Pelantikan yang akan digelar besok itu, adalah simbol keberlanjutan inovasi sekaligus peluang memperdalam dampak nyata Unhas sebagai perguruan tinggi berbadan hukum (PTNBH).
H. Rustan Rewa, Asisten Ekbang, Pemda Tolitoli, Sulawesi Tengah.
PELAKITA.ID – Menjelang pelantikan Prof. Dr. Jamaluddin Jompa, M.Sc. (Prof. JJ) untuk periode kedua sebagai Rektor Universitas Hasanuddin pada 27 April 2026, gelombang harapan menguat dari kalangan alumni.
Momentum ini tidak sekadar seremoni pergantian periode kepemimpinan, tetapi juga menjadi titik refleksi atas capaian sekaligus arah masa depan kampus “Merah” dalam menjawab tantangan pembangunan nasional.
Salah satu suara yang menonjol datang dari Rustan Rewa, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah.
Sebagai alumni Fakultas Pertanian angkatan 1987, Rustan tidak hanya membawa identitas akademik, tetapi juga rekam jejak panjang pengabdian di sektor pertanian Sulawesi Tengah.
Dengan latar belakang sebagai birokrat senior, ia memandang peran perguruan tinggi—terutama Unhas—sebagai mitra strategis dalam memperkuat kapasitas daerah melalui riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia.
Pertemuan Rustan dengan Jamaluddin Jompa pada Agustus 2025 menjadi titik awal penguatan relasi tersebut. Dalam suasana hangat yang mereka sebut sebagai “reuni anak ABRI”, keduanya tidak hanya berbagi nostalgia, tetapi juga membangun visi kolaboratif.
Rustan mengapresiasi capaian Unhas di bawah kepemimpinan Prof. JJ—mulai dari keberhasilan menembus 1000 besar pemeringkatan dunia hingga prestasi di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS).
“Lebih dari itu, kami melihat peluang besar untuk memperluas kerja sama konkret antara kampus dan daerah,” ucap Rustan kepada Pelakita.ID, Ahad, 26 April 2026 terkait sosok Prof JJ yang dilantik besok, 27 April 2026 di Baruga Andi Pangerang Pettarani, Tamalanrea Unhas.

Bagi Rustan, Tolitoli memiliki posisi strategis yang belum sepenuhnya dimaksimalkan, dan itu sudah dibahas bersama Prof JJ.
Terletak di jalur Selat Makassar dan relatif dekat dengan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), daerah ini menyimpan potensi besar di sektor pertanian dan perikanan.
“Kami berharap Unhas tetap hadir melalui riset terapan—mulai dari pengolahan kakao, inovasi teknologi pertanian, hingga asistensi dalam perencanaan pembangunan daerah berbasis data,” kenangnya Rustan terkait pertemuannya dengan Prof JJ.
Harapan tersebut disambut positif oleh Prof. JJ, yang menegaskan pentingnya peran alumni sebagai jembatan solusi, bukan sekadar penyampai persoalan.
Dari interaksi tersebut, Rustan menangkap esensi kepemimpinan Prof. JJ yang inklusif dan terbuka terhadap kritik.
Baginya, sikap ini mencerminkan budaya intelektual yang sehat sekaligus selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal Bugis-Makassar, di mana dialog dan masukan dipandang sebagai bagian dari proses pematangan kebijakan.
Lebih jauh, ia juga melihat potensi besar dalam solidaritas intelektual alumni, terutama melalui jejaring seperti IKA Unhas dan KKSS, untuk menggerakkan ekonomi lokal berbasis UMKM dan inovasi daerah.
Memasuki periode kedua kepemimpinan Prof. JJ, Rustan menyampaikan harapan yang tegas namun konstruktif: kampus tidak boleh berjalan sendiri.
Ia menyerukan agar seluruh alumni mengambil peran aktif dalam memperkuat sinergi antara dunia akademik dan kebutuhan riil di daerah.
“Sebagai sesama alumni Kampus Merah, harapan saya, kita bantu Prof JJ dan Unhas, jangan sampai kita membiarkan beliau bekerja sendiri, berjuang sendiri. Mesti dibantu,” katanya, sebagai pesan kunci yang mencerminkan semangat kolektif untuk membangun ekosistem kolaborasi yang lebih solid.
Bagi Rustan Rewa, pelantikan yang akan digelar besok itu, adalah simbol keberlanjutan inovasi sekaligus peluang memperdalam dampak nyata Unhas sebagai perguruan tinggi berbadan hukum (PTNBH).
Ia optimistis, dengan kepemimpinan yang adaptif dan dukungan alumni yang terorganisir,
“Unhas akan mampu menjembatani pengetahuan akademik dengan praktik pembangunan—mengalir dari ruang-ruang kuliah hingga menjangkau desa-desa di seluruh nusantara,” kata pria Turatea yang telah mengabdi di Sulawesi Tengah selama tiga dekade ini.
Bagi Rustan Rewa, periode kedua Prof. JJ bukan hanya tentang melanjutkan apa yang telah dicapai, tetapi tentang memperluas makna kehadiran universitas: menjadi pusat solusi yang hidup, terhubung, dan relevan bagi masyarakat.
___
Redaksi









