menghadapi target yang berubah, bekerja lembur hingga larut malam, atau beradaptasi dengan perubahan kebijakan dan teknologi dalam waktu singkat.

“Kadang kala alumni kita bekerja dengan sistem yang dinamis, atau katakanlah mesti bekerja lembur sampai larut malam. Ini perlu direspons dengan kapasitas tambahan baru bagi mahasiswa atau alumni kita,” jelas Guru Besar Fakultas Peternakan Unhas asal Bone tersebut.

Masukan dari para pengguna lulusan itu, lanjutnya, secara tidak langsung menjadi sinyal bahwa perguruan tinggi perlu mulai melakukan adaptasi kurikulum.

Dunia kerja saat ini membutuhkan sumber daya manusia yang lebih responsif, adaptif, dan tangguh dalam menghadapi perubahan. “Secara tidak langsung para pihak itu ingin ada adaptasi kurikulum kita,” sebutnya.

AI Bukan Pengganti Kapasitas Mahasiswa

Selain perubahan karakter dunia kerja, Prof. Ucu juga menyoroti semakin luasnya penggunaan Artificial Intelligence (AI) di berbagai sektor industri.

Bagi dia, perkembangan teknologi tersebut harus disikapi secara bijaksana oleh perguruan tinggi.

Ia menegaskan bahwa AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti proses berpikir mahasiswa.

Kampus tetap memiliki tanggung jawab utama untuk membangun fondasi pengetahuan, keterampilan, dan karakter para lulusannya. “Maksud saya, kita butuh AI sebagai alat bantu, tapi kampus bertanggung jawab untuk menyiapkan alumni yang punya bekal pengetahuan, skill, dan sikap tangguh di situasi apa pun,” katanya.

Menurut Prof. Ucu, apabila mahasiswa terlalu bergantung pada AI tanpa membangun kemampuan berpikir sendiri, maka mereka akan kesulitan ketika dihadapkan pada persoalan yang membutuhkan penalaran, analisis, dan pengambilan keputusan secara langsung.

Pengetahuan Membentuk Kepercayaan Diri

Berdasarkan pengalamannya berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai jenjang pendidikan, Prof. Ucu melihat adanya perbedaan yang cukup nyata antara mahasiswa yang membangun kapasitasnya melalui proses membaca, memahami, dan mengolah pengetahuan dengan mereka yang hanya mengandalkan hasil instan dari teknologi.

Mahasiswa yang memiliki basis pengetahuan yang kuat, menurutnya, cenderung tampil lebih percaya diri ketika menghadapi diskusi maupun situasi yang tidak dapat diprediksi.

“Mereka yang menggunakan pikiran, pengalaman, dan pengetahuan akan lebih siap menghadapi situasi berbasis nalar ketimbang template-template keterampilan menjelaskan ala AI,” ujarnya.

Ia memberikan contoh sederhana saat mahasiswa diminta melakukan presentasi tanpa bantuan AI.

Dalam situasi tersebut, mahasiswa yang benar-benar memahami materi biasanya mampu menjelaskan persoalan secara lebih runtut, menjawab pertanyaan secara logis, dan berargumentasi dengan lebih meyakinkan.

“Sederhananya, mereka yang kami minta buat presentasi dengan pikiran sendiri, tanpa AI, akan lebih siap dibanding yang hanya mengandalkan AI. Mereka lebih bisa menjelaskan pertanyaan secara logis dan baik ketimbang yang hanya menggunakan AI,” terangnya.

Kara dia, membaca teks akan berbeda saat menjelaskan alur atau proses sebuah kejadian.

Menyiapkan Alumni untuk Masa Depan

Pandangan Prof. Ucu menunjukkan bahwa tantangan pendidikan tinggi saat ini bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi memastikan teknologi tidak menggantikan kemampuan dasar manusia untuk berpikir.

Di tengah derasnya arus kecerdasan buatan, kemampuan bernalar, menguasai pengetahuan, memiliki keterampilan yang kuat, serta berkarakter tangguh justru menjadi modal utama yang membedakan lulusan perguruan tinggi.

Bagi Universitas Hasanuddin, masukan dari para pengguna lulusan menjadi pengingat bahwa kualitas alumni di masa depan tidak hanya diukur dari indeks prestasi akademik atau kemampuan memanfaatkan teknologi, tetapi juga dari resiliensi, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan menghadapi berbagai dinamika dunia kerja yang terus berubah.

Redaksi