Diseminasi Data Tangkapan Ikan dan Penguatan Kelembagaan Nelayan Dorong Perikanan Berkelanjutan di Laut Sawu

  • Whatsapp
Melalui pendekatan Crew Operated Data Recording System (CODRS), nelayan dapat melakukan pendataan digital dan melaporkan hasil tangkapan secara mandiri. (Foto: ©Adia Puja/YKAN)

Hasil Analisis CODRS Dorong Kebijakan Perikanan Berbasis Data dan Partisipasi Nelayan

PELAKITA.ID – Kupang, Nusa Tenggara Timur, 13 Mei 2026 — Diseminasi hasil analisis data Crew-Operated Data Recording System (CODRS) menjadi langkah awal dalam memperkuat pengelolaan perikanan berkelanjutan berbasis masyarakat di wilayah Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kegiatan ini diikuti dengan penyusunan kesepakatan konservasi (conservation agreement) di sejumlah wilayah di Pulau Sumba, pada 5–12 Mei 2026.

Diseminasi ini bertujuan untuk menyampaikan hasil pendataan tangkapan nelayan selama satu tahun terakhir sekaligus membangun pemahaman bersama mengenai Pengelolaan Perikanan Berbasis Masyarakat (PPBM) melalui pendekatan Territorial Use Rights for Fisheries (TURF-Reserve).

Data yang dikumpulkan sejak Mei 2025 tersebut, diharapkan dapat menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan pengelolaan perikanan di TNP Laut Sawu yang lebih adaptif dan berbasis bukti.

Kepala Balai Pengelolaan Kelautan (BPK) Kupang, Imam Fauzi, menyampaikan pentingnya data sebagai fondasi pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Hal ini, menurut Imam, sejalan dengan upaya memperkuat kebijakan berbasis bukti serta meningkatkan partisipasi aktif nelayan dalam proses pengelolaan perikanan di wilayahnya.

“Diseminasi data CODRS menjadi momentum penting untuk memastikan bahwa kebijakan pengelolaan perikanan disusun berdasarkan kondisi riil di lapangan. Keterlibatan nelayan dalam proses ini juga memperkuat rasa memiliki terhadap sumber daya laut yang mereka kelola,” ujar Imam.

Lebih lanjut, Imam mengatakan, melalui kesepakatan bersama, Balai Pengelolaan Kelautan Kupang merangkul nelayan untuk mengelola kawasan konservasi bersama-sama. “Kami menghargai kearifan lokal dan cara-cara tradisional yang menjaga kelestarian laut. Tujuannya jelas: ekosistem laut tetap terjaga, dan ekonomi masyarakat nelayan pun ikut meningkat,” lanjutnya.

Hal senada disampaikan oleh Kepala Bidang Pengelolaan Ruang Laut (PRL) dan Perikanan Budidaya, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTT, Muhammad Saleh Goro. Ia menekankan bahwa hasil diseminasi ini akan memperkuat integrasi pengelolaan perikanan dalam kerangka kebijakan daerah dan kawasan konservasi.

“Pendekatan berbasis data seperti CODRS sangat relevan untuk mendukung perencanaan pengelolaan ruang laut di tingkat provinsi. Kami melihat hasil ini dapat menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran, sekaligus memperkuat integrasi pengelolaan perikanan dengan kawasan konservasi di Laut Sawu,” ujarnya.

Nelayan Mitra CODRS dari Desa Wendew, Sumba Tengah, Niffa, menyampaikan bahwa proses diseminasi memberikan pemahaman baru bagi nelayan terkait kondisi sumber daya perikanan. “Melalui diseminasi ini kami jadi tahu kondisi hasil tangkapan selama ini. Kami juga sepakat untuk mulai mengatur cara menangkap agar ikan tetap ada ke depan,” ujar Niffa.

Penguatan Pengelolaan Perikanan Berbasis Masyarakat

Lebih dari satu dekade, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) mendorong praktik pengelolaan perikanan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat upaya konservasi sumber daya laut secara nasional.

Salah satu fokus utama program perikanan berkelanjutan YKAN adalah mendukung pengelolaan perikanan berbasis masyarakat, baik di Kawasan Konservasi Perairan maupun di wilayah Masyarakat Hukum Adat, termasuk perairan di Pulau Sumba yang merupakan bagian dari TNP Laut Sawu.

Manajer Senior Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan YKAN, Glaudy Perdanahardja menjelaskan, bahwa YKAN sebagai mitra pemerintah, berperan dalam mendukung keseluruhan proses, mulai dari pengumpulan data hingga penguatan tata kelola berbasis masyarakat.

“YKAN memfasilitasi implementasi CODRS sebagai sistem pencatatan data yang dilakukan langsung oleh nelayan, sekaligus mendukung analisis dan diseminasi data tersebut sebagai dasar pengambilan keputusan,” kata Glaudy.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa YKAN juga mendorong penerapan pendekatan TURF-Reserve, yang memberikan ruang bagi nelayan untuk mengelola wilayah tangkapnya secara terstruktur dan bertanggung jawab.

“Melalui pendekatan TURF-Reserve, nelayan tidak hanya menjadi pengguna sumber daya, tetapi juga pengelola yang memiliki hak dan tanggung jawab. Hal ini diperkuat melalui penyusunan conservation agreement yang terintegrasi dalam rencana pengelolaan TNP Laut Sawu oleh pemerintah,” lanjutnya.

Rangkaian kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan dalam memastikan keberlanjutan sumber daya laut sekaligus meningkatkan kesejahteraan nelayan di wilayah TNP Laut Sawu, khususnya perairan Pulau Sumba.

 

***
Tentang YKAN
Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) adalah organisasi nirlaba berbasis ilmiah yang hadir di Indonesia sejak 2014. YKAN memberikan solusi inovatif demi mewujudkan keselarasan alam dan manusia melalui tata kelola sumber daya alam yang efektif, mengedepankan pendekatan non konfrontatif, serta membangun jaringan kemitraan dengan seluruh pihak kepentingan untuk Indonesia yang lestari. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi www.ykan.or.id.

Narahubung
Adia Puja Pradana
Communications Specialist Ocean Program YKAN
adia.pradana@ykan.or.id