- Dari ruang praktik kedokteran, lorong rumah sakit, hingga ruang kerja Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny Lamadjido menapaki perjalanan panjang pengabdian. Ada pendidikan Unhas, kenangan Smansa Makassar, dan pengalaman melayani masyarakat yang membentuk cara pandangnya sebagai pemimpin.
- Kini, bersama Gubernur Anwar Hafid, Reny mengemban amanah yang lebih besar. Keduanya dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025 untuk memimpin Sulawesi Tengah periode 2025–2030. Pasangan ini membawa latar belakang dan pengalaman yang berbeda, tetapi dapat saling melengkapi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.
PELAKITA.ID – PALU – Siang nan terik di atas bumi Kota Palu mendadak berubah menjadi nyaman, segar dan berhias senyum saat penulis menyalami dan duduk di samping Wagub Sulteng, Reny Lamadjido.
Wajah teduh, sambutan ramah dan akrab dari ‘Kanda Reny’ – begitu sapa penulis saat bersalaman dengannya. Dia memang alumni SMA Negeri I Makassar angkatan 1980, dari tahun itu pula dia kuliah di Kedokteran Unhas.
Nama lengkap Wakil Gubernur Sulawesi Tengah tersebut ada;ah dr. Reny Arniwaty Lamadjido, Sp.PK., M.Kes.
Saya datang bersama Aziz Gapnal, seorang kawan yang memiliki irisan perjalanan pengabdian dengan saya ketika terlibat dalam JICA Community Development Project (JICA CD Project).
“Iya, saya banyak sekali grup IKA Unhas, IKA Smansa Makassar,” balasnya saat penulis menyebut diri sebagai ‘aktivis’ WAG Alumni Unhas dan anggota tim media A. Ina Kartika Sari, Ketua Umum IKA Smansa.
“O Andi Ina, salamku dinda,” jawabnya. Di depannya ada beberapa berkas dokumen yang dibacanya, seperti undangan dan lembar kertas kerja. Meski demikian, dia meluangkan waktu untuk berbincang di tangah jam kerjanya yang padat.
“Jadi apa ini saya bisa bantu dinda?” tanyanya.
Penulis menyebutkan tentang agenda Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan terkait persiapan dan perencanaan Kampung Nelayan Merah Putih 2027. “Sulawesi Tengah dapat berapa?” jawabnya langsung.
Penulis menjelaskan bahwa proses saat ini masih identifikasi titik-titik relevan hingga mencapai 197 titik se-Sulteng dan melibatkan 197 surveyor, calon lokasi punya aktivitas perikanan, budidaya perikanan hingga terkait potensi pengembangan pariwisata bahari. Presiden Prabowo Subianto melalui Menteri Sakti Wahyu Trenggono melibatkan kampus dan NGO untuk proses survey calon lokasi.
“Bagus itu dinda, Palu bisa, pesisir Pantoloan hingga Banggai Laut, meski Banggai Laut ini jauh tapi potensi perikanannya memang besar juga,” balasnya.
Tentang Dokter Reny
Mari lebih dekat dengan Wagub dengan nama belakang fenomenal, terkenal, se-Indonesia ini.
Bagi penulis, pertemuan itu sesungguhnya bukan kunjungan formal dengan agenda protokoler yang rumit. Lebih sebagai ruang menyambung silaturahmi, bertukar cerita, dan mengenang sejumlah pengalaman dalam perjalanan kerja bersama jejaring pembangunan masyarakat.
Reny Lamadjido tampil sebagai sosok yang ramah dan bersahaja. Cara menerima tamu, merespons pembicaraan, serta membangun percakapan memberi kesan tersendiri. Logat Makassarnya sangat terasa.
Ada keramahan yang tidak terasa dibuat-buat. Bagi penulis, kualitas seperti ini penting dimiliki seorang pejabat publik, sebab kekuasaan semestinya tidak menciptakan jarak yang terlalu jauh antara pemimpin dan orang-orang yang dilayaninya.
Saya kemudian teringat bahwa perempuan kelahiran Makassar, 17 Desember 1962 ini, memiliki perjalanan hidup yang menarik.
Ia bukan sekadar seorang wakil gubernur yang kini mendampingi Anwar Hafid memimpin Sulawesi Tengah. Di belakang namanya terdapat perjalanan panjang sebagai dokter, pengelola rumah sakit, birokrat kesehatan, dan kepala daerah.
Reny adalah alumni SMA Negeri 1 Ujung Pandang, sekolah yang dikenal luas sebagai Smansa Makassar. Kak Reny seangkatan dosen saya nun lampau di FIKP Unhas, Prof. Dr. Ir Winarni Dien Monoarfa, M.S.
Ia menempuh pendidikan di sekolah tersebut pada 1976–1980, sebelum melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Di kampus Merah itu, ia menyelesaikan pendidikan kedokteran pada 1989 atau saat penulis baru masuk di Prodi Ilmu dan Teknologi Kelautan, kampus di sisi barat Kedokteran Unhas.
Semasa mahasiswa, Reny juga aktif dalam organisasi kemahasiswaan.
Ia tercatat pernah menjadi Bendahara HMI Komisariat Fakultas Kedokteran periode 1981–1985 dan Bendahara Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran periode 1983–1986. Setelah menyelesaikan pendidikan dokter, ia kembali memperkuat kompetensi akademiknya melalui pendidikan spesialis Patologi Klinik di Unhas dan Magister Kesehatan dengan konsentrasi Administrasi Kebijakan Kesehatan.
Latar belakang akademik tersebut kemudian menemukan ruang pengabdiannya di Sulawesi Tengah. Reny memulai karier sebagai asisten dokter Obgyn di RSU Anutapura pada 1990–1991, kemudian menjadi dokter di Puskesmas Dolo.
Rangkaian jabatan itu memperlihatkan bahwa Reny memahami pelayanan kesehatan dari beberapa lapisan sekaligus. Ia pernah berhadapan langsung dengan kebutuhan pasien di puskesmas, mengelola pelayanan rumah sakit, hingga berada dalam posisi pengambil kebijakan kesehatan tingkat provinsi.
Pengalaman semacam ini menjadi modal penting ketika seseorang harus memahami persoalan masyarakat yang jauh lebih luas daripada urusan medis.

Ada satu hal yang menarik dari perjalanan tersebut: Reny tidak meninggalkan dunia pelayanan ketika memasuki pemerintahan. Bahkan ketika kemudian dipercaya menjadi Wakil Wali Kota Palu mendampingi Hadianto Rasyid pada periode 2021–2024, latar belakang kedokterannya tetap menjadi bagian dari identitas pengabdiannya.
Pada Oktober 2024, ketika bertemu masyarakat Duyu dalam rangkaian Pilkada Sulawesi Tengah, ia pernah mengingat kembali tujuh tahun pengabdiannya di Puskesmas Duyu.
Pengalaman itu membuatnya merasa memahami kehidupan dan kebutuhan masyarakat setempat. Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman pelayanan di tingkat akar rumput tetap menjadi bagian dari cara ia memandang pembangunan.
Kini, bersama Gubernur Anwar Hafid, Reny mengemban amanah yang lebih besar. Keduanya dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025 untuk memimpin Sulawesi Tengah periode 2025–2030. Pasangan ini membawa latar belakang dan pengalaman yang berbeda, tetapi dapat saling melengkapi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Anwar Hafid dikenal dengan perjalanan panjangnya di birokrasi pemerintahan, sementara Reny memiliki pengalaman kuat dalam pelayanan kesehatan, manajemen institusi, dan pemerintahan daerah.
Kombinasi pengalaman tersebut menjadi modal untuk membangun kepemimpinan yang tidak hanya berbicara tentang program, tetapi juga memahami bagaimana pelayanan publik bekerja dan dirasakan masyarakat.
Tentu, menjadi wakil gubernur bukan pekerjaan ringan. Sulawesi Tengah memiliki bentang wilayah luas, persoalan pembangunan yang beragam, tantangan kemiskinan, kesehatan, pendidikan, infrastruktur, serta pengelolaan sumber daya alam. Dibutuhkan kepemimpinan yang mampu bekerja bersama, membangun komunikasi, dan menjaga kepercayaan masyarakat.
Dalam beberapa kesempatan publik belakangan ini, Reny juga memperlihatkan perhatian terhadap persoalan yang dekat dengan kehidupan warga.
Pada Oktober 2026, misalnya, ia mendorong pemeriksaan Pap smear gratis untuk meningkatkan deteksi dini kanker serviks. Ia juga mengajak warga lanjut usia tetap aktif, menjaga kesehatan, dan memperkuat hubungan sosial. Ada kesinambungan antara latar belakang profesinya sebagai dokter dengan tanggung jawabnya sebagai pejabat publik.
Bagi saya, perjumpaan 29 Oktober itu meninggalkan kesan yang lebih personal.
Di tengah kesibukan dan tanggung jawab sebagai orang nomor dua di Sulawesi Tengah, Reny tetap memperlihatkan keramahan dalam menerima kawan dan tamu yang datang bersilaturahmi. Hal sederhana seperti ini mungkin tidak selalu menjadi berita utama, tetapi justru sering kali menjadi bagian yang paling diingat dari sebuah pertemuan.
Penulis percaya, kepemimpinan tidak hanya diukur dari seberapa besar kewenangan yang dimiliki seseorang, berapa banyak rapat yang dihadiri, atau berapa panjang daftar program yang dijalankan. Kepemimpinan juga terlihat dari kesediaan mendengar, menghargai orang lain, dan menjaga hubungan kemanusiaan di tengah kesibukan menjalankan tugas.
Reny Lamadjido memiliki modal pengalaman yang panjang untuk menjalankan amanahnya. Ia membawa pendidikan dari Smansa Makassar dan Unhas, pengalaman sebagai dokter dan pengelola layanan kesehatan, serta perjalanan birokrasi dan politik yang membawanya ke tingkat provinsi.
Bagi penulis, dia adalah dokter yang terbukti membawa kerendahan hati ke ruang kekuasaan di Sulawesi Tengah.
Di ruang kerja itu, saya tidak sedang berhadapan dengan daftar riwayat jabatan seorang pejabat. Saya bertemu seorang alumni Smansa Makassar, FK Unhas dan perempuan yang telah melewati banyak tahapan pengabdian, tetapi tetap memberi ruang bagi silaturahmi dan percakapan sederhana.
Bagi Sulawesi Tengah, Reny bukan sekadar pendamping Gubernur Anwar Hafid. Ia adalah bagian penting dari kepemimpinan daerah yang diharapkan mampu menghadirkan pelayanan, empati, dan kerja nyata bagi masyarakatnya.
___
Tamarunang, 31 Oktober 2026









