Dari Krisis Iklim hingga Aksi Nyata: Pesan Empat Narasumber untuk Mahasiswa KKN Tematik Perubahan Iklim Unhas

  • Whatsapp
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Cengkerama Iklim bertema “Aksi Pemuda Jaga Iklim, Menuju Indonesia ASRI” yang diselenggarakan oleh Direktorat Mobilisasi Sumber Daya Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin, Selasa (2/6/2026), di Auditorium Prof. A. Amiruddin Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar.

Indonesia telah menetapkan target penurunan emisi melalui Nationally Determined Contribution (NDC) dan menargetkan pencapaian Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat. Keberhasilan target tersebut sangat bergantung pada keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda.

PELAKITA.ID – Makassar – Perubahan iklim tidak lagi dapat dipandang sebagai isu lingkungan yang berdiri sendiri. Ia telah menjadi persoalan pembangunan, ekonomi, kesehatan, ketahanan pangan, hingga kedaulatan bangsa.

Di tengah meningkatnya ancaman tersebut, generasi muda dituntut tidak hanya memahami persoalan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi.

Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Cengkerama Iklim bertema “Aksi Pemuda Jaga Iklim, Menuju Indonesia ASRI” yang diselenggarakan oleh Direktorat Mobilisasi Sumber Daya Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin, Selasa (2/6/2026), di Auditorium Prof. A. Amiruddin Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembekalan mahasiswa peserta KKN Tematik Perubahan Iklim Program Kampung Iklim (ProKlim) yang akan diterjunkan ke berbagai desa di Sulawesi Selatan.

Hadir memberikan arahan Direktur Mobilisasi Sumber Daya Pengendalian Perubahan Iklim KLH/BPLH, Irawan Asaad, yang menegaskan bahwa perubahan iklim merupakan tantangan terbesar abad ke-21 yang harus direspons melalui aksi kolektif.

Menurut Irawan, dunia saat ini menghadapi ancaman yang jauh melampaui persoalan lingkungan semata. Perubahan iklim telah mengubah pola cuaca, meningkatkan frekuensi bencana hidrometeorologi, mengancam ketahanan pangan, serta menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar.

Bagi Indonesia, tantangan tersebut memiliki dimensi yang lebih kompleks. Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau, Indonesia berada di garis depan dampak perubahan iklim.

Kenaikan muka air laut, abrasi pesisir, perubahan pola musim, dan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem menjadi ancaman nyata bagi jutaan penduduk yang tinggal di kawasan pesisir.

“Perjuangan menghadapi perubahan iklim bukan sekadar upaya menyelamatkan lingkungan. Ini adalah ikhtiar menjaga kedaulatan wilayah, melindungi rakyat, dan memastikan pembangunan Indonesia tetap berlanjut dalam dunia yang sedang berubah,” tegasnya.

Indonesia sendiri telah menetapkan target penurunan emisi melalui Nationally Determined Contribution (NDC) dan menargetkan pencapaian Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat. Namun keberhasilan target tersebut sangat bergantung pada keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda.

Menanam Mangrove di Kepala Manusia

Salah satu isu yang mendapat perhatian dalam pembekalan adalah pentingnya konservasi ekosistem pesisir dan mangrove.

Tenaga Ahli Mangrove Yayasan Hutan Biru (Blue Forests), Yusran Nurdin Massa, mengajak mahasiswa memahami mangrove bukan sekadar sebagai pohon yang tumbuh di pesisir, melainkan sebagai sistem ekologis yang menopang kehidupan masyarakat pesisir sekaligus berperan penting dalam pengendalian perubahan iklim.

Menurut Yusran, masih banyak kesalahpahaman dalam upaya rehabilitasi mangrove. Banyak orang menganggap mangrove sebagai tumbuhan air, padahal secara biologis mangrove adalah tumbuhan darat yang beradaptasi hidup di wilayah pasang surut.

“Mangrove mengalami genangan, tetapi tidak menyukai genangan terus-menerus. Ia adalah tumbuhan darat yang beradaptasi dengan lingkungan ekstrem,” jelasnya.

Pemahaman tersebut menjadi sangat penting karena banyak program rehabilitasi mangrove gagal akibat kesalahan dalam menentukan lokasi penanaman.

Indonesia memiliki sekitar 23 persen mangrove dunia dan menjadi rumah bagi lebih dari 40 spesies mangrove sejati. Selain menjadi habitat berbagai satwa, mangrove berfungsi sebagai pelindung alami kawasan pesisir dari gelombang besar, abrasi, dan dampak bencana.

Yusran mencontohkan bagaimana kawasan yang masih memiliki sabuk mangrove mampu mengurangi dampak tsunami dan gelombang ekstrem. Sebaliknya, kerusakan mangrove telah menyebabkan abrasi parah di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Demak di Jawa Tengah dan sejumlah kawasan pesisir lainnya.

Dalam konteks perubahan iklim, mangrove juga dikenal sebagai salah satu penyerap karbon paling efektif. Karbon yang tersimpan di bawah tanah mangrove bahkan dapat mencapai beberapa kali lipat dibandingkan hutan tropis daratan.

Karena itu, kerusakan mangrove tidak hanya menghilangkan perlindungan pesisir, tetapi juga melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar ke atmosfer.

Di hadapan mahasiswa KKN, Yusran mengajak generasi muda mengambil peran melalui edukasi masyarakat, pengembangan ekonomi berbasis mangrove, dan rehabilitasi yang dilakukan secara ilmiah.

Namun pesan paling kuat yang ia tinggalkan bukanlah tentang teknik penanaman, melainkan tentang kesadaran manusia.

“Sebagian besar aksi yang bisa kita lakukan mungkin adalah menanam mangrove di pesisir. Tetapi yang paling esensial adalah menanam mangrove di kepala manusia.”

Baginya, ketika kesadaran tumbuh, maka perlindungan terhadap mangrove dan ekosistem pesisir akan berlangsung lebih kuat dan berkelanjutan.

Krisis Sampah dan Tantangan Perubahan Perilaku

Persoalan lingkungan lainnya yang mendapat sorotan adalah krisis sampah perkotaan.

Pendiri Forum Komunitas Hijau Makassar, Ahmad Yusran, menegaskan bahwa masalah sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan teknologi atau kampanye pemilahan sampah semata.

“Kita sudah berada pada kondisi darurat sampah. Karena itu mahasiswa yang akan turun ke masyarakat harus hadir dengan semangat solusi, bukan sekadar melihat masalah,” ujarnya.

Menurutnya, akar persoalan sampah terletak pada perilaku manusia. Karena itu, perubahan budaya menjadi faktor yang jauh lebih penting dibandingkan sekadar penyediaan sarana dan teknologi.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia menghadapi tekanan lingkungan yang semakin besar akibat meningkatnya produksi sampah, terutama sampah plastik sekali pakai.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Ahmad Yusran mendorong penerapan prinsip ekonomi sirkular, yaitu memandang sampah sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai ekonomi.

Di lingkungan keluarganya sendiri, sampah organik diolah menjadi kompos, sementara sampah plastik diubah menjadi ecobrick yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.

Menurutnya, perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil.

“Banyak orang berbicara tentang lingkungan, tetapi perubahan sesungguhnya dimulai dari rumah masing-masing,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya literasi lingkungan bagi mahasiswa. Sebelum menawarkan solusi kepada masyarakat, mahasiswa perlu memahami data, kondisi sosial, perilaku masyarakat, dan tata kelola lingkungan yang ada di lapangan.

“Perubahan perilaku dimulai dari pemahaman yang benar terhadap masalah,” ujarnya.

Selain pendekatan teknis, Ahmad Yusran menilai keberhasilan program lingkungan sangat dipengaruhi pendekatan sosial, budaya, dan spiritual. Keteladanan, kedekatan dengan masyarakat, serta kemampuan membangun kepercayaan menjadi kunci keberhasilan program perubahan perilaku.

Kepedulian Harus Menjadi Tindakan

Pesan yang melengkapi dua perspektif sebelumnya datang dari pegiat lingkungan dan peraih penghargaan Kalpataru, Muhammad Ihwan atau Iwan Dento, penggerak Komunitas Anak Sungai dan Program Lestari Rammang-Rammang.

Selama lebih dari dua dekade, Iwan aktif mendampingi masyarakat dalam pelestarian kawasan karst dan pengembangan pariwisata berkelanjutan di Rammang-Rammang, Kabupaten Maros.

Dalam pemaparannya, Iwan mengingatkan bahwa Program Kampung Iklim tidak boleh dipahami sekadar sebagai kegiatan penanaman pohon atau proyek lingkungan jangka pendek.

Menurutnya, keberhasilan Program Kampung Iklim ditentukan oleh tiga pilar utama, yaitu mitigasi, adaptasi, dan keberlanjutan.

Mitigasi dilakukan melalui upaya mengurangi emisi dan menjaga lingkungan. Adaptasi membantu masyarakat menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim yang telah terjadi. Sementara keberlanjutan memastikan seluruh upaya tersebut tetap berjalan setelah program berakhir.

“Kalau tidak ada kelembagaan yang kuat, program akan berhenti ketika pendamping atau mahasiswa selesai bertugas,” jelasnya.

Iwan menegaskan bahwa inti dari seluruh upaya tersebut adalah perubahan perilaku.

“Kepedulian bukan sekadar ucapan. Kepedulian harus dibuktikan dengan tindakan,” ujarnya.

Kepada mahasiswa peserta KKN, ia menyarankan agar tidak datang dengan program yang sudah jadi. Sebaliknya, mereka harus terlebih dahulu mendengar, mengamati, dan memahami kebutuhan masyarakat.

Ia memberi contoh sederhana seperti penggunaan botol minum isi ulang di posko KKN, penyediaan water station, hingga pengurangan sampah plastik sebagai bentuk keteladanan yang bisa langsung dilakukan mahasiswa.

Menurut Iwan, keberhasilan Kampung Rammang-Rammang meraih predikat ProKlim Lestari tidak terjadi dalam waktu singkat. Pencapaian tersebut lahir dari proses panjang membangun kesadaran, memperkuat kelembagaan masyarakat, dan menumbuhkan budaya menjaga lingkungan.

Di akhir pemaparannya, ia menyampaikan refleksi yang mendalam mengenai tantangan pembangunan masa depan.

“Masalah terbesar ke depan bukan uang, tetapi ruang. Ketika kita mampu mengelola ruang dengan baik, maka kehidupan sosial, lingkungan, dan ekonomi akan tumbuh dengan lebih baik pula.”

Generasi Muda di Garis Depan Aksi Iklim

Rangkaian pembekalan dalam Cengkerama Iklim memperlihatkan bahwa perubahan iklim bukan persoalan yang dapat diselesaikan oleh satu sektor atau satu lembaga semata.

Dari perspektif kebijakan nasional, perubahan iklim berkaitan dengan ketahanan pembangunan dan kedaulatan bangsa. Dari perspektif ekologi, ia menuntut perlindungan terhadap ekosistem penting seperti mangrove. Dari perspektif sosial, ia membutuhkan perubahan perilaku dan budaya masyarakat. Sementara dari perspektif pemberdayaan masyarakat, ia mensyaratkan lahirnya kelembagaan yang kuat dan berkelanjutan.

Seluruh pesan tersebut bermuara pada satu kesimpulan yang sama: aksi iklim harus dimulai dari manusia.

Karena itu, mahasiswa peserta KKN Tematik Perubahan Iklim tidak hanya dibekali pengetahuan mengenai mitigasi dan adaptasi, tetapi juga diajak menjadi agen perubahan yang mampu membangun kesadaran, menggerakkan masyarakat, dan menumbuhkan praktik-praktik hidup berkelanjutan di tingkat lokal.

Di tengah tantangan iklim yang semakin nyata, generasi muda tidak lagi cukup menjadi saksi perubahan zaman. Mereka dituntut menjadi pelaku perubahan yang menghadirkan solusi, dimulai dari desa, komunitas, dan ruang hidup tempat mereka berada.

Editor K. Azis