Rusdin Tompo: Warkop Parlemen

  • Whatsapp
Kiri ke kanan, Akbar Faizal, Andy Mangara dan Muhammad Syarkawi Rauf (dok: Rusdin Tompp/Ilustrasi diperhalus oleh AI)

Penulis adalah Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan

PELAKITA.ID – “Bagi sebagian mahasiswa, warkop telah menjadi ruang yang memungkinkan berbagai gagasan bertemu, beradu, dan berkembang. … Tidak jarang pula keputusan-keputusan penting terkait aktivitas mahasiswa diputuskan di meja warkop sebelum kemudian dibawa ke forum resmi.”

Begitu tulisan di akun Instagram omongomongdotcom berjudul “Warkop sebagai Parlemen Mini. Postingan tersebut pada intinya membahas gaya urban mahasiswa menjadikan warung kopi (warkop), kedai kopi, atau kafe sebagai tempat diskusi, bukan sekadar untuk ngerumpi dan ngopi.

Fenomena warkop dan kedai kopi jadi tempat diskusi merupakan tradisi lama. Bahkan sejak masyarakat kita mulai mengenal kopi pada masa kolonial, kebiasaan orang bertemu dan ngobrol di warkop-warkop kecil sederhana sudah terjadi. Pada masa pergerakan, posisi warkop sebagai ruang publik informal kian menguat.

Jauh sebelum itu, pada abad ke-16 di Turki, pada era Ottoman, orang menyebut kedai kopi sebagai “Mekteb-i Irfan” atau Sekolah Orang Bijak.

Artinya tempat itu bukan hanya untuk orang datang menikmati kopi, tetapi menjadi pusat aktivitas sosial, edukasi, dan politik. Kahvehane (kedai kopi) mengubah cara orang-orang Ottoman bersosialisasi.

Bila semula mereka banyak berinteraksi di masjid, hamam (pemandian umum), dan pasar, kemudian menemukan ruang publik baru bernama kedai kopi yang tanpa hierarki dan lebih egaliter.

Ruang Bertukar Informasi

Di warkop orang-orang datang bersilaturahmi, bukan hanya mencari informasi, tetapi juga berbagi informasi. Dahulu, sejumlah warkop menyediakan surat kabar, di mana pelanggan bisa membaca peristiwa aktual hari itu.

Kalaupun tak ada koran, ada-ada saja pelanggan yang datang membawa koran, dan bisa dibaca bergantian hingga lembar-lembar halamannya berpisah satu dengan yang lain. Beberapa warkop malah menyediakan saluran televisi sebagai daya pikat tontonan bagi pelanggannya.

Berita-berita yang seliweran di koran maupun televisi itu lalu disantap, diinterpretasikan sesuai point of view masing-masing, kemudian dibahas spontan, berpanjang-panjang tanpa moderator. Obrolan saling menimpali ala warkop itu berlangsung organik dengan sudut pandang beragam.

Semua bisa jadi pengamat dan narasumber, tanpa harus menuntut kepakaran tertentu. Di warkop, tak bisa satu orang hanya satu suara. Satu orang bersuara banyak atau banyak bicara pun, tak apa.

Kenyataannya, memang pengunjung warkop sangat beragam: politisi, pengusaha, aktivis, birokrat, wartawan, mahasiswa, kepala daerah, dan petinggi militer pun ada.

Bila dalam demokrasi formal dan prosedural, ada pembatasan-pembatasan dan koridor yang mesti dipatuhi, di warkop semuanya serba longgar, hanya dibatasi etika komunikasi. Warkop menjadi ruang representasi partisipasi warga yang paling murni, membumi, dan ekspresif.

Kolaborasi Siaran Radio

Warkop punya sumber daya, jejaring, dan tradisi berdemokrasi. Ia bagai festival suara rakyat tanpa jeda dan batas waktu. Seminggu bisa 7 hari, sehari bisa 24 jam, tergantung jam operasional warkop bersangkutan. Tinggal dikelola dan dibuatkan sistemnya, maka jadilah paket program diskusi yang hangat, bahkan panas.

Inilah tren yang menyeruak sejak awal 2.000an. Terjadi kolaborasi warkop dengan media dalam menghadirkan diskusi-diskusi publik, terutama mengusung tema politik dan demokrasi.

Secara pribadi, saya punya pengalaman panjang diundang hadir di warkop untuk berdiskusi terkait berbagai topik dan isu: anak, media, kebangsaan, literasi, dan tema-tema yang relevan dengan itu.

Sekadar menyebut beberapa yang saya ingat, Warkop Phoenam (Boulevard), Warkop Sami (Boulevard), Warkop Dg Sija (Boulevard), KopiZone (Boulevard), Warkop Dg Anas (Pelita Raya), Warkop Terminal Kopi (Ruko Toddopuli), Warkop Aleta (Pasar Toddopuli), Roemah Kopi (Jalan Sultan Alauddin), Warkop Cappo (Jalan Sultan Alauddin), Kedai Tujuh Belas (Jalan Anggrek), dan Kafe Ogie (Jalan AP Pettarani). Sejumlah warkop ini, hanya tinggal kenangan, bahkan bangunan fisiknya telah berganti rupa.

Menariknya, diskusi yang diselenggarakan di warkop-warkop ini dikemas secara onair, dan live melalui siaran radio, kadang juga televisi.

Penulis, ujung kanan

Seingat saya, radio-radio yang rutin bikin talkshow atau obrolan dari warkop hanya ada beberapa, antara lain Radio Mercurius FM, Radio Makassar FM, dan Radio Fajar FM. Ada juga beberapa radio yang menggelar diskusi di dan dari warung kopi, tetapi sifatnya sporadis.

Dari semua diskusi warung kopi yang disiarkan radio, yang paling membekas tentu saja Obrolan Warung Kopi Mercurius, yang disiarkan live di Radio Mercurius FM dari Warung Kopi Phoenam, Panakkukang Boulevard, Makassar. Program siaran radio yang idenya dari demokrasi praktis, dan demokrasi yang muncul sehari-hari ini mulai mengudara pada Maret 2002.

Success story diskusi kolaborasi warkop dan radio itu sudah dibukukan dengan judul “Demokrasi dari Warung Kopi”, ditulis oleh M Taufiq Nahwi Rasul (Yosi Karyadi) dengan editor Andy Mangara dan Mohammad Syafei, terbit tahun 2008.

Andy Mangara merupakan host acara ini, tetapi bila berhalangan ia digantikan Reihan Wahyudi. Saya beberapa kali menjadi tamu atau narasumber acara ini, baik sebagai aktivis hak anak maupun sebagai komisioner KPID Sulawesi Selatan.

Reputasi dan brand Obrolan Warung Kopi Mercurius, kian diakui ketika mendapat liputan Harian Kompas, pada edisi Kamis, 16 Mei 2002, dengan judul “Sambil Ngopi, Lahirlah Calon Gubernur”.

Patut diberi jempol, Radio Mercurius FM benar-benar melakukan terobosan, saat pemilihan kepala daerah masih di DPRD. Sungguh radio ini berani menggelar debat publik, yang kelak jadi trend setter. (*)