M. Rizky Latjindung | Mengapa Kita Selalu Menyalahkan dan Membenci Messi?

  • Whatsapp
Sayoranara, hanya sampai semi final? Hihi

Seperti biasa, Messi berdiri tepat di tengah keributan. Lelaki kecil itu seperti magnet yang menarik pujian, kemarahan, cinta, dan kebencian sekaligus. Mungkin karena dunia selama hampir dua dekade terus bertanya: apakah Messi benar-benar sehebat yang kita bayangkan, atau kita hanya terlalu terpesona kepadanya?

PELAKITA.ID – Media ini sudah sangat Spanyol atau setidaknya tak memilih Argentina sebagai andalan. Tapi tak apa, fans harus keluar sarang dan menepuk dana.

Jadi begini: Ada sesuatu yang aneh tentang Lionel Messi. Semakin banyak ia menang, semakin rajin sebagian orang mencari alasan baru untuk membenci dan menyalahkannya.

Dulu tuduhannya sederhana. Messi hebat bersama Barcelona, tetapi dianggap gagal bersama Argentina. Trofi klub menumpuk, sementara seragam negaranya disebut terlalu berat.

Final Piala Dunia 2014 seolah dilupakan. Kekalahan di final Copa América juga menjadi bukti bahwa Messi, menurut pengkritiknya, bukanlah seorang pemimpin sejati.

Ketika gagal mengeksekusi penalti pada final Copa América 2016, pengadilan sepak bola kembali bersidang. Messi disebut lemah, rapuh, dan tidak memiliki mental Maradona.

Messi kemudian sempat meninggalkan tim nasional. Lucunya, orang-orang yang sebelumnya rajin memakinya mendadak panik dan bertanya mengapa sang bintang memilih pergi.

Begitulah hubungan kita dengan pesepak bola hebat. Ketika hadir, kita mengkritik. Ketika pergi, kita kehilangan. Ketika kembali, kita mulai mengkritiknya lagi.

Lalu Messi memenangkan Copa América 2021. Argentina menjadi juara dunia pada 2022. Seharusnya semua tuduhan lama selesai dan berkas perkara resmi ditutup. Ternyata tidak. Para pengkritik hanya mengganti kostum. Argentina disebut arogan, provokatif, terlalu emosional, terlalu banyak protes, dan katanya terlalu disayang wasit.

Memang, tidak semua kritik kepada Argentina mengada-ada. Beberapa perilaku pemain mereka pernah memicu kontroversi dan memang pantas mendapat kritik serius dari publik.

Masalahnya, kemarahan sepak bola jarang berhenti pada satu kesalahan. Satu pemain keliru, seluruh Argentina dianggap arogan dan semua kemenangan mereka mulai dicurigai.

Satu keputusan wasit diperdebatkan, teori konspirasi segera membuka warung. Pelanggannya banyak, komentarnya panjang, dan semuanya merasa memiliki sertifikat resmi sebagai ahli FIFA.

Seperti biasa, Messi berdiri tepat di tengah keributan. Lelaki kecil itu seperti magnet yang menarik pujian, kemarahan, cinta, dan kebencian sekaligus. Mungkin karena dunia selama hampir dua dekade terus bertanya: apakah Messi benar-benar sehebat yang kita bayangkan, atau kita hanya terlalu terpesona kepadanya?

Setiap kegagalan menjadi jawaban. Tidak seperti Maradona. Tidak punya mental. Tidak mampu memimpin. Tidak bisa membawa Argentina menjadi juara dunia. Kemudian Qatar 2022 datang.

Messi mengangkat Piala Dunia, Argentina berpesta, jutaan orang menangis, dan para pengkritik seharusnya pulang mencari kegiatan baru.

Sepak bola tidak sesederhana itu. Perdebatan berpindah kepada penalti, wasit, dan perlakuan istimewa. Tiang gawang perdebatan kembali digeser beberapa meter.

Kini Argentina menghadapi Inggris di semifinal Piala Dunia 2026. Pertandingan ini jelas bukan sekadar 22 manusia dewasa mengejar satu bola selama 90 menit.

Inggris dan Argentina membawa koper sejarah sangat berat. Ada Maradona, David Beckham, kartu merah, gol kontroversial, dendam lama, dan jutaan ingatan pendukung sepak bola.

Sekarang Messi masuk ke dalam cerita itu. Pada usia 39 tahun, dunia kembali menunggu apakah lelaki kecil tersebut akhirnya akan benar-benar jatuh.

Ejekan mulai terdengar. Pengamat mempertanyakan pertahanan Argentina. Media sosial memanaskan suasana. Bahkan sebelum pertandingan, jempol para pendukung sudah melakukan pemanasan serius.

Masalahnya, Argentina tampaknya semakin nyaman ketika dibenci. Rodrigo De Paul bertarung, Emiliano Martínez memprovokasi, sementara Lionel Messi berjalan santai mengamati keadaan.

Ya, Messi memang banyak berjalan. Kadang terlalu santai. Penonton mungkin ingin berteriak, “Pak Messi, pertandingan sudah dimulai sejak tadi!”

Kemudian bola datang. Messi mengangkat kepala, bergerak beberapa meter, dan tiba-tiba pertahanan lawan menggelar rapat darurat tanpa sempat mengirim undangan Zoom.

Inilah persoalan Inggris. Mereka boleh mengejek Argentina, membicarakan usia Messi, atau membuat seribu meme sebelum pertandingan benar-benar dimulai di Atlanta.

Tetapi ejekan bukan strategi. Bullying bukan pressing. Kebencian tidak menutup jalur umpan dan komentar media sosial tidak pernah memenangkan duel di lapangan. Argentina telah melewati kekalahan final, kritik nasional, pengunduran diri Messi, pembangunan ulang tim, tekanan juara dunia, dan berbagai keributan yang mengikuti perjalanan mereka.

Mereka seperti keluarga yang terlalu sering bertengkar di rumah. Ketika tetangga berteriak dari luar, mereka menutup jendela lalu melanjutkan makan malam.

Itulah yang membuat Argentina berbahaya menghadapi Inggris. Bukan karena tanpa kelemahan, melainkan karena mereka sudah terlalu lama belajar hidup bersama tekanan besar.

Pertahanan mereka dapat ditembus. Lini tengah bisa kelelahan. Ketergantungan kepada Messi tetap menjadi persoalan taktis yang sangat nyata bagi Lionel Scaloni.

Namun jangan berharap kebencian membuat mereka gemetar. Messi telah menghabiskan karier internasionalnya mendengar ribuan orang menjelaskan mengapa suatu hari ia pasti gagal.

Anehnya, lelaki itu masih berada di sana. Masih berjalan, masih melihat, dan masih menunggu sebuah ruang kecil terbuka di antara kaki para pemain lawan.

Mungkin itulah yang seharusnya paling dikhawatirkan Inggris. Messi tidak lagi membutuhkan seluruh dunia mencintai, memuji, atau bahkan memahami perjalanan panjangnya.

Ia hanya membutuhkan sedikit ruang, beberapa detik, dan sebuah bola untuk kembali mengingatkan dunia mengapa dirinya selalu menjadi pusat perhatian.

Setelah itu, kita mungkin mengulangi kebiasaan lama: menyalahkan Messi ketika gagal, lalu membencinya karena ternyata lelaki kecil itu kembali menang.

“Kamu orang senang sekali kalau La Pulga Messi jatuh, atau Argentina kalah, ada masalah apa, heran saya!”

Begitu kira-kira kalau penulis pakai logat Palu.