PELAKITA.ID – Suasana baru terasa di Desa Nikkel hari ini Kamis, 4 Desember 2025 ketika warga mulai menggunakan si’e atau lumbung sebagai bagian dari Program Lumbung Wisata.
Pagi ini, Yoris Kawedani warga setempat telah memasukkan gabah sebanyak 36 karung ke dalam lumbung, dan kapasitasnya masih belum penuh.
Berdasarkan estimasi, satu lumbung dapat menampung sekitar 80 karung.
Langkah ini menandai babak penting dalam upaya menghidupkan kembali tradisi penyimpanan gabah sekaligus mengembangkan potensi wisata desa.
Fasilitator program yang dihubungi Pelakita, Alwi Chaidir mengaku senang. “Senang rasanya turut menyaksikan aktivitas penyimpanan gabah oleh warga,” kata dia.
Dikatakan Alwi, Program Lumbung Wisata merupakan salah satu skema inovatif dari Program Kemitraan Pemberdayaan Masyarakat (PKPM) Terfokus PT Vale Indonesia.

Di tingkat komunitas, program ini didampingi oleh para fasilitator The COMMIT Foundation yang bekerja bersama warga untuk membenahi lumbung, memperindah kawasan, serta mendorong pemanfaatan lumbung sebagai ruang ekonomi dan ruang wisata.
Antusiasme warga terlihat semakin kuat dalam beberapa hari terakhir. Informasi yang saya dapat, besok ketua RT Pak Suriamin juga berencana menggunakan si’e untuk menyimpan gabah panen mereka.
“Keterlibatan langsung ketua RT seperti Pak Suriamin ini dianggap sebagai sinyal positif bahwa pemanfaatan lumbung tidak hanya berhenti pada simbol budaya, tetapi benar-benar kembali menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat,” ucap Alwi.
Program ini mendapat apresiasi luas karena memiliki dua dimensi yang saling menguatkan: fungsi ekonomi dan daya tarik wisata.
Di satu sisi, lumbung membantu warga menyimpan gabah hasil panen dalam kondisi yang lebih baik. Di sisi lain, perbaikan fisik dan penataan kawasan membuat si’e tampil lebih rapi, bersih, dan estetis—sehingga memiliki potensi menjadi destinasi wisata desa yang unik.
Ketua RT sebelumnya menyampaikan terima kasih kepada tim PKPM Terfokus, termasuk kepada PT Vale, yang telah membantu membenahi area penempatan lumbung.

Dengan sentuhan warna-warni dan penataan yang lebih teratur, kawasan lumbung kini tampak lebih hidup dan nyaman dipandang. Warga pun merasa bangga karena memiliki ruang publik baru yang mencerminkan identitas budaya mereka.
Penerapan kembali si’e dalam kehidupan sehari-hari sekaligus menjadikannya titik perhatian wisata adalah contoh bagaimana pemberdayaan komunitas dapat berjalan harmonis antara pelestarian tradisi dan penguatan ekonomi lokal.
Menurut Alwi, Lumbung Wisata di Desa Nikkel yang untuk tahap pertama ini sebanyak 22 unit kini tidak hanya menjadi tempat menyimpan gabah, tetapi juga simbol kolaborasi, kreativitas, dan harapan baru bagi masyarakat.
“Dengan mulai berfungsinya lumbung hari ini dan rencana pemanfaatan lebih lanjut oleh warga, Program Lumbung Wisata menunjukkan bahwa intervensi sederhana yang dirancang dengan baik dapat membawa perubahan nyata,” sebut Alwi.
Desa Nikkel kini bergerak menuju masa depan yang lebih mandiri, lebih menarik, dan lebih berdaya.
Redaksi
