Harapan Bupati Barru pada Pelantikan Rektor Unhas: Membuka Pintu Kolaborasi

  • Whatsapp
Andi Ina bersama Ketua IKA FIKP Unhas Muhammad Ilyas dan Ketua Pusat Studi Perubahan Iklim Unhas, Dr Rijal Idrus (dok: Istimewa)

PELAKITA.ID – Momentum pelantikan Rektor Universitas Hasanuddin Prof Jamaluddin Jompa, tidak hanya menjadi peristiwa akademik, tetapi juga ruang pertemuan gagasan antara kampus dan daerah.

Andi Ina, sosok yang disebut sebagai salah satu pilar Golkar Sulsel ini memberi selamat kepada Prof Jamaluddin Jompa atas pencapaian periode satu dan saat ini siap memimpin Unhas untuk empat tahun ke depan.

Tak hanya itu, dalam suasana tersebut, Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, menyampaikan sejumlah harapan yang menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk pembangunan daerah.

Dengan nada terbuka dan penuh keakraban, ia mengundang keluarga besar IKA FIKP Unhas untuk datang ke Barru—“caccarita” dan menikmati bandeng—sebuah simbol sederhana yang mencerminkan semangat kebersamaan dan keterhubungan emosional antara alumni dan daerah.

“Silakan datang ke Barru, Pak Kadis,” kata Ina kepada Ketua IKA FIKP Unhas Muhammad Ilyas yang menyebut tentang lahan tambak Pemprov di Sulsel dan tambak edukasi Unhas di Bojo.  Ilyas dan Andi Ina nampak berfoto bersama Dr Rijak Idrus, Ketua Pusat Studi Perubahan Iklim Unhas.

Andi Ina bersama kolega cuvitas akademika Unhas (dok: Istimewa)

Tidak berhenti pada ajakan silaturahmi, Andi Ina juga menunjukkan orientasi konkret terhadap pembangunan berkelanjutan.

Ia mengundang tim kerja pejabst Kementerian Lingkungan Hidup, Azri Rasul, dari Kementerian Lingkungan Hidup Ekoregion Sulawesi dan sekitarnya untuk turut membantu dalam penataan tata kelola lingkungan hidup yang lebih manusiawi di Barru.

Langkah ini menegaskan bahwa pemerintah daerah membutuhkan dukungan keilmuan dan praktik terbaik dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks, sekaligus membuka ruang bagi peran aktif akademisi dan praktisi dalam merumuskan solusi berbasis pengetahuan.

Dalam sektor ekonomi, harapan juga disampaikan kepada Prof. Hamid Paddu untuk turut mendorong pengembangan potensi kopi Pujananting hingga bale rakko Barru.

Komoditas lokal ini dipandang memiliki nilai strategis jika dikelola secara tepat, tidak hanya sebagai produk pertanian, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi berbasis kearifan lokal.

“Dukungan dari kalangan akademisi diharapkan mampu memperkuat hilirisasi dan daya saing produk daerah,” sebut Ina.

Menariknya, dalam pertemuan tersebut Andi Ina juga tampak serius menyimak pandangan dari dua pengamat sosial politik Unhas, Dr. Adi Suriadi Culla dan Dr. Hasrullah.

Sikap ini menunjukkan keterbukaan terhadap perspektif kritis dan pentingnya pendekatan multidisipliner dalam membaca dinamika sosial dan politik yang memengaruhi pembangunan daerah.

Pada akhirnya, pesan yang ingin ditegaskan cukup jelas: Barru membuka diri. Daerah ini tidak hanya menunggu, tetapi aktif mengundang—baik alumni Unhas, jaringan IKA, maupun siapa saja yang memiliki semangat kolaborasi.

Harapan tersebut mencerminkan paradigma pembangunan yang tidak lagi eksklusif, melainkan berbasis kemitraan.

Di tengah tantangan zaman, kolaborasi antara kampus dan daerah menjadi kunci, dan Barru tampaknya siap mengambil peran itu dengan tangan terbuka.

Redaksi