Bupati Lutra Promosikan Kentang Rongkong, Seberapa Besar Potensinya?

  • Whatsapp
Pelakita.ID memperoleh informasi tentang capaian produktivitas kentang Luwu Utara yang disebut mampu mencapai sekitar 20 ton per hektare. Ini merupakan sinyal bahwa sektor pertanian pegunungan di wilayah ini memiliki prospek yang layak diperhitungkan.

PELAKITA.ID – Kentang mungkin belum menjadi komoditas yang paling identik dengan Kabupaten Luwu Utara.

Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan dataran tinggi Rongkong mulai menunjukkan kapasitasnya sebagai salah satu sentra hortikultura yang menjanjikan di Sulawesi Selatan.

Bupati Luwu Utara Abdullah Andi Rahim menyebut selain komoditas seperti kopi, jagung, sawit, ada satu komoditas saat ini yang intensif dikembangkan karena sesuai dengan kondisi kawasan pergunungan dan pedalaman Luwu Utara.

“Selain kopi, kami saat ini sedang mengembangkan dengan intensif tanaman kentang, sudah ada mitra usaha,” katanya saat ditemui di Plazgozz Pettarani, 21 Juni 2026.

“Kami sedang mengembangkan kentang dengan melibatkan investor,” tambahnya.

Pelakita.ID memperoleh informasi tentang capaian produktivitas kentang Luwu Utara yang disebut mampu mencapai sekitar 20 ton per hektare. Ini merupakan sinyal bahwa sektor pertanian pegunungan di wilayah ini memiliki prospek yang layak diperhitungkan.

Kawasan yang disebut prospektif itu adalah Kecamatan Rongkong, Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, sudah pernah meninjau langsung aktivitas pertanian masyarakat dan melihat potensi besar yang berkembang di kawasan yang dikenal sebagai “Negeri di Atas Awan” tersebut.

Menurutnya, hasil pertanian yang dicapai petani Rongkong menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi salah satu pilar penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Alhamdulillah, hasil pertanian kentang di Rongkong sangat menggembirakan. Produksinya bisa mencapai 20 ton per hektare. Ini bukti bahwa sektor pertanian kita punya potensi besar untuk terus dikembangkan,” ujar Andi Abdullah Rahim kepada awak media.

Keunggulan Alam yang Mendukung

Secara geografis, Rongkong memiliki karakteristik yang sangat cocok untuk pengembangan tanaman hortikultura dataran tinggi.

Suhu udara yang relatif sejuk, curah hujan yang memadai, serta kondisi tanah yang subur menjadi modal alam yang mendukung budidaya kentang dan berbagai komoditas lainnya.

Faktor-faktor tersebut memberikan keuntungan tersendiri bagi petani karena tanaman kentang membutuhkan lingkungan dengan temperatur yang lebih rendah dibandingkan tanaman pangan dataran rendah.

Kondisi ini menjadikan Rongkong memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki semua daerah di Sulawesi Selatan.

Selain kentang, sejumlah komoditas hortikultura lain seperti bawang merah, sayuran, dan tanaman perkebunan juga memiliki peluang untuk terus dikembangkan. Diversifikasi komoditas menjadi penting agar petani memiliki pilihan usaha yang lebih luas dan tidak bergantung pada satu jenis tanaman saja.

Produktivitas yang tinggi membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat apabila diikuti dengan sistem pemasaran yang baik. Dengan produksi yang stabil, Rongkong berpotensi menjadi salah satu pemasok kentang untuk memenuhi kebutuhan pasar di Sulawesi Selatan maupun wilayah sekitarnya.

Permintaan terhadap kentang terus tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan rumah tangga, industri makanan, restoran, hingga usaha pengolahan pangan. Kondisi ini memberikan ruang bagi petani untuk memperluas skala usaha dan meningkatkan nilai tambah produk pertanian.

Lebih jauh lagi, pengembangan kawasan hortikultura dapat menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah. Aktivitas produksi pertanian akan mendorong kebutuhan tenaga kerja, jasa transportasi, perdagangan hasil pertanian, hingga usaha pendukung lainnya di tingkat desa.

Kawasan yang disebut pusat budidaya kentang Luwu Utara (garis merah)

Tentang tanaman kentang

Tanaman kentang (Solanum tuberosum) merupakan komoditas hortikultura dataran tinggi yang tumbuh optimal pada ketinggian sekitar 1.000–2.000 meter di atas permukaan laut dengan suhu berkisar 15–20 derajat Celsius.

Karakter tanaman ini membutuhkan tanah yang gembur, kaya bahan organik, memiliki drainase baik, serta ketersediaan air yang cukup sepanjang masa pertumbuhan.

Dalam kondisi ideal, kentang dapat dipanen dalam waktu sekitar 90–120 hari setelah tanam, tergantung varietas, kondisi iklim, dan teknik budidaya yang diterapkan petani. Siklus tanam yang relatif singkat menjadikan kentang sebagai komoditas yang menarik karena mampu memberikan perputaran modal lebih cepat dibandingkan beberapa tanaman perkebunan.

Di Luwu Utara, khususnya wilayah dataran tinggi seperti Rongkong dan Seko, budidaya kentang memiliki peluang besar karena didukung oleh iklim sejuk dan kesuburan tanah yang sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Meski demikian, petani masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan akses jalan untuk distribusi hasil panen, fluktuasi harga di tingkat pasar, ketersediaan benih berkualitas, hingga risiko serangan hama dan penyakit yang dapat menurunkan produktivitas.

Di sisi lain, meningkatnya permintaan kentang untuk konsumsi rumah tangga, industri makanan, serta sektor kuliner membuka prospek pasar yang menjanjikan.

Dengan dukungan infrastruktur, pendampingan teknologi budidaya, dan penguatan rantai pemasaran, kentang berpotensi menjadi salah satu komoditas unggulan yang mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan dataran tinggi Luwu Utara.

Infrastruktur Menjadi Kunci

Salah satu lokasi yang telah dikunjungi Bupati yang akrab disapa Dul itu adalah Dusun Mabusa yang terletak di wilayah pegunungan dengan suhu sejuk dinilai memiliki potensi geografis yang sangat mirip dengan daerah penghasil kentang ternama di Indonesia.

Selain itu salah satu desa dengan potensi kentang maksimum adalah Desa Limbong, di Rongkong.

Meski memiliki potensi besar, lahan atau kawasan pertanaman yang mencapai ribuan hektar, pengembangan pertanian di Rongkong tidak lepas dari tantangan geografis.

Jarak tempuh yang cukup jauh dan kondisi jalan yang melewati kawasan pegunungan membuat biaya distribusi hasil panen relatif lebih tinggi dibandingkan daerah yang memiliki akses lebih mudah.

Karena itu, pembangunan infrastruktur menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat daya saing produk pertanian Rongkong. Akses jalan yang lebih baik akan mempercepat distribusi hasil panen, menekan biaya logistik, serta mengurangi risiko kerusakan produk selama perjalanan.

Pemerintah Luwu Utara, menurut Abdullah, terus mendorong dukungan berupa bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), peningkatan sarana produksi, serta pembukaan akses yang lebih luas bagi petani untuk menjangkau pasar.

Di balik capaian produktivitas yang menggembirakan, masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian.  Petani berharap ketersediaan pupuk dapat lebih terjamin, pembangunan jalan tani terus ditingkatkan, serta akses pemasaran diperkuat agar hasil panen terserap dengan baik.

Selain itu, stabilitas harga menjadi faktor yang sangat menentukan kesejahteraan petani. Produksi yang tinggi akan memberikan manfaat maksimal apabila diikuti dengan harga jual yang menguntungkan dan kepastian pasar yang memadai.

Keberhasilan petani Rongkong menunjukkan bahwa kawasan pegunungan memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis pertanian.

Dengan dukungan alam yang mendukung, semangat petani yang tinggi, serta perhatian pemerintah terhadap infrastruktur dan pengembangan sektor pertanian, kentang Rongkong berpotensi menjadi salah satu komoditas unggulan Luwu Utara di masa depan.

Capaian produktivitas hingga 20 ton per hektare bukan sekadar angka, melainkan gambaran tentang potensi yang dimiliki daerah ini.

Jika terus dikelola secara berkelanjutan dan didukung oleh kebijakan yang tepat, Rongkong dapat berkembang sebagai sentra hortikultura dataran tinggi yang memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.