Selamat Jalan Bu Nuraeni, Perempuan Pesisir yang Mengubah Keprihatinan Menjadi Gerakan Pemberdayaan

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

PELAKITA.ID – Kabar duka itu datang dari pesisir utara Kota Makassar. Dra. Hj. Nuraeni binti Latif Puddu, sosok yang akrab disapa Bu Eny atau Bu Eni, dikabarkan berpulang pada Jumat, 30 Oktober 2026.

Kepergiannya meninggalkan kehilangan bagi keluarga, sahabat, dan masyarakat pesisir yang selama bertahun-tahun merasakan langsung jejak pengabdiannya.

Bagi banyak orang, Nuraeni bukan sekadar pendiri kelompok usaha perempuan.

“Ia adalah sosok yang melihat persoalan ekonomi keluarga nelayan dari sisi yang sering luput diperhatikan, kehidupan perempuan yang harus menjaga rumah tangga ketika suami pergi melaut, menghadapi musim paceklik, dan terkadang terpaksa berutang kepada tengkulak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” puji Yudha Andi Yunus, ketua LPA Sulsel, 30/10/2026.

Dari keprihatinan itulah, kata Yudha, pada 2007, Nuraeni merintis Kelompok Wanita Nelayan (KWN) Fatimah Az-Zahra di kawasan Pattingalloang, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar.

Gagasan yang dibangunnya sederhana, tetapi memiliki tujuan sosial yang besar: menghimpun perempuan pesisir, mengembangkan keterampilan, menciptakan sumber pendapatan, dan mengurangi ketergantungan keluarga nelayan pada pinjaman berbunga tinggi.

Sementara itu kolega Nuraeni, Prof Andi Tamsil, Guru Besar Ilmu Perikanan UMI menyatakan, Ibu Nuraeni memahami bahwa kemiskinan pesisir bukan hanya persoalan rendahnya pendapatan nelayan.

“Di balik aktivitas melaut, terdapat perempuan yang harus mengelola ekonomi keluarga, membesarkan anak, dan menghadapi berbagai kerentanan sosial. Ketika hasil tangkapan tidak menentu, beban itu sering kali semakin berat,” sebut Tamsil.

Nuraeni kemudian mengajak perempuan-perempuan di lingkungannya membangun usaha pengolahan hasil perikanan. Produk seperti abon ikan dan aneka olahan lainnya menjadi pintu masuk untuk menciptakan kegiatan ekonomi bersama.

Menurut Tamsil, usaha yang dirintis Nuraeni dengan sumber daya terbatas itu perlahan tumbuh, melibatkan semakin banyak warga, dan menjadi salah satu contoh pemberdayaan perempuan pesisir di Makassar sebagaimana menjadi atensi Proyek IFAD tahun 2017, proyek di mana Andi Tamsil jadi konsultan.

Laporan Warta Ekonomi pada Februari 2017 mencatat, usaha Nuraeni bermula dari modal patungan sekitar Rp1,5 juta bersama dua rekannya. Dalam perkembangannya, kelompok ini tumbuh menjadi koperasi dengan ratusan anggota dan puluhan pekerja inti. Identitas Unhas pada September 2023 juga mencatat keterlibatan lebih dari 600 perempuan dalam gerakan yang dibangun Nuraeni.

Nuraeni (Kompas.com)

Dari Dapur Produksi ke Ruang Perlindungan

Salah satu hal yang membuat kerja Nuraeni berbeda adalah kemampuannya melihat pemberdayaan ekonomi sebagai bagian dari persoalan sosial yang lebih luas.

Baginya, perempuan pesisir tidak cukup hanya diberi keterampilan membuat produk, tetapi juga membutuhkan rasa aman, kepercayaan diri, kesempatan belajar, dan ruang untuk menentukan masa depannya.

Karena itu, kegiatan KWN Fatimah Az-Zahra kemudian berkembang melampaui urusan produksi dan pemasaran. Kelompok ini membangun Sekolah Anak Percaya Diri (SAPD), memberikan perhatian kepada anak-anak yang mengalami kekerasan, serta menyediakan tempat perlindungan bagi perempuan yang menghadapi kekerasan dalam rumah tangga.

Dalam pemberitaan Suara Pembaruan, Nuraeni pernah menceritakan bagaimana perempuan yang mengalami kekerasan datang mencari perlindungan ke pusat kegiatan kelompoknya.

Mereka diterima, didampingi, dan dibantu mencari jalan keluar sesuai persoalan yang dihadapi. Ruang yang semula menjadi tempat kegiatan ekonomi itu juga berkembang menjadi tempat aman bagi warga yang membutuhkan pertolongan.

Perhatian Nuraeni tidak berhenti pada perempuan dan anak-anak. Kegiatan kelompoknya turut menyentuh kelompok lansia dan penyandang disabilitas. Ia membangun sebuah lingkungan pemberdayaan yang berusaha menghadirkan kepedulian bagi mereka yang kerap tidak memperoleh cukup perhatian dalam kehidupan masyarakat.

Dukungan kemitraan, termasuk melalui program tanggung jawab sosial Pertamina, ikut membantu pengembangan kegiatan kelompok tersebut. Namun, yang menjadi fondasi gerakan itu adalah kegigihan Nuraeni mengorganisasi warga dan menjaga agar kegiatan ekonomi tetap terhubung dengan kebutuhan sosial masyarakat.

Ilmu yang Harus Menjadi Manfaat

Sebagai alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, Nuraeni memiliki latar pendidikan yang kemudian ia bawa ke dalam kerja-kerja pemberdayaan masyarakat. Ia tidak memilih berhenti pada pengetahuan akademik, melainkan menerjemahkannya menjadi tindakan nyata di lingkungan tempat ia hidup dan bekerja.

Dalam wawancara dengan Identitas Unhas pada 2023, ia menyampaikan sebuah prinsip yang menggambarkan pandangan hidupnya: “Untuk apa ilmu tinggi tapi tidak bermanfaat bagi orang di sekitar yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan.”

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi sesungguhnya merangkum perjalanan pengabdiannya. Ia percaya perempuan pesisir memiliki kemampuan untuk berkembang apabila memperoleh kesempatan, dukungan, dan ruang untuk membangun kemandirian.

Pengakuan atas kerja tersebut antara lain datang melalui Tobarani Award 2018. Ia juga tidak hanya mengembangkan kegiatan di Makassar, tetapi berkeliling ke berbagai wilayah pesisir Indonesia untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan mengenai pemberdayaan perempuan serta peningkatan kualitas hidup masyarakat pesisir.

Nuraeni telah menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar atau lembaga yang mapan. Sebuah kelompok kecil, keterampilan mengolah ikan, keberanian mengorganisasi tetangga, dan kepedulian terhadap persoalan sekitar dapat menjadi awal dari gerakan sosial yang lebih luas.

Nuraeni (ASPPUK)

Warisan yang Tidak Boleh Berhenti

Kepergian Nuraeni pada 30 Oktober 2026 tentu menjadi kehilangan besar bagi keluarga dan masyarakat yang pernah merasakan pengabdiannya. Akan tetapi, kerja panjang yang telah ia bangun menyisakan tanggung jawab bagi orang-orang yang masih melanjutkan perjalanan pemberdayaan perempuan pesisir.

KWN Fatimah Az-Zahra, usaha pengolahan hasil perikanan, Sekolah Anak Percaya Diri, serta berbagai kegiatan sosial yang pernah ia rintis merupakan bagian dari warisan yang perlu dijaga. Keberlanjutan gerakan itu akan menjadi salah satu cara paling bermakna untuk menghormati perjuangannya.

Bagi masyarakat pesisir, Bu Nuraeni telah meninggalkan pesan bahwa perempuan nelayan bukan sekadar pendamping suami yang melaut. Mereka adalah pelaku ekonomi, pengelola kehidupan keluarga, penggerak komunitas, dan bagian penting dari masa depan pembangunan pesisir.

Selamat jalan, Bu Nuraeni. Terima kasih atas keteguhan, kepedulian, dan kerja panjang yang telah ditanamkan di lorong-lorong pesisir Makassar. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan pengabdian almarhumah, mengampuni segala khilafnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Kepada keluarga, sahabat, dan seluruh warga yang ditinggalkan, semoga diberikan kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Oleh Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID