Webinar Sedimentasi Laut ISKINDO, Alan Koropitan: Perlu Clear tentang Tata Ruang Laut

  • Whatsapp
Dr Alan Koropitan, anggota Dewan Pakar ISKINDO dan paparan terkait proses sedimentasi laut (dok: Pelakita.ID)

DPRD Makassar

PELAKITA.ID – Alan Koropitan, anggota Dewan Pakar Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia ISKINDO menjadi salah satu pembicara pada webinar Ada Apa dengan Sedimentasi Laut yang digelar ISKINDO, Sabtu, 10 Juni 2023.

Webinar itu diselenggarkan demi merespon polemik terkait PP 25/2023 terkait potensi pemanfaatan sedimen di lautan NKRI.

Alan, dosen pada FKIP Institut Pertenian Bogor menyebut ada empat klasifikasi jenis sedimen laut.

Read More

Yang pertama adalah klasifikasi yang berasal dari proses lithogenous yang terderivasi dari batuan daratan, yang kedua adalah biogenous yang berasal dari organisma.

“Yang ketiga berasal dari proses hydrogenous dari air, serta cosmogenous dari sumber seperti angkasa atau amosfer, kadang letusan gunung apa, atau dapat dikatakan terbawa oleh angin,” jelas Alan.

Dia menyebut sedimentasi ada yang terdeposit seperti yang ada di Lautan Pasifik yang dalam, yang berasa dari proses vulkanologi, atau subduction.

“Sedimentasi terdeposit dalam satu lapis sedimen dan bisa ditemukan di laut dalam,” jelasnya.

Dia memberi contoh proses pemanfaatan sedimen laut dalam seperti di Pantai Timur Amierika yang telah dikerjakan.

“Sedimen diambil dari kadalaman di atas 100 hingga 200 meter dan dijadikan penimbun pantai, supaya garis pantai tak hilang,” sebutnya.

Jadi, lanjut dia, sedimen diambil dari kedalaman 100  sampai 200 meter dan ditaruh di pantai mereka.

“Itu sebetulnya bentuk pemanfaatan yang ada dan telah dilakukan,” tambahnya.

Para peserta webinar (dok: Pelakita.ID)

Dia pun mengaitkan dengan konteks Indonesia yang punya banyak lautan, paparan seperti Paparan Sahul atau Sunda yang juga mengalami proses jangka panjang dan menghasilkan banyak sedimen.

Termasuk fenomena bertemunya dua lempeng berbeda dan menyatu seperti yang terjadi di Sulawesi Tengah.

Alan menyebut, di Paparan Sunda, mengikut alur-alur yang lama dan terus terjadi.

“Itu semua juga menjadi sedimen sehingga dalam konteks PP yang kita bicarakan hari ini, saya melihat bahwa kita perlu clear dalam hal tata ruang lautnya,” tambahnya.

Ditambahkan, tata rang laut betul-betul memang perlu dijaga karena sebagian besar fenomena atau persoalan yang terjadi karena proses yang bukan alami atau dengan kata lain aktivitas manusia.

“Aktivitas manusia, umumnya dari daratan, di pesisir,” katanya seraya menunjukkan peta global perbedaan antara sebelum dan setelah ada aktivitas manusia terkait sedimen di pesisir.

“Artinya aktivitas manusia yang mendomninasi saat ini sejak antroposen,” tambah dia.

Sehingga, lanjut Alan, tidak tettutup kemungkinan ada polutan persisten.

“Dari seratus persen, ada dua puluh persen yang sulit diuraikan. Itulah yang kemudiana kita katakan dampak dari aktvitas manusia, dari industri, logam berat, ada absoprsi yang nempel di sedimen dan mengendap,” terangnya.

“Ada sejarah panjang, dan tidak ada cara lain selain diambil, dikeruk,” ucapnya.

Terkait itu, apakah di Sunda Shelf ada mengandung polutan, bisa dikaji, mana logam berbahaya dan lain sebagainya.

Dia menyebut berdasarkan itu, dari sisi aktivitas manusia, yang merusak dan berdampak ke eksosietm itu terjadi di sedimen.

“Faktanya memang itu diambil untuk memastikan untuk tidak tercemar lebih lanjut,” tambahnya.

Disampaikan juga bahwa ada beberapa aktivitas manusia seperti pembangunan pelabuhan, ada breakwater yang juga berkontribusi pada proses sedimentasi itu.

“Itu juga mengganggu rambatan gelombang laut, ada abrasi, ada akresi,” tuturnya.

Hal tersebut menurut Alan, harus di-maintain, agar terjadi keseimbangan pantai.

Dijelaskan bahwa ada transpor sedimen di pesisisir yang juga mengakibatkan akresi di tempat lain.

Dia menyebut sudah menjadi tugas besar kita semua karena harus mengidentikasi mana yang lokasi yang terdampak aktivitas manusia terlalu kuat, dan perlu penjagaan.

“Kita memang tidak tahu persis tetapi perlu menjaga dan supaya tak semakin parah,” imbuhnya.

“Ini yang kemudian, mau diapakan apakah mau dijual, untuk konteks sedimentasi dan dampak ke lingkungannya,” kuncinya.

 

Editor: K. Azis

Related posts