Sambut Kongres IV ISKINDO | Andi Nurjaya tentang Cinta Organisasi, Harmoni, dan Keberanian Menentukan Arah ISKINDO

  • Whatsapp
Andi Nurjaya, peserta PraKongres IV ISKINDO (dok: Peakita.ID)

Bagi alumni Ilmu Kelautan Unhas Andi Nurjaya, kecintaan terhadap organisasi merupakan modal mendasar yang perlu diperkuat dalam perjalanan ISKINDO. Ia melihat sejumlah persoalan masa lalu bukan selalu tidak bisa diselesaikan, melainkan mungkin sulit dituntaskan karena kecintaan dan komitmen terhadap organisasi belum cukup kuat untuk mendorong tindakan bersama.

PELAKITA.ID – Andi Nurjaya, alumni Kelautan Universitas Hasanuddin (Unhas) angkatan 89, mengingatkan bahwa masa depan Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) tidak hanya ditentukan oleh siapa yang akan memimpin organisasi, tetapi juga oleh kecintaan anggota, kepatuhan terhadap aturan, dan kemampuan menjaga harmoni di tengah dinamika kongres.

Dalam forum Pra-Kongres IV ISKINDO, Andi menilai pertemuan tersebut menjadi ruang penting untuk bertukar pikiran, menyerap pengalaman lintas generasi, dan membangun pemahaman bersama sebelum memasuki proses pemilihan kepemimpinan.

Dikatakan pria yang aktif mendorong investasi bidang perikanan nasional ini, dinamika organisasi merupakan sesuatu yang wajar, tetapi harus tetap berjalan dalam suasana harmonis agar kongres menghasilkan keputusan yang baik.

“ISKINDO ini meskipun dinamis, tapi selalu mengedepankan harmoni,” ujar Andi, seraya menekankan bahwa harmoni harus menjadi landasan untuk menyusun skenario kongres yang dinamis tanpa kehilangan semangat kebersamaan.

Cinta organisasi sebagai sumber dedikasi

Bagi Andi, kecintaan terhadap organisasi merupakan modal mendasar yang perlu diperkuat dalam perjalanan ISKINDO. Ia melihat sejumlah persoalan masa lalu bukan selalu tidak bisa diselesaikan, melainkan mungkin sulit dituntaskan karena kecintaan dan komitmen terhadap organisasi belum cukup kuat untuk mendorong tindakan bersama.

Menurutnya, cinta memang bukan sesuatu yang mudah diukur dengan angka, tetapi dapat dikenali melalui ekspresi nyata berupa komitmen, kecukupan kontribusi, dan dedikasi anggota dalam menjalankan tanggung jawab organisasi.

Karena itu, kecintaan kepada ISKINDO tidak seharusnya berhenti sebagai pernyataan, melainkan perlu terlihat melalui tindakan yang memperkuat kehidupan organisasi.

Pandangan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa semangat membangun ISKINDO tidak cukup ditopang oleh pertemuan dan diskusi, tetapi membutuhkan kesediaan anggota untuk mengambil peran dan menyelesaikan pekerjaan organisasi.

“Semakin kuat rasa memiliki, semakin besar pula peluang organisasi menggerakkan potensi alumni yang tersebar di berbagai perguruan tinggi, profesi, dan wilayah Indonesia,” ucapnya.

Anggaran dasar perlu menjadi rujukan bersama

Selain menekankan kecintaan terhadap organisasi, Andi mengajak peserta untuk kembali memeriksa Anggaran Dasar ISKINDO sebagai pedoman mendasar dalam mengelola organisasi. Ia mengingatkan bahwa bertambahnya perguruan tinggi dan jumlah alumni akan membuat dinamika organisasi semakin kompleks, sehingga aturan yang ada perlu dipahami bersama dan dievaluasi secara berkala.

Ia mengusulkan agar anggota sesekali membuka kembali dokumen dasar organisasi, membicarakan ketentuan yang dianggap krusial, serta memastikan mekanisme kepemimpinan dan pergantian pengurus berjalan sesuai prinsip keadilan.

Baginya, aturan tidak cukup hanya tersedia sebagai dokumen formal, tetapi perlu menjadi rujukan yang benar-benar dipahami dan digunakan dalam pengambilan keputusan.

Dalam konteks pemilihan Ketua Umum, Andi mengajak peserta mendiskusikan apakah mekanisme pemilihan perlu diatur lebih tegas dalam Anggaran Dasar atau memberi ruang bagi proses deliberasi anggota.

Pertanyaan tersebut ia tempatkan sebagai bagian dari upaya membangun tata kelola yang semakin matang, terutama ketika ISKINDO menghadapi pertumbuhan keanggotaan dan keragaman kepentingan.

Senioritas bukan penghalang untuk berkontribusi

Andi juga menolak anggapan bahwa perbedaan usia atau senioritas seharusnya membatasi ruang pengabdian seseorang di ISKINDO. Menurutnya, para senior maupun junior memiliki kedudukan yang setara dalam kapasitas akademik dan sosial, sehingga siapa pun dapat mengambil peran sesuai kemampuan, pengalaman, dan kesediaannya.

Ia mengingatkan bahwa anggota yang telah lama mengikuti perjalanan organisasi merupakan bagian dari sejarah ISKINDO, tetapi pengalaman tersebut tidak semestinya menjadi alasan untuk menutup kesempatan bagi generasi yang lebih muda. Sebaliknya, pengalaman para senior dan energi generasi muda dapat menjadi kekuatan bersama jika keduanya diberi ruang untuk berkontribusi.

Pesan itu juga berlaku bagi anggota yang namanya tidak muncul dalam daftar calon atau tokoh yang sedang diperbincangkan.

Bagi Andi, kesempatan untuk berbuat bagi organisasi tidak semestinya dibatasi oleh daftar nama, sebab kontribusi dapat datang dari siapa pun yang memiliki komitmen dan kesiapan untuk bekerja.

Calon pemimpin perlu menunjukkan komitmen nyata

Memasuki pembahasan mengenai calon Ketua Umum, Andi mengajak peserta melihat lebih jauh daripada sekadar kriteria normatif atau persyaratan administratif. Ia menilai komitmen seseorang perlu dibaca melalui rekam jejak, keinginan untuk mengabdi, serta keberanian menyatakan kesediaan dan kesanggupan memimpin organisasi.

“Komitmen tidak hanya sekadar diucap, tapi komitmen itu dilihat dari track record,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa ketika seseorang berani menyatakan kesediaannya, anggota dapat mulai menilai kesanggupan, kemampuan, dan keseriusannya untuk menerima tanggung jawab tersebut.

Andi juga menyinggung kebiasaan sebagian anggota yang cenderung menyampaikan keinginan secara tersirat, menggunakan kode, atau menunggu orang lain menyebut nama mereka terlebih dahulu. Dalam suasana kongres yang membutuhkan kejelasan pilihan, ia mendorong perubahan sikap agar calon pemimpin berani menyatakan kesiapan secara terbuka, tanpa meninggalkan etika dan tata krama yang dijunjung bersama.

Dikatakan, keterbukaan tidak berarti mengabaikan adab dalam berorganisasi.

“Tradisi menghormati sesama, berdialog, dan menjaga hubungan tetap penting, tetapi harus berjalan beriringan dengan komunikasi yang jelas agar proses pemilihan tidak terhambat oleh keinginan yang hanya disampaikan melalui isyarat,” tegas pria yang pernah bekerja di Taman Nasional Taka Bonerate melalui Coral Reef Rehabilitation and Management Program fase II ini.

Menjaga harmoni, memperjelas pilihan

Gagasan Andi menempatkan Kongres IV ISKINDO sebagai momentum untuk mempertemukan dua kebutuhan sekaligus: menjaga harmoni antaranggotanya dan membangun proses kepemimpinan yang lebih terbuka.

Keduanya tidak harus saling bertentangan apabila seluruh peserta bersedia menjadikan kecintaan terhadap organisasi, aturan bersama, dan rekam jejak calon sebagai pertimbangan utama.

Ia berharap pembicaraan dalam forum pra-kongres dapat membantu anggota bergerak dari diskusi umum menuju penilaian yang lebih konkret tentang siapa yang siap memimpin dan bagaimana organisasi sebaiknya dikelola. Dengan demikian, keputusan kongres tidak hanya ditentukan oleh kedekatan personal atau isyarat yang sulit dibaca, tetapi oleh pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan bersama.

Bagi ISKINDO, tantangan berikutnya bukan sekadar memilih Ketua Umum, melainkan memastikan bahwa kepemimpinan yang lahir dari kongres mampu menerjemahkan kecintaan anggota menjadi dedikasi, memperkuat tata kelola, serta menggerakkan potensi sarjana kelautan dari berbagai generasi.

Di situlah harmoni memperoleh maknanya: bukan menghindari perbedaan, melainkan mengelolanya secara dewasa demi masa depan organisasi.

Redaksi