Jika ditarik ke masa kini, perjalanan Jamaluddin Jompa menunjukkan transformasi yang konsisten: dari Ketua Himpunan Mahasiswa Perikanan, ia tumbuh menjadi akademisi dan kini menjabat sebagai Rektor Universitas Hasanuddin.
PELAKITA.ID – Sebuah halaman sekretariat yang sederhana, berpagar besi, menjadi saksi satu fragmen kecil sejarah kampus. Pertengahan tahun 1989, Juni atau Juli yang panas.
Sejumlah mahasiswa baru berdiri rapi—kepala gundul, seragam biru laut—menandai fase awal pembentukan identitas mereka sebagai bagian dari Ilmu dan Teknologi Kelautan Universitas Hasanuddin.
Di hadapan mereka, seorang pria bertubuh relatif pendek di banding yang lain, dengan rambut belah samping berdiri di depan mikrofon, menyampaikan sambutan dengan gestur tegas namun hangat.
Ia adalah Jamaluddin Jompa, saat itu Ketua Himpunan Mahasiswa Perikanan.
Di sudut lain, bersandar santai pada dinding, seorang pria berambut gondrong keriting mengisap rokoknya dengan tenang—Yarifay Mappeati, sosok senior yang dikenal sebagai pendoktrin mahasiswa baru dan lama.
Momen ini adalah bagian dari kegiatan penyambutan mahasiswa baru ITK Unhas tahun 1989, yang juga dihadiri perwakilan Himpunan Geologi Teknik Unhas dan IKA MIPA Biologi.
Sketsa ini, yang digambar oleh Kamaruddin Azis—alumni ITK Unhas angkatan 1989—bukan sekadar ilustrasi visual, tetapi rekaman memori kolektif tentang bagaimana tradisi intelektual dan organisasi dibentuk.
Dalam satu bingkai, tergambar dua peran penting dalam ekosistem kampus: pemimpin formal yang berbicara di depan barisan, dan penggerak kultural yang bekerja dari sudut-sudut tak selalu terlihat.
Jamaluddin Jompa tampil sebagai representasi kepemimpinan struktural yang mengarahkan, sementara Yarifay Mappeati menghadirkan dimensi pembentukan karakter melalui proses “pendoktrinan” yang kala itu menjadi bagian dari dinamika organisasi mahasiswa.
Jika ditarik ke masa kini, perjalanan Jamaluddin Jompa menunjukkan transformasi yang konsisten: dari Ketua Himpunan Mahasiswa Perikanan, ia tumbuh menjadi akademisi dan kini menjabat sebagai Rektor Universitas Hasanuddin.
Perannya berevolusi dari membina barisan mahasiswa baru di halaman sekretariat menjadi memimpin ribuan mahasiswa dan sivitas akademika dalam skala institusional.
Benang merahnya tetap sama—kepemimpinan yang berangkat dari interaksi langsung, komunikasi, dan kemampuan menggerakkan orang.
Dari “dulu” yang membentuk, “kini” yang memimpin, hingga “nanti” yang menentukan arah masa depan pendidikan tinggi, sosoknya mencerminkan kesinambungan antara pengalaman organisasi dan kepemimpinan strategis.
Di sisi lain, Yarifay Mappeati menunjukkan jalur yang berbeda namun tak kalah penting.
Dari seorang senior yang aktif dalam proses kaderisasi dan penguatan mental organisasi, kini ia dikenal aktif menulis serta berkontribusi dalam penguatan kapasitas keorganisasian.
Jika dulu perannya berada di ruang-ruang informal—membentuk daya tahan, cara berpikir, dan militansi mahasiswa—maka kini kontribusinya hadir dalam bentuk gagasan, refleksi, dan penguatan literasi organisasi.
Ia menjadi pengingat bahwa pembangunan manusia tidak selalu lahir dari podium, tetapi juga dari percakapan, keteladanan, dan proses panjang yang sering tak terdokumentasikan.
Sketsa ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar gambar. Ia adalah narasi tentang waktu, tentang bagaimana satu generasi dibentuk, dan bagaimana peran-peran itu berkembang dalam lintasan sejarah.
Dari halaman sekretariat sederhana pada tahun 1989, lahir jejak-jejak kepemimpinan dan pemikiran yang terus bergerak—membentuk masa kini, dan mungkin, menentukan masa depan.
_
Selasa, 28 April 2026
Denun di Tamarunang









