The Green Resilience of Cities: Urban Farming dan Program Tanami Tanata’

  • Whatsapp
Muliadi Saleh (dok: Istimewa)

Oleh: Muliadi Saleh

PELAKITA.ID – Dinamika kota seperti Makassar tumbuh dengan kecepatan yang nyaris tak memberi jeda—sebuah kota yang seolah tak pernah beristirahat. Kita kerap lupa bahwa kota juga makhluk hidup: ia bernapas, ia letih, dan ia membutuhkan keseimbangan ekologis untuk tetap sehat.

Ketika bangunan makin mendominasi ruang, pohon menyusut; ketika kendaraan bertambah, udara semakin tercemar.

Di sinilah urban farming menemukan relevansinya—bukan sebagai aktivitas tambahan, melainkan sebagai denyut baru ekologi kota.

Para ahli perkotaan menyebut kemampuan kota bertahan sekaligus pulih dari tekanan sebagai the green resilience of cities. Resiliensi hijau tidak hanya berbicara soal pepohonan, tetapi tentang bagaimana ruang-ruang sempit dapat menjadi sumber pangan, sumber keteduhan, sekaligus sumber harmoni sosial.

Program Tanami Tanata’ adalah jawaban Makassar atas kebutuhan itu—sebuah gerakan kolektif untuk menanam kembali napas kota.

Makassar—dengan populasi sekitar 1,5 juta jiwa pada 2025—mengalami laju urbanisasi yang terus meningkat. Data BMKG menunjukkan bahwa suhu rata-rata kota berada pada kisaran 27–29°C dalam dua tahun terakhir, dipengaruhi efek urban heat island.

Sementara itu, sekitar 85–90% pasokan sayur Makassar masih bergantung pada daerah luar kota, menandakan adanya kerentanan pangan yang perlu segera diatasi. Dalam kondisi ini, urban farming bukan lagi sekadar tren; ia menjadi strategi ketahanan pangan mikro yang cerdas, murah, dan sangat relevan.

Seorang pakar ekologi pernah menegaskan:
“A resilient city begins not from its tallest buildings, but from its smallest gardens.”
Kota yang tangguh justru tumbuh dari kebun-kebun kecil yang dirawat warganya.

Tanami Tanata’: Menanam sebagai Gerakan Sosial-Ekologis

Tanami Tanata’ bukan hanya program, tetapi narasi baru yang ingin dituturkan Makassar: bahwa kota bisa hijau bukan melalui proyek-proyek besar semata, tetapi melalui gerakan kolektif yang tumbuh di banyak titik—di lorong, halaman rumah, sekolah, atap gedung, hingga ruang-ruang publik.

Nama Tanami Tanata’ sendiri membawa semangat lokal: “Tanamiki, Tanata’.” Sebuah ajakan bahwa menanam adalah tindakan sosial, bukan sekadar kerja individual. Gerakan ini mengundang warga, sekolah, komunitas lorong, UMKM, kantor, hingga anak-anak untuk kembali menyentuh tanah—meskipun hanya lewat polybag atau instalasi hidroponik sederhana.

Urban farming dalam program ini berjalan melalui berbagai model dalam konsep Urban Farming Terintegrasi: menggabungkan pertanian, peternakan, perikanan, dan pengolahan sampah/limbah menjadi satu ekosistem yang saling mendukung.

Beberapa dampak awal yang sudah terlihat antara lain:

  • Kebun pangan lorong mampu menurunkan suhu mikro 2–3°C, sebagaimana uji coba di Panakkukang pada 2023.

  • Bank Kompos Lorong mengurangi sampah organik rumah tangga hingga 30–40%.

  • Kebun sekolah meningkatkan perilaku peduli lingkungan siswa hingga 47%—mengacu penelitian yang relevan di kota Bandung.

  • Rooftop garden menurunkan kebutuhan pendinginan ruang sebesar 10–15%.

Semua ini menunjukkan bahwa ketika warga menanam, kota ikut sembuh.

Pangan, Kemandirian, dan Data yang Menggerakkan Kesadaran

IFPRI (International Food Policy Research Institute) memperkirakan bahwa kota-kota yang mampu memproduksi 10–20% kebutuhan hortikulturanya akan lebih stabil secara sosial dan ekonomi pada saat krisis pangan atau lonjakan harga. Bagi Makassar—yang masih sangat bergantung pada pasokan luar kota—urban farming menjadi jalan penting menuju kemandirian pangan keluarga.

Data kecil yang berdampak besar:

  • Satu polybag cabai dapat menghemat Rp8.000–12.000 per minggu.

  • Kebun hidroponik kecil bisa menghasilkan 4–6 kg sayuran daun per bulan.

  • Satu lorong produktif mampu menghemat belanja pangan warganya dalam setahun.

Angka-angka kecil ini, ketika dilakukan oleh ribuan rumah tangga, menciptakan efek ekonomi yang luar biasa. Urban farming adalah ilmu yang membumi: sederhana, murah, dan berdampak sistemik.

Suara Pakar & Hikmah Sufi dalam Gerakan Menanam

Urban farming bukan hanya urusan teknis; ia juga menyentuh sisi spiritual dan kultural manusia.

Profesor Claudia Ringler dari IFPRI mengingatkan:
“Food security begins with the hands of households, not the policies of governments.”
Ketahanan pangan dimulai dari rumah setiap warga.

Jalaluddin Rumi menambahkan dengan lembut:

“Ketika engkau menanam satu benih, engkau sebenarnya sedang menanam seribu harapan.”

Tanami Tanata’ adalah tentang harapan—ekologis, sosial, sekaligus spiritual.

Dan Ibn ‘Arabi berpesan:
“Merawat tanaman adalah merawat hatimu sendiri.”
Inilah dimensi terdalam urban farming: ia menumbuhkan manusia sebaik ia menumbuhkan tanaman.

Makassar sedang memanggil warganya untuk menjadi bagian dari penyembuhan ekologis kota. Tanami Tanata’ bukanlah proyek sementara, melainkan gerakan jangka panjang yang merajut kembali hubungan manusia dengan ruang hidupnya.

Jika kota adalah tubuh, urban farming adalah detak jantung hijaunya.
Jika kota adalah rumah besar, Tanami Tanata’ adalah dapur bersama yang menumbuhkan pangan, harmoni, dan kepekaan.

Kita menanam bukan hanya untuk memanen.
Kita menanam agar kota tetap memiliki masa depan.
Kita menanam agar anak-anak masih bisa melihat daun tumbuh dari tangan mereka.

Seperti pesan Rumi:

“Apa pun yang tumbuh dari cinta akan bertahan lebih lama daripada bangunan yang tumbuh dari ambisi.”

Dan Makassar, melalui Tanami Tanata’, sedang menanam masa depannya dengan cinta.