Konsep ‘knowledge sharing’ ala SISDIKSAT Amiruddin, kiprah Unhas dan jaringan global

  • Whatsapp
Dr Iqbal Djawad (dok: istimewa)

PELAKITA.ID – Dr Iqbal Djawad, tenaga pengajar pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Unhas mengulik kisah tentang ide Prof Ahmad Amiruddin terkait pendidikan berbasis satelit, posisi Unhas, serta esensi kolaborasi knowledge sharing, kini dan nanti.

Prof Ahmad Amiruddin adalah mantan Gubernur Sulawesi Selatan sekaligus rektor Unhas yang disebut sangat visioner dalam menyiapkan dan mengantar Sulsel meraih prestasi pembangunan berjangka panjang.

Read More

Kepada anggota grup Whatsapp Alumni Unhas, Dr Iqbal yang juga mantan atase pendidikan RI di Jepang ini berbagi cerita. Berikut petikannya.

***

Awal tahun 1980-an  almarhum Prof. Amiruddin menggagas SISDIKSAT (Sistem pendidikan dengan menggunakan satelit), jauh sebelum Universitas Terbuka diresmikan yaitu pada September 1984.

SIDIKSAT dibentuk sebagai konsekuensi pembentukan BKS PTN INTIM (Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Indonesia Timur) yang berpusat di Unhas.

Konsorsium inilah yang memfasilitasi pembelajaran ke seluruh universitas anggota di INTIM. Setiap Universitas anggota menyumbangkan dosen dan MK “pattabba’- nya” – terbaik – yang berbasis keunikan daerah untuk mengajar melaui satelit waktu itu. Yah, mirip-miriplah dengan Ide Merdeka Belajarnya Nadiem Makarim.

Sayangnya sejalan dengan berjalannya waktu, tidak tahu kenapa SISDIKSAT ini meredup.

Sepanjang pengetahuan saya masih berjalan walaupun tersendat pada masa Prof. Basri menjadi rektor Unhas.

Tahun 2003, pada masa Prof. Rady, Unhas bersama UI, UNUD  dan UNRI ditunjuk oleh Bappenas sebagai DLC (Distance Learning Centre) di Indonesia.

Konon kabarnya Unhas ditunjuk atas kengototan almarhum Prof. Andi Mappatjantji memperjuangkan DLC ini. 

Backbone dari seluruh DLC di seluruh dunia ini ada di Washington DC, Tokyo dan Canberra yang merupakan bagian dari GDLN (Global Development Learning Network).

Dari seorang teman saya tahu kalau alm Prof. Mappatjantji pulalah yang ngotot untuk Unhas sebagai knowledge server dari indigenous knowledge.

Di GDLN Unhas, kita  “menjual” ilmu-ilmu lokal yang tidak ada di negara lain. Metode yang dipakai di GDLN pada waktu itu adalah “blended learning”.

Indigenous knowledge yang diajarkan oleh Unhas dan disebar uaskan ke seluruh DLC dunia adalah, Malaria, Kaki Gajah, Gondok, pengelolaan lingkungan orang Kajang, pengelolaan pesisir dan laut, hingga suku Bajo.

Ada satu lagi yang tidak sempat diajarkan dan disebar yaitu Hukum Adat.

Pada sisi yang lain mahasiswa dan siapa saja yang mau datang ke GDLN Unhas bisa mendengar dan melihat kuliah dari pemimpin-pemimpin dunia yang difasilitasi oleh DLC lain antara lain Fidel Ramos, Cory Aquino dan Park Chun Hee serta APJ Abdul Kalam mantan Presiden India.

Di tahun yang sama, Pak Madjid Sallatu waktu itu, sebagai kepala Pusat Kebijakan dan Manajemen Publik (PSKMP) Unhas mendapat kepercayaan dari JICA Jepang untuk menjadi DLC yang dibuat oleh JICA dan Keio University Jepang dan dilabeli nama School on Internet.

Metode dan konten-konten MK-nya mirip dengan GDLN tetapi cakupannya terbatas di negara ASEAN saja dan Jepang sebagai backbone-nya.

Puncaknya di tahun 2007, Prof Idrus Paturusi, rektor Unhas kala itu, mendapatkan standing ovation ketika mempresentasikan Unhas dengan GDLN serta program-programnya di depan 140 negara peserta GDLN  melalui daring dan luring di Guang Zhou International Conference Center.

Unhas jelas sekali harus mempertahankan diri sebagai Knowledge Server dan Communiversity.

Kalau kita bisa mencermati dengan baik, sebetulnya metode daring itu sudah lama.

Asumsi saya dulu dilakukan dengan alasan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahun yang tidak terbagi rata karena adanya keterbatasan teknologi, prasarana dan sumberdaya manusia diantara universitas-universitas di Indonesia.

Unhas sudah masuk ke dalam golongan elit yang dipercaya oleh dunia punya kemampuan untuk menyebarkan ilmu pengetahuan.

Daring yang ada sekarang silahkan ditafsirkan, karena variabel di dalamnya sudah banyak sekali. Asumsinya porak poranda karena COVID-19.

Untuk sementara, jalan daring yang tersedia sambil kita beradaptasi dan menyempurnakan apa yang kurang.

Yang perlu disikapi adalah perbaikan mutu dari setiap Mata Kuliah yang diajarkan sehinggakita tidak “malu-maluin” ketika di-share ke universitas lain atau institusi lain di luar Unhas. Merdeka Belajar harus diikuti dengan mutu.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *