Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara selama ini menekankan transformasi pembangunan transmigrasi yang berorientasi pada kesejahteraan dan kemandirian ekonomi masyarakat. Pendampingan di Weri–Saharey menjadi salah satu gambaran bagaimana arah tersebut dapat diterjemahkan melalui pengembangan potensi perikanan lokal.
PELAKITA.ID – Perjalanan dari Kota Fakfak menuju Weri–Saharey bukan perjalanan yang mudah. Sekitar 50 kilometer harus ditempuh dengan waktu kurang lebih empat jam, melewati kondisi jalan yang masih rusak berat.
Di kawasan pesisir Kabupaten Fakfak, Papua Barat, dua kampung bertetangga ini menyimpan potensi perikanan sekaligus cerita tentang bagaimana masyarakat berusaha membangun kehidupan dari sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.
Weri dan Saharey merupakan kampung dengan jumlah penduduk relatif kecil.
Jika digabungkan, penduduk kedua wilayah tersebut diperkirakan sekitar 250 orang. Di tengah keterbatasan akses dan infrastruktur, keluarga nelayan menggantungkan kehidupan pada potensi laut yang selama ini lebih banyak dimanfaatkan melalui penjualan ikan segar.
Meski demikian, ada persoalan yang kerap dihadapi nelayan kecil. Hasil tangkapan yang melimpah belum tentu menghasilkan pendapatan yang sebanding, terutama ketika ikan harus segera dijual, harga tidak selalu menguntungkan, sementara kemampuan penyimpanan dan pengolahan masih terbatas.
Dari persoalan inilah sebuah inisiatif pemberdayaan mulai menemukan bentuknya.
Melalui program Ekspedisi Patriot, kerja sama Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia dengan Universitas Hasanuddin (Unhas), masyarakat Weri–Saharey didorong melihat ikan bukan hanya sebagai hasil tangkapan untuk dijual, melainkan bahan baku usaha yang dapat menghasilkan nilai ekonomi lebih tinggi.
Di antara kelompok masyarakat yang terlibat, mama-mama nelayan mulai belajar mengolah ikan menjadi bakso, nugget, kerupuk, abon, dan sejumlah produk turunan lainnya. Langkah yang tampak sederhana tersebut perlahan membuka kemungkinan baru bagi ekonomi keluarga pesisir.
Ketika pelatihan tidak cukup hanya menghasilkan makanan
Dr. Rijal Idrus, Ketua Tim Patriot Unhas #9, menjelaskan bahwa pekerjaan timnya di Weri–Saharey, Kabupaten Fakfak, berfokus pada hilirisasi hasil perikanan.
Pelatihan teknis pembuatan produk turunan hasil perikanan, seperti bakso ikan, nugget, kerupuk, dan abon, dilaksanakan oleh tim yang dipimpin Dr. Kasmiati. Sementara itu, tim Prof. Tamar bertugas melakukan penguatan dan pemberdayaan kelompok masyarakat.
Adapun Tim 9 yang dipimpinnya mengambil peran pada tahapan berikutnya, yakni memastikan produk yang telah dihasilkan masyarakat memiliki kesiapan untuk memasuki pasar.
Menurut Rijal, hilirisasi yang dikerjakan Tim 9 mencakup tiga aspek utama, yaitu pengemasan, pelabelan, dan pemasaran.
“Ketiga aspek tersebut menjadi materi pendampingan agar produk olahan mama-mama di Weri–Saharey tidak berhenti sebagai hasil pelatihan atau sekadar dikonsumsi sendiri, tetapi berkembang menjadi produk usaha yang memiliki identitas dan daya saing,” jelasnya.
“Salah satu capaian penting dari proses ini adalah terbentuknya kelompok usaha industri rumah tangga (IRT) mama-mama Weri–Saharey. Tim juga memfasilitasi penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai langkah awal memperkuat legalitas usaha mereka,” terang Rijal yang merupakan dosen di FIKP Universitas Hasanuddin ini.
Memasuki November 2026, Tim Patriot Unhas #9 menyiapkan langkah lanjutan berupa pemasaran produk secara daring melalui ekosistem perdagangan digital seperti Shopee dan Tokopedia.
Bagi Rijal, pekerjaan terberat bukan semata-mata membantu masyarakat menghasilkan produk, melainkan melakukan penetrasi pasar agar produk olahan dari kampung pesisir tersebut dikenal, diterima, dan dibeli konsumen di wilayah yang lebih luas.
Ia menyebut arah pengembangan ini dengan optimistis: “Targetnya, dari Timur memasarkan ke Barat.” Sebuah cita-cita agar produk olahan mama-mama Weri–Saharey tidak hanya beredar di Fakfak, tetapi kelak mampu menembus pasar nasional.
Dalam pelaksanaannya, tim yang bekerja di kawasan tersebut merupakan bagian dari 20 tim Ekspedisi Patriot dengan pembagian tugas sesuai kompetensi masing-masing. Untuk pengolahan hasil perikanan, Rijal mendapat dukungan tenaga pendamping yang memiliki keahlian teknis, salah satunya Dr. Kasmiati.
Kasmiati terlibat memberikan pelatihan kepada masyarakat, termasuk bapak-bapak dan mama-mama, untuk mengenal teknik pengolahan ikan menjadi produk bernilai tambah. Bakso ikan dan berbagai jenis olahan lainnya diperkenalkan sebagai alternatif usaha yang dapat dikembangkan dengan memanfaatkan hasil perikanan lokal.
Akan tetapi, pengalaman awal di lapangan memperlihatkan satu kenyataan menarik. Pelatihan membuat produk belum tentu langsung melahirkan kegiatan ekonomi yang bisa berjalan secara berkelanjutan tanpa ada fasilitasi tahap berikutnya.
Rijal mengingat pengalaman ketika satu kegiatan pelatihan diikuti sekitar 25 orang, tetapi produk yang berhasil dibuat hanya sekitar 10 porsi. Makanan tersebut akhirnya habis dicicipi dan dikonsumsi bersama peserta, sementara belum ada produk dalam jumlah memadai untuk ditawarkan kepada pembeli.
“Tidak ideal karena kemudian mereka hanya bikin, lantas habis dikonsumsi sendiri sama yang bikin,” kata Rijal, menggambarkan evaluasinya terhadap pola pelatihan awal.
Bagi Rijal, situasi tersebut menjadi pelajaran bahwa pemberdayaan tidak boleh berhenti pada transfer pengetahuan dan keterampilan.
“Jika tujuan akhirnya adalah memperkuat ekonomi masyarakat, maka pelatihan harus dilanjutkan dengan produksi yang terencana, pengemasan, pemasaran, dan kemampuan mengelola usaha,” kata dia.
Tim kemudian mengumpulkan kembali warga yang telah mengikuti pelatihan. Dari sekitar sepuluh jenis produk yang sebelumnya diperkenalkan, mereka memilih tiga produk untuk dikembangkan dalam jumlah lebih besar agar dapat dikemas, diberi label, dan dipasarkan.
Perubahan pendekatan ini menjadi titik penting. Masyarakat tidak lagi sekadar belajar membuat makanan untuk dikonsumsi sendiri, tetapi mulai diperkenalkan pada proses produksi yang memiliki orientasi pasar.
Rumah warga menjadi rumah produksi bersama
Salah satu kebutuhan mendasar dalam mengembangkan usaha pengolahan ikan adalah tersedianya ruang produksi yang dapat digunakan secara bersama.
Di Saharey, tim memilih pendekatan praktis dengan memanfaatkan rumah warga yang diperbaiki dan disiapkan sebagai rumah produksi bersama.
Pilihan tersebut memperlihatkan bagaimana pendampingan berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan. Tim tidak menunggu pembangunan fasilitas baru yang membutuhkan proses dan anggaran lebih besar, melainkan mengoptimalkan sumber daya yang sudah tersedia agar kegiatan produksi dapat segera berjalan.
Rumah produksi bersama ini diharapkan menjadi tempat masyarakat melanjutkan keterampilan, mengembangkan produk, menjaga kebersihan dan mutu, serta membangun pola kerja yang lebih terorganisasi.
Selain keterampilan pengolahan, masyarakat juga diperkenalkan pada aspek teknis yang mendukung kualitas produk, termasuk pengemasan, penggunaan vacuum sealer, dan fasilitas penyimpanan dingin atau cold storage. Dukungan peralatan tersebut penting untuk menjaga mutu bahan baku dan produk olahan sebelum dipasarkan.
Bagi keluarga nelayan, perubahan ini membawa cara pandang baru terhadap hasil tangkapan. Ikan yang sebelumnya harus segera dijual kini memiliki kemungkinan untuk diolah, disimpan, dan dipasarkan dalam bentuk yang lebih beragam.
Dari kampung menuju pasar Fakfak, bahkan Makassar dan Jakarta
Perkembangan usaha mulai terlihat ketika produk olahan masyarakat Weri–Saharey tidak lagi hanya diproduksi untuk kebutuhan internal kelompok.
Menurut Rijal, produk yang dihasilkan telah mulai dipasarkan hingga ke Kota Fakfak. Tim juga melihat peluang untuk memperluas pemasaran melalui jaringan digital. Dengan pemasaran daring, produk olahan dari kampung yang relatif terpencil tersebut berpotensi menjangkau konsumen di luar Kabupaten Fakfak.
“Kalau kita bisa produksi di sini, kemudian kita bisa tawarkan ke mana-mana. Kita bisa tawarkan ke konsumen di Makassar, bahkan sampai konsumen di Jakarta, lewat online,” ujar Rijal.
Peluang tersebut tentu tidak sederhana. Penjualan melalui internet membutuhkan kesiapan produksi, kualitas yang konsisten, kemasan yang layak, serta sistem pengiriman yang mampu menjaga produk sampai ke konsumen dalam kondisi baik.
Salah satu kemajuan penting adalah mama-mama yang mengembangkan usaha tersebut telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Legalitas ini menjadi modal awal untuk mengembangkan kegiatan produksi menjadi usaha yang lebih formal dan memiliki peluang memasuki pasar lebih luas.
Informasi Kementerian Transmigrasi juga menyebutkan bahwa pengembangan usaha pengolahan hasil perikanan di kawasan ini berpotensi meningkatkan pendapatan warga hingga Rp800.000 per hari. Angka tersebut menggambarkan peluang ekonomi dari pemanfaatan sumber daya lokal melalui kegiatan pengolahan dan peningkatan nilai tambah.
Dari ikan segar menjadi bakso, nugget, kerupuk, dan abon, masyarakat mulai mengenali bahwa nilai ekonomi hasil laut tidak harus berhenti pada harga jual ikan ketika baru didaratkan.
Jalan yang rusak, logistik yang belum terjawab
Di balik perkembangan tersebut, Weri–Saharey masih menghadapi persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pelatihan pengolahan ikan.
Kondisi akses jalan yang rusak berat menjadi salah satu tantangan utama, terutama ketika masyarakat ingin memperluas pemasaran produk ke wilayah lain.
Perjalanan sekitar empat jam dari Kota Fakfak untuk menempuh jarak kurang lebih 50 kilometer memberikan gambaran tentang tantangan konektivitas kawasan. Produk mungkin sudah dapat dibuat, dikemas, dan dipromosikan secara daring, tetapi bagaimana barang tersebut dikirim kepada pembeli masih menjadi persoalan tersendiri.
Rijal secara terbuka mengakui bahwa persoalan logistik belum tertangani dalam pekerjaan pendampingan yang dilakukan timnya.
“Persoalan logistik, nah itu yang ternyata belum dikerjakan oleh tim ini,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menarik karena memperlihatkan batas sekaligus kebutuhan lanjutan dari sebuah program pemberdayaan. Pekerjaan di tingkat masyarakat telah mulai menghasilkan keterampilan, produk, dan legalitas usaha, tetapi keberlanjutan ekonomi membutuhkan dukungan yang lebih luas.
Rijal menggambarkan pekerjaan tim selama ini seperti bekerja di dasar piramida. Pendampingan langsung kepada masyarakat sudah dilakukan, tetapi masih dibutuhkan intervensi pada lapisan yang lebih tinggi, terutama penguatan kelembagaan, infrastruktur, akses jalan, dan kebijakan pembangunan kawasan.
“Dengan kata lain, ini masih merupakan kerja-kerja di level masyarakat. Mestinya ada lagi yang di level atasnya, di level kelembagaan, memperbaiki lorong, dan seterusnya,” jelasnya.
Pandangan ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah dan Kementerian Transmigrasi. Pengembangan ekonomi masyarakat tidak cukup hanya menghadirkan pelatihan dan peralatan produksi apabila akses menuju pasar masih menjadi hambatan.
Ekspedisi Patriot dan pekerjaan yang belum selesai
Bagi Rijal, pengalaman di Weri–Saharey memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat pesisir membutuhkan kerja berlapis.
Perguruan tinggi dapat menghadirkan pengetahuan, teknologi, dan tenaga pendamping, sementara pemerintah memiliki kewenangan untuk memperkuat infrastruktur, kelembagaan, serta kebijakan yang mendukung perkembangan usaha masyarakat. Karena itu, hasil pendampingan Ekspedisi Patriot Unhas diharapkan tidak berhenti ketika masa kerja tim selesai. Apa yang telah dirintis masyarakat perlu diteruskan melalui dukungan pemerintah Kabupaten Fakfak dan Kementerian Transmigrasi.
Pekerjaan selanjutnya mencakup penguatan kelompok usaha, peningkatan kapasitas produksi, pengendalian mutu, pengelolaan keuangan, perluasan pasar, serta penyelesaian persoalan distribusi. Semua unsur tersebut saling berhubungan dan menentukan apakah usaha olahan ikan dapat bertahan sebagai sumber penghidupan.
Dalam konteks pembangunan kawasan transmigrasi, pengalaman ini memperlihatkan bahwa pembangunan tidak semestinya hanya diukur dari keberadaan fasilitas fisik atau besarnya investasi yang masuk. Kemampuan masyarakat mengelola potensi lokal dan memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan juga menjadi ukuran penting keberhasilan pembangunan.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara selama ini menekankan transformasi pembangunan transmigrasi yang berorientasi pada kesejahteraan dan kemandirian ekonomi masyarakat. Pendampingan di Weri–Saharey menjadi salah satu gambaran bagaimana arah tersebut dapat diterjemahkan melalui pengembangan potensi perikanan lokal.
Pada akhirnya, kisah Weri–Saharey bukan semata cerita tentang ikan yang diolah menjadi bakso atau nugget. Ini adalah cerita tentang mama-mama yang mulai memiliki keterampilan baru, rumah warga yang berubah menjadi ruang produksi bersama, dan sebuah komunitas kecil yang perlahan belajar memasuki dunia usaha.
Dari kampung yang berjarak sekitar empat jam perjalanan dari Fakfak itu, sebuah pelajaran penting sedang tumbuh. Laut menyediakan ikan, tetapi pengetahuan, keterampilan, kelembagaan, infrastruktur, dan akses pasar menentukan seberapa besar manfaat ekonomi yang dapat dinikmati masyarakat.
Ekspedisi Patriot Unhas telah membantu membuka jalan melalui pendampingan di tingkat masyarakat. Pekerjaan berikutnya adalah memastikan jalan tersebut tidak berhenti di rumah produksi, melainkan benar-benar menghubungkan Weri–Saharey dengan pasar dan kesempatan ekonomi yang lebih luas.
Ukuran keberhasilan pemberdayaan bukan hanya ketika masyarakat berhasil membuat produk, melainkan ketika produk itu terjual, usaha berkembang, dan pendapatan keluarga menjadi lebih baik.
Oleh Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID.
Sumber: Penjelasan Dr. Rijal Idrus, anggota Tim Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin, serta informasi Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia mengenai pengembangan usaha pengolahan hasil perikanan di Weri–Saharey, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.









