Pau Cubarsí, Si Dingin yang Membuat Mbappé Kehabisan Akal

  • Whatsapp
Namanya Pau Cubarsi, prajurit La Masia (dok: FIFA)

Ada sedikit Gerard Piqué dalam ketenangan Cubarsí membawa bola. Ada keseriusan Carles Puyol ketika menjaga pertahanan. Namun anak muda ini mulai membangun karakter permainannya sendiri. Ia tidak berisik, tidak mencari kamera.

PELAKITA.ID – Masih tentang nelangsa Prancis. Tentang Mbappe yang terlihat seperti kerupuk dingin di gerbang Spanyol.

Bagi sebagian penggemar Prancis, Kylian Mbappé datang membawa kecepatan, reputasi, dan ancaman. Namun di kotak penalti Spanyol, ia bertemu seorang anak 19 tahun bernama Pau Cubarsí yang tampaknya tidak terlalu terkesan.

Cubarsí tidak mengejar Mbappé dengan kepanikan. Ia menunggu, membaca arah lari, menjaga jarak, lalu menutup ruang. Sang bintang Prancis berkali-kali kehilangan tempat untuk melepaskan ancaman terbaiknya.

Inilah pemandangan menarik dari semifinal Piala Dunia 2026. Mbappé bergerak mencari celah, tetapi Cubarsí seperti sudah mengetahui ke mana penyerang Prancis itu hendak pergi sebelum bola datang.

Tidak ada tekel brutal. Tidak ada benturan dramatis. Cubarsí hanya berdiri pada tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, lalu membuat salah satu penyerang paling berbahaya dunia terlihat biasa.

Si dingin itu benar-benar menghanyutkan.

Wajah Cubarsí hampir selalu sama. Datar dan tenang. Ketika Mbappé mendekat dengan kecepatan penuh, bek Barcelona itu tidak menunjukkan ekspresi seseorang yang sedang menghadapi mimpi buruk para pemain bertahan.

Justru Mbappé yang perlahan terlihat tidak nyaman. Ruang tembak menyempit, jalur lari tertutup, dan kesempatan menerima bola di posisi berbahaya semakin sulit ditemukan sepanjang pertandingan melawan Spanyol.

Si Dingin Cubarsi

Cubarsí memahami satu rahasia sederhana menghadapi pemain cepat: jangan selalu mencoba lebih cepat. Kadang Anda hanya perlu berpikir lebih dahulu dan memastikan lawan berlari menuju ruang yang sebenarnya tidak tersedia.

Itulah kekuatan utama anak kelahiran Girona tersebut. Ia tidak bertahan dengan otot semata. Cubarsí menggunakan kepala, posisi, dan kemampuan membaca permainan beberapa detik sebelum bahaya benar-benar muncul.

Di Barcelona, kemampuan seperti itu tumbuh dalam tradisi La Masia. Seorang bek tidak hanya diminta menghentikan serangan. Ia juga harus memahami ruang dan memulai serangan berikutnya.

Cubarsí menjalankan tugas itu seperti seorang veteran. Setelah mematahkan pergerakan lawan, ia jarang membuang bola sembarangan. Kepalanya terangkat, matanya mencari rekan, kemudian Spanyol kembali menguasai permainan.

Mungkin inilah bagian paling menyebalkan bagi Mbappé. Setelah bekerja keras mencari ruang, ancamannya dihentikan tanpa drama. Beberapa detik kemudian, bola sudah bergerak ke arah lain bersama pemain Spanyol.

Cubarsí tidak memberinya kesempatan menikmati duel.

Pertandingan Spanyol melawan Prancis seharusnya menjadi panggung bagi Mbappé. Nama besar, kecepatan luar biasa, dan pengalaman pertandingan besar membuat semua mata secara alami tertuju kepada kapten Prancis tersebut. Sepak bola kadang punya selera humor.

Seorang bek berusia 19 tahun berdiri di hadapannya dengan wajah dingin, menjaga jarak, membaca gerakan, dan perlahan membuat Mbappé semakin jauh dari wilayah yang paling ia sukai.

Ada sedikit Gerard Piqué dalam ketenangan Cubarsí membawa bola. Ada keseriusan Carles Puyol ketika menjaga pertahanan. Namun anak muda ini mulai membangun karakter permainannya sendiri. Ia tidak berisik, tidak mencari kamera.

Bahkan setelah menghentikan serangan, Cubarsí sering terlihat seperti baru saja menyelesaikan pekerjaan sederhana. Seolah menghadapi Mbappé hanyalah tugas kantor yang harus dibereskan sebelum pulang.

Padahal semua orang tahu siapa Mbappé. Berikan satu meter ruang dan ia bisa menghukum sebuah tim. Berikan beberapa detik dan pertandingan dapat berubah hanya melalui satu ledakan kecepatannya.

Cubarsí berusaha tidak memberikan keduanya.

Itulah sebabnya penampilannya terasa istimewa. Bukan karena ia menghancurkan Mbappé dalam duel keras, tetapi karena ia membuat penyerang Prancis itu kesulitan menjadi versi paling berbahaya dari dirinya.

Kini Spanyol melangkah ke final. Lamine Yamal tentu mendapatkan sorotan, para gelandang dipuji, dan pencetak gol masuk halaman depan. Semua itu memang pantas mereka terima.

Tetapi jauh di belakang para seniman Spanyol, berdiri Pau Cubarsí.

Anak 19 tahun itu telah menghadapi salah satu penyerang paling menakutkan di dunia dan memilih untuk tidak panik sedikit pun.

Mbappé datang membawa badai. Cubarsí berdiri dengan wajah dingin. Ketika pertandingan selesai, badai itu telah lewat—dan si anak muda masih berdiri tenang di kotak pertahanan Spanyol.

___
Tamarunang, 15 Juli 2026