H.Rustan Rewa, Asisten Ekbang Kabupaten Tolitoki, ujung kanan, saat memaparkan capaian Implementasi Asta Cita Presiden Prabowo pada rapat koordinasi yang digelar oleh Pemprov. Sulawesi Tengah.
PELAKITA.ID – H. Rustan Rewa, Asisten Ekonomi Pembangunan Kabupaten Tolitoli mewakil Bupati memaparkan capaian implementasi Program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto melalui berbagai agenda pembangunan yang menyentuh sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi desa, hingga ketahanan pangan.
Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi daerah ini untuk memperlihatkan bagaimana pembangunan tidak hanya diukur dari capaian angka, tetapi juga dari upaya menghadirkan pelayanan yang lebih dekat kepada masyarakat.
Dokumen “Capaian Program Asta Cita Presiden Kabupaten Toli-Toli Tahun 2026” memperlihatkan bahwa arah pembangunan daerah mulai dibangun secara terintegrasi melalui sejumlah program unggulan bertajuk “Berani Cerdas”, “Berani Sehat”, “Berani Sejahtera”, dan “Berani Panen Raya”.
Mendorong Pendidikan dan Gizi Melalui “Berani Cerdas”
Pada sektor pendidikan, Kabupaten Toli-Toli mencatat jumlah sasaran peserta didik mencapai 37.763 siswa yang tersebar di berbagai jenjang pendidikan.
Infrastruktur pendidikan tersebut terdiri dari 100 TK/PAUD, 142 SD/sederajat, 56 SMP/sederajat, dan 37 SMA/sederajat, termasuk empat pondok pesantren.

Program ini juga diintegrasikan dengan agenda pemenuhan gizi masyarakat melalui penerima manfaat MBG (Makan Bergizi Gratis) yang mencakup 157 ibu hamil, 396 ibu menyusui, serta 1.299 balita.
Kehadiran program ini menunjukkan bahwa pembangunan sumber daya manusia dipandang tidak hanya melalui aspek pendidikan formal, tetapi juga melalui penguatan kualitas kesehatan generasi masa depan sejak usia dini.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga mulai mempersiapkan pembangunan Sekolah Rakyat sebagai bagian dari perluasan akses pendidikan.
Dua calon lokasi telah disiapkan, yakni di Desa Pangi dan Kelurahan Tambun.
Lokasi Desa Pangi memiliki luas sekitar 4,8 hektare dengan status aset milik pemerintah daerah.
Namun kawasan ini menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari sulitnya akses listrik dan air, belum tersedianya jalan masuk karena berada di kawasan perkebunan masyarakat, hingga kondisi geografis yang dekat sungai dan rawan bencana.
Sementara itu, lokasi di Kelurahan Tambun seluas 7,6 hektare dinilai lebih mudah dari sisi aksesibilitas dan penunjang dasar seperti listrik dan air.
Meski demikian, pemerintah masih perlu menyelesaikan persoalan pembebasan lahan dan penimbunan area pembangunan.
“Berani Sehat” dan Tantangan Layanan Kesehatan
Dalam sektor kesehatan, Pemerintah Kabupaten Toli-Toli menargetkan 46.426 peserta didik sebagai sasaran layanan kesehatan, dengan realisasi hingga April 2026 mencapai 6.641 siswa.
Selain itu, terdapat 15 puskesmas yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan bagi masyarakat umum.
Dari target layanan umum sebanyak 162.561 orang, realisasi hingga April 2026 tercatat mencapai 8.154 orang. Namun di balik capaian tersebut, pemerintah daerah masih menghadapi sejumlah kendala mendasar.
Keterbatasan alat kesehatan, infrastruktur, dan logistik menjadi tantangan utama, termasuk distribusi bahan medis yang belum merata.
Masalah lain juga muncul dari keterbatasan tenaga medis dan kemampuan SDM dalam mengoperasikan perangkat komputerisasi pelayanan kesehatan.
Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan masih menjadi hambatan tersendiri, terutama karena adanya rasa takut terhadap pemeriksaan dan anggapan bahwa layanan pemeriksaan belum lengkap.
Tantangan teknis seperti gangguan jaringan dan server aplikasi juga turut memengaruhi sistem layanan dan data kesehatan.
Karena itu, pemerintah daerah menilai perlunya regulasi lintas sektor yang lebih kuat sebagai payung hukum dalam mendukung integrasi layanan kesehatan daerah.
Koperasi Desa dan Agenda “Berani Sejahtera”
Dalam upaya memperkuat ekonomi masyarakat desa, Kabupaten Toli-Toli telah membentuk 109 Koperasi Desa Merah Putih yang tersebar di 10 kecamatan.
Dari jumlah tersebut, satu pembangunan koperasi telah selesai, dua berada pada tahap peletakan batu pertama, dan 32 lainnya masih dalam proses pembangunan.
Sementara itu, terdapat 50 lokasi yang telah memiliki lahan namun belum dibangun, serta 24 lokasi yang lahannya masih belum tersedia.
Data ini menunjukkan bahwa penguatan ekonomi desa tidak hanya bergantung pada pembentukan kelembagaan koperasi, tetapi juga pada kesiapan lahan, dukungan infrastruktur, dan keberlanjutan pembangunan fisik di tingkat desa.
Ketahanan Pangan dan “Berani Panen Raya”
Sektor pangan menjadi salah satu fokus utama pembangunan daerah di tengah tantangan inflasi dan kebutuhan menjaga stabilitas pasokan beras.
Melalui program “Berani Panen Raya”, Kabupaten Toli-Toli mencatat produksi padi Januari–Mei 2026 mencapai 30.694,86 ton dengan luas panen 5.915,82 hektare.
Sementara itu, stok beras pada Mei 2026 tercatat sebesar 3.634,62 ton. Angka tersebut menjadi indikator penting dalam menjaga stabilitas pangan daerah sekaligus mendukung pengendalian inflasi beras.
Meski demikian, pemerintah daerah masih menghadapi sejumlah tantangan serius di sektor pangan, terutama terkait infrastruktur pangan yang belum memadai, keterbatasan sarana dan prasarana, serta distribusi pangan yang belum merata.
Pembangunan sebagai Proses Bersama
Capaian Program Asta Cita Kabupaten Toli-Toli Tahun 2026 memperlihatkan bahwa pembangunan daerah adalah proses yang terus bergerak.
Di satu sisi terdapat kemajuan nyata dalam pendidikan, kesehatan, ekonomi desa, dan ketahanan pangan.
Namun di sisi lain, masih ada tantangan besar yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor, penguatan infrastruktur, peningkatan kapasitas SDM, dan partisipasi masyarakat.
Karena itu, pembangunan bukan hanya tentang menyelesaikan proyek fisik, tetapi juga tentang memastikan bahwa setiap program benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan memperkuat kualitas hidup warga secara berkelanjutan.









