Kolom Yarifai Mappeaty: TIDAK ADA JUDUL

  • Whatsapp
Rumah untuk orang sakit (dok: ilustrasi)

DPRD Makassar

Sedikit lama memang, karena kotoran itu bulat padat. Besarnya persis seperti kue ‘tumbu’, menu lebaran khas Bugis – Makassar – Yarifai Mappeaty

PELAKITA.ID – Jum’at, 14 Oktober 2022 lalu, bagi kami sekeluarga adalah duka sekaligus hari pembebasan. Hari itu, usai Subuh, ayah mertuaku pergi untuk selamanya. Tampaknya maut yang datang menjemputnya, adalah solusi terbaik yang diberikan Allah.

Selain melepaskan dirinya dari derita panjang, juga membebaskan kami dari keharusan merawatnya selama bertahun-tahun.

Sekitar pukul delapan pagi, jenazah sudah disemayamkan di rumah. Sontak rumahku ramai oleh tetangga yang datang melayat.

Read More

Semua menyarankan agar disegerakan pemakamannya, yaitu ba’da salat Jum’at. Saya pikir itu sangat baik karena jenazahnya bakal disalati banyak orang.

Masalahnya, beberapa keluarga dekat yang tinggal di luar Makassar berpesan agar jenazah jangan dikafani sebelum mereka tiba.

Mereka memohon diberi kesempatan melihat wajah almarhum untuk terakhir kalinya. Apa boleh buat, saya mesti mengalah. Dalam cemas saya memutuskan pemakaman dilakukan ba’da Ashar.

Bagaimana tidak cemas? Saban sore jelang Ashar, selalu hujan deras. Maklum, Makassar dan sekitarnya sudah musim hujan. Benar saja. Ba’da salat Jum’at, langit mulai terlihat mendung,  membuatku semakin cemas.

Terbayang olehku, jika hujan benar-benar turun seperti hari-hari sebelumnya, bak ditumpah dari langit, maka, siapakah di antara pelayat yang mau berhujan-hujan menemani mengantar jenazah ke pemakaman?

Di pemakaman pun, siapa yang membantu menurukan jenazah di liang lahat? Begitu kecamuk di benakku. “Ya Allah, mohon Engkau tangguhkan hujanMu,” bisikku cemas.

Tetapi tidak. Ia tampaknya tak mendengarku. Terbukti langit makin gelap. Bahkan semua mengatakan hujan pasti turun. Sampai-sampai ada di antara pelayat menyarankan untuk segera mencari pawang hujan.

Tak lama, butir pertama dari langit benar-benar jatuh menerpa di atas tenda. Dalam kecemasan, saya tiba-tiba teringat sebuah kisah dalam hadits Bukhari dan Muslim. Kisah tentang tiga orang pemuda yang terjebak di dalam gua.

Ceritanya, ketiga pemuda itu sedang dalam perjalanan. Saat melintasi sebuah gua, hujan turun. Mereka pun menghambur ke dalam gua untuk berteduh. Celakanya, sebuah batu besar jatuh menggelinding menutup mulut gua, membuat mereka terjebak di dalamnya.

Ketiga pemuda itu mencoba berkali-kali menyingkirkannya hingga tenaga mereka terkuras habis. Sia-sia. Batu itu terlalu berat bagi mereka bertiga. Mereka pun duduk terkulai tanpa tenaga di atas lantai gua dalam keadaan putus asa.

Dalam keadaan pasrah tanpa asa itu, seorang dari mereka berujar, ”Mari kita bergiliran berdo’a dengan menyebut amalan paling tulus yang pernah kita perbuat. Semoga  Dia Yang Maha Pengasih mendengar kita dengan menyingkirkan batu ini.”

Ketiga pemuda itu lantas bergiliran berdo’a dengan bertawassul pada amalan yang pernah mereka lakukan karena Allah semata.

Singkat cerita, Allah mendengar do’a mereka sehingga ketiganya dapat keluar dari dalam gua dengan selamat.

Saya sungguh terinspirasi dengan kisah itu. Tetapi masalahnya, adakah amalan tulus  yang pernah kuperbuat karena Allah semata? Sebuah amalan yang benar-benar bebas dari unsur riya’, dan yang tahu hanya diriku dengan Allah.

“Ohhhh…..,” keluhku dalam hati.

Saat air hujan mulai menggelumbung di atas tenda, saya tiba-tiba teringat sebuah peristiwa kecil sehari sebelumnya di RS Tajuddin, Paccerakkang, Daya – Makassar.

Sekitar pukul 5 sore, saya turun dari ruang ICU Graha Seruni, tempat mertuaku dirawat, menuju tempat parkir halaman masjid RS Tajuddin. Sebuah tempat yang aman bagi “ahli hisap” dari mata elang petugas sekuriti.

Kira-kira baru setengah batang berlalu, saya tiba-tiba ingin buang air kecil. Saya pun melangkah ke toilet masjid yang biasanya cukup bersih.

Sesampainya di sana, pintu toilet pertama yang sedikit terbuka, saya dorong perlahan. Namun langkahku tertahan begitu melihat kotoran manusia memalang di lubang kloset. Saya pun mundur dan pindah ke toilet sebelahnya.

Usai buang air kecil, saya lantas pergi meninggalkan tolilet menuju ke tempat semula hendak menikmati batang kedua.

Saat tiba di halaman masjid, langkahku terhenti. Seolah ada yang membisik menyuruhku kembali. “Siapa yang kamu tunggu membersihkannya?” Setelah menimbang-nimbang, saya pun memutuskan balik kanan.

Di depan pintu toilet yang kutuju, saya berhenti sejenak sambil merogoh saku celanaku. Sial. Maskerku tertinggal di tempat parkir.

Apa boleh buat, saya tetap masuk sambil menutup hidung dan mulut dengan telapak tangan kiriku.

Usai membuka kran air, saya buru-buru ke luar, tak tahan menahan bau yang tetap saja menembus indera penciumanku. Di luar, saya ngos-ngosan mengatur napas.

Setelah ember penuh, saya masuk kembali. Sembari menahan napas, ember itu saya angkat dengan kedua lenganku, lalu kusiramkan di atas  kloset.

Satu ember penuh air kusiramkan sampai kotoran itu hilang sepenuhnya. Sedikit lama memang, karena kotoran itu bulat padat. Besarnya persis seperti kue ‘tumbu’, menu lebaran khas Bugis – Makassar, sehingga agak sulit masuk ke dalam lubang kloset.

Bagiku, itulah amalan yang sempat kuingat, dan hanya diriku dan Allah yang tahu.

Dengan amalan itu, saya lalu tengadah ke langit seraya memohon, “Ya Allah, jika amalanku yang kemarin itu bernilai di sisiMu, maka singkirkan hujanMu ke tempat lain.”

Kemudian, jauh di Selatan sana, terdengar guntur kecil, seolah menyambut do’aku.

Sesudah itu, saya tak perduli lagi apa yang terjadi. Saya hanya fokus mengurusi jenazah mertuaku. Usai disalatkan di masjid dekat rumah pada ba’da Ashar, kami pun beramai-ramai mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhirnya di TPU Sudiang.

Tak sampai satu jam, nisan kayu yang bertuliskan namanya, pun tertancap di atas pusaranya. Allahummagfirlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu.

Saya baru sadar setelah tiba di rumah jelang Magrib kalau hujan tidak turun-turun, bahkan hingga keesokan harinya.

 

Makassar, 17 Oktober 2022

 

Yarifai Mappeaty

Related posts