Sebagai alumni Ilmu Politik FISIP Unhas, Rusdi Mardan membawa sensitivitas sosial dan kemampuan membaca dinamika kelembagaan. Sementara pengalaman lebih dari tiga dekade di berbagai perusahaan besar—mulai dari British American Tobacco, Danone Aqua, Hutchison 3 Indonesia, hingga Indosat—membentuknya sebagai eksekutif dengan disiplin korporasi yang kuat.
PELAKITA.ID – Dunia perguruan tinggi sering kali dipandang sebagai “menara gading” — ruang akademik yang kaya gagasan, tetapi kerap berjarak dari realitas ekonomi yang dinamis dan kompetitif.
Dalam konteks Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) seperti Universitas Hasanuddin (Unhas), tantangan itu kini berubah. Kampus tidak lagi hanya dituntut menghasilkan lulusan dan riset, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi berbasis aset, inovasi, dan tata kelola profesional.
Dalam lanskap inilah, penunjukan Rusdi Mardan sebagai Direktur Utama PT Hadin Metavisi Akademika (Hadin) pada Juni 2026 menjadi langkah strategis yang menandai arah baru pengelolaan bisnis Unhas.
Hadir dengan latar belakang panjang di dunia korporasi nasional dan internasional, Rusdi membawa pendekatan manajerial yang lebih agresif, terukur, dan berbasis kinerja untuk memperkuat fondasi ekonomi universitas.
Alumni Sospol dengan DNA Korporasi: Kombinasi Sosial dan Bisnis
Terpilihnya Rusdi Mardan bukan sekadar soal kapasitas individu, tetapi juga soal kombinasi unik latar belakangnya.
Sebagai alumni Ilmu Politik FISIP Unhas, ia membawa sensitivitas sosial dan kemampuan membaca dinamika kelembagaan. Sementara pengalaman lebih dari tiga dekade di berbagai perusahaan besar—mulai dari British American Tobacco, Danone Aqua, Hutchison 3 Indonesia, hingga Indosat—membentuknya sebagai eksekutif dengan disiplin korporasi yang kuat.
Kombinasi ini menjadi penting dalam konteks universitas yang memiliki struktur kompleks, penuh kepentingan stakeholder, serta budaya organisasi yang khas. Kemampuan menjembatani aspek sosial dan bisnis menjadi modal penting untuk mendorong transformasi Hadin sebagai entitas usaha universitas.
Komisaris Utama PT Hadin Metavisi Akademika, Dr. Eka Sastra, menyebutkan bahwa pengalaman panjang Rusdi di dunia bisnis diharapkan dapat mempercepat transformasi Hadin menjadi holding yang profesional dan mampu menopang kemandirian ekonomi Unhas.
Cetak Biru 100 Hari: Disiplin Eksekusi sebagai Fondasi Perubahan
Dalam dunia korporasi, perubahan tidak cukup hanya dengan visi—ia membutuhkan momentum dan eksekusi cepat. Rusdi Mardan merancang rencana 100 hari pertama sebagai fase krusial transformasi Hadin.
Pada 30 hari pertama, fokus diarahkan pada stabilisasi: audit menyeluruh unit usaha, efisiensi biaya, serta identifikasi titik-titik inefisiensi.
Memasuki hari ke-31 hingga 60, transformasi mulai digerakkan melalui akselerasi digital, penguatan kemitraan strategis, serta integrasi unit bisnis agar bergerak lebih adaptif dan terkoordinasi.
Sementara pada 60 hingga 100 hari, fokus diarahkan pada pembuktian kinerja: peningkatan pendapatan, optimalisasi portofolio, serta penerapan sistem monitoring berbasis data real-time.
Pendekatan ini mencerminkan pergeseran penting dari budaya administratif menuju budaya kinerja yang terukur dan akuntabel.
Mengubah 60 Ribu Sivitas Akademika Menjadi Ekosistem Ekonomi Digital
Unhas memiliki potensi ekonomi besar melalui lebih dari 60.000 sivitas akademika yang selama ini belum terkelola sebagai ekosistem ekonomi terpadu.
Rusdi mendorong konsep super app kampus sebagai pintu masuk digitalisasi layanan dan transaksi universitas.
Lebih dari sekadar aplikasi, inisiatif ini diarahkan untuk membangun ekosistem berbasis data (data-driven university), di mana setiap interaksi ekonomi dan layanan dapat dimonitor, dianalisis, dan dioptimalkan.
Dengan integrasi ini, Hadin tidak hanya menjadi pengelola unit usaha, tetapi juga penggerak efisiensi dan transparansi ekonomi kampus, sekaligus meminimalkan potensi kebocoran pendapatan.
Menjembatani Lembah Kematian Riset dan Industri
Salah satu tantangan klasik perguruan tinggi di Indonesia adalah terputusnya rantai antara riset dan dunia industri. Banyak inovasi akademik berhenti di jurnal dan laporan penelitian tanpa pernah masuk ke pasar.
Di sini, Hadin diposisikan sebagai jembatan hilirisasi inovasi.
“Hadin harus menjadi bridging antara riset dan pasar,” tegas Rusdi Mardan.
Dalam pendekatan ini, setiap hasil riset tidak lagi berhenti sebagai output akademik, tetapi diterjemahkan menjadi produk, layanan, atau model bisnis yang memiliki nilai ekonomi. Dengan demikian, universitas tidak hanya menjadi produsen pengetahuan, tetapi juga aktor ekonomi berbasis inovasi.
Visi 2030: Membangun Ekosistem Bisnis Kampus yang Berkelanjutan
Rusdi Mardan juga menempatkan visi jangka panjang hingga 2030 sebagai arah konsolidasi transformasi Hadin. Ada lima pilar utama yang menjadi fondasi:
- Profitabilitas sehat di setiap unit usaha universitas
- Ekosistem digital terintegrasi sebagai tulang punggung operasional
- Diversifikasi bisnis berbasis kemitraan strategis
- Tata kelola berbasis GCG dan KPI yang ketat
- Pengembangan talenta profesional setara industri
Kelima pilar ini diarahkan untuk membangun model kemandirian ekonomi universitas yang tidak hanya bergantung pada dana pendidikan, tetapi juga pada kekuatan ekosistem bisnis yang dikelola secara profesional.
Paradigma Baru Ekonomi Kampus
Kehadiran figur dengan latar belakang korporasi seperti Rusdi Mardan menandai pergeseran penting dalam cara universitas mengelola aset dan potensi ekonominya. Unhas tidak lagi hanya berfungsi sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai entitas ekonomi yang dituntut adaptif, kompetitif, dan berorientasi hasil.
Tantangan 100 hari pertama akan menjadi ujian awal: apakah transformasi ini mampu berjalan dari konsep menuju implementasi nyata, dan apakah Unhas dapat menjadi model nasional dalam pengelolaan kemandirian ekonomi perguruan tinggi.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih besar bukan sekadar apakah kampus bisa berbisnis, tetapi bagaimana bisnis kampus dapat memperkuat misi akademik dan kontribusi universitas bagi pembangunan nasional.









