PELAKITA.ID – Tanjung Redeb, 15 Juni 2026 – Panen tambak Shrimp Carbon Aquaculture (SECURE) yang dilaksanakan pada 3 Juni 2026 di Kampung Pegat Batumbuk dan Kampung Suaran, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menunjukkan hasil positif dari penerapan budi daya tambak ramah lingkungan.
Kegiatan ini didukung oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Dinas Perikanan Kabupaten Berau dalam kerangka Program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE).
Salah satu lokasi panen berada di tambak milik Abdul Rahman di Kampung Pegat Batumbuk. Tambak tersebut menghasilkan 115 kilogram udang windu, 141 kilogram udang bintik, 1,9 ton ikan bandeng, dan 50 kilogram kepiting bakau.
“Hasil panen kali ini menunjukkan bahwa pengelolaan tambak yang lebih memperhatikan kondisi lingkungan dapat memberikan hasil yang baik. Selain udang, kami juga mendapatkan bandeng dan kepiting bakau,” kata Abdul Rahman.
Abdul menambahkan, sebelum penerapan pendekatan SECURE, hasil panen udang windu di tambaknya rata-rata berada di kisaran 100 kilogram.
Dengan hasil terbaru sebesar 115 kilogram, produksi udang windu mengalami peningkatan sekitar 15 persen meskipun luas area budi daya telah menyusut hingga hanya 20% dari luas semula.
Menurutnya, pendampingan yang diberikan melalui program SECURE tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memperkuat kapasitas petambak dalam mengelola tambak secara lebih efisien dan berkelanjutan. Salah satunya melalui pelatihan pembuatan kompos dan mikroorganisme lokal (MOL) yang dimanfaatkan untuk menjaga kualitas lingkungan tambak.
Hasil panen tersebut menunjukkan bahwa pendekatan budi daya berbasis ekosistem tidak hanya mendukung produksi komoditas utama, tetapi juga mendorong diversifikasi hasil perikanan yang memberikan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat pesisir.
SECURE merupakan inisiatif yang dikembangkan YKAN bersama pemerintah daerah dan berbagai mitra untuk mendorong transformasi praktik tambak tradisional menuju sistem budi daya yang lebih berkelanjutan.
Melalui pendekatan ini, sekitar 20 persen area dimanfaatkan untuk kegiatan budi daya, sementara sekitar 80 persen area lainnya dialokasikan untuk pemulihan dan perlindungan mangrove.
Keberadaan mangrove tidak hanya berfungsi sebagai penyerap karbon dan pelindung alami kawasan pesisir, tetapi juga berperan menjaga kualitas perairan yang mendukung produktivitas tambak dalam jangka panjang. Dengan demikian, produksi perikanan dan pemulihan ekosistem dapat berjalan secara beriringan.
Penguatan Kapasitas dan Keberlanjutan
Di Kampung Pegat Batumbuk dan Kampung Suaran, implementasi SECURE juga diperkuat melalui kegiatn sekolah lapang yang menjadi sarana belajar bagi petambak untuk menerapkan berbagai praktik budi daya yang lebih ramah lingkungan.
Melalui sekolah lapang, petambak diperkenalkan pada teknik pengolahan kompos dan MOL yang memanfaatkan bahan-bahan organik yang tersedia di sekitar tambak.
Kompos digunakan untuk meningkatkan kesuburan ekosistem tambak dan mendukung pertumbuhan pakan alami, sedangkan MOL membantu menjaga keseimbangan mikroorganisme perairan sehingga kualitas lingkungan budi daya tetap terjaga.
Selain itu, sekolah lapang juga memperkenalkan teknik nursery atau pendederan sebagai bagian dari proses aklimatisasi benih udang windu dan ikan bandeng sebelum ditebar ke tambak pembesaran. Teknik ini bertujuan meningkatkan daya tahan benih sehingga tingkat kelangsungan hidupnya menjadi lebih tinggi.
Jumardi, petambak mitra SECURE di Kampung Suaran, merasakan langsung manfaat penerapan teknik tersebut.
“Nursery menjadi salah satu pengetahuan baru yang sangat bermanfaat bagi kami. Sebelumnya benih udang windu dan bandeng langsung ditebar ke tambak sehingga tingkat keberhasilannya tidak selalu optimal. Melalui sekolah lapang, kami belajar melakukan pendederan dan aklimatisasi terlebih dahulu agar benih dapat menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan tambak. Hasilnya, benih lebih kuat, tingkat kelangsungan hidupnya lebih baik, dan kami lebih yakin dalam menjalankan proses budi daya,” ujarnya.
Penerapan praktik-praktik tersebut turut memberikan hasil yang menggembirakan. Tambak yang dikelola Jumardi bersama ayahnya, Satar, dan dipanen pada 3 Juni 2026 menghasilkan 284,2 kilogram udang windu serta 120 kilogram udang bintik.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Abdul Majid, mengapresiasi implementasi pendekatan SECURE yang dinilai sejalan dengan arah pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Berau.
“Pendekatan ini menunjukkan bahwa budi daya dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. Selain meningkatkan hasil budi daya, model SECURE juga menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Integrasi antara restorasi mangrove dan praktik budi daya ramah lingkungan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan ketahanan tambak terhadap berbagai risiko lingkungan sekaligus membantu menekan biaya produksi.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip ekonomi biru yang menempatkan kesehatan ekosistem pesisir sebagai landasan pembangunan sektor kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.
Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, mengatakan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari hasil produksi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dalam mengelola sumber daya pesisir secara berkelanjutan.
“SECURE bukan hanya tentang produksi udang, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat membangun kembali hubungan dengan ekosistem pesisirnya. Ketika mangrove dipulihkan dan kapasitas petambak diperkuat, kita dapat melihat sistem pengelolaan yang lebih tangguh, baik secara ekonomi maupun ekologis,” pungkasnya.
***
Tentang YKAN
Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) adalah organisasi nirlaba berbasis ilmiah yang hadir di Indonesia sejak 2014. YKAN memberikan solusi inovatif demi mewujudkan keselarasan alam dan manusia melalui tata kelola sumber daya alam yang efektif, mengedepankan pendekatan non konfrontatif, serta membangun jaringan kemitraan dengan seluruh pihak kepentingan untuk Indonesia yang lestari. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi www.ykan.or.id.









