Pemerintah daerah Luwu Utara saat ini sedang antusias mengembangkan tanaman kentang, salah satunya di ketinggian Rongkong.
Bupati Lutra Abdullah Andi Rahim
PELAKITA.ID – Sektor perkebunan masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Kabupaten Luwu Utara. Data publikasi tahun 2025 menunjukkan bahwa komoditas kelapa sawit dan kakao tetap mendominasi dengan total luas areal mencapai lebih dari 56 ribu hektare yang tersebar di 15 kecamatan.
Kelapa sawit tercatat sebagai komoditas dengan luasan terbesar, yakni mencapai 28.234,98 hektare.
Sentra utama perkebunan sawit berada di Kecamatan Baebunta dengan luas 4.822,52 hektare, disusul Malangke seluas 4.314,30 hektare dan Tana Lili 2.947,77 hektare.
Luasan tersebut menjadikan sawit sebagai salah satu komoditas strategis yang menopang aktivitas ekonomi masyarakat dan sektor industri pengolahan hasil perkebunan di daerah.
Selain sawit, kakao masih menjadi komoditas unggulan masyarakat Luwu Utara dengan luas areal mencapai 28.159,73 hektare.
Kecamatan Sabbang menjadi pusat perkebunan kakao terbesar dengan luasan mencapai 7.924,75 hektare. Posisi berikutnya ditempati Baebunta seluas 4.304,60 hektare dan Sabbang Selatan sekitar 3.010 hektare.
Meski luas lahan kakao mengalami penurunan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, komoditas ini tetap menjadi sumber pendapatan penting bagi petani.
Pada tahun 2019, luas areal kakao masih berada di kisaran 40 ribu hektare, namun pada tahun 2023 turun menjadi sekitar 28 ribu hektare.
Penurunan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk alih fungsi lahan, umur tanaman, serta perubahan pola usaha tani masyarakat.
Dari sisi produksi, kelapa sawit masih menjadi penyumbang terbesar sektor perkebunan Luwu Utara. Pada tahun 2022, produksi sawit mencapai 439.068,55 ton, sementara data perkebunan rakyat tahun 2023 mencatat produksi sebesar 434.948,04 ton.
Angka tersebut menunjukkan bahwa produktivitas sawit di Luwu Utara masih berada pada level yang tinggi dan menjadi salah satu yang terbesar di Sulawesi Selatan.
Sementara itu, produksi kakao pada tahun 2022 mencapai 20.720,60 ton.
Meskipun mengalami tantangan pada aspek luasan lahan dan produktivitas tanaman, kakao masih menjadi komoditas andalan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, terutama bagi petani di wilayah Sabbang, Sabbang Selatan, dan Baebunta.
Komoditas perkebunan lainnya yang cukup berkembang adalah kelapa dan kopi.
Luas perkebunan kelapa tercatat mencapai 2.507,31 hektare, dengan sentra produksi terbesar berada di Kecamatan Mappedeceng, Malangke, dan Tana Lili. Produksi kelapa pada tahun 2022 mencapai 2.940,65 ton.
Sementara itu, perkebunan kopi berkembang di wilayah dataran tinggi yang memiliki kondisi agroklimat ideal. Luas areal kopi mencapai 1.604,57 hektare, dengan konsentrasi terbesar di Kecamatan Seko seluas 854,57 hektare dan Rongkong 420 hektare.
Produksi kopi tahun 2022 mencapai 1.899,37 ton, dengan kontribusi terbesar berasal dari Kecamatan Seko sebesar 450,21 ton dan Rongkong 326,58 ton.
Selain komoditas perkebunan, sektor hortikultura Luwu Utara juga menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan.
Produksi cabai rawit pada tahun 2024 mencapai 30.346 kuintal, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 29.342 kuintal.
Komoditas buah-buahan juga mengalami pertumbuhan, terutama durian yang produksinya meningkat dari 246.312 kuintal pada tahun 2023 menjadi 254.702 kuintal pada tahun 2024.
Di sektor tanaman biofarmaka, komoditas jahe, kunyit, dan laos turut memberikan kontribusi bagi perekonomian masyarakat. Produksi jahe tercatat mencapai 116 ton, kunyit 37 ton, dan laos 29 ton.
Sebaran komoditas perkebunan dan hortikultura tersebut tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Luwu Utara, mulai dari wilayah pesisir seperti Malangke dan Malangke Barat hingga kawasan pegunungan seperti Seko, Rongkong, dan Rampi.
Keanekaragaman komoditas ini menjadi modal penting bagi daerah dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan nilai tambah sektor pertanian, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya lokal.
Dengan potensi lahan yang luas dan dukungan kondisi geografis yang beragam, Kabupaten Luwu Utara memiliki peluang besar untuk terus mengembangkan sektor perkebunan dan hortikultura sebagai salah satu penggerak utama pembangunan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Potensi Kentang Luwu Utara Mulai Menunjukkan Tren Positif
Di tengah dominasi komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, kakao, dan kopi, Kabupaten Luwu Utara juga menyimpan potensi pengembangan hortikultura dataran tinggi, salah satunya komoditas kentang.
Meskipun skala budidayanya masih relatif kecil dibandingkan sentra kentang nasional, data beberapa tahun terakhir menunjukkan tren pertumbuhan yang cukup menjanjikan.
Sebagai tanaman sayuran semusim yang dipanen sekaligus, kentang menjadi salah satu komoditas yang cocok dikembangkan di kawasan pegunungan Luwu Utara, terutama di wilayah dengan suhu yang lebih rendah seperti Kecamatan Seko, Rongkong, dan Rampi.
Kondisi agroklimat di kawasan tersebut memiliki karakteristik yang mendukung pertumbuhan tanaman hortikultura dataran tinggi, termasuk kentang.
Data produksi menunjukkan bahwa luas panen kentang di Luwu Utara mengalami fluktuasi dalam kurun waktu 2021 hingga 2024. Pada tahun 2021 luas panen tercatat 4,50 hektare, kemudian menurun menjadi 3,50 hektare pada tahun 2022 dan 3,25 hektare pada tahun 2023. Namun pada tahun 2024 terjadi peningkatan cukup signifikan menjadi 5,15 hektare.
Kenaikan luas panen tersebut diikuti oleh peningkatan produksi yang lebih menggembirakan.
Volume produksi kentang tercatat sebesar 166 kuintal pada tahun 2021, sedikit menurun menjadi 162,68 kuintal pada tahun 2022.
Sejak tahun 2023 terjadi lonjakan produksi menjadi 239,61 kuintal dan kembali meningkat menjadi 324,78 kuintal pada tahun 2024. Dengan kata lain, dalam dua tahun terakhir produksi kentang meningkat lebih dari 35 persen, menunjukkan adanya perbaikan produktivitas maupun perluasan areal tanam.
Peningkatan produksi ini menjadi sinyal positif bahwa kentang mulai mendapat perhatian sebagai salah satu komoditas alternatif yang dapat meningkatkan pendapatan petani di kawasan dataran tinggi.

Selain memiliki nilai ekonomi yang relatif tinggi, kentang juga memiliki pasar yang cukup luas karena menjadi bahan baku berbagai produk pangan, mulai dari konsumsi rumah tangga hingga industri makanan.
Dari sisi pembangunan daerah, kentang memiliki peran yang tidak hanya terbatas sebagai komoditas pertanian.
Sebagai bagian dari kelompok umbi-umbian, kentang termasuk dalam komoditas yang digunakan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam perhitungan Garis Kemiskinan serta konsumsi kalori dan protein masyarakat.
Dengan demikian, peningkatan produksi kentang tidak hanya berdampak pada pendapatan petani, tetapi juga berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.
Ke depan, pengembangan kentang di Luwu Utara memiliki prospek yang cukup cerah apabila didukung oleh penyediaan benih unggul, peningkatan teknologi budidaya, penguatan akses pasar, serta pembangunan infrastruktur pertanian di kawasan pegunungan.
Apalagi, wilayah dataran tinggi seperti Seko, Rongkong, dan Rampi memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sentra hortikultura yang mampu menghasilkan produk berkualitas sekaligus menjadi penggerak ekonomi masyarakat pedesaan.
Dengan tren produksi yang terus meningkat dan dukungan sumber daya alam yang memadai, kentang berpeluang menjadi salah satu komoditas unggulan baru Kabupaten Luwu Utara, melengkapi kekuatan daerah yang selama ini dikenal sebagai sentra perkebunan kakao, sawit, dan kopi di Sulawesi Selatan.
Redaksi









