Kebijaksanaan tidak berhenti pada mengetahui kapan harus berbicara. Justru, bagian yang lebih sulit adalah menahan diri untuk tidak mengatakan semua yang kita tahu.
PELAKITA.ID – Di tengah derasnya arus informasi dan kemudahan berkomunikasi di era digital, setiap orang seolah memiliki panggung untuk berbicara tentang apa saja.
Tidak semua yang bisa dibicarakan layak untuk diucapkan.
Sebuah nasihat dari Das’ad Latif mengingatkan kita: “Jangan berbicara tentang sesuatu yang kamu tidak ketahui, dan jangan pula membicarakan semua yang kamu ketahui, ada saatnya diam.”
Kalimat sederhana ini menyimpan makna mendalam tentang pentingnya kebijaksanaan dalam bertutur kata.
Berbicara tanpa pengetahuan seringkali menjadi awal dari kesalahpahaman, bahkan konflik.
Di kehidupan sehari-hari, kita kerap menjumpai opini yang dibangun tanpa dasar yang kuat—baik dalam percakapan santai maupun di media sosial.
Padahal, kata-kata memiliki kekuatan besar: bisa membangun, tetapi juga bisa merusak. Ketika seseorang berbicara tentang hal yang tidak ia pahami, ia bukan hanya berisiko menyebarkan informasi keliru, tetapi juga meruntuhkan kepercayaan orang lain terhadap dirinya.
Kebijaksanaan tidak berhenti pada mengetahui kapan harus berbicara. Justru, bagian yang lebih sulit adalah menahan diri untuk tidak mengatakan semua yang kita tahu.
Tidak semua kebenaran harus disampaikan pada setiap waktu dan dalam setiap situasi. Ada konteks, ada perasaan orang lain, dan ada dampak yang perlu dipertimbangkan.
Di sinilah nilai dari “diam” menjadi penting. Diam bukan berarti lemah atau tidak tahu, melainkan bentuk pengendalian diri dan kecerdasan emosional.
Dalam banyak situasi, diam justru menjadi pilihan terbaik. Saat emosi sedang memuncak, kata-kata yang keluar sering kali tidak lagi jernih. Saat menghadapi konflik, diam sejenak bisa memberi ruang untuk berpikir lebih rasional.
Bahkan dalam hubungan sosial, tidak semua hal perlu diungkapkan secara gamblang. Terkadang, menjaga perasaan orang lain jauh lebih berharga daripada sekadar menyampaikan kebenaran secara mentah.
Lebih dari itu, kebiasaan untuk berpikir sebelum berbicara adalah tanda kedewasaan. Orang yang bijak tidak diukur dari seberapa banyak ia berbicara, tetapi dari seberapa tepat ia memilih kata.
Ia memahami bahwa setiap ucapan membawa konsekuensi, dan setiap diam pun memiliki makna. Dalam dunia yang bising oleh opini, kemampuan untuk menyaring kata menjadi sebuah keunggulan tersendiri.
Akhirnya, nasihat ini mengajak kita untuk menyeimbangkan antara ilmu, empati, dan kontrol diri. Berbicaralah ketika membawa manfaat, dan diamlah ketika itu lebih menjaga kebaikan.
Tidak semua yang kita tahu harus diucapkan, dan tidak semua yang ingin kita katakan perlu didengar orang lain. Di situlah letak kebijaksanaan sejati.
___
Pontada, 14 April 2026









