Sambut Kongres IV ISKINDO | Ketua ISKINDO Sulsel: Rangkul Gen-Z, Kunci Organisasi Lebih Berkembang dan Hidup

  • Whatsapp
Nirwan Dessibali (dok: Pelakita.ID)
  • Kolaborasi sering kali mudah diucapkan dalam forum organisasi, tetapi lebih sulit diwujudkan ketika setiap orang kembali pada kesibukan dan tanggung jawab masing-masing. ISKINDO perlu mengambil peran sebagai ruang penghubung yang membuat pekerjaan, keahlian, jaringan, dan sumber daya anggota dapat saling melengkapi.
  • Dengan pendekatan tersebut, organisasi tidak harus selalu memulai kegiatan dari nol atau membangun program baru yang terpisah dari aktivitas anggotanya. ISKINDO justru dapat memperkuat dampak pekerjaan yang telah dilakukan para anggota dan lembaganya melalui koordinasi, pertukaran pengetahuan, serta agenda bersama yang disepakati.

Pra-Kongres IV ISKINDO · 9 Oktober 2026

PELAKITA.ID – Nirwan Dessibali membawa pengalaman membangun kembali kepengurusan wilayah sekaligus kegelisahan tentang masa depan Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO).

Alumni kelautan yang sebelumnya menjadi pengurus DPW ISKINDO Kalimantan Selatan itu kini berada di Makassar dan dipercaya membantu pembentukan kepengurusan baru ISKINDO Sulawesi Selatan, wilayah yang menurutnya telah cukup lama tidak aktif.

Dari proses tersebut, Nirwan menemukan peluang sekaligus persoalan mendasar: ISKINDO masih perlu diperkenalkan kembali kepada generasi sarjana kelautan yang lebih muda, sementara organisasinya perlu menemukan cara kerja yang sesuai dengan kesibukan profesional para anggotanya.

Putra Bulukumba ini menyampaikan tiga gagasan utama dalam forum Pra-Kongres IV ISKINDO, yakni memperluas pengenalan organisasi, memperkuat standardisasi dan sertifikasi profesi, serta membangun model kelembagaan yang mampu menghidupkan kolaborasi secara nyata.

Kepengurusan baru, energi Generasi Z

Nirwan mengungkapkan bahwa kepengurusan baru ISKINDO Sulawesi Selatan yang berhasil disusun didominasi Generasi Z, mulai dari ketua umum hingga pengurus bidang. Pengecualian diberikan pada unsur tertentu seperti Dewan Pembina dan Dewan Pakar, sementara komposisi pengurus inti sengaja dibangun dengan memberi ruang besar kepada generasi muda.

Proses pembentukannya membutuhkan energi tersendiri karena tim harus menjangkau alumni kelautan dari berbagai perguruan tinggi, bukan hanya mengandalkan satu kampus.

Hasilnya, kata dia, kepengurusan tersebut menghimpun alumni dari enam perguruan tinggi yang berdomisili di Makassar dan sekitarnya, termasuk Universitas Hasanuddin, Universitas Muslim Indonesia, Institut Teknologi dan Bisnis Maritim Balik Diwa, serta Universitas Muhammadiyah Palopo.

Selain itu, terdapat alumni dari luar Sulawesi Selatan yang kini menetap di wilayah tersebut, termasuk Nirwan sendiri yang berasal dari lingkungan pendidikan kelautan di Banjarbaru dan alumni Universitas Brawijaya. Keragaman latar belakang ini memperlihatkan bahwa potensi keanggotaan ISKINDO di daerah tidak selalu berhenti pada kampus yang selama ini paling dikenal.

Bagi Nirwan, pembentukan kepengurusan baru bukan sekadar menyusun nama dan jabatan, melainkan upaya menemukan kembali jejaring alumni yang selama ini belum terhubung secara optimal.

Ia juga menyebut founder Pelakita.ID Kamaruddin Azis sebagai salah satu unsur Dewan Pembina Organisasi (DPO) dalam susunan yang dibangun di Sulawesi Selatan.

“ISKINDO itu apa?” dan pekerjaan memperkenalkan organisasi

Pertanyaan yang paling sering muncul selama proses perekrutan anggota baru justru sangat mendasar. Nirwan mengatakan bahwa banyak alumni muda, baik dari kalangan Generasi Z maupun milenial, bertanya kepadanya tentang apa itu ISKINDO, sehingga ia harus menjelaskan kembali identitas dan fungsi organisasi profesi tersebut.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa keberadaan organisasi nasional belum otomatis dikenal oleh seluruh lulusan kelautan, terutama alumni dari kampus-kampus yang lebih baru.

Menurutnya, ISKINDO perlu lebih aktif hadir di tengah komunitas akademik dan profesional agar tidak hanya dikenal oleh generasi pendiri atau mereka yang sejak awal terlibat dalam perjalanan organisasi.

Ia mengapresiasi platform situs web DPW ISKINDO yang telah disiapkan oleh kepengurusan sebelumnya karena memudahkan proses pengenalan dan pendaftaran anggota.

Melalui informasi tersebut, sejumlah alumni dan dosen yang sebelumnya belum mengetahui mekanisme keanggotaan mulai memahami bahwa pendaftaran serta penerbitan Kartu Tanda Anggota (KTA) dapat dilakukan dengan relatif mudah.

Nirwan memperkirakan informasi yang disampaikan dalam beberapa hari terakhir turut mendorong penambahan anggota dari Sulawesi Selatan, meskipun jumlah pastinya masih perlu diperiksa melalui data pendaftaran. Ia menilai langkah sederhana seperti memperkenalkan kembali mekanisme keanggotaan dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas jangkauan organisasi.

Bagi kalangan dosen, KTA dan keanggotaan organisasi profesi juga memiliki manfaat administratif, antara lain untuk mendukung kebutuhan yang berkaitan dengan rekam jejak profesional, akreditasi, dan kenaikan pangkat.

Karena itu, memperluas keanggotaan bukan hanya urusan membangun jaringan sosial, tetapi juga menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh para sarjana kelautan.

Standardisasi dan sertifikasi keahlian kelautan

Gagasan kedua yang disampaikan Nirwan berkaitan dengan kebutuhan memperkuat standardisasi dan sertifikasi keahlian di bidang kelautan. Menurutnya, persoalan ini telah lama menjadi bagian dari cita-cita ISKINDO sejak organisasi tersebut didirikan, tetapi masih perlu didorong agar menjadi agenda yang lebih nyata dan dirasakan manfaatnya oleh anggota di daerah.

Direktur Yayasan Konservasi Laut Indonesia ini melihat kebutuhan tersebut sebagai peluang bagi ISKINDO untuk mempertegas posisi sebagai organisasi profesi yang bukan hanya menghubungkan alumni, melainkan juga ikut membangun pengakuan terhadap kompetensi dan keahlian mereka.

“Standardisasi dan sertifikasi dapat menjadi salah satu jalur untuk mempertemukan kebutuhan dunia kerja dengan kapasitas sarjana kelautan yang tersebar di berbagai sektor,” kata dia.

Namun, lanjutnya, agenda itu membutuhkan model pelaksanaan yang jelas, sumber daya yang memadai, dan pembagian peran yang realistis antara pengurus pusat, wilayah, serta para anggota.

Bagi Nirwan, gagasan besar tidak akan berkembang jika organisasi tidak memiliki mekanisme yang memungkinkan program dijalankan secara konsisten.

Kolaborasi bukan sekadar slogan

Nirwan mengakui bahwa sebagian besar pengurus ISKINDO memiliki pekerjaan utama di luar organisasi. Ada yang bekerja di lembaga konservasi, pemerintahan, perguruan tinggi, maupun bidang profesional lainnya, sehingga kapasitas mereka untuk menjalankan program organisasi harus dipertimbangkan secara realistis.

Atas dasar itu, ia tidak ingin ISKINDO Sulawesi Selatan langsung menyusun terlalu banyak program yang justru berisiko membebani pengurus. Sebaliknya, ia mendorong pendekatan yang mempertemukan pekerjaan masing-masing anggota dan lembaga tempat mereka beraktivitas, sehingga kolaborasi dapat tumbuh dari kegiatan yang memang sudah berjalan.

Menurut Nirwan, kolaborasi sering kali mudah diucapkan dalam forum organisasi, tetapi lebih sulit diwujudkan ketika setiap orang kembali pada kesibukan dan tanggung jawab masing-masing. ISKINDO perlu mengambil peran sebagai ruang penghubung yang membuat pekerjaan, keahlian, jaringan, dan sumber daya anggota dapat saling melengkapi.

Dengan pendekatan tersebut, organisasi tidak harus selalu memulai kegiatan dari nol atau membangun program baru yang terpisah dari aktivitas anggotanya. ISKINDO justru dapat memperkuat dampak pekerjaan yang telah dilakukan para anggota dan lembaganya melalui koordinasi, pertukaran pengetahuan, serta agenda bersama yang disepakati.

Nirwan berharap pendekatan ini tidak hanya diterapkan di Sulawesi Selatan, tetapi juga dapat menjadi bahan pembelajaran bagi kepengurusan nasional. Jika dirancang dengan baik, ISKINDO dapat menjadi simpul yang mempertemukan beragam profesi dan institusi tanpa mengabaikan pekerjaan utama yang menopang kehidupan anggotanya.

Direktur Eksekutif dan gagasan social enterprise

Persoalan berikutnya adalah bagaimana memastikan organisasi tetap aktif ketika sebagian besar pengurus tidak dapat mencurahkan seluruh waktu mereka untuk ISKINDO. Nirwan membuka kemungkinan agar struktur dan model kerja organisasi dievaluasi melalui pembahasan Anggaran Dasar, termasuk mempertimbangkan keberadaan seorang Direktur Eksekutif yang bertanggung jawab menjalankan kegiatan operasional secara lebih berkelanjutan.

Dalam gagasannya, posisi Ketua Umum tetap dipertahankan sebagai pemimpin organisasi, sementara Direktur Eksekutif dapat berfokus pada pelaksanaan program, pengelolaan kegiatan, dan pengembangan kemitraan. Model tersebut diharapkan mengurangi ketergantungan organisasi pada waktu luang pengurus yang juga memiliki tanggung jawab profesional masing-masing.

Nirwan bahkan mengajak peserta mendiskusikan kemungkinan pengembangan ISKINDO menuju model social enterprise, terutama untuk mendukung kegiatan yang berkaitan dengan sertifikasi dan layanan profesional. Gagasan ini masih berupa usulan untuk dipertimbangkan, tetapi menunjukkan keinginannya agar organisasi memiliki sumber daya yang lebih berkelanjutan untuk membiayai kegiatan dan mengembangkan manfaat bagi anggotanya.

Dalam pandangannya, organisasi perlu mencari jalan agar dapat menghidupi kelembagaan sekaligus memberi ruang bagi anggota yang bekerja di dalam ekosistemnya untuk memperoleh penghidupan secara layak. Dengan begitu, aktivitas organisasi tidak sepenuhnya bergantung pada semangat sukarela atau kemampuan pengurus menyediakan waktu dan biaya pribadi.

Tentu saja, model tersebut memerlukan pembahasan lebih lanjut mengenai bentuk badan hukum, tata kelola, pembiayaan, dan kesesuaiannya dengan tujuan serta aturan organisasi. Namun, bagi Nirwan, keberanian membicarakan model operasional dan keberlanjutan finansial merupakan bagian penting dari upaya membawa ISKINDO menjadi organisasi profesi yang lebih efektif.

Dari organisasi alumni menjadi ekosistem profesi

Tiga gagasan Nirwan bertemu pada satu kebutuhan: ISKINDO harus lebih dikenal, lebih relevan, dan lebih mampu bekerja dalam kehidupan nyata anggotanya. Pengenalan organisasi membuka jalan bagi pertumbuhan keanggotaan, standardisasi dan sertifikasi memperkuat manfaat profesional, sedangkan pembaruan model operasional dapat membantu memastikan kegiatan berjalan secara berkelanjutan.

Pengalaman menyusun kepengurusan yang didominasi Generasi Z di Sulawesi Selatan juga memperlihatkan bahwa regenerasi memerlukan lebih dari sekadar pergantian nama dalam struktur. Generasi muda perlu mengetahui keberadaan ISKINDO, memahami manfaat keanggotaannya, mendapatkan ruang untuk berkontribusi, dan melihat bahwa organisasi mampu menghubungkan mereka dengan peluang profesional yang nyata.

Harapan Nirwan untuk ISKINDO bukanlah organisasi yang sibuk dengan sebanyak mungkin agenda, melainkan organisasi yang mampu mempertemukan orang, keahlian, pekerjaan, dan sumber daya secara efektif. Dari sana, ISKINDO dapat bergerak melampaui fungsi silaturahmi alumni menuju ekosistem profesi yang memperkuat kompetensi sarjana kelautan sekaligus memberi manfaat bagi organisasi, anggota, dan sektor kelautan Indonesia.