Berwisata ke Laa Waa River Park, destinasi mengasikkan di Danau Matano

  • Whatsapp
Welcome to Laawaa River Park (dok: istimewa)

DPRD Makassar

PELAKITA.ID – Welcome to Laa Waa River Park. Begitu papan bicara menyambut para pelancong. Di sampingnya, air mengalir dari batang sungai yang bermuara ke Danau Matano di Laa Waa. Airnya dingin. Dasarnya berbatu-batu kecil, halus.  Hanya ada beberapa batu besar dan jadi tempat bersandar atau berpegangan saat berendam.

Berendam di Sungai Laa Waa sungguh bikin segar. Kawasan Wisata Laawaa dijangkau setelah perjalanan satu jam dari Kota Sorowako. Lokasinya di Desa Matano, Kecamatan Nuha, Luwu Timur.

“Dingin sekali airnya, ayo mandi,” kata Amraeni Suhaeb kepada Pelakita.ID, saat berkunjung ke Laa Waa.  Selain Amraeni, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Sulawesi Selatan, Muhammad Saleh juga ikut turun ke sungai.

Read More

Dia dan beberapa tamu dari Jakarta, Makassar dan Malili datang  ke bibir Danau Matano untuk melihat potensi wisata dalam skema program kawasan atau kerap disebut Kawasan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat PKPM yang didukungan PT Vale Indonesia Tbk.

“PKPM mendukung pengembangan kawasan wisata ini dengan ikut membangun dermaga atau jetty untuk tambatan perahu-perahu atau ponton yang datang dari sekitar Nuha,” kata Adolfina Sambo, pendamping PKPM dari COMMIT Foundation.

Dermaga untuk Laawaa River Park yang dibangun atas dukungan PKPM PT Vale (dok: istimewa)

Dermaga itu nampak kokoh dengan kayu seperti kayu ulin. Lalu di dalam kawasan itu, terdapat gazebo atau tempat peristirahatan. Ada pula jembatan kecil yang bisa jadi tempat foto selfie. Titik ini sangat instagrammable.

Pelakita.ID ikut menikmati aliran sungai yang cukup menantang sebab cukup deras namun mengasikkan. Beberapa pengunjung menggunakan ban dalam raksasa yang disiapkan oleh pengelola wisata, Bumdes Desa Matano.

Pelakita tidak melihat ada pungutan karcis atau biaya retribusi tetapi warga atau pengelola berharap dari sewa gazebo atau makanan-minuman yang disajikan dalam area itu. Meski, sebagian besar pengunjung nampaknya membawa bekal dari asalnya.

“Laawaa ini sudah lama sebenarnya jadi lokasi wisata. Tetapi belum dilengkapi fasilitas seperti dermaga. Belum ada tempat sampah atau fasilitas seperti toilet dan bilas. Jadi keberadaan PKPM ini amat membantu menstimulasi pengembangan wisata desa. Pemanfaatnya pun datang berbagai desa bahkan ada dari Malili hingga Makassar,” terang Jumari Lanta dari COMMIT Foundation yang saat itu menjadi panitia pelaksanaan monitoring terpadu PKPM.

Dia berharap kelembagaan pengelola wisata yang ada dapat didukung oleh Pemda termasuk pemerintah desa, setidaknya mempekuat kapasitas pengelola untuk responsif dengan kebutuhan pengunjung.

Pemandangan di pesisir Laawaa River Park (dok: istimewa)

“Senang juga melihat sebab papan petunjuk, tempat sampah dan jalur-jalur evakuasi juga sudah disosialisasikan di sini. Larangan membuang sampah juga sudah ditunjukkan pengelola,” ucapnya.

Jumardi optimis, kawasan Laawaa bisa berkembang pesat ke depan bersama beberapa kawasan wisata lain seperti Taipa, Bura-bura, termasuk di dalam wilayah Desa Matano yang sudah disiapkan oleh Pemda sebagai Desa Wisata unggulan Luwu Timur.

PKPM yang dimaksud Jumardi adalah program yang telah berjalan selama hampir lima tahun di 10 kawasan  strategis di empat kecamatan yaitu di Nuha, Towuti, Wasuponda dan Malili. Kesepuluh program ini meliputi pertanian, peternakan, pariwisata hingga fasiitasi bisnis dan ruang publik di wilayah perkotaan.

Kadis PMD Sulsel, ujung kanan, di batang sungai Laawaa (dok: istimewa)

Begitulah,  pembaca sekalian, jika ingin ke Laawaa, menikmat air sungai yang jernih, dingin, bersih, sejuk dari Kota Sorowako bisa dilakukan dengan datang ke Dermaga Sorowako, dekat pasar kota.

Untuk biaya transportasi akan lebih baik jika ditanggung bersama pengunjung.  Satu perahu biayanya antara 1 juta hingga 1,5 juta untuk penumpang bisa menjadi 30 orang.

Gimana, minat? Yuk!

 

Editor: Kamaruddin Azis

 

 

 

Related posts