Kolom Dr Sawedi Muhammad: Idul Fitri dan seremoni peralihan

  • Whatsapp
Peneliti dan akademisi Universitas Hasanuddin, Dr Sawedi Muhammad (dok: istimewa)

DPRD Makassar

Who says organization says oligarchy. Robert Michels

 

Read More

PELAKITA.ID – Sekitar 80 juta orang diperkirakan mudik lebaran tahun ini. Mudik yang sedikit melegakan setelah pembatasan dilakukan dengan sangat ketat di momen yang sama tahun lalu.

Meski Covid-19 belum sepenuhnya berlalu, pemerintah semakin percaya bahwa mudik kali ini tidak akan menjadi superspreader virus corona. Meski demikian, pemerintah tetap memberi peringatan agar masyarakat tetap konsisten menerapkan protokol kesehatan.

Kebijakan membolehkan mudik sungguh keputusan politik cerdas. Ketimbang menghadapi resistensi publik jika membatasi mudik lebaran, pemerintah tidak mau mengambil risiko. Kebijakan populis menjadi pilihan.

Pemerintah memilih berdamai dengan puluhan juta pemudik yang rindu kampung halaman. Pemerintah paham, dihalangi sekalipun, mereka akan nekat mengambil risiko apapun apabila dilarang mudik. Pemerintah memanfaatkan situasi.

Maklum, momentum  pencitraan untuk menarik simpati publik sangat mendesak di tengah berbagai himpitan ekonomi yang diderita rakyat secara bertubi-tubi. Kenaikan harga BBM, hilangnya minyak goreng di pasaran, naiknya tarif toll, tarif listrik, iuran sampah, air bersih dan kebutuhan pokok lainnya.

Tak terkendalinya kenaikan harga menunjukkan betapa lemahnya peran pemerintah. Ia tak berdaya dan takluk menghadapi pelaku pasar yang semakin brutal.

Pemerintah menunjukkan betapa negara semakin terjerembab di lembah neo-liberalisme yang semakin mengkhawatirkan. Publik semakin paham, betapa pelaku pasar, kelompok konglomerat yang jumlahnya sedikit ternyata sangat efektif dalam mengendalikan stok kebutuhan pokok, mengatur kebijakan pemerintah, mendikte harga dan meraup keuntungan meski taruhannya adalah gejolak publik yang dapat mendeligitimasi pemerintah.

Apa yang disebut oleh Gaetano Mosca sebagai “The Political Class” atau C. Wright Mills sebagai “The Power Elite” menjadi benar adanya. Sebuah negara pada hakikatnya akan diatur dan dikendalikan oleh sekelompok kecil elit, betapapun negara tersebut menyebut dirinya paling demokratis.

Inilah yang dirangkum dengan sangat apik oleh sosiolog Robert Michels sebagai hukum besi oligarki “The Iron Law of Oligarchy”. Organisasi apa saja termasuk negara pada akhirnya akan dipimpin oleh segelintir orang yang akan mengambil keputusan yang akan berlaku secara menyeluruh ke segenap anggotanya. “Who says organization says oligarchy”, demikianlah penegasan Robert Michels.

Demikianlah cara kerja riil politik dan ekonomi di Indonesia hari ini. Kebijakan ekonomi-politik dirumuskan oleh sekelompok kecil elit di pemerintahan.  Mereka merumuskan kepentingannya, bukan kepentingan rakyat.

Secara global, pada tanggal 2 Mei, 2022 WHO membuat rilis media yang menyampaikan tiga skenario mengenai Covid-19.

Pertama, virus corona terus bermutasi dan akan muncul varian baru yang lebih mematikan. Dunia hanya punya satu pilihan, memproduksi vaksin yang lebih efektif.

Kedua,  virus corona akan jadi musiman dan puncak sebarannya hanya di waktu tertentu saja. Covid terus bermutasi tetapi semakin melemah dan kekebalan tubuh meningkat karena vaksin dan infeksi.

Ketiga, virus masa depan akan berkurang secara signifikan. Perlindungan dari serangan virus ini bertahan lama tanpa perlu peningkatan dan perubahan pada vaksin hari ini.

Dari rilis WHO yang dibacakan oleh Dirjen Tedros Adhanom Ghebreyesus menunjukkan bahwa dunia memasuki fase transisi yang oleh antropolog Arnold Van Gennep disebut sebagai “liminality”.

Menurut Gennep, liminalitas adalah masa transisi antara fase lama ke fase berikutnya, “the moments between moments” atau “the places between places”.

Transisi ini ditandai oleh tiga gejala umum yaitu pemisahan dari posisi awal yang permanen, transisi ke fase berikutnya dan integrasi dan penyatuan ke situasi yang baru.

Gennep menegaskan bahwa periode liminalitas terjadi di momen antara (rite of the passage), dimana individu akan berfluktuasi antara struktur dan agensi. Situasi ini sama seperti berada di ruang tunggu (the state of unknown), perasaan akan campuraduk antara ambiguitas dan ketidakpastian.

Siapapun yang pernah berada dalam periode liminalitas akan menyadari bahwa proses transformasi yang akan dilewati tidaklah selalu mudah. Sangat dibutuhkan keyakinan diri, keberanian dan daya tahan untuk melewati masa transisi dengan mulus.

Liminalitas membutuhkan kekuatan tekad dan keberanian untuk mengatasi rasa takut akan ketidakpastian. Ia membutuhkan keteguhan sikap dan keyakinan kuat bahwa transisi akan dilewati menuju era baru yang lebih baik.

Kita berdoa semoga dunia melewati masa liminalitas ini dengan mulus; keluar dari ancaman virus corona dan memasuki tahapan perbaikan ekonomi dunia yang lebih berkeadilan. Semoga negara tercinta Indonesia, melewati masa transisi pandemi Covid-19 menuju kekebalan kawanan secara berkelanjutan.

Semoga pemerintah berhasil  melewati masa transisi dari  kekuasaan oligarki ekonomi-politik yang mementingkan dirinya menuju tata kelola pemerintahan yang lebih pro-rakyat.

Semoga momentum Hari Raya Idul Fitri kali ini mengantar kita menuju transisi dari pribadi yang egois, kikir, dengki, iri hati dan berlumur dosa menuju pribadi yang bertaqwa dan bersih dari segala dosa.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H. Mohon maaf lahir dan batin.

 

Penulis:

Dr Sawedi Muhammad, peneliti dan akademisi FISIP Universitas Hasanuddin.

 

 

Editor: K. Azis

Related posts