Sembilan Ilmuwan Unhas Tembus Daftar 2% Ilmuwan Terbaik Dunia 2026, Reputasi Riset Kian Menguat

  • Whatsapp
Mereka adalah Prof. Firzan Nainu, S.Si., M.Biomed.Sc., Ph.D., Apt. dan Prof. Andi Dian Permana, S.Si., M.Si., Ph.D., Apt. dari Fakultas Farmasi; Prof. Dr. Dahlang Tahir, S.Si., M.Si., Prof. Dr. Eng. Mawardi Bahri, M.Si., serta Dr. Heryanto, S.Si., M.Si. dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA).

Mereka adalah Prof. Firzan Nainu, S.Si., M.Biomed.Sc., Ph.D., Apt. dan Prof. Andi Dian Permana, S.Si., M.Si., Ph.D., Apt. dari Fakultas Farmasi; Prof. Dr. Dahlang Tahir, S.Si., M.Si., Prof. Dr. Eng. Mawardi Bahri, M.Si., serta Dr. Heryanto, S.Si., M.Si. dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA). Tiga nama lainnya adalah Prof. Ir. Andi Dirpan, S.TP., M.Si., Ph.D. dari Fakultas Teknologi Pertanian; Prof. Dr. Ir. Rohani Ambo Rappe, M.Si. dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan; serta Prof. Dr. Muhammad Alif K. Sahide, S.Hut., M.Si. dari Fakultas Kehutanan. Sementara itu, Nurhasni Hasan, S.Si., M.Si., M.Pharm.Sc., Ph.D., Apt. juga tercatat sebagai ilmuwan dari Fakultas Farmasi.

PELAKITA.ID – MAKASSAR – Universitas Hasanuddin (Unhas) memperluas jejak akademiknya di tingkat internasional. Sembilan ilmuwannya tercatat dalam World’s Top 2% Scientists 2026, pemeringkatan ilmuwan dunia yang disusun melalui kolaborasi Stanford University dan penerbit ilmiah Elsevier BV, dengan rilis terbaru pada Kamis (8/10/2026).

Pencapaian ini memperlihatkan perkembangan rekognisi ilmiah para peneliti Unhas dalam tiga tahun terakhir. Jumlah ilmuwan yang masuk dalam daftar tersebut meningkat dari enam orang pada 2024, menjadi tujuh orang pada 2025, kemudian mencapai sembilan orang pada 2026. Tren ini menjadi salah satu indikator bertambahnya kehadiran peneliti Unhas dalam peta publikasi dan sitasi ilmiah internasional.

Daftar World’s Top 2% Scientists disusun berdasarkan indikator bibliometrik yang bersumber dari basis data Scopus, dengan mempertimbangkan produktivitas publikasi, sitasi, dan sejumlah ukuran pengaruh ilmiah lainnya.

Pemeringkatan tersebut memetakan peneliti berdasarkan bidang keilmuan masing-masing, sehingga memberikan gambaran tentang pengaruh karya mereka dalam perkembangan ilmu pengetahuan global.

Sembilan ilmuwan Unhas yang tercantum dalam daftar tahun ini berasal dari lima fakultas, mencerminkan kontribusi riset lintas disiplin yang berkembang di lingkungan kampus.

Mereka adalah Prof. Firzan Nainu, S.Si., M.Biomed.Sc., Ph.D., Apt. dan Prof. Andi Dian Permana, S.Si., M.Si., Ph.D., Apt. dari Fakultas Farmasi; Prof. Dr. Dahlang Tahir, S.Si., M.Si., Prof. Dr. Eng. Mawardi Bahri, M.Si., serta Dr. Heryanto, S.Si., M.Si. dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA).

Tiga nama lainnya adalah Prof. Ir. Andi Dirpan, S.TP., M.Si., Ph.D. dari Fakultas Teknologi Pertanian; Prof. Dr. Ir. Rohani Ambo Rappe, M.Si. dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan; serta Prof. Dr. Muhammad Alif K. Sahide, S.Hut., M.Si. dari Fakultas Kehutanan. Sementara itu, Nurhasni Hasan, S.Si., M.Si., M.Pharm.Sc., Ph.D., Apt. juga tercatat sebagai ilmuwan dari Fakultas Farmasi.

Rekognisi Ilmiah Membuka Ruang Kolaborasi

Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Internasionalisasi, dan Kealumnian Unhas, Prof. Ir. Suharman Hamzah, S.T., M.T., Ph.D. (Eng), menilai bertambahnya jumlah ilmuwan yang masuk dalam daftar tersebut menunjukkan semakin luasnya pengakuan terhadap kapasitas akademik peneliti Unhas di komunitas ilmiah internasional.

Menurutnya, capaian tersebut tidak semata-mata menjadi prestasi personal para ilmuwan, tetapi juga memperkuat visibilitas institusi melalui kontribusi penelitian dari berbagai bidang keilmuan. Peningkatan pengakuan itu dapat menjadi modal untuk memperluas jejaring akademik serta membangun hubungan penelitian yang lebih intensif dengan universitas dan lembaga riset di dalam maupun luar negeri.

“Peningkatan jumlah ini menunjukkan bahwa pada berbagai bidang keilmuan, semakin banyak ilmuwan Unhas yang memperoleh pengakuan dalam komunitas akademik global. Capaian tersebut tidak hanya merepresentasikan kinerja individual, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan visibilitas keilmuan Unhas secara lebih luas,” jelas Prof. Suharman.

Ia menjelaskan, meningkatnya pengenalan terhadap peneliti Unhas dapat membuka peluang kolaborasi dalam berbagai bentuk, mulai dari penelitian bersama, publikasi ilmiah lintas institusi, hingga pertukaran pengalaman akademik. Jaringan tersebut juga memungkinkan para peneliti terlibat dalam kegiatan pendidikan dan pengembangan kapasitas, termasuk pembimbingan mahasiswa serta partisipasi sebagai penguji eksternal.

“Ketika peneliti dan bidang keilmuan Unhas semakin dikenal dalam jejaring akademik global, peluang untuk membangun kolaborasi juga semakin terbuka. Ini dapat berkembang dalam berbagai bentuk, mulai dari penelitian kolaboratif dan publikasi bersama hingga pembimbingan mahasiswa dan keterlibatan dalam kegiatan akademik seperti penguji eksternal,” ujarnya.

Bagi mahasiswa, penguatan jejaring penelitian internasional dapat memperkaya lingkungan pembelajaran dan memperluas akses terhadap perkembangan ilmu pengetahuan terkini. Keterhubungan dosen dan peneliti dengan komunitas akademik global juga berpotensi menghadirkan pengalaman belajar lintas institusi serta memperkenalkan mahasiswa pada beragam pendekatan dan praktik penelitian.

Prof. Suharman menambahkan bahwa reputasi peneliti dan kekuatan bidang keilmuan turut membentuk daya tarik sebuah perguruan tinggi. Semakin luas rekognisi terhadap ilmuwan Unhas, semakin besar pula peluang kampus memperkenalkan kapasitas akademiknya kepada calon mahasiswa, mitra pendidikan, dan lembaga penelitian internasional.

“Bagi mahasiswa, reputasi peneliti dan bidang keilmuan merupakan bagian dari lingkungan akademik yang mereka pertimbangkan. Ketika semakin banyak peneliti Unhas memiliki rekognisi dan jejaring internasional, hal ini turut meningkatkan daya tarik Unhas sebagai institusi pendidikan dan penelitian,” katanya.

Pada tingkat kelembagaan, visibilitas ilmiah juga dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas kemitraan strategis dengan perguruan tinggi, pusat penelitian, dan sektor industri. Kerja sama tersebut penting untuk memperkuat kapasitas riset, mendorong pertukaran pengetahuan, serta menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan pembangunan dan perkembangan teknologi.

“Dari perspektif institusi, visibilitas akademik ini dapat memperkuat reputasi Unhas dan membuka peluang kemitraan yang lebih luas. Ketika kapasitas keilmuan kita semakin dikenal, peluang untuk bekerja sama dengan perguruan tinggi, lembaga riset, maupun mitra industri juga semakin terbuka,” jelasnya.

Meski demikian, Prof. Suharman menekankan bahwa pengakuan internasional perlu ditempatkan dalam kerangka pengembangan ilmu pengetahuan yang lebih luas. Kualitas riset tidak cukup diukur melalui publikasi dan sitasi, tetapi juga perlu dilihat dari relevansi penelitian, kebermanfaatan temuan, serta kontribusinya terhadap penyelesaian persoalan masyarakat.

Rektor Unhas: Ekosistem Riset Harus Menghasilkan Dampak

Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., menyambut capaian tersebut dengan bangga. Ia memandang bertambahnya jumlah ilmuwan Unhas dalam daftar internasional itu sebagai pengakuan terhadap kerja akademik para peneliti sekaligus refleksi atas pengembangan ekosistem pendidikan dan riset yang terus diperkuat di kampus.

“Selamat kepada para peneliti kami. Selain prestasi individu, capaian ini juga cerminan dari ekosistem akademik dan riset yang terus kita bangun di Unhas,” ujar Prof. Jamaluddin Jompa, yang akrab disapa Prof. JJ.

Ia berharap capaian tersebut menjadi dorongan bagi sivitas akademika untuk meningkatkan mutu penelitian, memperluas kolaborasi internasional, serta menghasilkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat. Menurutnya, penguatan budaya riset perlu berjalan secara konsisten agar semakin banyak peneliti Unhas mampu menghasilkan karya berkualitas dan memperoleh pengakuan di tingkat global.

“Ke depan, kami ingin semakin banyak peneliti Unhas yang mampu menghasilkan publikasi berkualitas, memperluas kolaborasi dengan mitra internasional, dan mengembangkan inovasi yang berdampak bagi pembangunan,” katanya.

Prof. JJ menegaskan bahwa orientasi pengembangan universitas riset tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik yang tercermin dalam publikasi atau jumlah sitasi. Pengetahuan yang dihasilkan melalui penelitian harus memiliki peluang untuk diterjemahkan menjadi solusi bagi masyarakat, mendukung inovasi industri, dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional.

Karena itu, capaian sembilan ilmuwan Unhas tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi peneliti muda untuk mengembangkan kapasitas, menjaga integritas akademik, dan berani mengeksplorasi persoalan baru melalui penelitian yang bermutu. Keberlanjutan prestasi riset, dalam pandangan ini, membutuhkan lingkungan akademik yang mendukung kreativitas, kolaborasi, dan pengembangan pengetahuan lintas disiplin.

“Unhas akan dan harus terus tumbuh sebagai universitas riset yang berdaya saing global, berakar pada kebutuhan bangsa, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tegas Prof. JJ.

Dengan bertambahnya sembilan nama dalam daftar World’s Top 2% Scientists 2026, Unhas memiliki momentum untuk memperkuat reputasi riset sekaligus memperluas manfaat ilmu pengetahuan. Tantangan selanjutnya adalah menjaga konsistensi kualitas penelitian, memperkuat kolaborasi, dan memastikan kapasitas akademik yang berkembang di kampus dapat memberi kontribusi lebih besar bagi masyarakat Indonesia maupun komunitas global.