PELAKITA.ID – Momen tinggal di Galesong pada tahun 1980-an menjadi bagian penting dalam sejarah pertemanan, kedekatan kekeluargaan, serta pelajaran tentang silaturahmi antara Keluarga Azia Dg. Salle dan Keluarga Sukasno.
Keluarga pertama adalah keluarga sendiri, Daeng Salle ayah saya, sementara keluarga kedua adalah keluarga seorang penyuluh pertanian asal Jawa di Takalar yang tinggal di rumah dinas di ruas ujung Poros Limbung–Galesong. Jarak rumah kami sekitar 200 meter saja.
Di rumah Pappi—begitu saya memanggil Sukasno—saya kerap bermalam. Menjaga rumah itu bersama Nur dari Bontoloe-Talatala’ (apa kabar, Om Nur?).
Di rumah itu pula kami sering menonton televisi hitam-putih: menyaksikan pertandingan Muhammad Ali, dan banyak tayangan lain yang kini tinggal kenangan.
Keluarga Pappi juga kerap datang ke rumah kami di Jempang. Beberapa anak Pappi saya kenal dengan baik, dan hubungan itu terjalin tanpa sekat apa pun.



Dalam kebersamaan itu, saya sama sekali tidak pernah tahu, apalagi menyimpan penilaian, bahwa kami berbeda agama—kami Muslim dan mereka Nasrani. Yang saya tahu hanyalah bahwa Bapak Salle dan Pappi adalah sahabat dekat.
Di rumah itu pula, untuk pertama kalinya saya mengenal apa yang disebut Baygon. Setiap hendak tidur, Nur selalu menyemprot Baygon dan memasang kelambu. Saya tidur di dalam kelambu di kamar tengah Pappi, sementara Om Nur di ruang tamu. Saya kelas 5 atau 6 di SD Inpres Galesong kala itu.
Pada beberapa momen Sabtu atau Ahad sore, keluarga Pappi datang ke rumah kami—ada Mammi, istri Sukasno, beserta anak-anaknya.
Di situlah pertama kali saya benar-benar mengenal makna kebersamaan, silaturahmi, dan saling menghormati antara dua keluarga yang belakangan ini sering disebut “berbeda keyakinan atau tradisi”.


Hal itu sama sekali tidak pernah saya pikirkan atau rasakan pada tahun 1980-an, karena yang hakiki bagi kami adalah silaturahmi—keindahan silaturahmi.
Bukan hanya keluarga Sukasno. Di akhir tahun 1980-an, saya juga mengenal dekat keluarga Joseph Lagonda dari Sulawesi Tengah. Saya telah menulis cukup banyak tentang kedekatan kami dengan keluarga Sukasno dan Pak Ose’—sapaan warga Galesong untuk mantri bertubuh tambun itu.
Pembaca sekalian, kemarin siang di Jalan Sumatra, Pontada, Sorowako, saya mengucapkan selamat Hari Natal kepada Bapak Eca di Wasuponda. Bapak Eca, atau Nataniel, adalah suami dari kawan saya, Adolfina Sambo (Kata Hendrik ‘Enda’ Amir, Bapak Eca ulang tahun 25 Desember, itumi kenapa namanya Nataniel. Happy birthday Bapak Eca!)
Saya berbincang sejenak dengan beliau Bapak Eca, saya langsung teringat keramahan Pappi Kasno. “Titip salam untuk Ibu Adol. Selamat Natal ya, Pak Eca,” ucapku.
Pagi ini saya tiba di Kota Makassar setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 jam dari Sorowako. “Selamat Natal ya, Ibu Adol, Bro Denny, dan Bro Vault,” tulisku di WAG PPM PT Vale–The Commit Foundation.
Saya sampaikan pula bahwa saya tidak sempat bersilaturahmi ke rumah karena pada waktu yang sama harus memenuhi janji kepada anak sulung saya yang berulang tahun pada 26 Desember 2025.
“Saya harus pulang. Sudah dua tahun setiap ulang tahun anak saya, saya berada di Oman. Titip salam untuk Haji Ashar,” kataku kepada Jumardi Lanta.
Pendek cerita, ketika membuka mata setelah tidur siang yang nyenyak, saya melihat di WAG grup kami foto-foto silaturahmi: ada yang berkunjung ke rumah Om Vault di Lioka, ada pula yang bersilaturahmi ke rumah Bapak Eca dan Adolfina Sambo di Tabarano, Wasuponda.
Saya sungguh bahagia menyaksikan kedekatan itu—kedekatan kawan-kawan sejawat yang telah terjalin kurang lebih sepuluh tahun.
Saya sendiri merasakan kebersamaan semacam itu sebagai karunia sekaligus inspirasi tentang kebersamaan hakiki antarsesama, tanpa sekat dan tanpa bendera tertentu. Yang saya pahami sederhana: kami hidup bersama, bekerja bersama, dan mengabdi bersama.
Kebersamaan seperti inilah yang membuat saya betah dan ingin berlama-lama di Pontada, di Sorowako, di lingkar tambang, dan di semesta Luwu Timur—sebuah ruang sosial, ekonomi, budaya, dan kekerabatan yang sangat kondusif dan luar biasa.
Selamat Hari Natal bagi kolega yang merayakan.
Salam dari Gowa.
_
Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID
Tamarunang, 25 Desember 2025
