Opini Agus Wahid: Anies dan kekuatan global

  • Whatsapp
Agus Wahid, Direktur Analisis Center for Public Policy Studies

PELAKITA.ID – Kian menyedot perhatian publik, domestik ataupun dunia internasional. Itulah sosok Anies, yang kiprahnya mampu menciptakan Jakarta “baru” dengan personalitasnya yang cukup menawan. Juga, mampu manunjukkan kelasnya di tengah dunia, terutama di mata masyarakat Eropa dan dunia Islam.

Meski untuk level gubernur, tapi kualitas konsepsional dan cara pandangnya malampaui level kepala negara atau pemerintahan. Sisi lain, sosok Anies pun berhasil mengejewantahkan prinsip demokrasi dalam sistem pemerintahan lokalnya dengan kualitas tiada duanya.

Sebagai gambaran kecil, Anies terus berusaha menciptakan keadilan social-ekonomi untuk semua, selalu menghargai perbedaan dan selalu senyum saat hadapi kritik dan fitnah yang sangat “barbar” dari lawan-lawan politiknya.

Sebuah kematangan mental, yang tidak menutup kemungkinan, Amerika Serikat pun menaruh perhatian khusus terhadap sosok Anies. Perhatian khusus AS terhadap Anies semakin menguat sejalan dengan perjalanan studinya: sejak SMA sudah mengikuti program pertukaran pelajar (AFS). Pasca UGM, Anies melanjutkan studi magister dan doktoralnya di Amrik.

Sebuah biodata yang menambak kesan positif terhadap jatidiri Anies. Sebuah renungan mendasar, bagaimana kekuatan global memandang sosok Anies?

Variabel ini sejalan dengan realitas masyarakat Indonesia demikian antusias untuk mengantarkan sang Anies ke istana. Sementara, sejumlah negara besar tak akan diam dalam menyaksikan pentas pemilihan presiden (pilpres) di Tanah Air ini. Di antara mereka tertarik dan berusaha terlibat intensif ke dalam kontestasi itu.

Bukan karena keterharuannya terhadap proses demokrasi, tapi bagaimana nasib kepentingan strategisnya pasca Anies memimpin negeri ini. Atas nama kepentingan strategis itulah, kita jumpai banyak data faktual bagaimana China berusaha menjegal kehadiran Anies ke dalam perntas pilpres 2024.

Dengan cara mendestruksikan citra Anies seburuk mungkin dan demikian intensif-produktif melalui lembaga-lembaga survey bayaran dan buzzerRp, sampai upaya sistimatis untuk mencegah partai politik (parpol) memberikan tiket kepada Anies. Andai upaya maksimalnya kandas dan Anies tetap maju sebagai capres resmi, Tiongkok yang bersekongkol dengan para oligarkisnya di Tanah Air ini pun akan tetap mengeluarkan sejumlah jurus mematikannya.

Dimulai memainkan daftar pemilih tetap (DPT) yang pro Anies, mencurangi atau memanipulasi hasil suara secara teknologis, sampai mempersiapkan armada hukum di KPU, Panwas dan Mahkamah Konstitusi dan kekuatan fisik (oknum polisi dan tentara) yang semuanya bertujuan satu: menggagalkan Anies sebagai Presiden RI.

Itulah gerakan kekuatan global China yang berkonspirasi kuat dengan gerombolan oligarkis domestik. Sangat terencana dengan anggaran tak terbatas. Bagi China, ribuan trilyun Rp terlalu kecil dibanding harus kehilangan penguasaannya di negeri yang kaya raya ini.

Atas nama ambisiusitas untuk menguasai Indonesia itu pula tidak – tertutup kemungkinan – China siap mengerahkan kekuatan militeristiknya. Untuk menghadapi gerakan demokrasi pro keadilan dan kebenaran. China dan gengnya di Tanah Air akan tutup telinga dan mata. Yang penting Anies gagal manggung.

Sebuah pertanyaan mendasar, apakah Amerika Serikat dan bahkan Jepang akan membiarkan kejahatan politik China yang super barbar di Tanah Air ini? Atas nama kepentingan strategis (ekonomi, politik dan lainnya), mereka – setidaknya Amerika – tak akan membiarkan agresivitas China.

Dalam hal ini, tidak tertutup kemungkinan, negeri Paman Sam juga akan mengerahkan kekuatan strategisnya: berpihak kepada para pejuang pro Anies. Sikap politik AS – sangat boleh jadi – akan menggerakkan keterpanggilan sejumlah negara Eropa dan negara-negara maju lainnya seperti Jepang dan Korea Selatan untuk bersama-sama memperkuat barisan pro pendukung Anies.

Di satu sisi, keterpanggilan Eropa karena melihat komando Pan Sam. Di sisi lain, para pemimpin negara-negara Eropa mengetahui biodata Anies yang serba super: high intelectual, smart and inner beauty yang jarang dimiliki tokoh lain secara lengkap.

Berkelas di level internasional. Nyambung saat diajak bincang-bincang untuk berbagai topik, dalam forum akademik, antar pemangku kebijakan, bahkan di arena santai. Itulah kesan kuat saat Anies berkunjung ke beberapa negara Eropa, terutama Inggris, Prancis dan Jerman belum ini.

Perlu kita catat, di atas kertas, barisan sipil pendukung Anies hanyalah mengandalkan spirit perjuangan: takbir. Tapi, keberpihakan kekuatan global non China – secara tersembunyi – akan memberikan amunisi strategis untuk menghabisi kekuatan China dan para anteknya di dalam negeri ini.

Meski kekuatan China (tenaga kerja aseng) sudah menyebar di berbagai sentra daerah, tapi back up AS dan sekutunya akan menjadi kekuatan pengimbang (balance of power) di medan tempur ataupun medan diplomasi dan media internasional Campur tangan kekuatan global AS dan sekutunya versus China, yang – boleh jadi sendirian – akan membuat negeri Tirai Bambu berfikir ulang untuk tetap memaksakan kehendaknya (menjegal Anies).

Meski pada akhirnya akan terjadi deal baru antara China versus AS, tapi Xi Jin Ping diperhadapkan satu opsi: tak boleh menghadang Anies, meski terdapat konsesi yang bisa diterima kedua kekuatan global itu dan tentu pihak Indonesia.

Konsesi seperti apakah itu? Tak akan jauh dari kue ekonomi. Bagi Anies tak akan dipersoalkan sepanjang tidak terjadi penggadaian kedaulatan negeri ini. Prinsipnya co-existence dan simbiosis mutualisme.

Dalam era trans-globalisme, yang diperlukan kinerja kerjasama antarnegara dan bangsa secara berkeadilan dan saling menguatkan, bukan memincangkan salah satunya. Inilah sikap politik sang pemimpin yang menggambarkan nasionalismenya terhadap NKRI dan empati terhadap nasib rakyat atau bangsanya.

Dan insya Allah, Anies akan menunjukkan amanahnya secara berintegritas nan cerdas. Akhir kata, campur tangan kekuatan global dari anasir China memang menjadi batu terjal bagi Anies menuju singgasana. Tapi, arogansi China justru mengundang sang “polisi dunia” yang tak akan membiarkan ambisi negeri Tirai Bambu dan para anteknya.

Yakinlah, Allah punya cara seperti mengirimkan burung Ababil sehingga pasukan gajah Raja Abrahah ambruk. Gagal total dalam upaya menghacurkan Kabah. Peristiwa historis yang bermakna yang layak jadi perenungan, bukan asesoris politik fiktif zaman klasik.

The last but not least, mari kita tengok dan renungkan Al-Qur`an, Surat AlInsyirah, “Sesunguhnya, di tengah kesulitan ada kemudahan”. Maka, walau batu terjal begitu besar dan berat, tapi perjuangan pro Anies dari berbagai aliansi – insya Allah – akan mengantarkan cucu sang pahlawan ini akan sampai ke istana. Inilah yang kita rindukan bersama.

Karenanya, kita semua selaku relawan tak boleh ada kata lelah untuk memperjuangkan sang Anies. Bukan untuk beliau pribadi. Tapi, amanah yang kita titipkan kepadanya untuk perbaikan nasib kita semua selaku bangsa dan negara. Sangat urgent. Sebelum, negeri ini tinggal nama.

 

Jakarta, 19 Juli 2022

Penulis: Direktur Analisis Center for Public Policy Studies – INDONESIA

Sumber: Whatsapp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *