UNHAS, hakikat leadership dan Rektor JJ

  • Whatsapp

DPRD Makassar

PELAKITA.ID – Tidak bisa disangkali bahwa dengan latar belakang pendidikan, yang nginternasional, berjejaring luas pada aneka kelimuan, Rektor JJ tentu paham betapa Unhas sangat diharapkan dalam memberikan kontribusi dan solusi pada dunia sekitar yang kian rentan.

Unhas harus eksis di depan, saat kita sedang gamang apa yang mesti dilakukan kala resesi mengintai, saat energi fosil langka dan di sisi lain, orang-roang sibuk menimbun energi, mengais logam, besi, nikel dari perut bumi dan ‘orgasme’  meluluhlantakkan hutan, tanah dan air.

Kita ingin Unhas yang harusnya berani mengambil sikap pada keruwetan dan sengkarut pengelolaan sumber daya.

Read More

Misal, apakah keukeuh menerapkan Omnibus Law atau menjadi benteng pengaman, memilih menjadi penjaga keunggulan lokalitasnya, kebudayaannya, nilai-nilai moralnya pada perindungan sumberdaya ketimbang menyerahkannya ke barisan oligarki yang lebih menomor satukan hasrat menguras sumberdaya alam ketimbang merawatnya dengan telaten dan penuh cinta

Tidakkah kita, sebagai bagian civitas akademika itu ingin melihat Unhas hadir tanpa ambigu?

Apakah mau mendahulukan PTNBH untuk menggemukkan pundi-pundinya, income-nya ketimbang berdonasi sosial pada anak-anak muda desa yang sejatinya potensial cerdas namun tidak punya modal uang memadai? Saat  hasrat berubah dan progresif demi membangun desa dan kamupung halamannya.

Ketimpangan di depan mata

Unhas menjulang  di Kota Metropolitan Makassar, kota jantung dan barometer pertumbuhan,  juga ‘perlawanan sosial’, kota yang kini berpacu dengan pertumbuhan penduduk, kota yang sesungguhnya punya keterbatasan ruang serta punya dinamika sosial yang rentan.

Menyaksikan Unhas yang mentereng dengan bangunan yang tinggi, moderen, sementara di lelorong kita menyaksikan generasi mereproduksi tabiat purba, saling busur dan menerapkan hukum rimba kuasa adalah cambuk dan pengingat: dimana gerangan pedang keilmuan dalam menebas laku banal sosial itu?

Di mana Unhas saat kota, kita dan desa-desa di Sulsel mengalami pertumbuhan yang timpang?

Saat dana desa dikorupsi, pendapatan yang jomplang, tidak stabil sementara sumber daya kian terbatas, laut terkuras, mangrove digerayangi, hutam dibabat habis, puncak gunung dipangkas demi memenuhi selera ‘Sultan’ ekonomi yang sesungguhnya bukan untuk untuk masyarakat yang berdiam di situ?

Adakah yang bisa direkomendasikan atau apantumae dari Unhas?

Di mana Unhas saat perkembangan keekonomian kawasan menjadi sangat rentan,  disparitasnya sungguh jauh menganga, si kaya pamer harta di jalan-jalan, dan menutup mata pada anak-anak pengemis dan pengamen yang kian menjamur bak cendawan di musim hujan?

Di mana Unhas saat ada gap teknologi dan laku kepemimpinan di daerah, di kabupaten-kota, di radius Tamalanrea hingga batas-batas administratif terjauh yang kian tak stabil, tak menemukan titik seimbang data berhadapan dengan kebutuhan ekonomi ril masyarakat yang dipimpin?

Para oknum pemimpin kepala daerah yang semakin jauh dari praktik Sarjana dan Saujana?  Adakah upaya korektif Unhas untuk itu?

Di mana Unhas saat penderitaan kian meluas karena harga sembako yang kian tinggi dan sulit diraih oleh nelayan, petani, petambak, pekebun dan orang-orang desa?

Di mana Unhas saat tata kelola organisasi temasuk pemerintah, menjadi tak stabil karena semakin banyak warga yang terabaikan voiceless

Di mana Unhas sementara kian banyak alumni, warga di sekitar kampus kian tak bahagia.

Beberapa alumninya yang ‘membunuh harapan’ di tengah serbuan pekerja-pekerja asing di sekitar episentrum keberadaannya?

Tidakkah Unhas melihat bahwa ada banyak kegagalan organisasi LSM, pemerintah, swasta, di radius dimana dia eksis? Betapa masif dan kritisnya persoalan ini mendera ruang dalam kita?

Tidakkah Unhas melihat bahwa ternyata kita telah menghasilkan banyak hal (seperti tesis, skripsi, disertasi) tetapi tak satupun yang berminat sebab itu tak ditindaklanjuti, tak satupun digunakan, tak satupun dimanfaatkan untuk menjawab persoalan-peroslana laten di atas?

Lihatlah, betapa perubahan iklim, penyakit AIDs, Covid-19, kelaparan, kemiskinan, kekerasan, kehancuran komunitas, kesenjangan sosial dan alam kian nampak di depan mata. Unhas di mana?

Kesadaran dan kapasitas leadership yang baru

Wahai entitas Unhas, kita perlu memahami tantangan dan segera membangun kesadaran bersama. Mengajak alumni, ajak civitas akademika untuk berhenti di perjalanan sejenak, dan merenung:

Siapa Unhas dan apa yang bisa dikontribusikan untuk hal-hal yang menggelisahkan nalar di atas.

Unhas, mari mulai mempelajari proses kreatif untuk belajar dari masa depan dan memastikan bahwa kita perlu bersiap dan bareng-bareng mengkreasi peluang baik untuk secara perlahan mengisi gap persoalan di atas.

Mari mematangkan langkah-langkah ke depan dalam pengembangan kapasitas, pengetahuan, keterampilan, komitmen moral dan ‘tojeng-tojeng’ membangun kolaborasi, menciptakan peluang dan mengisinya dengan karya-karya kolaboratif.

Unhas tidak bisa sendiri, tentu saja, tetapi ini harus datang dari Unhas itu sendiri untuk membuka ruang itu.  Mengajak mematangkan langkah-langkah ke depan dalam pengembangan agenda prubahan yang sejatinya sudah bisa dipetakan di atas.

Kita harus cekatan menggunakan pikiran, melibatkan hati untuk peduli dan mau berbuat, kita harus menggerakkan semua unsur di Unhas untuk bersama menyusun langkah-langkah kreatif dengan resourecs yang ada.

Kita bereskan fenomena atau persoalan di internal Unhas yang selama ini sudah terbaca dan bahkan cenderung liar sebab sesama alumni saling mempermalukan, sesama dosen saling menelanjangi, sesama guru besar saling sikut.

Unhas harus maju dan lebih progresif tetapi harus juga memastikan bahwa kapasitas yang ada itu siap untuk mengkresasi suatu sistem organisasi yang sehat, terbuka, dinamis dan mau mendengarkan apa aspirasi masyarakat atau siapa yang mereka harusnya layanii

Unhas tak bisa melepaskan diri dari aspek politik eksternalnya tetapi Unhas sejatinya tahu mana pilihan terbaik dan strategis tanpa harus melacurkan bahtera organisasinya untuk karam dalanm pusaran para cukong, para oligark banal.

Mari membayangkan Unhas dengan infratsruktur yang akomodtaif dan nyaman untuk semua, danmengadopsi manajemen usaha yang mulia, tanpa perilaku koruptif, harus terbuka dan mau berasik masyuk dengan alumni, dengan segenap civitas akademi dalam pengembaraan gagasan dan solusi untuk masa depan.

Saya kira, Rektor harus menyadari sisi yang bisa saja belum bisa ditutupinya, tentang ‘titik buta leadershipnya’. Bahwa dia harus sadari tentang apa yang akan dituju dan bagaimana mengkreasi proses serta sumberdaya apa dan siapa yang harus dilibatkan.

Tentang bagaimana mencapai itu, untuk saat ini kita bisa mengatakan bahwa kita belum melihat bagaimana Unhas memanfaatkan inner place-nya, dimana dia beropeasi, apakah alumni diajak untuk merangkai masa depan itu?

Untuk saat ini kita hanya perlu Unhas yang peduli dan terbuka, yang ingin melihat Unhas sebagai salah satu universitas top dan terbukti kontribusinya pada persoalan-persoalan sosial, ekonomi dan ekologi, di sekiarnya, di kota dimana dia ada, bahkan dunia.

Tapi pertanyaan ini pun masih patut dikemukakan, sungguhkah entitas Unhas di Rektorat sudah punya kesadaran yang sama tanpa tersandera oleh kepentingan yang kandas saat pemilihan rekttor yang bisa jadi penuh dengan aroma ketidaksukaan dan apatisme karena konon katanya ‘sesama geng’ itu masih ada?

Pendek cerita, mari memeriksa Unhas saat ini, sungguhkah akomodatif pada diversitas entitasnya?

Sungguhkah sudah para track yang benar untuk bisa berinovasi ketimbang pilih kasih dan pengalokasian sumberdaya kampus.

Sungguhkah Rektorat benar-benar menggunakan mata dan telinga untuk mendengaarkan alumni, masyarakat, ketimbang geng atau sekutu ideologi mereka? Tuh, di sana, IKA Unhas sedang menunggu di persimpangan jalan harapan.

 

Penulis: K. Azis (Alumni Ilmu Kelautan Unhas 1989)

Tamarunang, 3/12/2022

Related posts