- Yang dibutuhkan adalah strategi berkelanjutan yang memberdayakan petani untuk mandiri. Hal ini mencakup pembangunan sistem distribusi benih unggul yang terjangkau, penguatan kelembagaan petani, serta penciptaan pasar yang lebih adil. Dengan strategi tersebut, NTP dan kesejahteraan masyarakat pedesaan akan meningkat secara signifikan
- Pemerintah akan mencetak sawah seluas 15.000 hektare di Sulawesi Tengah, dengan 12.500 hektare di antaranya berlokasi di Kabupaten Sigi.
Catatan Diskusi Rustan Rewa bersama Gubernur dan Wakil Gubernur Sulteng
PELAKITA.ID – Rustan Rewa, Asisten Ekbang Kabupaten Tolitoli, baru-baru ini berkesempatan berdiskusi dengan Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, dan Wakil Gubernur, Reny Lamadjido. Catatan singkat perbincangan tersebut dibagikan ke Pelakita.ID pada 3 September 2025.
Dalam suasana penuh kehangatan, kami membicarakan bagaimana sektor pertanian, khususnya subsektor tanaman pangan, dapat menjadi motor penggerak utama peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) di Sulawesi Tengah.
Kami sepakat bahwa kunci peningkatan NTP terletak pada keberanian untuk mendorong inovasi, memperluas penggunaan benih unggul, serta menghadirkan pendampingan profesional bagi petani.
NTP selama ini menjadi indikator penting kesejahteraan petani, yang mencerminkan daya beli mereka terhadap barang dan jasa dibandingkan dengan pendapatan dari hasil panen.
Dengan kata lain, semakin tinggi NTP, semakin baik pula tingkat kesejahteraan. Potensi sektor pertanian Sulawesi Tengah sejatinya besar, tetapi belum sepenuhnya dioptimalkan. Sebagai gambaran, nilai jual satu kilogram kakao jauh lebih tinggi dibandingkan satu kilogram beras.

Kakao jelas menjadi komoditas unggulan dengan daya saing global, tetapi beras sebagai kebutuhan pokok masyarakat juga tidak bisa diabaikan. Jika keduanya dikelola dengan serius, keduanya mampu menjadi pendorong utama peningkatan NTP.
Salah satu fokus penting ke depan adalah penggunaan benih unggul yang berlabel. Banyak petani masih memakai benih seadanya, padahal kualitasnya tidak terjamin. B
enih unggul seperti MS 700, HMS 700, dan Pertiwi Padi telah terbukti menghasilkan panen lebih tinggi, tahan penyakit, dan adaptif terhadap kondisi iklim lokal. Namun, distribusi benih saja tidak cukup. Harus ada pendampingan intensif dari tenaga profesional agar petani memahami cara mengolah lahan, merawat tanaman, hingga memaksimalkan hasil panen.
Dalam konteks pembangunan daerah, program Berani Cerdas yang dicanangkan pemerintah provinsi harus menempatkan pertanian sebagai prioritas utama, mengingat mayoritas masyarakat masih menggantungkan hidup dari sektor ini.
Pengembangan sawah dengan penggunaan benih unggul dan sistem pengelolaan modern dapat meningkatkan hasil panen, baik secara kuantitas maupun kualitas, sehingga mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Saya juga menekankan bahwa pembangunan pertanian tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan proyek jangka pendek.
Yang dibutuhkan adalah strategi berkelanjutan yang memberdayakan petani untuk mandiri. Hal ini mencakup pembangunan sistem distribusi benih unggul yang terjangkau, penguatan kelembagaan petani, serta penciptaan pasar yang lebih adil. Dengan strategi tersebut, NTP dan kesejahteraan masyarakat pedesaan akan meningkat secara signifikan.
Gubernur Anwar Hafid dan Wakil Gubernur Reny Lamadjido menyambut positif pandangan tersebut. Keduanya menegaskan bahwa pertanian adalah tulang punggung Sulawesi Tengah yang harus dikelola dengan serius.
Pemerintah daerah berkomitmen memberikan dukungan melalui regulasi, fasilitasi, dan pendanaan agar program penggunaan benih unggul dapat menjangkau seluruh lapisan petani.
Mereka juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah kabupaten/kota, provinsi, hingga pusat agar pembangunan pertanian berjalan lebih efektif dan berkesinambungan.
Bagi saya, diskusi ini menjadi momentum berharga untuk menyuarakan aspirasi petani di daerah.
Saya percaya, dengan langkah inovatif seperti pemanfaatan benih unggul, pendampingan profesional, serta menjadikan pertanian sebagai pilar utama pembangunan daerah, NTP di Sulawesi Tengah dapat terus meningkat. Tujuan akhirnya adalah menghadirkan petani yang lebih sejahtera, mandiri, dan berdaya saing di tengah dinamika ekonomi global.
Pertanian Sulawesi Tengah bukan sekadar urusan produksi pangan, melainkan juga menyangkut masa depan daerah dan bangsa. Kakao dan beras hanyalah dua contoh dari banyak potensi yang ada.
Dengan komitmen bersama, kolaborasi yang kuat, serta keberanian untuk berubah, Sulawesi Tengah dapat menjadi contoh bagaimana pertanian mampu menopang kesejahteraan masyarakat sekaligus menjadi penggerak pembangunan berkelanjutan.
___
Rustan Rewa
Palu, 3 September 2025
