El Niño “Godzilla”, Ketika Samudra Pasifik Mengubah Cuaca Dunia

  • Whatsapp
Ilustrasi cuaca ekstrem, ada yang kering, ada yang kebanjiran (dok: AI)

PELAKITA.ID – Fenomena El Niño telah lama dikenal sebagai salah satu penggerak utama variabilitas iklim global. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, muncul istilah yang lebih dramatis untuk menggambarkan El Niño yang sangat kuat: “El Niño Godzilla.”

Meski terdengar seperti istilah dalam film fiksi ilmiah, sebutan ini digunakan secara luas oleh ilmuwan, media, dan komunikator iklim untuk menggambarkan peristiwa El Niño dengan intensitas luar biasa yang mampu memengaruhi cuaca dan kehidupan manusia di berbagai belahan dunia.

Istilah “Godzilla” bukanlah klasifikasi resmi dalam meteorologi maupun oseanografi.

Sebutan tersebut muncul untuk menggambarkan El Niño dengan kekuatan yang setara atau bahkan melampaui peristiwa besar pada tahun 1982–1983, 1997–1998, dan 2015–2016.

Ketiga episode tersebut tercatat sebagai beberapa El Niño terkuat dalam sejarah pengamatan modern dan menimbulkan dampak ekonomi, sosial, serta lingkungan yang sangat luas.

Memahami Fenomena El Niño

Secara ilmiah, El Niño merupakan fase hangat dari siklus iklim alami yang dikenal sebagai El Niño–Southern Oscillation (ENSO). Siklus ini melibatkan interaksi kompleks antara lautan dan atmosfer di kawasan tropis Samudra Pasifik.

Pada kondisi normal, angin pasat bertiup dari timur ke barat dan mendorong massa air hangat menuju wilayah Pasifik Barat, termasuk perairan Indonesia. Namun ketika El Niño terjadi, angin pasat melemah sehingga air hangat bergeser ke bagian tengah dan timur Pasifik.

Pergeseran ini mengubah pola sirkulasi atmosfer global, memengaruhi distribusi curah hujan, suhu udara, dan kejadian cuaca ekstrem di berbagai wilayah dunia.

Akibatnya, beberapa daerah mengalami kekeringan berkepanjangan, sementara daerah lain justru menghadapi hujan lebat dan banjir yang tidak biasa. Karena itu, El Niño sering disebut sebagai salah satu fenomena iklim paling berpengaruh di Bumi.

Mengapa Disebut “Godzilla”?

Julukan “Godzilla” mulai populer terutama saat peristiwa El Niño 2015–2016 yang memiliki kekuatan luar biasa. Dalam diskusi ilmiah,

El Niño semacam ini umumnya ditandai oleh anomali suhu permukaan laut di kawasan Niño 3.4 yang mencapai lebih dari 2 derajat Celsius di atas kondisi normal.

Ketika suhu laut meningkat pada skala sebesar itu, dampaknya tidak lagi bersifat regional, melainkan global.

Kekeringan dapat melanda sebagian Asia Tenggara dan Australia, sementara hujan ekstrem terjadi di Amerika Selatan atau Afrika Timur. Produktivitas pertanian terganggu, stok perikanan berubah, risiko kebakaran hutan meningkat, dan suhu rata-rata global melonjak.

Karena besarnya pengaruh tersebut, media kemudian mengadopsi istilah “Godzilla El Niño” untuk menggambarkan fenomena yang seolah “mengamuk” di seluruh sistem iklim dunia.

El Niño 2023–2024: Apakah Layak Disebut Godzilla?

Perdebatan muncul kembali ketika El Niño berkembang pada 2023–2024. Sejumlah media menyebutnya sebagai kandidat “Godzilla” berikutnya, terutama karena terjadi bersamaan dengan rekor suhu global yang terus meningkat.

Namun, sebagian besar lembaga ilmiah seperti NOAA dan NASA mengklasifikasikan peristiwa tersebut sebagai El Niño kuat, tetapi belum tentu termasuk yang paling kuat dalam sejarah.

Puncaknya terjadi pada akhir 2023 dengan anomali suhu Niño 3.4 mendekati 2 derajat Celsius, menjadikannya salah satu El Niño terbesar dalam beberapa dekade terakhir, meskipun masih berada di bawah intensitas episode 1997–1998 dan 2015–2016.

Meski demikian, beberapa peneliti menilai El Niño 2023–2024 layak masuk dalam lima besar El Niño terkuat yang pernah tercatat, terutama jika mempertimbangkan kandungan panas lautan dan dampak iklim yang ditimbulkannya secara global.

Mengapa Dampaknya Sangat Besar?

Yang membuat El Niño 2023–2024 begitu penting bukan hanya kekuatannya, melainkan karena fenomena tersebut terjadi di tengah tren pemanasan global yang terus meningkat.

Ketika El Niño menambahkan panas alami ke sistem iklim yang sudah lebih hangat akibat akumulasi gas rumah kaca, efeknya menjadi lebih besar.

Tahun 2023 dan 2024 tercatat sebagai periode dengan suhu global tertinggi dalam sejarah pengamatan modern.

Gelombang panas terjadi di berbagai negara, kekeringan meluas di kawasan Amazon, Amerika Tengah, Asia Tenggara, dan sebagian Afrika, sementara hujan ekstrem dan banjir meningkat di sejumlah wilayah Afrika Timur dan Amerika Selatan.

Para ilmuwan juga menemukan bahwa kemampuan ekosistem daratan dalam menyerap karbon melemah selama periode tersebut. Artinya, lebih banyak karbon dioksida tetap berada di atmosfer dan berkontribusi terhadap pemanasan global.

Indonesia di Garis Depan Dampak El Niño

Bagi Indonesia, El Niño bukan sekadar fenomena ilmiah, melainkan ancaman nyata yang dapat memengaruhi kehidupan jutaan orang. Negara kepulauan ini termasuk salah satu wilayah yang paling sensitif terhadap perubahan sirkulasi atmosfer akibat ENSO.

Ketika El Niño kuat terjadi, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia cenderung menurun. Musim kemarau menjadi lebih panjang, risiko kekeringan meningkat, dan ketersediaan air untuk pertanian berkurang.

Produksi pangan tertentu dapat mengalami penurunan, sementara sektor perkebunan menghadapi tekanan akibat berkurangnya kelembapan tanah.

Selain itu, kondisi yang lebih kering meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan gambut. Pengalaman pahit pada El Niño 1997–1998 dan 2015–2016 menunjukkan bagaimana kebakaran besar dapat menghasilkan kabut asap lintas batas yang mengganggu kesehatan masyarakat, transportasi, hingga aktivitas ekonomi.

Apakah Perubahan Iklim Akan Memunculkan Lebih Banyak “Godzilla”?

Pertanyaan ini masih menjadi salah satu topik penelitian paling aktif dalam ilmu iklim. Hingga saat ini, para ilmuwan sepakat bahwa perubahan iklim tidak secara langsung menciptakan El Niño. ENSO tetap merupakan fenomena alami yang telah terjadi selama ribuan tahun.

Dunia yang lebih hangat dapat memperkuat konsekuensi dari setiap El Niño yang terjadi. Lautan yang lebih panas dan atmosfer yang mampu menampung lebih banyak uap air berpotensi menghasilkan dampak yang lebih ekstrem, baik berupa kekeringan, banjir, gelombang panas, maupun gangguan terhadap ekosistem.

Karena itu, walaupun frekuensi “super El Niño” di masa depan masih menjadi bahan perdebatan ilmiah, banyak penelitian menunjukkan bahwa setiap El Niño kuat yang terjadi dalam iklim yang semakin hangat kemungkinan akan membawa konsekuensi yang lebih besar dibandingkan peristiwa serupa pada masa lalu.

“El Niño Godzilla” mungkin hanya sebuah julukan, tetapi istilah tersebut mencerminkan kenyataan bahwa fenomena iklim tertentu dapat memiliki dampak luar biasa terhadap kehidupan manusia. Peristiwa-peristiwa besar seperti El Niño 1982–1983, 1997–1998, dan 2015–2016 menunjukkan bagaimana perubahan suhu laut di Pasifik dapat memengaruhi pertanian, sumber daya air, kesehatan masyarakat, hingga stabilitas ekonomi global.

Bagi Indonesia, memahami El Niño bukan sekadar kepentingan akademik.

Dengan semakin tingginya risiko cuaca ekstrem akibat perubahan iklim, kemampuan untuk memprediksi, mengantisipasi, dan beradaptasi terhadap fenomena seperti “Godzilla El Niño” akan menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga ketahanan pangan, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat di masa depan.